
“A- anu ma.” Aku beranjak menuju pintu kamar tempat dimana Refa menyembulkan diri. “Itu anak majikanku, orang tuanya belum pulang jadi terpaksa kubawa ke sini. Aku akan segera membawa bocah itu balik kerumahnya pagi ini juga. Maaf.”
Ya Tuhan bakal ada penyiksaan sejenis apa lagi ini.
“Oma atu numpang lumahnya bental ya, atu puyang kok hali ini.”
“Eh iya sayang gapapa, main di depan yuk sama oma.”
WHAT?
Ini beneran?
Aku melotot heran, bagaimana mungkin si nenek reot itu dapat menerima kehadiran Refa dengan lapang dada? Apa otaknya sedang korslet?
“Ayuk oma.” Refa menggandeng tangan Bu Lastri kemudian berlalu meinggalkan aku yang masih diselimuti oleh tanda tanya.
Sebenarnya ini ada apa sih? Sumpah aku jadi bingung sendiri melihat tingkah mertuaku yang mendadak berubah 180 derajat. Sangat lucu bagiku bila seekor singa tiba-tiba saja menjelma menjadi kucing anggora.
Aku meneruskan ritualku bersama sudip dan kuali putih selama beberapa menit ke depan. Setelah semua kelar aku beranjak ke depan guna menyamperi Refa dan menyuruhnya untuk meyikat gigi kemudian makan.
Namun belum sempat aku menginjakkan kaki ke beranda rumah tempat keduanya sedang beradu cakap, telingaku tak sengaja mendengar percakapan antara wanita setengah abad dengan seorang bocah kencur di depan sana.
“Refa udah sekolah?”
“Beyum oma, tapi atu udah bica hitung loh. Satu dua tiga empat lima.” Refa mengayunkan ruas jarinya mengikuti deretan angka. Aku menguntit dari belakang pintu.
“Wah pintar sekali kamu.”
“Iya oma atu teling diajalin papatu kalo di lumah.”
Ya Tuhan, kenapa mereka terlihat sangat akrab sekali? Keduanya tak ubah seperti nenek yang sedang bercanda ria dengan cucu kandungnya sendiri. Aku terpukul. Tidak, ini bukan atas diriku sendiri melainkan Pricil. Kenapa dengan cucu aslinya ia tak pernah bersikap manis seperti itu? Ah jangankan untuk hal-hal berbau cinta, menoleh saja pun ia tak pernah mau.
“Bang.” Panggilku setelah menyudahi acara sendu. “Sikat giginya terus makan yuk. Habis itu kita langsung ke rumah kamu.”
“Yeeee puyaaang, atu puyang.” Refa senang bukan main. Perut buncitnya turun naik takkala kakinya bekerjasama dengan tubuh untuk melompat.
Aku memboyong Refa ke kamar mandi kemudian langsung mengevakuasi bocah tengil itu di sana. Selang beberapa menit kami berdua telah sukses mendaratkan bokong di kursi meja makan yang di atasnya sudah terhidang beberapa menu santapan pagi.
“Oma ayo kita mamam duyu.” Refa berteriak.
“Iya duluanlah nak.”
Aduh Refa! Kamu aja yang gatau gimana hubungan ibumu ini sama si gerandong itu. Ya jelas lah dia gamau makan bareng kita di sini.
“Dek Plicil ga mamam bu?”
__ADS_1
“Nanti sayang sebentar lagi.”
Aku memang sengaja tak menggugah anakku dari tidurnya karena saat ini aku masih fokus mengurus Refa. Aku tak membayangkan bagaimana keadaanku jika mengurus kedua bocah kecil itu dalam satu waktu.
“Nyam nyaaaam.”
“Enak bang?”
“Enak bu. Cemua matanan ibu enak, aku cuka.”
Syukurlah. Bukannya aku sedang menyombongkan diri tapi memang kata orang-orang yang sudah pernah memakan masakanku pasti semua pada memuji dan ketagihan minta tambah lagi.
Kretek kretek.
