SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
SEMINGGU LAGI ?


__ADS_3

Sepuluh menit aku bungkam dan sepuluh menit itu juga Demian menggunakan berbagai cara guna menggali informasi tentang diriku. Hingga pada akhirnya aku menceritakan awal mula pertemuanku dengan sang mantan suami alias Hero. Dia mendengarkan dengan baik, sesekali guratan pedih ikut bersemayam di wajahnya.


Kalau dipikir-pikir pria satu ini asyik juga. Caranya menelaah kisahku, gaya bicara, tatapan bahkan posisi duduknya pun tak ubah layaknya lelaki yang sangat familiar di hidupku. Aku berasa sedang berada di sampingnya, ah sungguh nyaman sekali.


Aku juga sempat menceritakan tentang kebringasan nenek lampir yang telah lama kutinggal. Demian nyaris emosi namun saat itu juga ia mengelus-elus dada bidangya. Katanya mungkin ada suatu hal yang disembunyikan oleh Bu Lastri yang bisa jadi tidak kuketahui.


Demian juga bilang kalau sebenarnya dia juga baru pindah setelah menemukan Pricilia waktu itu. Saban hari ia mengurus anakku sambil bekerja di sebuah grosir beras, kasihan. Aku sempat khawatir karena kukira kenyamanan Pricilia akan terancam, namun Demian menjelaskan kalau ia selalu menitipkan Pricil pada seorang gadis remaja yang rumahnya tak jauh dari sini. Entah bagaimana proses perkenalan mereka aku pun tak tahu dan memang tidak mau tahu.


“Kau sendiri apa sudah memiliki istri?” Tanyaku pada Demian yang sepertinya sudah selesai mengintrogasi teman barunya ini.


Dia kikuk, napasnya terbuang kasar.


“Sebenarnya aku juga punya istri, tapi…” Jawabnya menjeda kalimat. “…tapi dia pergi jauh.”


“Meninggal maksudmu?”


“Huss bukan! Dia pergi ke luar negri karena terjerat kasus.”


“Ohya? Kasus apa?” Aku jadi kepo, namun tampaknya Demian tak mau membahas lebih dalam persoalan ini. Kelihatan sekali dari mulutnya yang mendadak enggan berbicara. “Uhm maaf.”


Hembusan angin kian beradu dengan pekatnya malam. Cukup panjang obrolanku dengan si tetangga baru. Mulai dari acara ketus-ketusan hingga akrab seperti sekarang menambah rasa syukurku pada Sang Kuasa. Tak lupa aku juga meminta maaf serta berterimakasih pada seorang pria yang sudah berhari-hari ikhlas merawat Pricil tanpa pamrih. Aku juga berjanji akan menjadi ibu terbaik bagi anakku dan tak akan lalai lagi seperti kemarin-kemarin.


...***...


“Apa! Kita akan menikah satu minggu lagi?” Dadaku bergemuruh bukan main setelah mendengar penuturan Pak Reno tentang jadwal resepsi.


Aku belum siap, sumpah! Aku bahkan lupa bagaimana cara melayani suami mulai dari bagian dapur hingga kasur.


“Dan hari ini kita akan pergi ke butik temanku untuk memilih gaun.” Pria yang baru saja mandi itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah, sesekali percikan air mendarat ke wajahku.


“Kenapa cepat sekali?”


“Apanya yang cepat? Bahkan kalau tak mengingat banyak pekerjaan yang menumpuk mungkin besok kau sudah kunikahi.”


Aku menelan saliva dengan berat. Menikah dengan majikan serta menjadi ibu tiri bagi anak asuh sendiri merupakan hal yang sama sekali tak pernah terlintas sedikit pun di benakku. Namun mau bagaimana? Janji tetap lah janji.

__ADS_1


Aku segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda gara-gara Pak Reno. Pria itu sengaja mangambil cuti demi mempersiapkan acara pernikahan kami. Awalnya aku menolak untuk diadakan pesta, namun ayah beranak satu itu ngotot sehingga aku tak mampu berbuat apapun selain menerimanya.


“Ayo bang!” Seruku pada Refa yang masih asyik dengan gadgetnya. Seperti ini lah bahaya memberikan ponsel kepada anak balita, pasti jadi kecanduan.


Bersama Pricil dan calon keluarga baruku, kami memasuki sebuah mobil yang telah terparkir di depan rumah. Antara suka dan duka berpadu jadi satu, perasaanku terombang ambing tak menentu.


“Apa kau dengan Bu Farah sudah resmi bercerai?” Setengah berbisik aku berkata pada pria yang berada di bangku kemudi, takut kalau-kalau Refa akan mendengar obrolan kami.


“Sudah.”


