
Atmosfer café yang sebenarnya ramai mendadak mencekam takkala Alya menyodorkan diri untuk mengurus Ozon selama berada di sini. Hei, apakah dia sedang ingin uji nyali? Pria tua itu bukan sedang sakit fisik, melainkan mental. Lagi pula, lama-lama aku jadi curiga, kalau sebenarnya Alya menawarkan diri bukan melalui ketulusan hati, namun ingin terlihat baik di depan Bu Naumi.
“Jangan! Ini kan sudah jadi tugas Mba,” kataku memecah keheningan. Gadis muda itu sudah berada persis di depan Ozon. Kedua sudut bibirnya tertarik sambil menatapku, kemudian Bu Naumi.
“Uh, tidak apa-apa. Lagi pula Mba kan tahu, kalau aku ini tipe orang yang susah untuk tidak menolong,”
Hah? Apa katanya?
Oh, sekarang aku tahu apa maksud dan tujuan dari anak satu ini berbuat demikian. Dia sengaja menarik perhatian bu Naumi agar dipandang baik. Ya, aku paham betul. Bik Nah yang berada di depan sana pun sejenak menarik napas, ingin berkata sesuatu namun tiba-tiba saja pelayan datang membawakan sebuah buku menu yang langsung disambar oleh Alya.
“Terima kasih Mba. Sebentar ya,” wanita yang menggunakan seragam khas kerja tersebut pun hanya membalas dengan seulas senyum.
Aku dan semua orang yang berada di tempat ini sudah selesai memesan, hanya menyisakan Ozon yang masih senantiasa memindai netranya pada benda berdominasi cokelat tua tersebut. Sejenak ia menggaruk-garuk kepala, kemudian membanting buku itu hingga membuat orang-orang yang berada di sekitar ikut terkejut, termasuk si pelayan.
“Hei! Kau ini kenapa?” Alya bersuara. Nyaris saja ia meluapkan amarah, namun sesegera mungkin wajahnya kembali dibuat tenang. Cerdas.
“Pesan saja apa yang kau mau kak,” bu Naumi menimpali.
“Aku tidak suka makan dekat anak satu ini!” dengan kejamnya Ozon menonyor kepala Alya dari arah samping. Remaja itu terperanjat kaget, hampir saja jatuh dari atas bangku.
“Kak! Apa-apan kamu hah,” wanita yang usianya di bawah Ozon beberapa tahun itu sontak membentak. Setelahnya Alya disuruh pindah ke bangku semula.
Dari sini, aku dan Bik Nah hanya memperhatikan lekat-lekat. Tak ada yang berani bersuara, Ozon sudah merusak kegiatan yang bahkan sama sekali belum dimulai. Dan Alya? Mukanya memerah padam seperti kepiting hasil rebusan di dalam panci. Aku tahu dia sedang kesal, namun tak dapat melakukan apapun kecuali memendam segala emosi.
20 menit berlalu. Cukup jenuh aku menunggu makanan-makanan yang kini berada di hadapan kami. Sebenarnya wajar, mengingat temat ini juga sangat ramai akan pengunjung dan koki tersebut hanya memiliki dua tangan. Baik aku dan yang lainnya langsung saja menikmati santapan kami, tak ada yang berisik selama acara makan-makan berlangsung termasuk Ozon.
Lama kami berkutat dengan piring masing-masing, hingga dalam menit berikutnya bu Naumi menyelesaikan terlebih dahulu kegiatan pengisian perutnya.
“Santai saja tidak usah buru-buru,” serunya setelah memindai tatapan ke arah kami yang lansung sibuk melahap makanan.
“Perlu kubantu?” suaraku berhasil membuat kepala Ozon menoleh ke sebelah kanan. Ia tak bergeming, terus melanjutkan ritualnya bersama piring, sendok dan garpu seorang diri.
“Kenapa tidak disuapi saja Mba?” tiba-tiba Alya menyela.
__ADS_1
“Kelihatannya dia sedang anteng makan sendirian,” aku mencium roman-roman tidak enak lagi di tempat ini. Entah apa yang akan dilakukan keponakan dari Bik Nah tersebut.
“Kalau aku jadi Mba, aku pasti nyuapin Pak Ozon sampai makanannya habis tak bersisa. Ya, walau bagaimanapun, beliau pasti memerlukan bantuan agar lekas selesai,”
Benar dugaanku. Lagi-lagi Alya berusaha merebut perhatian bu Naumi, namun kali ini ikut menjatuhkan aku sebagai pengasuh sah dari Ozon. Aku semakin kesal, kalau bukan karena menghargai majikan, pasti sudah kulawan gadis picik satu itu.
...***...
