SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TIDUR DENGAN DEMIAN


__ADS_3

Atmosfer ruangan ini tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Aku menundukkan wajah seraya memilin-milin ujung bajuku, grogi.


“Kau ingin menelanku bulat-bulat ya?” tak lama kemudian suara Demian mulai terdengar di telingaku. Ia menutup pintu toilet setelah keluar dari tempat berdominan air itu.


Perlahan-lahan aku mengangkat kepala, dan jangan lupakan kedua tanganku yang masih setia menutupi area wajah. Begitu memastikan bahwa Demian tak lagi dalam keadaan polos melalui celah-celah jemari, napasku spontan terbuang kasar. Rasa lega mulai menjalar di dadaku.


“Ma- maafkan aku. Aku bahkan lupa kalau sudah memberikan kunci rumah padamu, kukira ada maling di sini,” kataku jujur, semoga Demian tidak berpikir yang aneh-aneh. Apalagi sampai mengira bahwa aku akan mengeksekusinya di kamar mandi.


Untungnya pria itu sudah memakai lengkap kaos serta celana puntungnya. Membuat gemuruh di dadaku kian luntur. Meskipun aku sudah biasa melihat pemandangan seperti ini bersama Hero dulu, namun yang kutemui kali ini adalah orang lain. Antara Demian dan Hero sangat lah berbeda, meskipun entah kenapa semakin ke sini aku kian merasakan banyak hal yang sama di antara keduanya.


“Kalau aku butuh, aku numpang lagi ya,” ucap Demian kemudian berlalu pergi dengan handuk yang masih bergelayut di seputaran batang lehernya.


Aku kikuk. Bagaimana mungkin setelah kejadian menegangkan tadi Demian malah bersikap biasa saja? Seolah menampakkan onderdil dalamnya itu sudah menjadi hal lumrah yang tak patut dikhawatirkan. Aku bergumam pada diri sendiri, selanjutnya menyerahkan Pricilia pada ranjang yang siap membawanya ke alam mimpi.


Malamnya, aku melihat Bu Itah, suaminya beserta Demian sedang berbincang-bincang di halaman luar. Ada dua koper dan dus besar di sana, tampaknya pasutri setengah abad itu akan pergi meninggalkan rumah berdempet ini.


“Ibu dan bapak mau ke mana?” laki-laki yang bahkan belum kutahu namanya itu menoleh. Kini posisiku telah berpindah di hadapan mereka.


“Mau jenguk anak di Surabaya,” jawabnya seraya tersenyum tipis.


Aku memindai satu persatu wajah mereka, tampak Bu Itah mesem-mesem sendiri entah karena apa.


“Kalau dilihat-lihat, antara kamu dengan Demian ada kecocokan,” Perempuan bersanggul itu bicara sekenanya sehingga membuat netraku spontan membeliak. Ia juga secara bergantian menatapku lalu berlanjut pada Demian.


“Iya, do’akan saja agar kami lekas menikah ya Bu,” Sebuah kalimat yang membuat deru napasku mendadak besar.


Menikah katanya? Enteng sekali mulutnya berbicara. Apa dia tidak memikirkan istrinya yang sedang berada di luar Negri sana? Dasar buaya!

__ADS_1


Bu Itah beserta suaminya itu mengaminkan antusias. Memiliki tetangga ramah seperti mereka merupakan keberuntungan tersendiri bagi seorang wanita yang semasa hidupnya dipenuhi oleh orang-orang aneh seperti diriku. Namun untuk kali, aku agak tersinggung. Bagaimana tidak? Demian adalah pria yang bisa membuatku nyaman setelah Hero, namun sangat mustahil untuk dimiliki.


“Itu dia taksinya,” Suara pria berkumis tebal membuat kepala kami sama-sama menoleh ke arah kanan. Tak lama setelah itu, Demian langsung mengambil alih si koper beserta dus dan langsung memasukkannya ke dalam kendaraan beroda empat yang baru saja mendarat di tempat ini. Tangannya yang penuh dengan urat-urat biru, melambai kearah pasutri yang sudah berada di dalam mobil. Demi apapun, senyumnya sontak melumpuhkan hatiku.


“Di mana Pricilia?” Tanyanya setelah lokasi ini hanya menyisakan kami berdua.


“Tidur di dalam kamar,”


“Apa aku boleh melihatnya?”


“Hm!”


Aku memandangi punggung Demian sambil mengekor di belakang. