SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TRIPLE MAMPUS


__ADS_3

Aku terus berjalan seraya menyelinap dari sela-sela badan para pekerja yang sedang berbaris untuk mengambil jatah. Tampak Aren yang tengah menyampaikan sesuatu di depan sana. Ah aku jadi teringat peristiwa tadi malam, sungguh hatiku masih sangat sakit karena ucapannya.


“Chevani!” Dua orang wanita seumuranku melaungkan suara dari penjuru kanan. Mereka melambai ke arahku dan memberi kode agar aku segera ke sana.


“Kalian sudah sampai duluan?” Tanyaku pada Elin dan Neni setelah sukses mendaratkan kaki di pojokan ini.


“Sudah dari 15 menit yang lalu.”


“Ah aku terlambat.”


“Tidak. Tangan kanan pemilik bari ini hanya baru menyampaikan sepatah dua patah saja untuk para karyawan.” Elin mencebikkan bibirnya ke depan mengarah Aren.


“Lalu bagaimana keputusannya?”


“Ya seperti yang sudah kita duga-duga kemarin. Tempat ini tak lagi beroperasi.”


Huft! Rautku mendadak sendu mendengar kabar buruk ini. Sekelebat bayangan wajah mertuaku melintas begitu saja, bagaimana jika nanti nenek tua itu meminta yang aneh-aneh lagi? Sungguh rupiahku benar-benar sudah sangat menipis.


Namun di tengah lamunanku, aku baru menyadari jumlah kami sekarang adalah ganjil. Biasanya kami selalu berempat di tempat ini.


“Hei kemana Ratna?” Kalimat itu mencelos begitu saja dari mulutku.


“Itu juga yang sedari tadi kami pertanyakan. Nomornya juga tidak aktif.” Kali ini Neni yang angkat suara.


“Ohya?”


“Iya. Lagipula kalian kan berdekatan, kenapa kau bisa tidak tahu?”


“Kami memang berdekatan, namun kau tahu sendiri kan kalau setiap pergi ke sini kami tidak pernah bersama.”


“Iya juga ya. Entahlah, mungkin sebentar lagi.”


Aku jadi teringat suwaktu pagi tadi di halaman rumah. Ratna melihatku dari arah kejauhan dengan dua kardus besar di tangannya. Apa dia mau pergi? Ah mustahil! Aku yakin koncoku itu akan membuat laporan kalau dia sedang tidak masuk. Tapi dia kenapa ya? Mana mungkin dia tidak datang sedangkan ini adalah pembagian pesangon. Apa dia tidak mau memberi anaknya makan? Heum ya sudahlah, jika memang benar dia tidak masuk hari ini aku akan bertamu ke rumah majikannya besok. Aku yakin pasti dia berada di sana.


Setelah cukup lama menunggu antrian akhirnya Aren memanggil namaku juga dari kejauhan sana. Huft nasib jadi orang yang terakhir kali datang maka akan terakhir juga mendapatkan haknya.


“Ini pesangonmu.” Katanya seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna gading.


“Terimakasih.”


“Hei tunggu dulu!” Baru saja aku hendak melangkahkan kaki suara Aren terdengar lebih dulu menginterupsi. “Kau mau kemana?”

__ADS_1


“Apa pernah sepulang dari tempat ini aku tidak kembali ke rumah?” Ck! Yang benar saja. Memangnya mau kemana aku?


“Eum aku ingin berbicara padamu.” Aren menarik tanganku paksa. Tempat ini sudah sunyi, Neni dan Elin pun sudah lebih dulu pulang meninggalkanku.


“Aku tidak memiliki banyak waktu. Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan!”


Saat ini kami telah berada di bibir jalan. Entah kenapa si bodoh ini memboyong aku ke sini. Seperti tidak ada tempat lain saja!


“Aku minta maaf Che. Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hatimu atas ucapanku tadi malam.”


“Ah iya terserahlah, aku sudah memaafkanmu. Sekarang ada lagi?”


Dasar tabung gas tidak sadar diri! Memangnya ada hati seorang ibu yang tidak sakit saat dikatakan bahwa ia tak mampu untuk menghidupi anaknya? Aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah jadi lebih baik aku mengalah dengan kepala kerebo satu ini.


“Aku mohon menikahlah denganku Che. Akan kupastikan hidupmu pasti bahagia.”


“Hei hei hei! Kau ini kenapa? Apa hanya untuk mengatakan hal yang sudah kuketahui kau membawaku ke tempat ini?”


