
Fyuh.
Aku mengembus napas kasar seraya memperhatikan wajahku dari cermin yang ada di dalam toilet. Baru lima jam bekerja saja rasanya sudah lima tahun. Aku pusing sendiri melihat kelakuan si Ozon, mulai dari minta suapin, nemenin duduk di belakang rumah, ngeladenin segala macam bentuk cerita ngawurnya bahkan si gila itu juga nyuruh aku buat mandiin dia. Euh, permintaan terakhirnya jelas tidak kuturuti. Bisa-bisa dieksekusinya aku kalau sempat berada di dalam satu kamar mandi dengan dirinya yang hanya setengah waras itu.
Di sini aku juga diberi sebuah kamar untuk meletakkan barang-barang dan juga tempat peristirahatan. Pricilia sedang berada di dalam sana, kini saatnya aku menikmati jatah makan siang.
“Eh ada bik Nah,” sapaku pada seorang wanita yang menjabat sebagai asisten rumah tangga.
Bik Nah tersenyum kemudian berkata, “Nama kamu siapa?”
“Chevani bik,” balasku dengan senyuman yang tak kalah manis juga.
“Sini makan bareng sama bibik,” wanita itu menarik kursi yang berada di meja makan, lelu menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam piring. Aku mengekori.
“Bagaimana dengan pekerjaan baru kamu?” sebuah pertanyaan yang lagi-lagi membuat napasku terasa berat.
“Lelah bi, kakek itu terlalu banyak maunya. Ngomong-ngomong dia sakit apa ya? Kata bu Naumi dia sakit,”
“Yang sakit itu bukan fisiknya,”
“Lalu?”
“Jiwanya,”
Sudah kuduga. Andai saja adik dari si Ozon itu mengatakan dari awal, pasti lah aku akan menolaknya terlebih dahulu. Kalau begini bukan fisikku saja yang lelah, namun mentalku juga. Bisa-bisa aku juga ikut terkena gangguan jiwa karenanya.
“Ozon itu dulunya lelaki kaya, pintar dan memiliki banyak kolega. Namun semenjak kepergian istrinya dua tahun lalu dia malah jadi gini. Fsustasi kehilangan orang yang disayang mungkin,” Bik Nah menjelaskan tanpa kuminta.
“Jadi sudah dua tahun dia begini?”
“Iya, tapi parah-parahnya sih setahun belakangan ini,”
“Bibik udah lama ya kerja di sini makanya bisa tahu semuanya?”
__ADS_1
“Sudah tujuh tahun,” wanita tua itu tercengir kuda, sesekali ia menatapku dari ujung kaki hingga pucuk kepala.
“Kamu cantik. Apa dia menganggumu tadi?” pertanyaan bik Nah membuat rekaman otakku tentag makhluk astral itu kembali berputar. Aku mengangguk dengan mantap.
“Sebelum kamu, sudah ada beberapa orang yang mengasuh dia, tapi semuanya ga sanggup. Ya, kira-kira hanya bertahan tiga bulan lah. Apalagi kalau orangnya cantik, pasti dia jadi kegatelan gitu,” aku ber oh ria mendengar informasi dari bik Nah. Pantas saja sejak awal aku menampakkan muka, dia sudah berkata yang tidak-tidak kepadaku.
“Oh iya satu lagi,” kataku yang baru saja teringat akan sesuatu. “Kenapa penampilannya sangat aneh ya bik?”
“Ah, itu,” Bik Nah lagi-lagi tercengir kuda. “Semua pakaian yang dia gunakan adalah pakaian milik istrinya dulu, begitu juga dengan pernak pernik yang ada di kepalanya,”
“Lalu, baju ala-ala preman kemarin?”
“Hanya itu yang mencerminkan baju pria. Selebihnya ia menggunakan pakaian milik almarhumah istrinya,” jawaban wanita setengah abad itu membuat kepalaku mengangguk. Kalau begitu, mulai saat ini aku harus mencintai pekerjaan baruku dan mengerti dengan kondisi Ozon. Walau bagaimanapun, aku pernah juga nyaris gila arena kehilangan orang yang sangat kusayangi.
...***...
