SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TAMPARAN BERTUBI-TUBI


__ADS_3

Aren tampak berpikir seakan ada sederet kalimat yang tak mampu keluar dari mulutnya. Jemari gembulnya memijat-mijat sepasanga alis yang saling bertaut, kepalanya tertunduk menatap permukaan lantai yang penuh dengan lalu lalang kaki.


“Ah iya jadi bagaimana dengan upah kami?”


Ups! Aku keceplosan.


Astaga Chevani, bisa-bisanya dalam situasi teruk begini kau bertanya perihal materi.


“Untuk pesangon para karyawan besok akan dibagikan.” Lelaki yang berada di hadapanku itu menjawab seraya mengangkat kepala dan menampilkan wajahnya yang bulat itu.


Oh syukurlah, batinku dalam hati.


Saat ini café berangsur ramai oleh pengunjung. Musik jazz pun kian beradu dengan cekikikan orang-orang yang berada di lokasi ini. Aku membuang pandangan pada sekeliling dan mendapati banyak muda mudi yang sedang bersua satu sama lain. Ah indahnya jika yang ada di posisi mereka itu adalah aku.


“Che.” Suara besar itu kembali terdengar. Aren menatap intens kedua bola mataku lalu entah mengapa tangannya juga ikut-ikutan menggapai sebelah tangan milikku yang tergeletak di atas meja.


“Menikahlah denganku, kupastikan kau tak akan sekelit ini.”


Bugh.


Bugh.


Bugh.


Telingaku yang baru saja mendengar deretan kata dari bibir Aren terasa nyeri bersamaan dengan dadaku yang seolah ditonjok-tonjok dengan kepalan palu. Hei, bagaimana mungkin si gondrong ini mengajak seorang janda beranak satu sepertiku untuk menjadi istrinya? Apa dia sedang mabuk lagi?


Aku terdiam seribu bahasa, tak ada yang dapat kulakukan selain membeku di tempat. Oh ayolah Pricil, ayo bersuara. Mama sungguh tak ingin suasana jadi canggung begini.


“Aku akan membangun sebuah usaha yang nantinya akan menjadi ladang penghasilan kita. Kau tak perlu repot-repot menjadi pembantu atau pun tukang cuci lagi. Aku juga sudah lelah Che. Aku lelah bergelut dengan pekerjaan sebagai seorang asisten mucikari. Ah sepertinya hidupku selalu sial semenjak aku berpusat pada dunia kupu-kupu malam.” Aren melanjutkan kata-katanya, sesekali netranya tertuju ke arah Pricil yang masih anteng dalam gendonganku.


Selama ini Aren bertugas sebagai seorang penjual wanita kepada para lelaki hidung belang. Aku sempat kaget takkala ia berkata bahwa dirinya lelah dengan profesi itu. Kukira dengan melihat postur badannya yang seperti balon ini Aren bahagia dengan apa yang dia miliki, ternyata tidak. Huh lagi-lagi ada pelajaran baru yang kuterima hari ini, bahwasanya bahagia tidak selalu terlukis dari penampilan depan seseorang.


“Che kenapa kau tidak menjawab?”


“Kau mau kan menjadi istriku?”


“Che.”


“Che.”


“CHEVANI AGRA!”


“Hah? Astaga! Kau sedang berbicara padaku?”


Oh No! Aren berbicara terlalu keras sehingga membuat beberapa pasang mata menatap kami nanar. Apa yang ia katakan tadi? Sungguh aku sama sekali tak mendengarnya.

__ADS_1


“Aku sudah berbicara dari tadi, apa kau tak mendengarnya?” Sela Aren seolah tahu isi pikiranku.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Syukurlah, orang-orang sudah tidak menatap ke arah kami lagi.


“Jawab aku Che.” Lelaki di hadapanku ini kembali menginterupsi. Ah aku jadi serba salah. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan seseorang yang tidak kucintai? Kata orang cinta itu tidak bisa dipaksa.


Sudahlah lebih baik aku diam saja. Aku tak mungkin menerimanya dan tak mungkin pula tega mengucapkan kata “tidak” pada Aren. Bagaimana pun dia adalah pria sekaligus sahabat yang telah banyak membantuku selama ini. Ya, cukup sahabat dan tidak lebih.


“Kau menolakku? Kenapa? Apa kau sudah memilki calon?”


