SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
RATNA ANEH


__ADS_3

“Mama abang sedang ada urusan. Jadi abang ga boleh sedih ya.” Kataku mencoba menenagkan. Aku merengkuh tubuhnya dan menenggelamkannya dalam pelukanku. Huh jika begini aku jadi teringat suwaktu Hero berkata bahwa dia menginginkan anak lelaki kalau Pricilia sudah berusia satu tahun penuh. Hei kenapa aku jadi teringat penghianat itu?


“Atu nda cedih kalo dek Plicil mau main cama aku.”


“Oh abang mau main sama dek Pricil?”


“He em.”


Tumben bocah balon ini mau bermain dengan anak babunya. Baguslah, berarti kata-kataku kemarin sukses menembus jiwa nakalnya.


Aku menggendong Pricilia seraya menuntun Refa agar keluar dari ruangan ini lalu turun ke lantai satu untuk bermain. Jarang-jarang ada penjaga anak membawa anak seperti diriku ini.


Semua alat perang si bocah gembul tersimpan rapi di dalam sebuah lemari khusus mainan anak. Refa membuka benda persegi panjang tersebut yang kebetulan kuncinya sudah tercantel di sana.


Dikeluarkannya seluruh isi dalam lemari mulai dari mobil-mobilan, motor-motoran, robot, pesawat, alat pancing beserta ikan dan kolam mainannya bahkan sampai keluarga barbie pun ada di sana. Astaga Refa, sejak kapan kau memiliki mainan berambut pirang itu?


“Cini dek Plicil main cama abang Lefa.” Anak itu melompat-lompat kegirangan seraya menggapai lengan Pricilia yang masih kukuh dalam gendonganku.


“Oke sekarang kita main ya.” Kataku lalu meletakkan Pricil di atas karpet berbulu halus. Ia juga tampak kegirangan takkala melihat serakan mainan yang berada di permukaan karpet ini. Manik matanya berpendar-pendar, kakinya menggelinjang pertanda antusias. Syukurlah.


Sedang asyik bermain dengan mereka, tiba-tiba suara ketukan pintu dari arah depan membuat semua dari kami terhenti dan menoleh ke arah yang sama. Aku berjalan menuju sumber suara untuk mengetahui sosok mana yang datang pagi-pagi begini. Apa Pak Reno pulang? Ah mustahil, dia baru saja pergi. Atau itu adalah Bu Farah? Astaga! Aku yakin sekali pasti itu Bu Farah. Mampus aku.


“Iya silahkan masuk Bu Far-“


“Loh kamu?”


Alhamdulillah Gusti.


Ternyata yang datang bukan si nenek lampir melainkan sahabat SMA sekaligus tim sepencucianku di bar, Ratna. Ia datang dengan seorang anak wanita seumuran Refa. Rumah majikan kami yang memang bersebelahan membuat aku dan rekan sejawatku ini sering bertemu di saat lengang kerjaan.


“Ciciiiii.” Bocah gendut yang menyadari akan kedatangan tetangganya itu pun sontak berlari dan meninggalkan anakku yang masih tergeletak di atas karpet bersama sekawanan robot-robotan.


Cici alias anak majikan Ratna juga kelihatan sangat bergembira. Keduanya berlari ke arah Pricil lalu melanjutkan permainan yang sempat tertunda tadi. Refa mengambil pesawat-pesawatan sedangkan Cici memilih untuk menyisir rambut barbie yang panjang dan pirang itu.


Aku mempersilahkan Ratna duduk dan menyuguhkan beberapa cemilan dan air hangat untuknya. Maklumlah, aku hanya sebatas pembantu di rumah ini. Jadi mana mungkin aku memberikan hidangan seperti yang biasa Bu Farah sajikan untuk teman-teman yang berkunjung ke rumahnya.


“Pak Reno sudah pergi bekerja Che?” Tanya Ratna membuka percakapan.


“Sudah.”


“Apa Bu Farah belum pulang?”


What!


Apa katanya? Bu Farah?


Kenapa dia bisa tahu soal kepergian Bu Farah?

__ADS_1


“Dari mana kau tahu tentang Bu Farah Rat?” Tanyaku penuh penasaran.


Wajah perempuan di depanku ini mendadak merah seperti tomat matang. Aku dapat menyaksikan dengan jelas tubuhnya yang tersentak kaget dengan pertanyaanku barusan. Hei ada apa?


“A- aku anu-“ Ia terbata-bata. “Umm maksudku apa Bu Farah sudah pulang shopping? Biasanya wanita sosialita itu selalu saja tidak pernah di rumah. Ah iya itu maksudku.”


Oh jadi seperti itu.


Tapi kenapa harus ada bulir keringat yang mulai mencucuri pelipisnya?


Huh sangat aneh.


“Aku tidak tahu di mana keberadaan Bu Farah saat ini. Mungkin ia sedang bersama teman-temannya.” Jawabku berbohong. Mana mungkin aku membocorkan aib orang yang telah menggajiku di rumah ini.


