SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
MEMBAWA REFA PULANG


__ADS_3

“Tenapa udah buk? Atu tan macih mau main huuu.” Refa memanyunkan bibirnya lima centimeter.


“Ibu cape banget nih bang.”


“Nda mau atu!”


Duh mampus deh gue! Sumpah ini cape banget, pinggangku rasanya mau patah deh.


“Oh gimana kalau bang Refa ibu buatin bubur ayam.” Aku mencoba merayu.


“Bubun ayam?”


“He em.”


“Atu mauuuuu atu mau.” Si tabung gas ini melompat kegirangan.


Baguslah! Bubur ayam memang makanan favoritnya, acapkali aku mengkambinghitamkan makanan lembik itu guna membujuk Refa.


Entah sampai kapan aku begini. Jujur saja, sebenarnya aku ingin pindah dan memilki kehidupan baru. Aku ingin meluangkan banyak waktu buat Pricilia, kasihan anak itu kalau harus jarang ditimang-timang oleh ibunya sendiri.


Oh Ya Tuhan.


Tolong datangkan kebahagiaan pada hamba-Mu ini, sebentaaaaar saja.


Aku membawa semangkuk bubur ayam lalu kuberikan pada Refa yang tengah asyik menonton kartun favoritnya. Pricil masih di bawah, bocah ayu satu ini sangat khusyuk dengan permainan kuda poninya.


“Wah bubun atu udah jadi ya bu.” Refa mengepalkan tangan bulatnya menghadap udara.


“Iya sini ibu suap.”


Akupun mulai menyendokkan nasi demi nasi ke mulut Refa, dia melahap dengan ganas. Uwuw aku jadi seram.


“Oh iya bang, ibu mau tanya nih.”


“Apa?”


“Papa kamu mau kemana? Kenapa tidak bekerja?” Sungguh jiwa penasaranku meronta-ronta, terpaksa aku harus bertanya pada si Refa.


“Atu tenang bu, tata papatu papa mau jemput mama.”


“Uhuk uhuk uhuk.”


Meninggal aku!


Pantas saja Pak Reno kemarin mendengus kesal pada Bu Farah. Oh ada yang sedang kecarian ternyata. Huft! Si nenek lampir itu mau pulang kok aku yang jadi deg degan ya? Mati!


“Jadi abang kok ga ikut kesana?”


“Tata papatu atu di lumah aja, nanti dibeyikan mainan lagi.”


Aduh Gusti.


Aku belum siap menghadapi si singa liar itu. Gimana kalau dia balik nyiksa aku di sini? Ck! Perasaanku rada ga enak.


17:00 WIB.


Sudah pukul lima tepat namun Pak Reno juga belum menunjukkan batang hidungnya. Sebentar lagi aku harus pulang, lalu bagaimana jika tidak ada yang menjaga Refa di sini?


Ck!

__ADS_1


“Bang.” Aku beringsut menuju Refa yang sedang asyik bermain playstationnya di ruang nonton. “Tadi papa ada bilang ga dia pulang jam berapa?”


“Nda.”


Duh gawat!


“Kira-kira jam berapa ya?”


“Mana atu tau! Ibu tanya aja cana cama papatu.”


Aish! Aku paling malas kalau soal beginian. Apa mungkin Pak Reno sedang dalam mode pembujukan Bu Farah ya? Gimana kalau tiba-tiba aku telpon dia dan ada si gerandong itu di sana? Bisa mati aku kena terkam.


Tapi di sisi lain aku juga harus pulang, kan ga lucu sih kalau di hari keduaku bekerja di lapak Bu Neti aku langsung absen. Bisa-bisa kena potong gaji aku nanti. Terus Refa gimana ya? Terlalu mustahil rasanya kalau dia kutinggal di rumah ini sendirian. Ah udalah bodoh amat! Semua demi Refa.


Aku mengambil ponsel dari sakuku kemudian mencari kontak Pak Reno di sana.


Tuuut.


Yess terhubung.


“Halo.” Sapa suara besar khas lelaki.


“Maaf pak, bapak sedang berada dimana ya? Sebentar lagi saya harus segera pulang dan tidak mungkin Refa ditinggal sendirian.”


“Saya sedang sibuk!”


“Lah terus ini gimana?”


“Terserah kamu aja!”


Tuuuuut.


Oh My God! Gila bener nih si Reno. Bisa-bisanya dia nyerahin anaknya ke aku, astagaaaaa!


