
“Bu Itah mau ke mana?” Tanyaku seraya menarik simpul bibir menghadap seorang wanita yang tengah membawa nampan kosong di sebelah tangannya.
Aku menyempatkan diri untuk menyapu halaman dulu pagi ini sebelum berangkat ke rumah Pak Reno. Terpaan angin tadi malam membuat dedaunan kering jatuh dari pohonnya lalu berserakan di permukaan tanah.
“Bawain bubur ayam buat si Demian dan putrinya.”
“Ou sudah pulang?”
“Sebenarnya sudah dari kemarin. Tapi dia nginap dulu di rumah Pak RW, lagi ada pestaan soalnya.”
“Memangnya di mana rumah Pak RW?”
“Di depan gang sana.”
“Ou.” Aku ber oh ria. Mendengar jawaban Bu Itah barusan mengingatkan aku pada dua bocah yang membuat Refa sempat panik kemarin.
Aku membungkukkan badan demi meraih selebaran daun yang lengket termakan tanah. Hidup tunggal di rumah ini mengharuskanku melakukan seluruh pekerjaan seorang diri.
Setelahnya, aku langsung beringsut ke dalam rumah guna mempersiapkan diri untuk segera kembali menjadi babu. Meskipun sebentar lagi aku akan menikah dengan Pak Reno, lantas tak menjadikanku besar kepala dan melupakan habibat asal.
Dua puluh menit berselang akhirnya selesai sudah acara beres-beres di dalam sana. Aku memasukkan kunci rumah ke dalam tas pertanda pintu telah tertutup rapat.
Keadaan di sini sepi, mungkin orang-orang sudah pergi bekerja. Tak ada manusia manapun yang bisa dilihat kecuali seorang bayi yang tengah mengoceh sendirian di atas stoller rumah sebelah.
Kesempatan emas! Dia seorang diri di sana. Bukannya aku sangat penasaran?
Kilatan petir tak sebanding dengan gerakanku kali ini guna menemui sang bocah lucu. Aku harus cepat sebelum ketahuan oleh bapaknya yang kutaksir sedang berada di dalam rumah.
Duk duk duk.
Kakiku menghentak, dan …
“ASTAGFIRULLAH!”
Aku spontan menyeka peluh dari alisku yang mendadak luruh dengan tangan gemetar, lutut melemas, jemariku mati rasa. Seorang bocah berpipi gembil dengan bando merah muda yang melekat di rambutnya yang lebat sontak membuat jantungku nyaris mencelos dari tempat. Aku menepuk-nepuk pipiku sendiri, sakit, pertanda bahwa aku sedang tidak bermimpi.
Kenapa?
Kenapa bisa?
Kenapa bisa stoller ini diisi oleh bayi wanita bermata bulat dan bibir tipis yang tak lain adalah anakku sendiri yang telah hilang selama ini, Pricilia.
“Naaaaaak!” Tangisku pecah saat itu juga.
__ADS_1
Cepat-cepat kuraih tubuh yang hampir satu bulan tak pernah terlihat oleh netra. Kuciumi wajahnya berkali-kali hingga bulir air mataku pun banjir di atas sana. Aku tak hanya dapat melihat parasnya lagi melainkan suara dan senyum indah yang kerap mengisi hari-hariku selama ini. Semuanya masih utuh, lengkap tanpa lecet. Hanya harum badannya saja yang berbeda.
Huaaaa huaaaa hiks hiksssss.
Haru bahagia dapat dirasa dari tangisku yang kian pecah saat ini. Tuhan membuat keterpisahan menjadi pertemuan tanpa terencana. Ketakutanku lenyap, namun berganti dengan emosi yang sudah mencuat hingga ke ubun.
Demian!
Pria bodoh itu rupanya yang telah menculik Pricilia.
Sialan!
“Keluar kau Demian keparat!”
Dor dor dor!
Sepasang tanganku menggebrak habis pintu yang sebenarnya tidak tertutup dan langsung nyelonong ke dalamnya tanpa izin.
Amarahku meletup-letup. Akan kulenyapkan sekarang juga orang yang sudah berani memisahkan ibu dan anak kandungnya sendiri yang masih bayi.
“Hei penculik bayi! Keluar kau bajingan!”
Gerubak!
Seorang pria jenjang yang tengah memasukkan susu bubuk ke dalam botol dot sontak menaikkan bahu tanda terkejut. Secepat sambaran petir ia membalikkan badan guna melihat sosok mana yang tengah mengamuk pagi-pagi begini.
“Ya Tuhan! Kau? Kau kah itu?” Alat minum bayi itu mendadak jatuh dan berguling entah ke mana.
Sepasang netra pria yang bernama Demian itu langsung merah dan berkaca-kaca. Ia memajukan langkah perlahan kemudian spontan mendekapku tanpa aba-aba dan meneriakkan sebuah kata yang membuat otakku berputar tidak karuan.
