
“Gimana hari ini, lancar?” aku mengelus lembut puncak kepala Demian yang tengah bertengger di pangkal kakiku. Tak menyangka, jadi juga ternyata aku menikah dengan dia.
“Mereka bilang masakanku enak,” Demian menatapku dari arah bawah, pria itu menampilkan senyum sumringai.
“Oh ya?”
“Iya. Kau juga sudah pernah merasakan?” aku mengangguk mantap. Kuakui, makanan hasil tangan suamiku ini memang top markotop banget. Gatau kenapa, secepat itu dia bisa menjadi koki yang handal.
Malam-malam begini memang waktunya untuk bersua dengan orang yang tersayang. Menceritakan aktivitas siang hingga rasa kantuk datang menyerang. Pricilia sudah tertidur pulas sejak tiga puluh menit yang lalu. Kini giliran papa dan mamanya yang memadu kasih.
Entah lah, sejak menikah dengan Demian aku merasa bahwa hidupku benar-benar terlengkapi. Hilang sudah kekosongan dahulu, mesikpun Demian bukan lah Hero, namun setelah aku menjadi istrinya, aku seakan selalu berada di dekat suami pertamaku itu. Sepertinya antara Demian dan Hero memiliki pembawaan yang sama, wajahnya saja yang berbeda.
Brrrrm brrrrm.
Tiba-tiba saja halaman rumah kami dilintasi sebuah yaris putih. Awalnya aku tak perduli, namun ketika Demian mendadak bangkit dan ngacir ke daun pintu, maka aku pun langsung ikut beranjak juga.
“Ada apa?” suamiku kini menyembulkan kepalanya dari balik pintu menghadap keluar. Entah kenapa harus mengendap-endap.
“Sini!” tubuhku ditarik lalu disuruh untuk memindai tatapan ke sana juga. Kini antara kepalaku dan kepala Demian sama-sama menyembul di pusat pintu, pria itu di atas dan aku di bawah.
“Ibil?” sebuah gumaman halus yang ternyata bisa ditangkap oleh alat pendengaran Demian.
Saat ini, kami sama-sama menatap seorang wanita berkulit mulus dan pakaian ala-ala barat tengah turun dari kereta kencana bersama seorang lelaki tua. Sepasang netraku mengecil, menelisik sebuah tangan kokoh yang melingkar pada pinggang Ibil.
“Itu siapa?”
“Shhht jangan kenceng-kenceng!” sontak si Demian langsung menutup mulutku dengan telapak tangannya.
Di depan sana, tampak sepasang manusia entah sedang membicarakan apa. Keduanya terlihat antusias. Rengkuhan pria tua itu tak pernah lepas dari punggung Ibil. Begitu pun dengan sang wanita yang tampaknya tidak ada beban diperlakukan sedemikian rupa.
Ceklek!
Tiba-tiba saja Demian menarikku kemudian menutup pintunya rapat-rapat. Sedikit kesal karena aku masih ingin memantau apa yang dilakukan gadis belia itu di depan rumahnya.
“Kamu bisa ngambil kesimpulan dari pemandangan tadi kan?” Demian kembali bersuara, lalu kubalas dengan gelengan kepala.
“Ck! Lihat lah sayang. Ibil itu pulang dengan om-om,”
__ADS_1
“Hah? Maksud kamu oom anak ibunya ya?”
“Bukan,” Demian tampak begitu frustasi. Kemudian ia melanjutkan sebuah kalimat yang membuat jantungku terpompa kencang. “Ibil itu wanita sewaan,”
“Apa? Jangan asal nuduh kamu!” sempat kaget dan tersulut emosi atas ucapan asal Demian, namun setelahnya dia memberikan kecupan singkat di dahiku.
Pintar! Demian memang selalu begitu kalau aku marah.
“Jadi, kemarin sewaktu aku masih bekerja di depan,” mendengarnya ingataku langsung tertuju pada rumah susun yang baru jadi di seberang sana. “Aku dan teman-teman sepekerjaan melihat Ibil diantar sama anak seusianya, laki-laki,”
“Terus?” aku menyimak dengan khusyuk.
“Terus, mereka ngobrolin tentang uang sewa per jam gitu loh,”
“Ah! Masa sih? Kalian kok bisa dengar? Kan jauh,” aku masih belum percaya, namun mulai terpengaruh dengan ucapan Demian.
