SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
MERINDUKAN ANAKNYA


__ADS_3

Aku turun dari angkot dengan mata membelalak, banyak sekali polisi di tempat ini. Di sela-sela badan para manusia yang sedang berkerumunan aku melihat tiga orang wanita seusiaku sedang bergunjing tentang suatu hal yang aku tak tahu isinya apa. Mereka adalah tim sepencucianku di bar ini, ada Elin, Neni dan juga Ratna. Ketiganya terlihat panik dengan cibiran-cibiran yang keluar dari mulut mereka.


“Hei apa yang terjadi?” Kataku setelah berhasil melewati tubuh-tubuh manusia yang berkerumun di kawasan ini. Aku menatap intens ketiganya secara bergantian, tidak ada jawaban namun setelah itu Neni menarik lenganku untuk menuju ke posisi yang lebih sepi.


Akhirnya sampai lah kami di bibir jalan, kondisi di sini tidak terlalu ramai meskipun masih ada beberapa orang yang berdiri menyaksikan segerombol orang yang sedang berkerumun di sana.


“Kau tahu sprei berdarah yang kita cuci kemarin?” Tanya Neni padaku. Netranya membulat, napasnya terpenggal-penggal.


“Ya. Kenapa?”


“Ternyata itu bukan penyebab dari senam ranjang Che.”


“Lalu?”


“Telah terjadi pembunuhan di bar ini.”


APA?


Aku tercekat tak percaya. Bagaimana bisa? Bukannya sprei itu kami cuci kemarin lalu mengapa baru hari ini terdengar kabar? Lagipula siapa membunuh siapa?


“Bagaimana bisa?” Jiwa penasaranku meronta-ronta. Sederet pertanyaan kian menghantui isi dalam otakku.


“Seorang wanita membunuh seorang pria yang kemudian mayatnya dimasukkan ke dalam lemari dan baru diketahui hari ini oleh Aren.”


“Dari mana kalian tahu bahwa pembunuhnya adalah seorang wanita?”


“Ada sebuah gelang berinisal RS di dalam saku kemeja lelaki itu Che.”


“Ohya? Milik siapa?”


“Belum ada yang tahu. Namun polisi sedang berusaha untuk mengungkap semua ini.”


Jantungku berdebar-debar. Sekelebat teka-teki berlarian di pikiranku. Apa mungkin wanita itu adalah istrinya? Atau selingkuhannya? Ah sudahlah, aku berharap semoga kasus ini segera terbongkar.


“Lalu bagaimana dengan kita?” Kali ini Elin pula yang bersuara. Rautnya sangat masam, sesekali ibu satu orang anak itu menghembuskan napas berat dari kedua lubang hidungnya.


“Selama kasus penyelidikan mungkin kita akan break kerja. Oh No! Bagaimana dengan nasib ke tiga anakku?” Neni merengkuh kepalanya dengan kedua lengan. Kelihatannya ia juga sangat pusing sekali. Huh! Satu orang yang berbuat maka semua akan kena imbasnya. Jika aku bertemu dengan wanita pembunuh itu, mungkin sudah kujambak-jambak rambutnya hingga tercabut sampai ke akar.


Aku tak melihat pimilik bar atau pun Aren yang melintasi kawasan ini. Mungkin mereka sedang diasingkan untuk dimintai keterangan. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan Aren, pasti ia menyimpan banyak cerita yang belum kami ketahui dengan jelas keasliannya.

__ADS_1


Kriiiing.


Dering ponsel yang bersumber dari slinbag seorang wanita yang tengah berdiri persis di hadapanku terdengar nyaring. Ia kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya setelah menekan tombol hijau pada bagian depannya.


“Halo Ratna bagaimana rencanamu?”


“Astaga!”


Suara besar seorang lelaki menyembul dari seberang sana. Sontak Ratna yang mendengar bariton itu secepat kilat meng-offkan tombol speakernya. Ya ampun bagaimana mungkin speakernya tadi bisa aktif? Uh mungkin tak sengaja tertekan olehnya. Tapi siapa itu? Rencana apa yang dimaksud olehnya? Aku, Neni dan Elin menoleh secara bergantian.