Malam keduaku di ibu kota diisi oleh tawa riang dari Demian dan juga Pricilia. Aku baru saja menceritakan tentang pekerjaanku yang baru, awalnya dia tidak setuju dan meneyuruhku untuk di rumah saja. Namun karena kegigihanku yang tak ingin mendekam, akhirnya pria itu mengalah dan mengizinkanku untuk menjadi pengasuh bagi kakek-kakek yang sedang sakit jiwa.
Setelah pulang kerja besok, kami berencana untuk mengurus segala macam surat-surat kependudukan, setelah itu barulah surat pernikahan. Secepat mungkin aku harus menjadi istri Demian, agar Pricilia juga bisa memiliki seorang ayah. Kasihan, dari dulu hingga sekarang anak kecil itu hanya mendapatkan perhatian dari ibunya saja.
“Hahahaha,”
Suara keduanya kian memekakkan telingaku. Mereka tertwa puas takkala Demian menerbangkan jemari sebelah kanannya dan menusuk perut Pricilia. Syukurlah, Demian bisa membuat anakku tergelak bahagia.
“Hai mba, mas,” tiba-tiba saja permainan kami terhenti takkala seorang gadis remaja melintas tepat di depan beranda. Kami menoleh bersamaan, remaja berpakaian kurang bahan itu menampilkan senyuman terbaiknya.
“Orang baru ya?” kini posisinya sudah berada persis di sebelahku. Aku menarik bangku satunya lagi dan mempersilahkan wanita muda itu duduk di sana. Celananya yang begitu pendek membuat mataku ngilu untuk memandang.
“Iya,”
“Rumah saya yang di sana,” dia menunjuk gedung yang berada di sebelah ruamh Demian. Di sini hanya ada tiga bangunan berjejer.
“Aku masuk dulu,” pria yang sedari tadi kelihatannya jijik langsung menyerahkan Pricilia dan masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya aku juga sedikit risih, namun karena menghargai anak satu ini, makanya aku tetap menemaninya mengobrol.
__ADS_1
Lama kami membicarakan hal-hal yang menurutku sangat tidak menarik. Mulai dari asal usulnya sampai segala aktivitas yang dia lakukan di ibu kota ini pun aku sudah tahu. Terlalu terbuka sih orangnya kalau menurutku. Lalu sebuah pertanyaan membuat alisku saling tertaut.
“Mba kenapa pisah rumah sama suaminya?”
“Kami belum menikah Ibil,” jawabku pada seorang gadis yang namanya baru kukethaui setelah dia memperkenalkan diri tadi.
“Kapan mau menikahnya?”
“Disegerakan,”
“Mba janda ya?” pertanyaan Ibil semakin membuatku risih tidak karuan. Maka dari itu aku memilih untuk diam dan tak menyahut apa katanya.
“Hati-hati loh mba, pelakor di mana-mana,” lanjutnya lagi kemudian berpamitan pada diriku.
Ya, aku bahkan sudah merasakan bagaimana sakitnya ketika pria yang kita sayang direbut oleh wanita lain. Maka dari itu sebisa mungkin aku harus menjaga Demian, aku tak ingin kejadian bersam Hero dulu terulang kembali.
Besoknya, pagi-pagi sekali aku melihat Ibil sedang menjemur pakaiannya di depan rumah. Mulai dari baju luar hingga ********** pun ia pampangkan di beranda rumah dengan penjemur lepas pasang. Dahiku sontak berkerut, padahal di belakang rumah kami ini ada halaman yang bisa digunakan untuk menjemur. Bisa-bisanya ia dengan sengaja mempertontonkan privasinya sendiri kepada khayalak publik. Malah rumahnya di sebelah Demian lagi, haduh.
“Kenapa tidak di belakang saja Bil?” tanyaku yang mulai tidak sabar dengan kelakukan Ibil.
“Suka aja ngeliatnya kalo di depan rumah, kan jadi tambah cantik,” wanita itu tersenyum percaya diri. Aku yang langsung menganggap bahwa dia adalah remaja aneh spontan pergi. Semoga saja Tuhan menutup rapat-rapat mata Demian selaku tetangga terdekatnya.
...***...
“Kata kakakku kau bisa menjaganya dengan baik, terimakasih ya,” Bu Naumi mengusap bahuku pelan. Aku tersenyum, namun di sisi lain rentetan pertanyaan berkelebat dalam kepala. Apa saja memangnya yang sudah si Ozon itu katakan pada adiknya sendiri tentang aku?
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
Hai hai
__ADS_1
Ke mana aja nih lebarannya?