Hening.


“Lelaki mana yang telah mengambil hatimu saat ini Che? Katakan padaku!”


Hening.


“Aku hanya ingin memastikan bahwa rasanya tak sedalam cintaku padamu.”


Hening.


“Che, kenapa kau tidak menjawab?”


“Chevani!”


“Oh sekarang aku tahu. Apa kau masih berharap pada mantan suamimu itu hah?”


“Atau kau memang sengaja menutup hati demi bajingan itu?”


“Dia tak akan kembali Che!”


“Pria jahannam seperti dia mungkin sudah mati dan mayatnya sudah ditelan oleh cacing-cacing liar.”


“Dan Pricilia putrimu! Dia membutuhkan sosok ayah yang akan menjadi jaminan masa depannya kelak.”


“Kau tak akan mungkin bisa menghidupinya seorang diri bukan? Maka menikahlah denganku.”


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


“Awwwww”

__ADS_1


Plak!


“SIAL!”


Bajingan! Bajingan kau Aren!


Aku mendaratkan tamparan bertubi-tubi di kedua pipi bulatnya. Apa katanya tadi? Aku mungkin bisa terima jika dia mencaci maki mantan suamiku. Namun sungguh demi apa pun hatiku sangat sakit ketika ia berucap bahwa aku tak akan sanggup menghidupi putri kecilku. Dari mana bajingan itu tahu? Sungguh anakku sudah akan mati dari dulu bila aku adalah ibu bodoh yang tak mampu menafkahi Pricilia.


Aku tak perduli! Aku tak perduli jika saat ini ramai mata yang sedang menyaksikan hot view ini. Asal dia tahu saja! Jangankan anakku, bahkan mertuaku pun sudah aku yang menghidupinya dari dulu. Jadi sangat tidak pantas rasanya bila si badan tabung gas itu berspekulasi bahwa aku “tidak mampu.” No! Jangan sampai kata itu terdengar lagi oleh telingaku ini.


Aku berlari dan meninggalkan Aren yang masih membeku di tempat.


Gedebak gedebuk.


Aaaaaaaaa! Sial! Sialan kau gondrong!


Hatiku rasanya sakit sekali.


Ya Tuhan.


Kenapa kalimat itu harus terucap dari mulutnya?


Dia adalah pria baik yang selama ini menyelamatkanku dari kesusahan. Namun apa maksud dari semua ini? Apakah dia memperalat kebaikannya untuk mengambil kesempatan dariku? Sumpah! Aku benar-benar tak habis pikir.


Tiba-tiba saja lututku terasa lemas lalu ambruk di atas permukaan tanah. Oh untung saja posisi tubuhku berada di dekat pohon rindang sehingga aku dapat menyembunyikan badan kecilku di balik batang besar ini.


Buliran air mengalir deras dari pelupuk mata menuju pipi dan berangsur ke kawasan bibir. Cecairnya yang mulai menembus dan masuk ke dalam bagian mulutku terasa sangat asin dan menyisakan rasa. Ya Tuhan, hatiku tersayat sekali.


Sejujurnya aku juga belum bisa melupakan Hero. Aku masih tidak percaya jika mantan suamiku itu benar-benar telah mengkhianatiku. Meskipun pernikahan kami masih dapat dikatakan sebagai usia jagung namun aku mengenalnya sudah belasan tahun. Aku tahu persis bagaimana ia melakukan banyak cara dan pengorbanan demi membuat aku jatuh cinta kala itu.


Di sini, di Kota Batam ini. Aku masih menunggu sosoknya kembali dan menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Hatiku memang sakit bila mengingat kembali kejadian pengkhianatan dan surat pengadilan yang ia berikan kepadaku setelahnya. Namun entahlah, hati kecilku berkata bahwa Hero melakukan ini semua karena terpaksa. Lelaki berhati malaikat sepertinya tak akan mungkin tega menodai ikatan suci yang telah diucapkannya sendiri di hadapan Tuhan. Dan aku percaya itu.


Hero, kasihku.


Kelak jika kau kembali, aku akan tetap mengingatmu sebagai suami yang senantiasa mencinta dan menyayangiku.


Semoga kita masih memandang langit yang sama.


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys


Jangan lupa baca cerita AKU KAU DAN ISLAM ya 😉

__ADS_1


Sehat selalu 🤗


__ADS_2