Terus ini gimana? Ish! Aku benci banget ada di posisi kaya gini.


Apa dia ga mikirin keselamatan putranya? Kalau tiba-tiba aku jadi buas terus nyulik Refa dan kujadikan pengemis cilik gimana? Huh! Pikirannya terlalu pendek, sepertinya aku perlu mencari tali tambang supaya disambungkan ke otakknya itu biar panjang. Sial!


Aku kembali menatap Refa yang terlihat masih sangat syur dengan permainan Marionya. Oh Gusti, aku bersyukur. Meskipun Pricil tidak memiliki ayah namun dia masih bisa merasakan kasih sayang yang sempurna dari seorang ibu. Lihatlah Refa, dia memiliki orangtua yang lengkap bahkan kehidupannya pun terbilang sangat tajir melintir. Tapi dimana kasih ayah ibu itu berada? Sungguh semuanya sudah tergantikan oleh teknologi. Miris.


“Abang berani ga kalau misalnya ibu tinggal sendirian di rumah ini?” Kataku memecahkan kekhusyukannya pada si game.


Refa termangu, mencoba mengartikan makna dari setiap kata-kataku.


“Tan ada papatu.”


“Papamu belum pulang sampaai sekarang dan ibu sebentar lagi bakal pergi sayang.”


“Biacanya papatu bental lagi puyang kok.”


“Iya tapi kali ini beda, ibu juga gatau papamu ada dimana.”


“Apa iya?”


“Iya.”


“Huuaaaaaaaa huaaaa hiksss, papatu dimanaaaaa huuuuu.”


Aduuuuuuuh kupingku mau lepas dari tempatnya. Tuhkan bener, udah kuduga si tabung gas ini bakal histeris.

__ADS_1


Aku meraih Pricil yang masih tergeletak di atas karpet berbulu, matanya mendadak bulat takkala mendengar terompet sangkakala dari si Refa.


“Atu nda mau ditinggan cendili, atu mau tama papatu huuuu.”


“Cup cup cup sabar ya nak, sebentar lagi papa kamu pasti pulang kok.”


“Nda mau atu hiks hiks.”


Ck! Benar-benar keterlaluan si Reno! Aku kesal kali kalau sudah melihat seorang ayah yang tidak perhatian pada anaknya. Plis Ren, jangan jadi Hero yang tega meninggalkan buah hatinya sendiri.


Tidak ada jalan lain, aku harus memaksana papa Refa untuk pulang sesegera mungkin.


“Refa histeris pak, dia sangat sedih saat mengetahui bahwa papanya belum bisa pulang sore ini.” Kataku tanpa sapaan halo terlebih dahulu. Untung saja telponnya lekas diangkat.


“Sungguh aku sangat sibuk! Terserah mau kau apakan dia. Bawa saja pulang ke rumahmu kalau bisa.”


WHAT?


Dia ga salah omong?


Bener-bener ayah gila!


Aku tercekat di tempat. Apakah mungkin Refa kubawa ke rumah? Lalu bagaimana dengan si nenek sihir itu? Aku tak ingin Refa juga ikut menjadi korban KDRTnya, cukuplah aku.


Tapi ga mungkin juga aku ninggalin bocah itu sendirian di rumah ini. Masih ada aku di sini saja dia sudah ngamuk-ngamuk, apalagi kalau ga ada aku. Bisa mati gantung diri dia.


Ah yasudahlah! Apapun resikonya akan kuhadapi nanti, yang penting Refa tidak sendiri.


“Ayo sayang kita pergi.” Kataku seraya menarik lengan Refa yang masih keukeuh ngesot di lantai.


“Mau temana?”


“Kita bobo di rumah ibuk yuk.”


“Papatu?”


“Papa kan masih jemput mama. Memangnya Refa ga mau liat mama ya?”


“Atu mau liyat mama.”


“Nah kata papa kalau mau liat mama syaratnya Refa harus tidur dulu di rumah ibu, oke.”


“Benelan bu?”


“Iya.”


“Hoyeeeeee atu tetemu mama. Ayo bu ayo.”


Alhamdulillah akhirnya luluh juga.


Ya Tuhan semoga Pak Reno bener-bener bisa ngebawa istrinya pulang hari ini, kalau tidak aku gatau gimana rasa kecewanya Refa saat mengetahui bahwa mamanya tidak jadi pulang.


...***...


Bersambung


Like comment and vote


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2