SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
JANGAN PECAT SAYA


__ADS_3

Kami menuju ke sebuah tempat yang di dalamnya banyak sekali mainan anak. Mulai dari mobil-mobilan, robot, pesawat hingga patung tentara mini yang terbungkus di dalam kotak transparan pun juga ada di sana.


Aku memandang ke sebuah boneka besar berwarna putih yang mematung di pojokan kanan. Beruang gadungan itu memiliki pita merah di pelipis sebelah kanannya dan sebuah bantal love besar yang tersemat pada bagian tengahnya.


“Kau menginginkan boneka itu?” Suara besar khas lelaki membuyarkan pengelihatanku. Ia berdiri persis di hadapan sehingga membuat bear doll tadi menghilang karena tertutup.


Aduh kenapa harus ketahuan majikanku ini sih, ck!


“Eum tidak pak.”


“Jangan berbohong. Aku dapat melihat dari pancaran matamu bahwa kau menginginkan boneka itu.”


Ya. Aku memang menginginkannya, bahkan sangat menginginkannya.


Dulu suwaktu usiaku masih tujuh tahun aku pernah diberi sebuah bear doll yang bentuknya sama persis seperti benda yang kulihat saat ini di pojokan sana oleh kedua orang tuaku. Namun pada saat aku menemani ayah dan ibuku memungut botol-botol bekas di jalanan, tiba-tiba saja boneka itu menghilang padahal sebelumnya ia tergeletak di atas sebuah kasur tiga kaki di dalam kamar. Kami sekeluarga sempat mengira bahwa maling lah yang mencuri beruang gendutku. Namun sepertinya tidak. Pasalnya ibuku meletakkan sebuah dompet di atas nakas dan dompet itu tidak hilang. Mustahil jika sang pencuri tidak melihat dompet yang posisinya bersebelahan dengan bonekaku. Jika memang orang tersebut berniat maling, mengapa tidak sekalian saja ia membawa dompet berisi uang itu pergi dari sana?


Aku sangat merindukan beruang gendutku. Bagiku itu adalah harta yang paling berharga setelah kedua orang tuaku kala itu. Namun apa boleh buat? Kado ulang tahun pemberian orang tuaku itu telah ranap dicuri oleh entah siapa.


“Ambil lah dan jangan hiraukan soal harganya lagi. Kau bisa membawanya tidur bersama anakmu.”


HAH?


Yang benar saja?


Gusti. Kebaikan apa yang telah kulakukan sehingga kau memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa di hari ini? Aku terharu.


Mungkin jika pakaian tadi aku masih bisa menolaknya, tapi jika bear doll itu? Ahh sungguh aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sudah lah! Buang sedikit rasa malumu Chevani. Jangan bodoh, gajimu selama berbulan-bulan tak akan mampu membeli beruang gendut yang terduduk rapi di pojokan sana.


Aku sigap berlari kemudian memeluk beruang berpita merah ini. Uhh bulu-bulunya lembut sekali. Apa ini terbuat dari sutera? Batinku bertanya.


“Atu mau yang itu.” Dari kejauhan Refa tampak kegirangan sesaat setelah melihat mobil mainan berwarna hitam yang teronggok di tempat ini. Benda beroda empat itu memiliki bodi besar dan sangat cocok untuk tubuhnya yang gembul. Ya bayang kan saja jika bocah sebesar itu menaiki sebuah mobil-mobilan kecil, bisa-bisa langsung hancur dan remuk begitu saja benda itu.


Aku beringsut mendekati Refa seraya membopong boneka baruku di tangan sebelah kiri, sebelahnya lagi menggendong Pricilia. Saat ini aku memiliki dua harta yang bentukannya sama-sama gembil, ohh senangnya.


Pak Reno yang sedari tadi menemani putranya pun langsung turun tangan untuk meraih mobil-mobilan besar tersebut. Ia membawanya ke kasir tak lupa pula dengan beruang gendut yang saat ini sedang bersamaku.


“Total semuanya 45 juta pak.”


WOW!


Aku terkejut bukan main.


Sebenarnya benda mana yang mahal? Milikku atau milik Refa? Atau bahkan kedua-duanya. Ya ampun, maafkan babumu ini Pak Reno.

__ADS_1


Lelaki jenjang itu pun menyerahkan gold card kepada sang kasir. Tidak ada guratan kaget di wajahnya. Fix, pasti dia sudah sering menghambur-hamburkan uang seperti ini.