Aku memutar badan 360 derajat yang kemudian disusul oleh bunyi tulangku yang saling bertubrukan. Oh sungguh istirahat total selama tiga hari pun tak akan cukup mengobati penat di diriku.
“Sudah sayang?” Piring Refa sudah kosong, kini saatnya aku beralih ke wastafle dan mencuci semua benda-benda dapur yang kotor. Kalau bisa sekalian singa betina yang lagi di dalam kamar juga digosok kikikik.
...***...
“Papaaaa papaaaa atu puyang.”
Ya Allah semoga Bu Farah udah pulang, plis.
Bokong Refa bendal bendul takkala bocah itu berlari menuju halaman rumah.
Rumah kosong, tak ada tanda sesiapapun di tempat ini. Kalau Pak Reno sih aku sudah tahu dia dimana yang jelas sedang bekerja. Tapi kalau Bu Farah? Kemana dia?
“Bang papa kamu kan lagi kerja.” Kataku mengimbangi langkah Refa.
“Ohiya lupa.” Si bocah gendut itu melepukkan tangannya sendiri ke permukaan jidat.
Aku tak lagi menjawab. Segera saja kuambil bantal serta beruang gendut guna menemani Pricil di tempat biasa ia tergeletak. Perasaanku ga enak, hatiku seolah berkata kalau Bu Farah tak kembali hari ini.
“Apa kutelpon Pak Reno saja ya? Aish aku sungguh tak sabar menunggu kepastiannya.”
Eh tapi jangan deh. Kalau tiba-tiba si majikan songong itu ngira kalau aku sok akrab gimana? Kan jadi malu.
Piring kotor di wastafle tidak terlalu banyak hari ini, mungkin karena Refa tak ada. Biasanya kan si belau satu itu yang selalu menggunakan banyak piring. Tapi syukur deh karena aku ga perlu terlalu ngorbanin pinggangku sekarang.
Kalau lagi cape begini aku jadi teringat Hero. Dulu dia pernah satu malaman pijetin badanku hihihi. Katanya sih ga pengen ngeliat istrinya kecapekan, padahal mah aku tau kalau yang dia lakuin juga semata-mata karena modus. Pria itu memang begitu, selalu saja menggunakan banyak dalih demi menggapai apa yang dia inginkan. Terakhir kali omongannya yang paling kuingat adalah ketika adam tersebut menginginkan seorang jagoan setelah kelahiran Pricilia kami. Tapi sayang, semua dipaksa berhenti padahal waktu belum juga usai. Heum.
16:30
Pendar pendar kuning mulai menjalar ke ufuk Barat. Aku meraih sebuah sapu lidi yang kemudian kugunakan sebagai media pembersih hamparan rumah.
__ADS_1
“Ibu atu mau macak.” Suara seorang bocah mengagetkanku dari belakang. Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku takkala mendapati apa yang tengah kusaksikan saat ini.
“Astaga bang kamu kotor banget.”
Sumpah ini merupakan bad view yang pernah aku lihat. Refa berlumuran tepung dan hampir saja aku mengira bahwa dia adalah seorang tuyul.
“Atu mau macak!”
“Hah?” Aduh yang benar saja. Bisa-bisa anak satu ini yang tergoreng di dalam kuali.
“Ayo bu ayo.” Kali ni Refa mulai menarik lenganku menuju dapur.
“Ibu mau sapu halaman rumah kamu sayang ya ampun.”
“Atu mau macak itan pake tepung.”
“Iya besok yaaa.”
“Nda mau!”
Aish Gusti. Gimana ini? Lagipula kok bisa sih dia nemuin tepung yang udah rapat-rapat kusembunyikan di dalam lemari bumbu.
...***...
Bersambung
Halo para readers
Apa kabar kalian semua ?
Ohiya jangan lupa buat selalu like, comment & vote yaa 😍
Tap favoritnya juga oke ehehe
Plus singgah juga di novel aku satu lagi
AKU KAU DAN ISLAM
Ceritanya ga kalah seru kok 😚
Semoga urusan kita dipermudah dan selalu diberi kesehatan :)
Follow juga ig author: wandahandayani24
Bye semua 😍
__ADS_1
Love love love love love love
❤️