
Aku sudah bersiap dengan kuku-kuku jari yang tergigit di tangan. Tak ada hal lain selain menunggu dokter keluar dari ruang UGD.
“Kalau begitu kami pulang dulu ya,” seorang pria berpamitan padaku.
Saat ini kami sedang berada di rumah sakit pusat kota demi menyelamatkan nyawa Demian. Syukurnya para warga cepat tanggap dan mengambil sikap sesaat setelah launganku menerobos telinga mereka.
Bukan main rasanya saat melihat tubuh orang yang baru saja bersenda gurau denganku semalam menegang di atas ranjang. Bahkan kukira dia sudah berpindah ke pangkungan Ilahi.
“Keluarga dari bapak Demian?” pandanganku beralih takkala seorang pria paruh baya berpakaian serba putih keluar dari dalam sana.
“Iya dok benar. Bagaimana keadaannya?”
“Sepertinya pak Demian sudah keracunan sesuatu. Tapi ibu tenang saja, karena kami telah memberikan pelayanan intensif sehingga dia sudah sadarkan diri,”
“Apa! Keracunan? Bagaimana bisa?”
“Saat kami tanya beliau tidak ingin menjawab. Namun yang terpenting saat ini adalah pak Demian sudah bisa untuk jenguk,”
“Baik dok, terimakasih,” ucapku kemudian langsung ngacir ke dalam ruangan.
Aku menelan saliva berat setelah mendengar penuturan dari seorang pria dengan sebuah stetoskop yang tersemat di leher. Keracunan? Sebaiknya aku langsung bertanya pada Demian untuk lebih memastikan.
“Kenapa kau bisa keracunan?” tembakku langsung pada lelaki dengan jarum infus di punggung tangan. Wajahnya pucat pasi. Aku tak menemukan semangat hidup di sana.
“Chevani. Apa kau menemukan aku tadi?”
“Iya, kukira kau sudah mati,” aku meraih kursi yang tersedia di atas brankar. Pricilia yang kini sudah mulai pandai berjalan harus kujaga ekstra agar tak hilang seperti kejadian lalu.
Demian menghela napas panjang. Netranya membidik selang transparan yang bergantung setinggi dua meter. Bau obat-obatan juga menyeruak di dalam ruangan berkelir serba putih ini, membuat perutku jadi mual ingin muntah.
“Aku bukan keracunan, lebih tepatnya memang sengaja meracun diri,”
“APA!” aku spontan berteriak sehingga membuat Pricilia tersentak kaget. Seingatku keadaan psikis Demian baik-baik saja setelah pertemuan kami kemarin di rumah pohon. Lalu kenapa tiba-tiba dia ingin membunuh dirinya sendiri dengan meminum racun?
“Aku lebih baik mati ketimbang harus menyaksikan kau dimiliki oleh orang lain Che,” alisku saling tertaut seraya mencerna perkataan Demian barusan. Ya Allah, apa hatinya sedang terluka?
“Apa hubungannya?”
“Kan sudah kukatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau menikah denganku, bukan Reno,” sambil menahan nyeri di tubuhnya, Demian meraih tanganku kemudian dia genggam erat-erat. Aku dapat merasakan jemarinya yang bergetar hebat, mungkin kondisi jantungnya belum terlalu normal.
“Bisa-bisanya sedang sakit begini kau malah membuat lelucon,” aku tertawa renyah.
__ADS_1
“Apa yang dapat kulakukan agar kau percaya?”
Ah… kurasa Demian sudah gila. Aku menatapnya lekat, ia membalas lebih dekat. Tampak sejuta kesenduan dari pancaran netranya yang sayu.
“Kau tahu aku akan menikah besok dengan Pak Reno kan?”
“Justru karena aku tahu, makanya aku berusaha untuk membunuh diriku sendiri,”
Hanya karena aku si tetangga yang baru saja ia kenal ingin menikah dengan orang lain, makanya dia merencanakan bunuh diri? Ayo berpikir keras Chevani. Ini hanya akal-akalannya belaka. Mana ada cinta bisa tumbuh secepat kilat.
“Kalau begitu aku permisi dulu. Kau lekas sehat ya,” putusku pada akhir cerita. Aku bingung harus berkata apa. Bahkan lebih tidak tahu harus menyikapi setiap kalimat Demian dengan sebuah kepercayaan atau dusta belaka.