Dari kejauhan nampak bocah bertubuh balon itu melompat-lompat kegirangan. Sesekali wajahnya menoleh ke arahku kemudian melempar tawa bahagia dari pojokan sana.


Pak Reno telah selesai melakukan pembayaran pada sang kasir, sekarang giliranku untuk mengambil bear doll itu dari sana. Mana mungkin aku membiarkan bapak beranak satu itu membawa mobil dan juga boneka yang hampir sama besarnya, bisa-bisa tubuhnya yang ambles ke belakang nanti.


“Biar saya saja yang membawa pak.” Kataku pada Pak Reno seraya meraih beruang gendutku dari tangan kirinya.


Kami pun beringsut keluar dari toys store tersebut. Aku berikut Pricil dan juga Refa membuntuti dari belakang arah kaki sang pemimpin jalan itu pergi.


Di sela-sela itu, aku berbincang-bincang dengan Refa.


“Siapa yang mandiin abang tadi?” Tanyaku pada Refa yang saat ini berada persis di sebelahku.


“Papatu.”


“Ohya? Memang papa kamu bisa?” Aku sedikit terkejut mendengar jawaban bocah tersebut. Mimpi apa Pak Reno memandikan anaknya sendiri, itu kan pekerjaanku.


“Bica. Papatu tadi juga udah capu lumah cama cuci piling loh bu.”


“Hah? Serius?”


Ya ampun. Apa majikanku itu sedang belajar menjadi seorang duda? Oh No, mustahil. Atau jangan-jangan ia berencana tidak akan memakasi jasa asisten rumah tangga lagi alias memecatku.


Astaga!


Makanya bapak beranak satu itu sangat baik padaku hari ini.


Oh Gusti. Cobaan apa lagi yang kau berikan kepadaku.


Aku terkulai lemas.


Mentari tegak berdiri tanpa penyangga di atas sana. Rambut-rambut para pengendara kelihatan mengkilau saat sinar surya itu menyengat kepala mereka. Kami telah berada di dalam mobil berikut dengan mainan Refa dan beruang gendutku yang tergeletak di bangku paling belakang.


Pikiranku masih berlayar pada kalimat yang terakhir kali Refa ucapkan tadi. Aku sungguh-sungguh tidak siap bila harus kehilangan pekerjaan. Apa kukatakan saja sekarang pada Pak Reno? Aku sudah tidak tahan.


“Pak. Apa boleh saya bertanya sesuatu?” Bismillah, semoga tidak ada amukan setelah ini.


“Hmm.”


“Apa benar bapak akan memecat saya? Saya mohon jangan pecat saya pak karena saya saangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya sudah tidak bekerja lagi sebagai tukang cuci di bar pak, jika bapak memecat saya mau makan apa anak saya nanti pak.” Aku berbicara panjang kali lebar, wajahku memelas berharap diberi belas kasihan.


“Kau ini bicara apa?”

__ADS_1


Astaga! Apa kalimatku tadi terlalu bertele-tele sehingga membuat pria yang sedang mengemudikan kendaraan ini tidak paham? Oh baiklah akan kupersingkat.


“Saya mohon jangan pecat saya pak.” Aku memberi pengulangan.


Aku menunggu jawaban.


Satu.


Dua.


Ti-


“Pertanyaannya siapa yang ingin memecatmu?”


LOH!


Bagaimana sih ini sebenarnya.


“Pertama bapak membelikan saya baju mahal, kemudian Pricilia dan saat ini bapak kembali membelikan aku sebuah boneka yang aku sendiripun tidak tahu berapa harganya-“


“15 juta.” Belum sempat aku menyelesaikan omonganku, bapak beranak satu itu sudah lebih dulu menyela dari arah depan.


Duh. Ternyata mahal sekali boneka itu.


“Dan kau menganggap bahwa aku memberi imbalan atas pemecatanmu melalui barang-barang itu?” Seolah dapat membaca isi otakku, Pak Reno menghaturkan kata-kata yang saat ini menjebol mental bajaku. Aduh aku sungkan sekali, mengapa sangat sulit rasanya untuk berbicara.


“Dasar bodoh! Pemikiranmu terlalu dangkal jika kau berspekulasi seperti itu.”


Hah?


Aku semakin tidak paham.


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


Jangan lupa kunjungi AKU KAU DAN ISLAM yaaa 😍


Ceritanya ga kalah seru 😉

__ADS_1


__ADS_2