
“Sayangnya aku tak mengetahui Che.”
“Bukannya sewaktu pernikahannya kau datang bersama Neni.”
“Iya namun pernikahan mereka diselenggarakan di sebuah gedung dan dengar-dengar keduanya akan tinggal disebuah rumah baru.”
“Apa Neni tahu?”
“Aku saja tidak tahu apalagi si emak-emak bermulut remes itu. Lagipula apa perdulinya dia terhadap Aren?”
Ck! Aku berdecak kesal dan langsung mematikan sambungan telponku dengan Elin tanpa permisi. Mau ke mana lagi kutemukan dia? Nomor telponnya pun sudah kuhapus sejak kejadian malam itu.
Langit kian terik terpapar sinar mentari yang sudah tampak bulat sempurna di atas sana. Aku tak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalananku guna kembali mengabdikan diri di rumah Pak Reno. Sebal, penasaran semua menjadi satu. Tapi aku takkan menyerah, akan kutemukan Aren sampai dapat lalu kutanyakan apa maksud dari ucapannya tadi.
...***...
“Ibuuuuuuuu.”
Bugh!
Sebuah pelukan erat terasa mencengkram di tubuhku yang tak ada bedanya dengan batang pisang muda, cilik. Aku menyejajarkan tinggiku dengan sang pelaku peluk, mata bulatnya menatapku penuh kehangatan.
“Atu tanen banget cama ibu. Tenapa ibu nda ke cini?” Tak puas hanya memelukku saja, bocah cilik ini malah menampikkan raut lusuhnya seraya menengadah ke arahku. Aku iba.
“Ibu kemarin sakit, maaf ya sayang.” Jawabku berbohong seraya memboyong Refa masuk ke dalam rumah.
Di dalam ruangan tempat biasa aku membabu, tak ada setitik noda pun yang terlihat di tempat ini. Lantainya mengkilap, guci-gucinya juga tak tertempel oleh debu barang segelintir pun. Sepasang netraku berpendar ke sana ke mari, memindai apa-apa saja yang kulihat di dalam gedung putih ini.
“Yuk ke dapur dulu.” Lengan Refa kutarik ke bagian buntut rumah.
Cakep.
Lapak tempat biasa aku berperang dengan kuali dan spatula juga sangat rapi tanpa tumpukan piring-piring kotor di atas wastafle. Dua garis tegak yang berada di atas mataku saling tertaut menyaksikan keajaiban yang kali kedua terjadi di tempat ini.
“Kenapa rumahnya sudah bersih?” Sebuah pertanyaan terlontar begitu saja tanpa direncanakan.
Refa menoleh, lajang cilik itu mendudukkan dirinya di atas meja makan yang ternyata masih kosong oleh sarapan pagi. Hadeh kenapa tidak sekalian saja ada menu siap santap di sini.
“Telama ibu nda di lumah atu dijaga cama tatak-tatak yang ada di lumah cebelah, dan ini tatak itu yang belcihin.”
“Apa?” Jantungku berpacu lebih cepat. Aku memperhatikan laungan jari telunjuk Refa yang membidik bangunan mewah di seberang sana, tempat di mana sahabatku Ratna pernah bekerja.
“Jadi kemarin abang ditinggal Papa di rumah? Kakak itu ga jahat kan?”
“Iya atu ditinggan. Kaka itu nda jahat bu, tata kaka itu atu maniiiiiiis.” Terang si tabung gas seraya menekan hata manis pada akhir kata. Yayaya, dia memang manis. Bahkan saking manisnya ingin sekali rasanya kutelan bulat-bulat.
Tapi bagaimana mungkin Pak Reno memiliki pikiran serta kepercayaan penuh terhadap remaja yang dulu pernah kutemui di rumah itu? Bahkan namanya saja pun aku sudah lupa. Apa tidak berpikir kalau anak satu itu bisa saja menyakiti putranya sendiri atau bahkan mengambil sesuatu di rumah ini tanpa izin. Huh!
__ADS_1
Tapi kalau dari yang kulihat-lihat memang tak terjadi sesuatu yang buruk sih terhadap Refa.
“Apa abang tahu siapa yang memberitahu rumah Ibu yang baru?” Tanyaku penasaran. Mumpung Papanya masih di atas, jadi aku bebas menginterogasi si buntelan kapas ini di sini.
“Atu.”
“Hah? Abang yang ngasih tahu?”
“Iya ehehehe.”
Oh My God! Ga nyangka banget aku, sumpah!
“Bagaimana bisa? Bukannya abang tidak tahu di mana rumah baru Ibu?” Mulutku ternganga lebar, telingaku juga berdenyut-denyut menanti deretan kata yang sebentar lagi akan keluar dari mulut Refa.
“Atu matih ingat Ibu pernal bawa atu te lumah gempet-gempet di cana.”
