SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
PRICIL MENGHILANG


__ADS_3

Aku kaget bukan main, Pak Reno seolah mampu membaca pikiranku. Tapi apa tadi? Katanya aku wanita itu?


“Maksud bapak apa?” Tanyaku memastikan.


“Em tidak. Sekarang kau pergilah!”


Aku beku di tempat. Pikiranku kembali berlabuh pada perkataan pria yang tengah duduk di depanku ini. Aku tidak salah dengarkan? Oh atau mungkin aku tengah berhalusinasi.


“Apa lagi yang kau tunggu Chevani?”


“Ah baik, permisi.” Aku memundurkan langkah meninggalkan Pak Reno yang di ruang tengah.


...***...


Hari tak lagi sore dan matahari juga telah hilang dari hamparan langit. Aku meraih sebuah botol berisi air mineral kemudian langsung meneguknya hingga tandas seketika itu juga.


“Huft! Lelah sekali.” Aku menyeka bulir keringat yang sedari tadi sudah bersemayam di sekujur dahi.


Akan ada keanehan apa lagi ya? Aku siap tak siap untuk hal itu. Pasalnya selalu saja ada orang aneh yang menyinggahi toko kue tempat di mana kakiku sedang berjejak kala ini.


“Mba beli bolunya dong.” Tuh kan baru juga dibatinin. Plis, semoga ini pria waras Aamiin.


“Iya yang mana ya mas?”


“Kalau buat anniv pacaran cocoknya yang mana ya mba?”


“Emm.” Aku menjeda kalimat seraya menebarkan pandangan guna mencari kue yang dimaksud. “Oh ini nih, bagus.”


“Berapa?”


“200 ribu saja mas.”


“Oke baiklah. Tapi tolong ukirkan kata-kata di atasnya ya mba.”


“Iya mau dibuat tulisan apa?”


HAPPY ANNIVERSARRY KE SATU JAM HONEY


“Hah?”


“Ada yang salah?”


“Eum tidak-tidak, baiklah.”


Oh astaga! Kali ini apa lagi? Bisa-bisanya si culun satu ini merayakan hari jadi yang ke satu jam! Hei kau ini makhluk yang berasal dari planet mana sih? Aku geleng-geleng kepala.


“Ini mas sudah.” Kataku seraya menyerahkan bolu berbentuk love merah muda itu pada si culun.


“Mba selain kue ini, apa ada hal yang lebih cocok untuk diberikan pada pacar saya?”


“Ada mas.”


“Apa?”


“Ingatkan saja pada pacar mas untuk selalu ingat-ingat umur ya, permisi.” Aku berlalu dari hadapan pria tersebut dan memilih untuk melihat Pricilia yang tengah tertidur pulas di atas tikar kecil. Bisa gila kalau aku terus meladeni makhluk absurd satu itu.


Anakku tampak tenang, sesekali kakinya menendang ke sembarang arah. Aku memperhatikan guratan lelah yang tersemat di wajah manisnya, kasihan. Maafkan mamamu ini ya nak.


“Halo permisi.”


“Eh iya. Ada yang bisa dibantu?” Aku sontak menoleh ke arah sumber suara. Seorang ibu paruh baya bersama bocah lelaki yang kutaksir berusia tujuh tahunan.


“Ada bolu yang harga 50 ribuan ga mba?”

__ADS_1


“Eum ada tapi kecil bu.”


“Yang mana?”


“Itu.” Aku menunjuk kue bundar kecil yang berada di barisan kedua dalam steling kaca.


“Oh mbanya tinggal di mana ya?”


“Maksdunya?” Alisku mendadak saling tertaut. Perlu apa wanita satu ini sampai tanya-tanya rumahku segala.


“Ehehe gapapa. Ohiya kalau yang itu berapa harganya?”


“Yang itu 250 ribu. Ibu mau beli bolu yang mana?”


“Eum ga jadi. Terimakasih ya.”


Aish! Kenapa sih nih orang. Tapi ya sudahlah lagipula aku memang selalu menemui manusia-manusia aneh bin ajaib di sekitar sini.


Aku kembali beranjak ke belakang guna mengamati wajah Pricil yang sempat tertunda. Kalau tidak salah tadi aku sempat melihat tangan anakku seperti menggenggam sebuah kertas warna milik Refa, aku harus segera mengambil itu sebelum dikunyah-kunyah dan masuk ke dalam perutnya sendiri.


“Loh!”


Namun betapa terkejutnya aku takkala mendapati sebuah pemandangan kosong di atas tikar merah bendul-bendul. Tadi anakku di sana, sumpah. Apa dia berguling-guling hingga lenyap dari persemayamannya?


Aku menilik seisi ruangan mulai dari pintu utama hingga buntut toko bahkan seluruh halaman pun telah kutelusuri. Namun nihil. Pricil tidak ada.


Aku panik.


Sungguh panik.


Kemana anak itu?


Ruangan ini sangatlah kecil dan tak mungkin ia menyelip di sela-sela steling kaca. Lagipula Pricil belum bisa berjalan. Ya Tuhan bagaimana ini?


Saat ini aku telah berada di bibir trotoar guna mencari keberadaan putri kecilku. Sumpah! Dia benar-benar terlelap pulas tadi dan sangat mustahil kalau tiba-tiba saja bisa menghilang.


Ya Rabbi.


Aku terkulai lemas.


“Ada apa mba? Mbanya kenapa?” Samar-samar aku dapat melihat dari kejauhan beberapa manusia mulai berlari dan menuju ke arahku.


“Anakku hilang.”


“Loh memangnya tadi dia di mana?”


“Aku meletakkannya di atas tikar di dalam toko. Namun setelah aku melayani seorang pembeli tiba-tiba saja anak itu hilang entah kemana.” Kali ini mataku telah sukses meloloskan kristal-kristal bening yang kian mengundang prihatin para orang-orang sekitar sini.


“Masih ingat ciri-cirinya bagaimana?”


“Ibu paruh baya bersama seorang anak lelaki berambut keriting.”


“APA?”


“Sumpah?”


“Kemana arahnya?”


“Apa alasannya ke sini tadi?”


Aku semakin bingung. Kali ini nyaris semua orang menyerangku dengan berbagai pertanyaan.


“Memangnya kenapa? Kalian mengenalnya?”

__ADS_1


“Oh malang! Mereka berdua memang penculik anak di sekitar sini.”


HAH!


Gubrak!


...***...


“Hei bagaimana dengan keadaanmu?”


Aku mengerjap-erjapkan mata guna menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina. Samar-samar aku melihat sosok lelaki bertubuh tegap bersama seorang bocah gendut tengah berdiri menyampingiku.


“Eum Pak Reno.”


“Apa kepalamu masih sakit?”


Aku membisu. Pikiranku berlayar pada kejadian yang sampai sekarang belum mampu untuk kuingat. Entahlah, apa yang sudah terjadi?


“Sakit.”


“Obatnya sedang bereaksi, sabarlah.”


“Ibu nda papa?” Kali ini suara sang bocah familiar terdengar parau. Ia memegangi punggung tanganku seraya menampikkan wajah lesu.


“Apa yang sudah terjadi? Kenapa aku bisa berada di sini?”


“Kau sama sekali tak mengingatnya?”


“E hem.” Balasku dengan bergeleng-geleng kepala.


“Kau pingsan di pinggir jalan sesaat setelah mengetahui bahwa Pricilia telah hilang.”


APA?


Anakku?


Oh Ya Tuhan. Aku sudah mengingatnya kembali bahkan hal itu sangat terekam jelas dalam memoriku. Ya! Sebelum Pricil hilang aku dihampiri oleh seorang ibu paruh baya yang wajahnya sama sekali belum pernah kutemui.


“Anakku! Di mana anakku?” Aku kembali histeris. Selang infus serta selaga macam alat mediss yang melekat di badan sontak kucabut dan kubuang ke atas lantai. Aku panik sungguh!


“Hei hei tunggu! Tenanglah!”


“Tidak! Aku harus mencari Pricilia. Anakku diculik huuuu.”


Aku tak perduli! Aku kabur dari brankar tanpa izin dari Pak Reno. Namun pada saat kakiku telah berjejak di ambang pintu dan hendak menarik knocknya, tiba-tiba saja sebuah tangan kokoh memeluk tubuh dan mengunci langkahku saat itu juga.


“Lepaskan!”


“Tidak!”


“Lepas! Aku ingin mencari Pricil aaaaaa-“


Dug dug dug dug.


Alih-alih menghindari rengkuhan Pak Reno kini tubuhku diangkat dan dibaringkannya kembali ke atas brankar. Aku terkejut bukan main, ini adalah kali pertama ayah beranak satu itu berbuat demikian.


...***...


Bersambung


Like & bintang lima


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2