“Jadi kau akan tetap menikah dengan majikanmu itu?”
“Iya,”
“Baiklah. Semoga kau bahagia ya. Sekarang tinggalkan aku di sini sendiri!” Demian membuang wajahnya kasar. Tampak dadanya mulai bergemuruh. Dan mata itu, mulai menitihkan rintik-rintik air.
Aku terkesiap sekaligus panik. Apa Demian sedang bersungguh-sungguh? Hei, yang kutahu bahwa laki-laki itu tidak mudah untuk menjatuhkan air mata. Dan sekalinya bila dia menangis, sudah pasti itu tidak main-main.
Namun aku tetap pada keputusan pertamaku, keluar dari tempat ini. Biarlah Demian sendiri, kalau ada apa-apa dia bisa memanggil suster. Pak RW bilang, biaya pengobatannya akan ditanggung keseluruhan, dan tentu saja hal itu membuatku tak perlu lagi memikirkan apapun tentang keadaannya di rumah sakit.
...***...
“Bapak tak perlu ke sini. Kita bertemunya sekalian besok saja,”
Tuuuut.
Aku memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Lagi-lagi Pak Reno tidak sabar untuk bertemu denganku. Suara Refa juga kedengaran memanggil-manggil nama calon mamanya ini dari seberang sana. Katanya, sudah banyak keluarga yang berdatangan.
Ah, akhirnya masa jandaku terlepas juga.
Namun bukan itu yang sedang menjadi fokusku sekarang. Saat ini aku sudah berada di dalam rumah Demian guna memastikan ada atau tidak racun itu di sekitar sini. Beruntungnya pintu hanya tertutup rapat saja tanpa kunci, membuat aku lebih mudah untuk menjalankan misi.
Ruangan ini hampa tanpa penghuni. Aku langsung beringsut ke bagian kamar, sudah tidak sabar untuk membuktikan perkataan Demian bahwa ia benar-benar sengaja meminum racun.
Mataku terus memindai bilik kecil tempat biasa Demian mengistirahatkan diri. Kalau dipikir-pikir dia rapi dan bersih juga. Lihatlah! Bahkan semua barang-barang di sini nyaris tak berdebu dan tertata elok. Aku jadi teringat Hero. Dulu dia selalu memarahiku kalau melihat ada benda-benda rumah yang kurang bersih. Huh, mereka banyak memiliki kesamaan ternyata.
Tap.
Pandanganku tertuju pada sebuah botol bertuliskan BAYGON yang tergeletak di atas kasur. Demian benar, ternyata dia tidak berbohong.
__ADS_1
Entahlah, kakiku mendadak melembik seperti jelly. Apa benar yang pria itu katakan bahwa dia sengaja meminu racun guna menghindari pernikahanku besok? Apa dia benar mencintaiku? Atau hanya akal-akalannya saja?
Ya Tuhan, kenapa aku jadi bingung begini.
Aku terus menyumpahi diriku yang entah kenapa bisa bertemu dengan sosok Demian. Hingga tanpa sengaja mataku menangkap sebuah buku kecil berwarna biru yang terselip di balik bantal.
“Apa ini?” tanyaku dalam hati seraya mulai menggerayapi si benda mungil tersebut.
Aku tahu ini tidak bagus dan terlalu lacang. Namun sepertinya membuka buku orang lain untuk mengetahui isinya akan memecah rasa penasaranku kala ini.
Srek.
Lembar pertama.
H / Demian.
“H? Apa itu?”
Aku terus membatin seraya terus membuka lembaran demi lembaran dari buku itu. Lalu entah bagaimana, sepasang netraku mendapati sebuah huruf yang membuatku kian bertanya-tanya.
Catatan
H & C
-
Kemudian di slide berikutnya
Sekalipun aku bukanlah aku, namun cinta ini tetap untukmu.
“Ah, kepalaku jadi pusing sendiri melihat isi abstrak buku dari ini,”
Aku tak lagi melanjutkan. Terbayar sudah rasa keingintahuanku tadi. Terlepas dari benar atau tidaknya perkataan bawa dia mencintaiku, yang jelas aku sudah tahu kalau pria itu memang benar menenggak racun untuk bunuh diri. Dasar bodoh! Memangnya amalnya sudah cukup banyak untuk menghadap Tuhan?
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
Gimana puasa kalian?
__ADS_1