“Terima kasih banyak ya Bu,” aku melambaikan tangan ke arah mobil yang baru saja terparkir di halaman rumah. Malam ini perutku sudah disesaki oleh berbagai makanan. Sehabis menyantap menu di café tadi, bu Naumi malah mengajak kami berbelanja hingga berujung dengan pengisian perut ulang. Astaga, andai saja aku bisa melihatnya sekarang. Pasti benda sejengkal itu sudah membengkak seperti perut gajah.
Tok tok tok.
Pintu kuketuk, namun tidak ada tanda-tanda penghuni di dalam sana. Di mana Demian? Bukankah sedari tadi ia mengirimi banyak pesan untukku dengan mengatakan rindu?
“Demian,” aku berseru keras dari luar. Agaknya dia sudah tertidur.
Kucoba menghubungi ponselnya dan tersambung. Suara itu berasal dari dalam rumah, namun selang beberapa detik, tak jua diangkat.
Dari knock pintu yang terkunci, kemudian mataku memindai gedung yang sama ukuran dan bentuknya dengan rumah yang kami tempati saat ini. Semenjak sudah menikah, bangunan di tengah itu menjadi kosong tiada penghuni. Aku berharap, sebentar lagi akan datang orang baru, entah siapapun itu. Sepi dan menyebalkan sekali rasanya jika hanya tinggal bertemankan dengan Ibil si gadis ganjen.
Baru saja dibatinkan. Kini wanita itu muncul dari balik pintu rumahnya dengan wajah bahagia bersama seorang pria yang begitu familiar di mataku. Parasnya, tubunya, bahkan suara. Bumi seakan berhenti berotasi, begitu pun dengan organ tubuhku yang biasa berdetak.
Demian dan Ibil, mereka keluar dari ruangan yang sama.
“Astaga sayang!” pria itu berseru kencang. Ia tak kalah kagetnya denganku saat ini. Dan Ibil? Remaja tanggung itu masih sempat-sempatnya melambaikan tangan dan tersenyum ramah ke arahku yang sudah dipenuhi luapan emosi begini.
Demian berlari secepat yang ia bisa. Namun sayang, aku lebih dulu kabur dari tempat. Dan ada akhirnya, terjadi lah acara kejar-kejaran seperti yang ada di film-film India. Bedanya ini nyata, bukan setingan belaka.
Aku sesak, tak ingin mendengar apapun dari Demian. Pricil kupegang erat agar tak lepas dari gendongan, dan pria itu terus memanggil namaku hingga suaranya terdengar serak.
Dag dig dug
Dag dig dug.
__ADS_1
Ritme jantungku mulai tak beraturan, sebah. Ingin pecah rasanya. Aku tak sanggup lagi melangkahkan kaki, dan pada saat itulah Demian berhasil meraih tubuhku lalu menenggelamkannya di dalam pelukan.
Aku terisak.
“Dengarkan aku dulu, sayang.” Demian memegang erat pergelangan tanganku. “Tadi a-“
“Diam!”
Keadaan langsung hening selama beberapa saat.
“Ngapain kalian berdua-duaan dalam satu rumah hah? Pintar ya! Selama ini kau selalu berakting di depanku seolah membenci Ibil,” aku mengusap wajah kasar. Air mataku luruh bersama gerimis yang mulai jatuh dari kaki langit. “di belakangku kalian bermain gila!” untung saja tempat ini tak begitu ramai. Kalau tidak, mungkin sudah banyak pasang mata yang menatap kami nanar.
“Makanya dengarkan dulu penjelasanku.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan!” aku mencoba melepaskan pegangan Demian. Namun apalah dayaku sebagai seorang wanita yang tenaganya kalah jauh dibanding pria. Demian tetap menang.
“Lihatlah! Hujan mulai turun. Kasihan anak kita,”
“Ini anakku bukan anakmu!” aku terus bertumpu pada lapak yang didominasi oleh semak belukar. Pelupuk mataku semakin menciptakan kristal-kristal bening.
“Ya, terserah kau saja. Tapi, ayo pulang sekarang! Nanti Pricilia demam,” kalimat terakhir Demian sontak membuat otakku berpikir keras. Aku marah, benci, namun tak mungkin juga membiarkan buah hatiku terkena tetesan hujan hanya karena keegoisan Mamanya sendiri. Oleh karena itu, dengan berat hati aku melangkah kembali menuju rumah.
“Jangan pegang-pegang!” ketusku pada Demian yang sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya.
...***...
Bersambung
Maafkan aku yang terus berkutat dengan skripsi sampai telat update ya readers, hehehe
Do'ain semoga aku lekas seminar proposal okeh:)
Btw
__ADS_1
Gimana sejauh ini pandangan kalian terhadap Ibil?
LIKE & COMMENT