“Kan cuma bersebrangan, dan kebetulan mereka ngomongnya kenceng banget,”
Aku menyipitkan mata, mencari titik kebohongan dari raut Demian. Namun ia membalas manatapku tajam, seolah ngambek karena aku tak percaya dengan ucapannya.
“Udah ah, ayo tidur.” Balasku lalu menarik lengan Demian masuk ke dalam kamar.
“Tidur? Aku tidak mau tidur sebelum…” kepalaku sontak menoleh takkala Demian menjeda kalimatnya. Tanpa dia lanjutkan pun aku sudah tahu apa maksud dan tujuan dari perkataan itu.
Dasar Demian!
Tidak ada lelahnya kalau urusan ranjang.
Eh keceplosan hahahaha.
...***...
“Chevani,”
“Iya bu,” mataku menangkap penampakan seorang wanita yang tengah memboyong banyak paper bag di tangannya. Aku tersenyum ramah seraya menyendokkan nasi lalu memasukkannya ke dalam mulut Pricilia.
“Ini,” bu Naumi tampak antusias kemudian memberikan barang belanjaannya itu padaku. Alisku saling tertaut, setelahnya senyum mengembang muncul di wajahku.
__ADS_1
Oh ya ampun. Gini nih kalau orang kaya. Baru aja ngomong 24 jam yang lalu, eh sekarang udah ada aja.
“Banyak sekali bajunya bu,” kataku sambil mengacak-acak belanjaan bu Naumi. Banyak pakaian pria di sana, buat Ozon.
“Saya kurang yakin kalau ini akan berhasil. Tapi setidaknya, jika ada perubahan maka hadiah besar akan menantimu,” sebelum pergi bu Naumi sempat memberikan senyuman terbaiknya untukku. Aku membalas dengan jempol yang mengapung di udara.
Ya, meskipun ini berat, tapi aku yakin kalau Ozon pasti bisa berubah perlahan-lahan. Terkait iming-iming dari bu Naumi barusan, aku tidak terlalu memikirkan. Karena bagiku, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri kalau aku bisa menyembuhkan tradisi aneh sang Ozon tua.
Bismillah.
“Untuk apa mba?” saura familiar muncul dan membuat aku sontak menoleh. Seorang gadis dengan pakaian daster kembangnya menghampiriku di tempat ini.
“Oh, ini baju buat Ozon,” aku menatap wajah Alya yang kini mulai memerah, ia menahan tawa.
“Bukannya selama ini dia pakai baju wanita ya?”
“Justru itu, mba mau buat dia berubah,”
“Berubah?”
“Iya,”
“Hahahaha,” akhirnya tawa itu lepas juga. “Mba ini naif deh, mana bisa,” lanjutnya lagi sambil sesenggukan. Puas sekali rasanya ia meledekku.
“Usaha aja dulu, kan ada Tuhan,” aku melayangkan senyum yang tetap dibalas dengan gelak tawa.
“Yaudah terserah aja, semoga berhasil ya mba,” Alya ngacir sambil masih memegangi perutnya yang naik turun. Entah apa yang lucu, kurasa gadis itu juga mulai ikutan gila.
Dulu, sewaktu masih kecil, ayah dan ibuku pernah bilang kalau aku harus jadi wanita yang pantang menyerah. Kalau ada orang yang mencaci, tetaplah berjalan lurus tanpa harus menoleh. Sempat mengabaikan perkataan mereka waktu itu, karena mungkin aku masih kecil dan belum tahu bagaimana rasanya hidup. Aku hanya tahu membantu orang tua, makan dan bermain. Namun sekarang, setelah mereka wafat dan aku semakin dewasa, aku jadi mengerti bahwa perjalanan hidup itu tidak lah selalu mulus. Pasti ada saja cobaan yang menghantam dari berbagai arah. Dan beruntungnya aku masih bisa bertahan sampai sekarang. Mungkin di luaran sana banyak para wanita yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara tragis ketimbang menghadapi masalah yang tengah ia derita. Uh, sayangnya orang tuaku telah meninggal. Kalau tidak, mereka pasti bangga memiliki putri sekuat aku.
Chevani Agra.
...***...
Bersambung
Halo readers
__ADS_1
Aku minta pendapat kalian dong tentang cerita aku ini
Komen di bawah ya, okeh :)