“Tapi abang sama sekali ga tahu apa nama jalannya.”
“Memang nda tau, matanya Papa bawa atu itut di dayam mobil kemalin.”
“Loh! Jadi di dalam mobil itu ada abang?”
“Iya tapi atu nda dikacih tulun.”
Ahhh terungkap sudah bagaimana ceritanya si Reno itu bisa menemukan aku. Sangat tidak kusangka, selain pembicara yang jago ternyata Refa juga memiliki daya ingat yang kuat. Huft! Aku jadi menyesal pernah membawanya ikut serta mencari rumah kontrakan itu kemarin.
Deg!
“Eh pak. Sejak kapan?”
Suara besar khas lelaki tiba-tiba saja muncul dari arah depan. Aku kaget bukan main, tak perlu kulihat wajahnya pun aku sudah tahu itu siapa.
“Bu Tevani tanya-tanya ciapa yang belcihin lumah Pa.”
Aduuuuh!
Sekali bocor tetaplah bocor, Refa memang tak pernah bisa diajak kompromi sampai kapan pun. Bocil satu ini memang kerap sekali memberitahu apa-apa yang orang lain tanyakan padanya. Bak seorang pahlawan, ia mendekatkan diri pada Papanya seraya membidik wajahku dengan ekor mata dari kejauhan.
“Kau ingin menginterogasi putraku?”
“Ti- tidak. Aku hanya penasaran.”
“Makanya tidak usah banyak tingkah. Kau kira sulit bagiku untuk menemukan pengganti?” Arogannya mulai kambuh, mungkin masih kesal dengan tingkahku kemarin.
“Lalu kenapa sekalian tak memasak saja?” Semua memang dibereskan dengan rapi. Namun sayang, ada satu pekerjaan lagi yang belum selesai di tempat ini.
“Urusan memasak aku tak ingin mengganggu gugatnya ketika kau sudah berada di rumah ini.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Ya aku hanya ingin kau yang memasak, bukan orang lain.”
Telingaku seketika naik lima belas centimeter. Pujian semacam apa ini? Hahaha. Fix! Berarti sang empunya rumah memang sangat menyukai masakanku.
“Sekarang kau memasaklah. Ingat! Jangan pulang sebelum aku kembali ke rumah ini!” Kalimat interupsi ngeloyor begitu saja dari Pak Reno. Aku sudah tahu apa yang akan ia lakukan nanti, hatiku spontan cenat cenut.
...***...
“Ya ampun abang!”
Dadaku bergemuruh hebat disertai dengan emosiku yang nyaris meleduk ke ambang batas. Bagaimana tidak? Puluhan mainan tercampak ke sana sini, sisa-sisa air berceceran di atas lantai, tepung berhampur hingga ke karpet dan badan si keturunan beruang madu itu penuh dengan lelehan cokelat batangan.
Ya Tuhan hatiku ngilu sekali, padahal rumah baru saja kubersihkan untuk yang kedua kali.
“Ayo Bu itut atu main!”
Main-main palalu peyang, kaga tau apa punggung gue rasanya udah mau copot ini ahhh! Rumah ini tak ada bedanya dengan tempat pembuangan sampah. Aku menghela napas kasar, semoag Tuhan memberiku kekuatan.
“Sekarang abang masuk ke dalam kamar dan mandi. Biar ibu bersihkan.” Perintahku kepada bocah kurang asam ini seraya menarik lengannya menuju kamar atas. Dia sudah bisa mandi sendiri dengan bersih, jadi aku tak perlu khawatir.
Lagi-lagi udara yang kuhirup terasa tidak enak. Mau marah tapi tak mungkin, ingin diam saja tapi hatiku sungguh berat. Serba salah! Nasib babu, ya begini.
Pelan-pelan aku mengumpulkan semua mainan yang terlempar ke sana dan ke mari. Tumpahan air dan tepung juga kuilap menggunakan kain pel. Aku benar-benar kerja dua kali. Butuh waktu lama untuk mengembalikan ruangan ini seperti semula.
“Eum cape sekali.” Aku menghapus bulir-bulir kristal bening yang membasahi kawasan dahi. Semuanya beres, tinggal membersihkan kain pel yang baru kugunakan tadi untuk menghapus noda. Refa juga sudah dari tadi selesai dari ritualnya di atas, tak ada yang dilakukan si perusuh itu lagi kecuali bermain game kesayangannya.
Ceklek.
“Lalu bagaimana? Kau mau kan menjadi istriku?”
Mampus aku!
Dia kembali.
...***...
Bersambung
Temen-temen minta reviewnya dong tentang cerita ini.
Jangan sungkan, siapa tahu bisa aku pertimbangkan untuk mempoles karyaku jadi lebih baik lagi :)
Oiya
LIKE & COMMENT nya juga jangan lupa ya okeh :)
__ADS_1
Sehat selalu 🤗