Ratna terlihat semakin panik. Sesekali telapak tangannya memukuli mulutnya sendiri, persis seperti orang yang sedang salah omong. Ada apa ini? Bahkan dalam hitungan detik berikutnya ia beringsut ke arah Cici dan mengajak gadis kecil yang tengash syur dengan barbienya itu kembali pulang.


“Kenapa cepat sekali? Apa pekerjaanmu masih banyak?” Tanyaku setelah kami berada di ambang pintu.


“Aku lupa mematikan kompor.”


“Ohya? Aku sedang tidak mengusir tapi segeralah untuk pulang sebelum rumah majikanmu itu meledup dan kau harus di penjara karena keteledoran.”


Entah real asalan atau hanya bualan yang jelas saat ini Ratna berangsur pergi meninggalkan aku yang masih dipenuhi oleh tanda tanya. Ia melenggang cepat seraya menarik lengan Cici agar segera menjauh dari bangunan luas ini.


Aku kembali mendatangi tempat di mana Refa dan anakku sedang bermain. Tampak raut kecewa dari bocah gendut berusia empat tahun itu ketika teman sejolinya pulang secara mendadak. Kasihan.


...***...


Jam lima tepat, pantas saja lelaki itu sudah pulang dari bekerja.


Aku membasuh tangan kemudian membuatkan kopi panas untuk majikanku lalu mengumpulkan piring dan gelas kotor sisa makanan Refa. Bocah balon ini bisa menghabiskan lima piring nasi setiap harinya.


“Atu tadi main cama dek Plicil pa.” Refa mulai bercerita.


“Main apa?”


“Lobot-lobotan.”


“Dek Pricil juga kamu ajak main robot?”


“Iya pa, tapi dek Plicil cuman tetawa-tetawa ajah. Dek Plicil nda bisa jalan kaya atu.” Refa menjelaskan dengan raut penuh kecewa. Bayiku itu baru berusia delapan bulan, jadi wajar saja bila saat ini yang dilakukannya hanyalah teluntang telangkup dan bukan berjalan.


Aku beringsut ke depan untuk membereskan sisa-sisa mainan Refa, dia baru saja berhenti bermain karena lapar. Pricil sudah kubaringkan di dalam kamar khusus pembantu dari dua jam yang lalu. Gadis kecil itu masih anteng tertidur di atas sebuah ranjang, mungkin ia lelah bermain.


Huft.


Banyak sekali mainan yang harus kubereskan, aku persis seperti orang yang baru pindahan rumah. Bisa copot pinggangku jika terus-terusan begini. Mulai dari alat pancing beserta ikan-ikannya yang tercecer di atas karpet hingga mobil-mobilan yang terpental jauh ke sudut ruangan semua kukutip habis lalu dimasukkan ke tempat semula. Ya Tuhan, semoga besok Refa tak akan bermain permainan ini lagi.

__ADS_1


“Pa. atu mau cama mama.” Anak gendut itu kembali bertanya pasal ibunya. Walaupun aku sedang berada di ruang tengah, namun aku dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka di dapur karena ruangan itu begitu menggema.


“Sabar ya sayang, mama lagi banyak urusan.” Kata Pak Reno menenangkan. Bagus, apa yang diucapkannya barusan persis seperti apa yang kuucapkan suwaktu pagi tadi di kamar Refa.


“Tapi atu mau main mobil-mobilan gede. Papa biyang mama di lumah opa.”


“Iya nanti kita ke sana ya.”


“Tapan?”


“Sabar ya.”


“Huaaaaa huaaaa hiksss.” Lenkingan tangis pecah kembali terdengar dari belakang. Kasihan, anak itu pasti sangat merindukan mamanya.


Wahai nenek lampir?


Di mana kamu?


“Jangan nangis ya. Kamu mau apa?” Kata Pak Reno berusaha membujuk.


“Atu mau mama.”


“Mama masih banyak urusan. Oh apa kau mau papa belikan mobil-mobilan seperti yang ada di rumah opa?”


Hening.


Tangis Refa sontak menghilang ketika papanya menawarkan untuk membeli mainan baru. Wow sepertinya akan ada kelehtihan baru untukku mulai besok. Menjaga Refa seharian di atas mainan mobil barunya, huh sungguh tak terbayangkan rasanya.


“Wah iya pa, atu mau.” Jawab bocah tengil itu antusias yang suaranya masih dapat kudengar jelas dari ruangan ini.


“Oke sebentar ya sayang.”


Aku terus mengutip beberapa mainan lagi yang masih tercecer di lantai, syukurlah tinggal sedikit lagi. Namun di saat aku ingin meraih sebuat pedang tumpul yang tergeletak di sisi karpet mataku menangkap sosok lelaki bertubuh jenjang menghampiriku di sini.


“Besok kau harus ikut denganku.”


Deg!


...***...


Bersambung


Like, comment & vote ya guys


Dukungan kalian semangat buat aku


Sehat selalu yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2