“Tadi malam aku benar-benar malu. Banyak pasang mata yang menatapku nanar.”


“Lalu apa urusannya samaku?” Tahan Chevani tahan! Jangan sampai tanganmu ini melayang ke pipinya yang bulat itu.


“Sekarang dengarkan aku.” Aku memegang kedua bahu Aren erat-erat. “Kau seorang mucikari kan? Mengapa tidak kau pilih saja salah satu di antara mereka untuk kau jadikan istri? Bukannya mereka jauh lebih cantik dari pada aku? Permisi.” Aku sontak berlari setelah mengucapkan hal yang sebenarnya akan membuat hati yang mendengar menjadi sakit. Huh siapa perduli? Dia juga tidak memikirkan perasaanku tadi malam.


Aren terbodoh di tempat. Aku dapat melihat dengan jelas guratan kaku di wajahnya saat ini. Lebih baik aku segera mencari angkutan agar tak lagi memandang tubuh balonnya itu dari sini.


Bariton klakson bertebaran takkala lampu kuning berubah menjadi hijau. Aku telah berada di dalam angkutan dan syukurnya sopir kendaraan ini tidak lancang seperti kakek tua-tua keladi yang kutemui di pagi menjelang siang tadi. Seteleh berkendara cukup lama akhirnya tiba lah aku di sebuah rumah berdempet tiga. Beruntungnya juga rumah kontrakan kami ini terletak di bibir jalan, jadi aku tidak perlu memakai tenaga lagi sehabis turun dari angkutan umum.


Hei tunggu dulu!


Baru saja aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah setelah turun dari angkutan tadi, mataku secara tak sengaja menangkap tubuh seorang pria yang sangat familiar bagiku. Tapi, apa aku sedang tidak salah lihat?


Aren! Kenapa dia bisa berada di sini?


Aku segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan sosok manusia jadi-jadian itu di sana. Namun ketika baru saja hendak masuk ke dalam kamar, aku dikagetkan oleh mertuaku yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu bilik kecilku itu. Dia memampang ekspresi datar sedangkan matanya menyorot penuh kebencian. Entah sejak kapan nenek tua itu berada di sini.


“Itu di luar ada pacarmu!” Mampus aku! Pasti tabung gas itu sudah berbicara yang tidak-tidak pada mertuaku.


“Maaf ma aku tidak memiliki hubungan dan keperluan khusus dengan lelaki itu.”


“Kau temui saja dulu siapa tahu penting.” Bu Lastri memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Ada benarnya juga yang ia katakan, sebaiknya kutemui dulu orang yang telah menunggu kepulanganku itu di luar. Namun lebih tepatnya bukan untuk mengetahui isi pembicaraannya melainkan untuk mengusir si wewe gombel itu dari rumah ini. Aku pun kemudian berbalik badan ke arah depan dan kudapati seorang pria berambut kerebo sedang mematung di atas kursi.


“Bukannya kau tadi masih di bar?” Tanyaku membuyarkan lamunannya.


“Hei Chevani. Kau sudah pulang?”


Loh loh loh! Pantas saja aku dapat mudah masuk ke dalam rumah ini tadi, ternyata si Aren tidak menyadari jika aku sudah sampai sedari tadi. Sedalam itu kah lamunanmu wahai kerebo?


“Jika kau lihat aku di sini ya tandanya aku sudah pulang. Kau belum menjawab pertaanyaanku.”


“Baiklah baiklah. Aku membiarkanmu meninggalkanku karena jika kupaksakan kau akan mengamuk di tepi jalan seperti orang gila. Namun setelah itu aku berinisiatif untuk menyusulmu ke rumah ini.”


“Untuk apa lagi?”


“Aku tak akan berhenti membuntuti kemana pun kau pergi sampai kau mau menjadi istriku.”


“Oh hahaha ada yang tidak bisa move on rupanya.” Aku melece. “Lalu kau katakan apa pada mertuaku tadi?”


“Aku mencarimu.”


“Apa mertaku ada bertanya siapa kau?”


“Ya.”


“Lalu apa kau jawab hem?”


“Aku adalah pacarmu.”


TRIPLE MAMPUS!


Aku terkulai lemas.


...***...


Bersambung


Comment, like & vote


Dan jangan lupa tekan tombol favorite supaya kalian ga ketinggalan up terbaru aku 😉


Semoga kalian sehat selalu yaaa 🤗

__ADS_1


__ADS_2