SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
AKSI NEKAT PAK RENO


__ADS_3

Demian sontak mendongak, mengikhlaskan tidur pulasnya terganggu karena lengkingan dahsyat dari seorang wanita. Tampak Chevani sudah ngos-ngosan dari atas sana, wajahnya yang memerah seperti tomat matang menambah kesan menggoda tersendiri di hati Demian.


“Kau berusaha untuk menarik perhatianku ya?” tanya pria yang senantiasa mengkucek-kucek matanya itu.


“Menarik perhatian katamu? Dasar bodoh! Aku yang seharusnya bertanya kenapa kau bisa tidur denganku malam ini, hah!” Aku langsung menarik lengan Demian sekuat tenaga, hingga mau tak mau lelaki itu turun dari permadani yang telah membuat dirinya melayang-layang semalaman.


Kamar ini tidak cukup luas untukku menendang-nendang si Demian gila. Maka dari itu aku menginterupsikan agar dia segera duduk di kursi ruang tengah, syukurnya anakku sama sekali tak terbangun setelah terjadi percekcokan di antara kami.


“Sekarang jelaskan maksud dari semua ini!” cetusku cepat sambil berkacak pinggang.


Demian menelan ludah. Bagiku saat ini pria itu tengah berpikir keras guna mendapatkan alasan yang tepat mengapa ia bisa tidur denganku tadi malam. Padahal belum genap tiga minggu kami kenal. Bodohnya dia terlalu lancang, hingga membuat tensiku naik berkali lipat.


“Em, anu, itu…”


“Anu apa?” Aku menatapnya tajam. Demian menggoyang-goyangkan kakinya tanda kebingungan.


“Kau sangat identik dengan istriku yang pertama. Jadi kukira kalau kau itu dia,” Jawab lelaki aneh itu sekenanya.


“Kalau tadi malam tiba-tiba kita digrebek bagaimana? Kurasa otakmu itu sudah sinting!”


“Oh kalau itu kau tenang saja. Rumahmu terletak di bagian paling ujung bersebelahan dengan rumahku. Dan rumahku bersampingan dengan Bu Itah yang sekarang sedang pergi ke kampung anaknya. Kemudian tetangga Bu Itah si gadis mahasiswi itu juga ada kegiatan KKN yang mengharuskannya untuk meninggalkan kontrakan selama beberapa waktu,” Demian menyilangkan kaki jenjangnya. Wajah pucat tadi tampaknya sudah normal kembali.


Walau tahu bahwa yang dikatakan Demian adalah benar, namun aku juga tak dapat menerima sepenuhnya. Bukan hanya perihal warga, namun di sisi lain aku juga tak ingin lelaki bodoh itu menggerayapi tubuhku di saat sang empunya badan tengah tertidur pulas. Tidak seperti suami istri yang bebas melakukan apa saja, Demian hanyalah tetangga yang baru kukenal dalam kurun waktu dua minggu lebih. Dan mirisnya lagi tadi malam aku memang hanya menggunakan daster tanpa daleman lagi kecuali si segitiga pengaman.


Tiba-tiba kakinya melangkah ke arahku. Tubuh jenjang itu kembali merengkuhku erat dari arah depan. Aku menarik napas panjang, sepertinya aku harus buru-buru melepaskan pelukan ini agar tak berlanjut pada hal lain.


“Lepaskan aku Dem!” teriakku lalu mendorong tubuh Demian kasar.


Pria itu tersenyum, kemudian memundurkan langkahnya perlahan. Mata cokelatnya menghunus bagian terdalam dari retinaku. Aku ciut, entah kenapa pada saat-saat begini amarahku luntur dan aku lumpuh di hadapannya.


...***...

__ADS_1


Lelaki itu terus menatap sinis kedua gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Rona kemerahan mulai melingkupi wajah tampan miliknya.


Sesuai dengan perintah Pak Reno kemarin bahwa dia akan membawaku ke kantor tempat di mana ia bekerja. Dan sekarang kami sudah berada di lokasi. Atasan lengan pendek, rok panjang dan sendal jepit selalu membersamai ke mana pun aku melangkahkan kaki.


“Lihatlah! Bukannya kecantikan itu tiada arti bila tidak disertai dengan akhlak yang bagus?” Kalimat Pak Reno terdengar menyindir pada dua wanita yang semakin menundukkan kepala.


Aku diam seribu bahasa. Setelah kejadian bersama Demian tadi pagi, maka siang ini aku dihadapkan lagi dengan sebuah peristiwa yang nyaris mencekik leherku. Bagaimana tidak? Begitu sampai di rumah Pak Reno, pria itu langsung menarik lenganku untuk masuk ke dalam mobil yang ternyata sudah ada Refa di dalamnya. Kukira entah karena apa, ternyata lelaki beranak satu ini bermaksud untuk memberi pelajaran kepada dua ular yang menyiksaku kemarin habis-habisan, Lani dan Elbra.


