SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
SUKINEM


__ADS_3

“Lain kali berusahalah untuk selalu berbaik sangka. Untung kau menemukan manjikan sebaik aku, jika tidak mungkin kau sudah digantung kemudian mayatnya dibuang ke tepi sungai lalu hanyut entah kemana.”


Aku bergidik ngeri. Perkataan Pak Reno yang setajam silet itu membuat otakku berpikir tiga kali lebih keras. Ah Chevani! Terkadang kau ini sok punya otak.


“Jadi aku tidak dipecat pak?” Tanyaku sesaat setelah dapat mencerna maksud dari ucapan Pak Reno.


“Tidak bodoh.”


“Lalu mengapa bapak turut andil dalam urusan pekerjaan rumah?”


“Memangnya salah? Itu rumahku dan aku berhak melakukan apa saja di sana.”


Benar juga. Huh Chevani, kau ini memang wanita bodoh! Sudah berapa kali kutekankan ke padamu agar selalu berhusnuzon pada orang lain, tapi mengapa kau tak paham-paham juga? Aku menggerutu di dalam hati.


Syukurlah. Aku sangat lega setelah mengetahui bahwa ini hanya perspektif buruk belaka. Tidak lucu juga kalau Pak Reno tiba-tiba memecatku tanpa alasan yang jelas.


Tidak ada percakapan setelah itu, Refa juga kelihatannya sedikit anteng kali ini. Mobil melesat membelah keriuhan pagi menjelang siang di Kota Batam, hingga pada sepuluh menit berikutnya kendaraan beroda empat yang kami tumpangi berhenti di sebuah warung kaki lima yang letaknya tak jauh dari bibir trotoar.


“Kalian tunggulah di sini. Aku tidak lama.” Suara Pak Reno kedengaran menginterupsi.


Aku memperhatikan majikanku yang baru saja keluar dari pintu mobil, dia menyembulkan diri ke zona warung tersebut. Tak lama kemudian lelaki berkumis rimbun menyambut hangat kedatangan Pak Reno seraya menepuk-nepuk bahu pria itu. Apa mereka sudah saling kenal?


“Dek Plicil abang punya mobin balu wekkk.” Tiba-tiba saja suara kaleng cempreng mencelos dari arah lain.


Aku menoleh ke belakang kemudian mendapati seorang bocah gendut sedang memeletkan lidahnya ke arah putri kecilku.


Ck Refa! Jangan bilang penyakit suka menghina orangnya kambuh lagi.


“Dek Pricil juga punya boneka baru, tuh.” Aku membalas seraya melaungkan jari telunjuk ke arah beruang gendut berpita merah.


Yang diajak bicara pun mengikuti gerakan jemariku hingga dalam detik berikutnya netranya membulat sempurna tanda terkejut.


“Wow itu punya dek Plicil?” Tanyanya keheranan.


“Iya dong bang.”


“Kenapa becal banget bu? Dek Plicil kan tecil.”


“Iya supaya kalau bobo dek Pricil bisa peluk bonekanya.”


“Ouuuu.” Bibir Refa membentuk bangunan kerucut. “Tiapa namana?”


Aku sontak berpikir takkala mendengar pertanyaan dari bocah berpipi gembil itu. Haduh aku sampai lupa bahwa Refa adalah sosok kritis, ia pasti akan bertanya sampai ke akar sebelum mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan hatinya.

__ADS_1


“Ummm siapa ya? Oh namanya Marijan.” Aku menjawab sekenanya. Astaga! Mengapa jadi Marijan.


“Malijan?” Bocah itu tampal setengah berpikir. “Nda cocok bu, bonekanya tan ada pita melah belalti dia pelempuan kaya dek Plicil. Talo pelempuan namanya butan Malijan.”


Huft benarkan dugaanku. Tengil satu ini tak akan berhenti bertanya sebelum ada jawaban yang benar-benar pas dihatinya. Haduh ada-ada saja, memangnya siapa aku bisa menciptakan nama yang bagus dalam sepersekian detik?


“Kalau begitu namanya Sukinem saja.”


Oh My God Chevani! Dasar bodoh!


Kenapa mulutmu jadi suka ceplas ceplos begini sih. Memangnya ada ya boneka beruang selucu itu diberi nama Sukinem? Huft sudahlah, terlanjur.


“Hah cukinem?”


“Iya bang.”


“Hayo Cukinem. Nanti tamu naik di atas mobin atu yaaa.” Refa menepuk-nepuk kepala Sukinem di belakang sana. Ups salah! maksudku si boneka beruang.


Klek.


Mobil mendadak bergoyang.


Oh Pak Reno sedang membuka pintunya ternyata.


Aku membuang pandangan ke arah luar melalui kaca mobil, tampak beberapa pengguna kendaraan bermotor mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah muka. Matahari mulai menyeruak ke pusat langit dan membuat bumi menjadi terbakar, pantas saja manusia-manusia di tempat ini menggeliat kepanasan.