“Istriku! Istrikuuuuu….! Kenapa kau bisa berada di sini sayang? Apa aku sedang bermimpi bertemu denganmu lagi? Hiksssss.”
Badan kekar menyelimuti tubuhku yang pendek nan mungil ini. Aku sampai kesulitan bernapas, lalu tiba-tiba butiran air mendadak muncul dari arah atas.
“Lepaskan aku lintah darat! Siapa kau berani-beraninya memelukku hah!” Sebuah tendangan maut kuhadiahi pada si penculik anak yang sontak saja membuat ia memegangi bagian tengah selangkangannya yang mungkin sudah melebam.
Aku semakin kehilangan kendali, rasanya ada jin ifrit yang sedang merasuk dalam jiwaku.
“Aduuuh!” Demian meringis kesakitan namun sedikitpun tak membuat hatiku mengiba.
Aku tak perduli! Selain menculik anak dia juga sudah melakukan pelecehan terhadapku. Mungkin bui adalah tempat yang pas untuk manusia picik seperti dia.
“Tolooooong! Tolooong!” Laungan suaruku terdengar nyaring.
__ADS_1
Pricilia yang mendengar jeritan mamanya ini sontak terkejut batin dan menangis sejadi-jadinya. Napasnya sesenggukan seolah dapat merasa bahwa ada sebuah bahaya yang tengah mengancam jiwanya.
Dari arah depan kulihat orang-orang mulai berdatangan dengan wajah tegang. Mereka semua ngacir lalu menemuiku yang sekarang tengah memeluk Pricilia erat.
“Ada apa mba?” Tanya salah seorang warga berbaju batik.
“Anakku telah diculik oleh pria yang tinggal di rumah ini!”
Perkataanku tak langsung mendapat respon. Mereka malah berbisik-bisik satu sama lain seraya memajang raut keheranan.
Lalu seorang lelaki tiba-tiba menyembul dari dalam sana. Wajahnya kian memerah seperti tomat, mungkin tendangan mautku tadi berhasil merenggut setengah kejantanannya.
“Tunggu! Tunggu! Saya bisa jelaskan.” Katanya seraya menampikkan kedua telapak tangan ke arah warga.
“Iya coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena memang nak Demian ini baru beberapa hari saja tinggal di sini.” Si bapak berbaju batik mencoba menengahi. Aku memindai wajah mereka yang sama sekali tidak kukenal, lalu dari arah lain tampak Bu Itah tengah tergopoh-gopoh ngacir ke arah kami. Mampus! Lokasi semakin ramai, biar saja orang tahu bahwa pria bejat itu lah yang telah menculik anakku.
“Sekitar sepuluh hari yang lalu aku menemukan bayi ini di sebuah pondok-pondokan yang agak jauh dari Pusat Kota. Sempat kucari tahu dan mencari ibu atau ayahnya, namun tidak ketemu. Maka dari itu dari pada ia terlantar lebih baik kubawa saja ke tempat ini.” Demian berbicara dengan tenang. “Aku bukan seorang penculik anak, bahkan aku juga tak tahu kalau ternyata wanita ini adalah ibu dari si bayi.”
“Lalu ke mana kau satu minggu terakhir ini hah? Kau pasti ingin membawa kabur anakku kan?”
“Tidak! Aku sama sekali tak memiliki niat buruk semacam itu. Aku hanya menemui ibuku yang sudah lama tak kujenguk. Kalau memang aku ingin menculik anakmu, pasti sudah kulakukan dan mana mungkin aku kembali lagi ke tempat ini.”
Jawaban Demian sontak membuatku terdiam dan enggan bersuara. Apa memang benar yang ia katakan? Ah tapi tunggu dulu-
“Lalu mengapa kau memelukku di dapur tadi hah? Setelah menculik anak pasti kau ingin memperkosa ibunya kan!” Mampus kau Demian! Biar orang tahu kalau kau bukan lelaki baik-baik.
“Ah untuk yang satu itu aku minta maaf. Kau sangat mirip dengan istriku, maka dari itu aku tak segan-segan memelukmu tadi.”
“Tidak! Jangan alasan! Kau harus dijebloskan ke dalam penjara karena telah membuat dua kesalahan sekaligus!” Aku menarik paksa lengan Demian untuk lari dari kerumunan, namun tenaganya yang lebih kuat membuat usahaku gagal total.
“Eh sudah-sudah!” Suara dari sang bapak tadi kembali menginterupsi. Aku menoleh, lalu kudapati tangannya menahan tubuhku agar tak beranjak.
...***...
Bersambung
Huaaaaa akhirnya setelah sekian lama Pricilia ketemu juga 😭
Kita mulai bedah teka-teki kehidupan Chevani ya guys
Tapi sebelumnya LIKE. & COMMENT dulu dong ehehee :)
Sehat selalu yaaa 🤗
__ADS_1