“Ou” Aku tak berniat untuk membalasnya lagi, padahal ingin sekali kukatakan kalau dia harus memikirkan ulang untuk meninggalkan istrinya dan menikahi seorang babu gembel sepertiku.


Terlepas dari benar-benar sudah berubah atau tidaknya Bu Farah, namun setelah menikah nanti aku akan sering mempertemukan dia dengan Refa. Tidak baik kalau hanya gara-gara sudah berpisah rumah tangga antara ibu dan anak kandung juga dijauhkan.


Mobil melesat jauh membelah keriuhan pagi menjelang siang di Kota Batam, hingga pada akhirnya benda hitam ini sukses mendarat di sebuah bangunan minimalis dengan pajangan-pajangan kebaya indah di depannya.


Kami memasuki gedung penuh warna dengan material unik yang tersemat di seluruh penjuru ruang. Banyak gaun yang begitu menarik perhatian, antara jubah bulu mewah, motif berwarna, lengan panjang dan model-model lainnya begitu menarik perhatian mata.


“Hai Ren, lama sekali tidak bertemu.” Suara lembut khas wanita mendadak muncul dari arah depan. Senyumnya mengembang lalu menjabat tangan Pak Reno kemudian aku.


“Lucia ini Chevani dan Chevani ini Lucia, teman SMAku.” Pria berkaos putih itu melirik kedua wanita yang tengah berada di hadapannya secara bergantian.


Sumpah ini indah sekali. Gaun pernikahanku dulu dengan Hero tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang tengah kulihat saat ini. Mataku berbinar, membayangkan bagaimana bila tubuh mungil ini dipakaian gaun mewah itu.


Grubak!


“Awww!”


“Eh sorry ga sengaja!”


Aku mengusap lenganku yang tiba-tiba saja ditubruk oleh dua orang wanita tidak dikenal. Semuanya menatap sinis, seolah aku ini adalah musuh mereka. Padahal kenal saja pun tidak.


“Calon istri Reno ya?” Tanya salah seorang dara berdress hitam ketat.


Aku menatap heran. Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Atau mungkin pria itu yang sudah mengumumkan pada semua orang bahwa ia akan menikahi pembantunya sendiri.

__ADS_1


“Eh asal kau tahu! Sebenarnya yang pantas jadi pengganti Bu Farah itu adalah Elbra, bukan perempuan gembel sepertimu!” Ia melanjutkan kata seraya melirik seseorang di sebelahnya kutaksir bernama Elbra.


Hatiku serasa mencelos dari tempat, pedih sekali. Mereka ini siapa? Apa maksud omongannya barusan? Aku jadi minder seketika takkala melihat style mereka yang begitu elegan dan terkesan mewah, beda denganku yang hanya memakai rok panjang dan baju kumal sebagai atasannya.


“Permisi!” Aku ngacir bersama air mata yang nyaris luruh. Sepertinya akan ada banyak hal yang harus kutanyakan pada Pak Reno setelah ini.


“Ah kau ke mana saja!” Mampus aku! Rupanya dia sudah mencariku sedari tadi.


“A- anu Pak. Aku dari melihat-lihat.”


“Ya sudah cepatlah karena badanmu akan diukur.”


“Untuk apa lagi?”


“Apa kita ke sini untuk membeli camilan?”


“Um tidak-tidak bukan itu maskudku. Kenapa tidak langsung mengambil salah satu di antara gaun-gaun ini saja?”


“Aku sudah membayar mahal untuk membuat gaun termewah untukmu!”


Ishh! Sombong sekali si Reno. Lagipula di sini juga sudah banyak gaun-gaun bagus, lalu kenapa harus membuat yang baru? Memakan waktu saja!


“Maafkan sahabatku ya Che, dia memang terkesan agak arogan.” Lucia menyenggol bahu Pak Reno dengan bahunya sendiri, aku membalas dengan senyum kuda.


“Loh! Pak Reno di sini juga?” Baru lagi jantungku mulai berdetak normal, kini dua wanita ular yang tadi menghinaku kembali muncul ke permukaan.


“Lani? Elbra? Mau ngapain kalian ke sini?”


Ou jadi perempuan yang satu lagi namanya Lani, batinku.


“Ada yang ingin dicari dan kebetulan sekali bertemu bapak. Oya, ini Bu Chevani calon istri bapak itu ya? Hai Bu, saya Lani dan ini Elbra.” Lani tiba-tiba saja menjabat tanganku kemudian di susul oleh teman di sebelahnya. Seolah belum pernah bertemu, mereka memperlakukanku sangat baik dan berbanding terbalik dengan tadi.


...***...


Bersambung

__ADS_1


Kira-kira dua wanita ular itu siapanya Reno ya?


LIKE & COMMENT


__ADS_2