Akhirnya setelah kurang lebih 20 menit berada di dalam kendaraan beroda empat ini kami pun tiba di sebuah hamparan luas yang diisi oleh berbagai jenis bunga dan juga tanaman lainnya. Tempat ini sangat indah, di bagian tengahnya ada sebuah kolam kecil yang dihuni makhluk-makhluk beringsan dan bersirip. Huh aku jadi teringat peristiwa beberapa bulan lalu di mana Pak Reno membiarkan aku menempati rumah klasiknya selama satu minggu penuh. Ya Tuhan semoga Engkau melimpahkan keberhakan untuk majikanku ini, sungguh dia sangat baik meskipun sikapnya teramat dingin.


“Ayo!” Yang didoakan pun ternyata sudah berdiri tegak di hadapanku. Pria itu mengambil langkah menuju sebuah pohon rindang yang bagian bawahnya dipenuhi oleh rerumputan hijau.


“Kita di sini saja. Duduklah, rumput ini tidak kotor.”


Cuaca yang sebenarnya panas saat ini tidak begitu terasa karena tertutupi oleh rimbunnya dedaunan dari pohon kayu besar ini. Entahlah, aku juga tidak tahu jenis pohon apa yang tercegak di hadapanku sekarang yang jelas batangnya sangat besar dan akarnya juga menjalar panjang bak tali tambang.


“Silahkan di makan. Itu ada bubur ayam untuk putrimu.” Pak Reno menyuguhkan sebuah plastik besar di hadapan kami. Aku mengambil dua, satu untukku dan satu untuk Pricilia.


Aku membuka bungkusan itu dengan perlahan. Rencah-rencah sayuran teronggok segar di depan mataku.


“Ou gado-gado ternyata.” Batinku dalam hati.


Potongan tahu, kacang panjang, tauge, irisan mentimun dan selada-selada anom yang dipadu dengan kuah kacang kental membuat indera pengecapku sangat tak sabar untuk menjajalnya. Seingatku terakhir kali aku makan gado-gado suwaktu aku masih menjadi isteri sah dari Hero Winata. Dan sekarang aku kembali menyantap makanan ini namun bersama lelaki yang berbeda, seorang lelaki yang telah beranak istri.


Ohiya, Bu Farah bagaimana ya?

__ADS_1


“Pak. Kenapa istri bapak belum pulang juga?” Sebuah pertanyaan mencelos begitu saja dari mulutku.


Hening.


Aduh aku salah ngomong lagi. Guratan wajah Pak Reno mendadak kusam sesaat setelah aku menyebut kata ‘istri’ di sana. Chevani dungu! Punya hak apa kau ingin tahu urusan orang lain, ck!


“Ma- maaf pak saya tidak bermaskud un-“


“Tidak apa-apa.” Pak Reno menyela sebelum aku selesai berbicara. Pria itu sedikit pun tak melirik ke arahku, matanya sibuk memandang cercahan sayu-sayur segar kemudian mulai memasukkannya ke dalam mulut.


“Kenapa bapak mau makan makanan yang berada di pinggir jalan?” Huft yang benar saja. Aku baru tahu kalau ada orang kaya yang doyan food made by warteg.


“Memangnya kenapa?”


“Setahu saya orang-orang kaya takkan mau menyantap makanan yang berada di kaki lima. Katanya sih jorok dan tidak enak.”


“Kau lihat saja sendiri tadi. Tempatnya begitu bersih dan makanannya pun juga enak. Itu adalah warung langgananku.” Jelas Pak Reno seraya menyuapkan irisan tahu sekaligus kuahnya pada Refa.


“Oh saya kira semua orang kaya tidak akan mau.”


“Mainmu kurang jauh.”


Ish. Selalu saja aku salah di mata pria ini.


Pak Reno memang baik bahkan dia termasuk lelaki yang sangat dermawan. Namun sikap dingin dan cueknya itu membuat aku merasa sedang berbicara pada sebongkah es batu. Tak jarang ia menyelipkan kata-kata pedas yang membuat aku kesal tidak karuan. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun juga aku menghidupi diri dari uang yang diberinya padaku setiap bulannya.


“Papa. Atu mau ambin cukinem duyu di mobin, dia beyum mamam.” Refa angkat suara seraya mengambil langkah untuk pergi.


“Hah? Sukinem? Siapa dia?”


MAMPUS AKU!


...***...


Bersambung


Halo readers


CHEVANI ganti judul jadi SUAMI KITA BERSAMA yaa eheh😁


Next ceritanya bakal lebih seru dan banyak kejutan


Pantengin terus Sukinem ya ehh sori, maksudnya pantengin terus SUAMI KITA BERSAMA yaaa 😚

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2