“Dan jangan sepelekan juga wanitaku ini! Kalau dia sudah berdandan, maka kalian hanyalah seonggok sampah yang tak ada artinya,” Pak Reno menunjuk-nunjuk wajah keduanya, beberapa orang juga mulai berdatangan menyaksikan aksi nekat ini di depan halaman kantor.


“Ma- maafkan kami Pak. Kami berjanji tidak akan berbuat jahat lagi kepada calon istri bapak,” wajah mereka kian memucat. Tapi di antara keduanya, wajah si Elbra lah yang tampaknya amat pasi.


Pak Reno melihat dua wanita itu dengan bibir yang membentuk huruf U samar. Karyawan dengan seragam khas kantoran tersebut langsung ngeloyor entah ke mana saat pria yang baru saja melabraknya mengibas-ngibaskan tangan ke arah mereka.


“Urusan kita sudah selesai. Mari kuantar kau pulang,” Pak Reno memboyongku dan juga Refa menuju tempat parkir. Bisik-bisik orang mulai kedengaran di telingaku.


“Mampus tuh si ular kobra!”


“Dia ga akan bisa lagi gangguin Direktur kita,”


“Besok-besok dia ga punya hak lagi untuk ngaku-ngaku jadi pacar Pak Reno,”


Sudut bibirku tertarik. Dari semua perkataan mereka aku dapat mengambil kesimpulan bahwa Elbra itu mencintai Pak Reno dan mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Baguslah, aku jadi tak perlu bertanya asal muasal wanita berambut pirang itu kenapa bisa berbuat demikian.


Merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi seorang babu yang dibela oleh majikannya mati-matian di hadapan banyak orang. Aku sungguh tak menyangka bahwa Pak Reno akan melakukan hal memalukan seperti tadi kepada dua orang karyawan sekaligus. Aku berasa seperti nyonya besar yang dijunjung tinggi keberadaannya.


“Kami turun di sini saja,” seruku takkala melintasi sebuah mini market.


“Mau beyi estlim ya Bu?” netra Refa berbinar-binar menatap bangunan berkelir hijau muda itu.


“Iya bang,”

__ADS_1


“Cepatlah! Aku akan menunggu kalian di sini,” Pak Reno mengketuk-ketuk kemudi mobil dengan jemarinya sendiri.


Perkataannya membuatku melongo. Mini market ini adalah tempat langgananku bersama Refa yang jaraknya hanya sejengkal dari rumah. Aku hanya ingin mandiri seperti biasanya, tak perlu ditemani seperti ini.


“Bapak silahkan pergi saja ke kantor. Aku bisa sendiri,”


“Iya Pa. Papa pelgi aja cana hussss!” Bibir Refa manyun panjang. Pemandangan seperti ini lah yang mengingatkanku pada serial Donald Bebek sewaktu kecil dulu.


“Baiklah. Hati-hati ketika pulang nanti,”


Sebuah mobil berwarna hitam mulai melesat membelah keriuhan Kota Batam pada siang hari. Aku membenahi tubuh Pricil yang mulai melorot dari gendongan, anak ini tiada henti-hentinya mengoceh dari tadi.


Setelah berhasil membawa pulang beberapa bungkus chocolate ice, kami pun keluar dari bagunan mini market. Seperti sebuah adegan slow motion, seorang pria berambut ikal berjalan bersama wanita sambil memboyong beberapa paperbag di tangan keduanya. Jam tangan hitam melingkar dengan gagah di pergelangan tangan si pria. Tubuhnya yang bulat semakin bertambah kebulatannya takkala kemeja panjang membungkus bagian atas badannya.


“Aren,” ucapku ketika keduanya melangkahkan kaki tepat di hadapanku. Sepertinya si tabung gas ini sudah lupa dengan teman sepekerjaannya dulu.


“Chevani? Kau?” Wajahnya spontan memutih. Bahkan tak ingin berlama-lama, si kibo itu langsung menarik lengan istrinya setelah mengatakan bahwa dia sedang sangat sibuk di hari ini. Aku tak yakin, kuimbangi langkahnya dengan ikut menarik lengannya juga dari arah belakang. Sang istri jadi kebingungan.


“Maaf ini ada apa ya?” Wanita yang tak kalah bulatnya dengan Aren itu pun menampikkan raut heran. Sesekali ia menatap suaminya, berharap akan mendapat jawaban dari sana.


“Aku sedang tidak membutuhkan suami anda, melainkan ada sebuah kebenaran yang harus ia sampaikan kepadaku,”


Aren hanya menatap diam. Salah besar jika dia mengira bahwa aku akan melupakan perkataannya waktu itu. Terlihat jelas dari rautnya yang nyaris pasi. Mungkin baginya, bertemu denganku dan harus menyampaikan sebuah kebenaran adalah mimpi buruk di siang bolong.


“Jadi, siapa yang kau maksud telah menjadi pengkhianat di hidupku kemarin?” tembakku langsung yang membuat sepasang netranya membulat seperti uang recehan.


...***...


Bersambung


Kira-kira siapa ya orangnya?

__ADS_1


LIKE & COMMENT


Supaya aku makin semangat update ceritanya


__ADS_2