SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
DITUTUP


__ADS_3

Pikiranku menjadi semerawut. Aku merasa bahwa selama ini mertuaku itu menyembunyikan sesuatu dari menantunya. Aku adalah anak ibu Rosa, jadi wajar saja bila wajahku sangat mirip dengan ibuku sendiri. Apa masalahnya buat dia?


Sudahlah. Aku tidak ingin semakin memperdalam rasa penasaranku. Jika memang benar wanita tua itu menyembunyikan sesuatu, maka aku akan mengetahuinya pada waktu yang tepat. Atau mungkin sebelum rahasia itu terbongkar dan salah satu di antara kami tutup usia biarlah selamanya hal itu menjadi rahasia yang tabu. Aku memundur kan langkah, membersihkan diri dan beristirahat menurutku sesuatu yang lebih tepat dari pada menguping tangisan nenek tua itu.


Aku membelitkan handuk di tubuhku setelah selesai berlama-lama ria di dalam kamar kecil. Kata orang air itu dapat menenangkan pikiran, jadi aku mencobanya dengan menambah durasi mandiku menjadi lebih panjang. Benar saja, otakku terasa tercuci kembali setelah berendam di dalam sana.


Pricil tak perlu mandi bahkan aku tak pernah memandikannya bila jam telah membidik pukul tujuh malam. Bayi mungil ini masih rentan masuk angin dan sebagai gantinya aku hanya membasuh tubuhnya dengan air hangat.


“Ta ta ta ma lama maaa.” Ocehan-ocehan yang belum jelas itu membangkitkan semangat tersendiri bagiku. Uh aku sangat berharap agar putri kecilku ini segera dapat berbicara. Cepat besar ya anak mama.


Drrrt drrrt drrrrt.


Getaran ponsel di atas nakas sukses membuat aku memberhentikan aktivitasku memandangi wajah Pricil. Aku membuang pandangan ke arah samping kemudian meraih benda gepeng yang di atasnya tertera nama Aren.


“Halo. Apa kau sudah selesai dengan urusanmu?”


“Aku ingin kita bertemu sekarang!”


Wow.


Ada angin apa ini?


“Buat apa?” Aku bertanya keheranan. Untuk apa dia menemui aku malam-malam begini.


“Cepat keluar aku sudah sampai di depan rumahmu.”


APA?


Aku membeliak kaget mendengar penuturan lelaki berambut gondrong itu. Bagaimana mungkin dia bisa secepat itu menjejakkan kaki di sini sedangkan tadi saja batang hidungnya belum kelihatan. Huft menambah kerjaan orang saja, seharusnya ini waktuku untuk mengistirahatkan diri.


Aku lalu bergegas keluar seraya membawa Pricil dalam gendongan. Sudah tidak ada suara isak tangis dari kamar depan, mungkin mertuaku sudah tertidur. Syukurlah, kali ini aku dapat dengan bebas menemui lelaki yang sedang menungguku di luar sana.


“Ada apa?” Tanyaku setelah sukses berhadapan dengan Aren. Mukanya terlihat datar, tubuhnya bersandar pada bagian depan mobil.

__ADS_1


“Ikut aku sekarang.”


“Hah? Ke mana?”


“Nanti kau juga tahu.”


“Tapi ini sudah malam Ren.”


“Masih jam delapan. Oh ayolah, ada sesuatu yang harus kukatakan.”


“Aku tidak mau.”


“Ini tentang pekerjaan.”


Aku termangu takkala mendengar kata ‘pekerjaan’ dari mulut Aren. Oke fix berarti ini tentang sumber penghidupanku yang kedua setelah menjadi babu di rumah Pak Reno. Kalau sudah begini mau tak mau aku harus ikut dengan Aren, siapa tahu ada berita penting yang ia bawa. Yasudahlah, lagipula benar kata dia kalau ini masih jam delapan malam. Siapa yang berani melarang seorang janda untuk keluar rumah?


Hembusan angin malam membuat ranting-ranting pohon terhempas ke kanan dan ke kiri. Beberapa pengendara motor juga membalut tubuh mereka dengan jaket atau baju tebal. Beruntung saat ini aku sedang berada di dalam mobil. Kalau tidak, bisa menggigil putri kecilku terkena angin malam.


