
“Kembalikan anakku!”
“Eh!”
“Sini! Dasar kau penculik bayi!”
“Apa ini?”
Bugh!
“Aduuuuh.”
Kondisi bumi seakan berputar-putar membuat tubuhku melayang tak karuan. Kepalaku mendadak sakit seperti ada benda kasat mata yang menimpuknya dari arah atas. Aku menarik napas dalam seraya menormalkan posisi tubuhku yang tidak seimbang hingga dalam satu menit berikutnya kedua mataku sempurna kembali untuk memandang.
Di depan sana aku melihat sosok wanita berparas oval tengah menampikkan emosi tingkat akut. Dadanya naik turun, giginya menggeletuk serta tangannya yang merengkuh erat bayi yang kutaksir sebagai putriku itu.
Aku tidak suka dengan caranya memperlakukanku. Seenak jidatnya saja ia menimpuk kepalaku hingga jadi puyeng tujuh keliling begini. Aku menarik tangannya paksa guna mengambil Pricilia dari dalam sana.
“Kembalikan anakku uhh!”
“Hei apa-apaan kau! Ini anakku!”
“Mana?”
“Ini!”
Plaaaaaak!
__ADS_1
Oh Tuhan.
Kepalaku yang tadinya sudah mulai membaik kini kembali lagi ke keadaan semula bahkan lebih parah. Wanita itu membuka rengkuhan kedua lengannya hingga terlihatlah wajah putri kecil itu.
Wajah bulat dan mata sipit.
Tidak! Itu bukan putriku, aku salah.
Wahai Pemilik dunia, sumpah aku jadi malu sekali.
Bagaimana mungkin aku dapat mengira bahwa bayi itu adalah anakku sendiri? Apa khayalanku tentang Pricilia sudah mulai akut? Ck! Sial sekali! Ternyata hanya bajunya saja yang mirip.
Aku malu, sangat. Bahkan saat ini kerumunan orang sudah padat melihatku yang bertingkah seperti orang bodoh. Aku menarik anak tadi dari gendongan ibunya bahkan aku sempat berkata bahwa perempuan itu adalah penculik bayi. Padahal aku! Akulah si penculik bayi itu. Eum maksudku aku hampir menculiknya tadi.
“Lain kali jangan asal nyerobot mba. Kan jadi malu situnya.” Suara wanita berambut sebahu tadi kembali terdengar.
Semua menatapku sinis tanda tak suka. Mungkin mereka menganggap bahwa aku ini adalah seorang ibu yang sudah gila gara-gara kehilangan bayi.
Gedebuk gedebuk gedebuk.
Hentakan kakiku terdengar nyaring.
“Huuu dasar wanita gila!” Teriak beberapa orang dari ujung sana.
Ya Tuhan. Kenapa harus ada kejadian ini sih? Memangnya apa tidak bisa hidupku ini sehari saja merasakan bahagia! Apa memang akan begini terus sampai aku mampus? Huh!
Aku sudah menjauh, tak lagi berada di lokasi pasar itu. Bahkan mungkin aku tak akan pernah mau lagi menginjakkan kaki kesana mengingat kejadian gila tadi. Ya sudahlah! Kalau begini ceritanya aku lebih baik belanja di kedai biasa saja setiap hari.
__ADS_1
Oh Pricilia anak mama, semoga kita segera bertemu.
...***...
Aku menyantap sisa makanan yang hanya tinggal tiga sendok itu lagi di dalam piring. Berhubung karena kedai yang kukunjungi tadi besar maka aku bisa sekaligus membeli banyak sayur sebagai stok tujuh hari penuh. Aku tak membeli sayur dedaunan karena itu hanya akan bertahan satu hari, sebagai gantinya aku memboyong satu kilo kol, wprtel, kentang, brokoli dan berbagai jenis sayur serupa lainnya. Aku juga hanya membeli ikan khusus untuk hari ini saja dikarenakan tak ada lemari es di sini. Entah kapan akan terwujud namun aku berharap suatu hari nanti seorang Chevani Agra dapat memiliki rumah sendiri dan barang-barang bagus di dalamnya. Ngayal aja dulu.
