
Ck! pintar sekali majikanku ini.
Aku pun beranjak mengikuti Pak Reno dan Refa yang sudah nyaris sampai di ambang pintu utama. Kepalaku refleks menunduk, malu sekali rasanya.
Pak Reno terus berjalan dan mengarah ke sebuah fashion store, aku mengikuti dari belakang.
“Sekarang pilih lah pakaian mana yang kau suka.”
What? Aku tidak salah dengar?
“Pak Reno berbicara padaku?” Aku membuka suara untuk meyakinkan diri bahwa aku sedang tidak salah dengar.
“Tidak! Aku sedang berbicara pada tukang sapu yang ada di sana.” Lelaki beranak satu itu melayangkan jari telunjuk ke arah wanita berbaju hijau dengan sebuah sapu yang ada di tangannya.
Sekarang aku mengerti.
“Tidak usah pak, saya masih memiliki banyak baju di rumah.”
“Oh ayolah. Aku sedang tidak bernegosiasi denganmu nona. Ini sebuah perintah!”
Ya ampun, sejak kapan membeli baju menjadi sebuah perintah?
Ah! Kurasa ini hanya ada di dalam kamus lelaki bertubuh jenjang itu.
Aku kemudian berjalan mendekati barisan pakaian-pakaian yang berjajar rapi di tempat ini. Ada yang tersemat di hanger biasa, ada yang terpasang di sebuah manekin dan tidak sedikit juga yang dihamburkan begitu saja di atas sebuah wadah persegi.
Pricilia yang menatap warna-warni seluruh isi toko ini bergelinjang kaki seakan mewakili perasaannya yang tengah bersenang hati. Netranya berputar mengelilingi seantero ruangan yang penuh dengan pakaian beragam mode.
“Kita pilih baju dulu ya sayang.” Aku berkata seraya mengecup kening putri kecilku.
35 juta.
70 juta.
5 juta.
10 juta.
45 juta.
90 juta.
Hei apa-apaan ini!
Kenapa harga pakaian di sini sama dengan harga rumah-rumah yang berada di kampungku?
Aku beringsut menjauhi benda-benda yang membuat mataku sakit bila memandang bandrol yang tercantel di bagian keranya. Pak Reno dan Refa masih setia berdiri di pojokan menunggu aku di sini, aku menghampiri mereka.
__ADS_1
“Sudah?” Tanya pria berparas menawan itu takkala aku mendarat di hadapannya.
“Aku tidak jadi membeli.”
“Kenapa?”
“Oh apa kau tak melihat berapa harga yang tertera di sana?”
“Berapa memangnya?”
“Puluhan juta.”
“Lalu, apa masalahnya?”
DOUBLE WHAT!
Kenapa dia seolah sama sekali tidak keberatan?
“Ambil saja mana kau suka. Cepat lah jangan berlama-lama!” Suara itu kembali menginterupsi padaku yang masih membeku bak patung pancoran.
Apa ia sedang tidak salah dalam memperlakukan babunya ini?
“Segera Che! Kau terlalu banyak membuang waktu!”
Mendengar majikanku kembali berseru aku pun segera menyembul ke wilayah pakaian-pakaian yang tadi sempat kutinggalkan. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku mendatangi zona daster yang dipadeti oleh ibu-ibu sosialita.
“Untuk daster saja pun mereka membeli di sini.” Gumamku dalam hati.
Aduh manisnya, aku bergeming. Kemudian aku mengambil daster tersebut dan melihat kertas kecil berbarcode yang terdapat di bagian lehernya.
“Hah lima juta?” Sontak tanganku ini meletak kan ke tempat semula barang tersebut. Aku tidak mungkin memilih daster itu. Walau pun aku sangat menyukainya namun aku juga sadar diri kalau uang yang digunakan untuk berbelanja di sini bukan lah uangku sendiri.
“Mba, apakah ada harga yang lebih murah selain ini?” Kataku pada seorang wanita yang berjaga di tempat ini.
“Oh tidak ada mba. Ini sudah paling murah.”
Aduh bagaimana ya.
Ah lebih baik kutanya saja majikanku itu.
Aku pun berjalan kemudian kembali menemui Pak Reno dan putra kecilnya di sana. Tampaknya Refa mulai lasak, ia mengajak kakinya untuk keluar masuk fashion store ini.