Aren memilih meja paling pojok dan aku mengikutinya dari belakang. Sial! Entah kenapa bayangan Hero kembali berlarian dalam otakku. Dulu suwaktu aku masih mengandung Pricil suamiku itu pernah membawaku ke sebuah café yang khusus di booking untuk kami berdua. Semua makanan terhidang di atas meja, musik-musik romantis juga diputar menghiasi malam kami kala itu. Ck Hero sialan! Segera lah kau pergi dari ingatanku bajingan!


“Kau mau pesan apa?” Tanya Aren memecahkan lamunanku. Oh ya Tuhan aku bahkan sampai tidak sadar kalau seorang pelayan café sudah hadir di depan kami.


“Terserah kau saja.”


“Baiklah.” Kemudian Aren memesan dua porsi makanan dan minuman yang tidak kuketahui jenisnya apa. Berhubung aku memang tidak memiliki alergi terhadap makanan atau minuman apa pun jadi kuserahkan saja semua pesanan pada si gondrong itu.


“Ehm.” Aren berdehem. Oh mungkin dia akan segera memulai obrolannya.


“Bar kita resmi ditutup.”


HAH!


DITUTUP?

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa bisa? Harus makan apa aku dan anakku nanti?


Aku tak sanggup berkata-kata, rasanya bibirku ini keluh. Aren yang menyadari akan hal ini segera merengkuh erat jemari tanganku. Tatapan sendu terpancar dari wajahnya.


“Seorang wanita yang belum diketahui identitasnya telah membunuh lelaki yang kutemukan di dalam lemari pagi tadi. Awalnya aku mencium bau bangkai yang menyeruak pada saat aku melintas di depan kamar 205. Karena penasaran akhirnya aku mendobrak pintu yang ternyata terkunci dari luar. Tidak ada apa-apa bahkan kamar pun masih terlihat sangat rapi. Namun indera penciumanku yang syukurnya masih tajam ini menghirup aroma tidak sedap dari dalam lemari yang kuncinya dicabut dari depan, mungkin oleh si pembunuh. Aku membuka paksa lemari itu dan kutemukan seorang pria paruh baya berlumuran darah dan terdapat gelang berinisial RS di dalam saku bajunya.” Aren menjelaskan panjang kali lebar.


“Lalu aku dan pemilik bar dimintai keterangan di kantor polisi dan baru berakhir satu jam lalu sebelum aku menemuimu di rumah. Pihak keluarga korban tidak terima, meskipun pelakunya bukan salah satu dari kita namun mereka tetap meminta ganti rugi berupa uang dua milyar atau aku dan pemilik bar akan dimasukkan dalam penjara.”


“Ini pesanannya mas.”


“Ah iya terimakasih.”


Seorang pelayan datang bersama nampan yang berisi dua porsi ramen dan jus jeruk. Ou ou ou ternyata Aren memesan makanan berkuah itu untuk menu kami malam ini. Ohiya sampai mana tadi? Ah pelayan ini mengganggu saja.


“Mau bagaimana lagi? Pemilik bar terpaksa menggadaikan asetnya demi menebus posisi aman untunya dan aku. Aku tidak tahu Che apakah kita bisa bekerja di tempat itu lagi atau tidak. Namun yang jelas tempat itu akan diisi oleh orang lain sampai pemilik bar mendapatkan uang pengganti untuk menebusnya kembali.” Lelaki gondrong itu kembali melanjutkan ceritanya. Raut masam terlukis di rupa, aku tahu benar bahwa saat ini Aren sedang kalut bin gelisah.


Ya Tuhan.


Sejujurnya hatiku juga tidak tenang dan pikiranku juga awut-awutan. Meski pun tidak seberapa upah yang kuterima dari mencuci di sana namun setidaknya rupiah itu dapat kugunakan demi menghidupi diriku dan juga Pricil. Ohiya satu lagi, si nenek lampir.


“Lalu apa rencanamu setelah ini?” Tanyaku pada Aren yang masih terlihat pusing.


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys


Ke depannya bakal ada kejutan-kejutan menarik dari cerita ini 😍


Sehat selalu yaaa 🤗


Baca cerita aku AKU KAU DAN ISLAM di sebelah yuk 😚

__ADS_1


__ADS_2