Tok tok tok.
Jari telunjukku menari-nari di atas meja.
Aku bingung, waktuku hanya ada 1 * 24 jam untuk memikirkan tawaran Pak Reno. Sebenarnya pria itu sungguh memaksa! Bisa-bisanya di tengah kegundahanku akan Pricilia dia malah memaksaku untuk menjadi istrinya.
Banyak hal yang harus kupertimbangkan. Diriku sendiri, Bu Farah, Refa dan juga Hero alias mantan suamiku itu. Jujur, aku memang belum mampu melupakannya hingga sekarang. Bayang-bayang akan kenangan kami bersama selalu menyeruak ketika aku hendak tidur malam dan kian terbayang sepanjang hari. Dia memang menghianatiku bahkan bercumdu di hadapanku dengan jalang itu. Tapi aku yakin, aku percaya kalau ada sesuatu yang membuatnya melalukan itu semua. Aku perlu bertemu Hero. Aku ingin memastikan kalau dia masih sangat mencintai wanitanya ini. Tak mungkin Hero dapat melupakanku dengan mudah karena aku sudah paham betul bagaimana perasaan lelaki itu terhadapku. Lagipula dia pernah berjanji akan membuatkan adik untuk Pricilia dan aku percaya mustahil ia mengingkari kalimat itu.
Tapi di mana dia? Masih berada di sekitarku atau mungkin sudah pergi jauh? Oh sayangku, aku mohon kembalilah. Aku tak kuasa bila harus menghadapi ujian ini sendirian bahkan aku juga tak dapat membayangkan bagaimana jika aku menerima tawaran untuk menjadi istri Pak Reno dan setelah itu kau kembali. Bagaimana? Bagaimana Hero? Ayo pulanglah! Pikirkan juga aku dan anakmu di sini.
Aduuuh aku jadi kesal. Entah kenapa bapak beranak satu itu harus menemukanku tadi pagi. Mulut siapa yang berani membocorkan tempat tinggalku? Lihat saja kalau bertemu dengan orangnya pasti akan kuikat muncung remesnya itu dengan karet bekas.
Tapi ngomong-ngomong Pak Reno bagaimana kerjanya ya? Jangan bilang dia membawa Refa sekalian ke kantor sana. Waduh ga kebayang aku tuh! Bisa-bisa seisi gedung itu jadi kapal pecah kalau sampai si perusuh satu itu ikut ke sana. Lagian mesti sekali sih dia harus memakai aku saja sebagai pembantu sekaligus ibu asuh bagi anaknya? Coba kalau pekerja di rumah itu ada dua, pasti kejadiannya tak akan serepot ini dan aku pun tak perlu berpikiran was-was di sini.
Nafsu makanku mendadak hilang. Aku meletakkan piring dengan sisa nasi di atasnya itu ke atas wastafle. Nanti saja lah kucuci, badanku terasa berat untuk diajak bergerak.
Aku merebahkan tubuh di atas ranjang seraya menatap langit-langit kamar. Kalau sudah dalam posisi telentang begini aku merasa seolah ada aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhku. Aku jadi teringat dulu Hero itu senang sekali kalau sudah melihat aku tiduran seperti ini. Pasti pria berhasrat badak itu langsung menindih dan mencumbuku dari arah atas. Pernah sewaktu-waku ketika aku sedang tertidur pulas tiba-tiba saja aku merasa ada sebuah benda basah yang menggeliat di atas gundukan bawah daguku. Aku ketakutan, kukira sedang ada lidah anjing yang menjilati area sensitifku. Waktu itu aku juga mendadak bangun dan dengan berat mata mencoba menerawang sang empunya benda. Aku sempat ketakutan dan setelah kulihat ehhhh gataunya itu ulah si Hero. Astaga hihi. Ah sudahlah! Semakin mengingatnya bagian ituku jadi semakin geli.
...***...
Bersambung
__ADS_1
LIKE & COMMENT
Sehat selalu yaa 💐