“Mana belanjaanmu?” Belum sempat aku berkata ternyata Pak Reno telah menyela duluan dari arah depan.
“Pakaian yang paling murah di sini harganya lima juta pak. Bagaimana kalau kita mencari di tempat lain saja? Atau mungkin di pajak sekitar sini. Lagipula setahu saya harga barang seperti itu Cuma Rp 50.000,- saja pak, bukan lima juta.” Aku bercicit panjang kali lebar.
“Jadi kau kemari hanya untuk menjelaskan tentang hal bodoh ini?”
__ADS_1
“Ma- maksudnya pak?”
“Kau belum membeli pakaiannya?”
“Belum.”
“Astaga Chevani. Kan sudah kubilang ambil saja! Lihat lah Refa sudah mulai lasak.” Pria yang sedang berbicara padaku ini menyugar rambutnya ke belakang. Ia tampak frustasi. Dapat kutebak bahwa besok-besok ia tak akan membawaku lagi ke tempat seperti ini.
Dengan cekatan aku kembali mencari daster yang sempat mencuri perhatianku tadi kemudian langsung membawanya ke kasir sesaat sebelumnya aku memperoleh sebuah kartu berwarna gold dari pak Reno.
Setelah selesai aku beringsut menemui bapak dan anak yang sudah menungguku sedari tadi. Huft aku jadi tidak enak dengan sang empunya duit.
“Terimakasih banyak pak. Bahkan gaji dari bekerja sebagai seorang pembantu dan tukang cuci pun tak akan mampu membeli baju semahal ini.” Aku berkata lirih takkala berhadapan dengan Pak Reno.
Tidak ada jawaban setelah itu, mungkin pria tersebut terlanjur emosi karena telah menungguku lama. Aku terus mengikutinya hingga kami berhenti tepat di depan sebuah baby store. Hei setahuku dia tidak memiliki bayi.
“Sekarang pergi lah dan carikan baju untuk anakmu.”
TRIPLE WHAT!
Beli baju lagi?
Ini sangat ganjil. Kenapa tiba-tiba saja orang di sekelilingku berubah menjadi sangat baik? Mulai dari mertuaku yang tidak marah-marah pagi ini, Ratna yang mengucapkan terimakasih padahal entah untuk apa dan kali ini majikanku sendiri yang rela mengkorek saku demi membelikan pakaianku dan juga Pricil. Apa hari ini sedang ada perayaan hari baik Nasional?
“Ti- tidak usah pak. Aku sudah banyak merepotkan.” Semoga saja Pak Reno mengabulkan penolakan secara halus ini.
“Apa perlu kutekan kan sekali lagi bahwa ini bukan negosiasi melainkan sebuah perintah?”
Oh My God.
Aku sungguh tidak enak. Aku hanya khawatir bila suwaktu-waktu aku berbuat kesalahan kemudian bapak beranak satu itu mengungkit segala harta benda yang pernah ia berikan untukku.
Oh begini saja, aku akan mengambil baju tersebut namun tidak akan kupakai. Aku akan menyimpannya di sebuah tempat yang aman, jadi bila suatu hari aku membuat kesalahan dan Pak Reno mengungkitnya aku dapat memulangkan pakaian-pakaian itu dalam keadaan apik.
Secepat mungkin aku menyembulkan diri ke dalam baby store itu kemudian memilih pakaian yang paling murah di sana, maksudku paling murah di antara yang termahal. Gold card Pak Reno masih kuselipkan di saku bajuku, aku segera mengambilnya untuk membayar barang yang telah kupilih kemudian keluar dan segera menemui mereka kembali.
“Ini kartunya pak, sekali lagi terimakasih banyak.” Aku menyerahkan sebuah benda pipih pada Pak Reno.
“Ayo kita ke sana.” Pria tersebut melaungkan telunjuk ke arah sebuah toys store seraya meraih tubuh Refa dan mendaratkannya di gendongan.
Bocah balon yang telah mengerti ke mana kami akan pergi sontak saja mengepalkan kedua tangannya itu ke udara. Tawa sumringai terbit menghiasi wajahnya, anak itu tampak senang sekali.
“Yeee atu mau beyi mobin becal.” Katanya antusias.
...***...
Bersambung
__ADS_1
Comment, like & vote guys:)
Semoga kalian sehat selalu 🤗