Ratna berangsur melenggang dan meninggalkan kami yang masih mematung di tempat ini. Entah mau kemana wanita itu yang jelas wajahnya memucat pasi takkala suara pria tadi terdengar oleh kami. Oh mungkin suaminya, pikirku.


“Jadi bagaimana ini?” Tanya Elin sekali ini. Wanita itu tampaknya sangat kebingungang. Ya Tuhan tolong beri kami jalan.


“Sebaiknya kita pulang saja dulu. Bukan kah tempat ini kosong dan masih dalam tahap penyelidikan? Aren pasti akan menghubungi kita semua setelah ia memiliki waktu lengang. Tenanglah, semoga Gusti selalu membersamai.” Aku si sok kuat ini memberikan pengertian kepada kedua teman-temanku. Hei sejujurnya aku pun juga sudah ketar ketir.


Ketiga dari kami pun pada akhirnya mengambil langkah kaki dan melenggang pergi dari kawasan itu meninggalkan kerumunan manusia dan para pak polisi yang sedang bertugas. Tidak banyak yang kuharapkan, cukup pekerjaan sebagai tukang cuci di tempat ini tetap dapat kami jalankan juga sudah cukup. Tapi jika Sang Kuasa ingin memberi bonus berupa pemberitahuan siapa wanita pembunuh itu mungkin akan jauh lebih bagus lagi hihihi.


...***...


Gelita dan jutaan bintang saling beradu di atas sana seolah keduanya sedang unjuk diri di depan sang rembulan. Kunang-kunang juga mulai berkeliaran di halaman depan rumahku, Ya Tuhan indah sekali.


“Hiks hiks huuuu.”


Hei.


Aku mendengar suara tangisan seorang wanita.


Siapa itu?


Aku segera masuk dan kembali menutup pintu rapat-rapat. Suara tangis itu kian kentara takkala aku menginjakkan kaki di runag tengah. Ou ou ou, sekarang aku tahu itu siapa.


Mertuaku.


Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis? Apa mungkin kakinya tersengat oleh patil kelabang?


Bak seorang maling aku mengendap-endap lalu mendekatkan tubuhku persis di depan pintu kamar wanita tua itu. Saat ini telingaku telah menempel tepat di atas permukaan benda kayu berbentuk persegi panjang tersebut. Astaga aku tidak ada bedanya dengan cicak nemplok. Pricilia? Oh dia telah ku amankan di atas sofa ruang tengah ini. Semoga saja dia tidak terguling ke bawah.


“Sejujurnya mama sangat merindukanmu sayang hiks hiks hiks.”

__ADS_1


“Kau di mana? Apa kau tak merindukan mamamu ini?”


Oh Tuhan.


Ternyata ia sedang merindukan anak semata wayangnya.


Aku dapat dengan jelas mendengar isakan tangis dan perkataannya dari balik pintu ini. Bu Lastri, baru kali ini aku mendengar ia menangisi anaknya kembali setelah setahun penuh.


“Kau tahu? Istrimu itu sangat baik sekali.”


Hah? Istri? Aku maksudnya? Aku terus mendengarkan dengan hikmat segala perkataanya.


“Selama ini ia selalu menjaga dan merawatku dengan baik bahkan segala kebutuhanku tangan kecilnya itu lah yang memberi. Sungguh sayang, jika bukan karena dia adalah anak dari Almrh.Rosa pasti aku sudah sangat menyayang dan mengasihinya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku selalu mencoba untuk meredam emosi di saat bersamanya namun tidak bisa. Sumpah, parasnya tidak berbeda dengan Rosa. Dan aku tidak bisa menerima itu hiks hiks.”


HAH!


Jadi selama ini dia mengerti akan kondisiku dan tahu diri. Astagfirullah, berdosa sekali hamba-Mu yang telah selalu berburuk sangka pada Bu Lastri.


DAN ROSA?


Rosa adalah ibu kandungku.


Kenapa wanita itu membawa-bawa nama ibu dan berkata bahwa ia tidak bisa menahan emosi karena parasku sangat identik dengan ibu


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys


Dukungan kalian semangat buat aku:)


Ohiya


Mampir di karya aku satu lagi yuk


AKU KAU DAN ISLAM


Cerita seru banget loh 😍

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu yaaa readers 🤗


__ADS_2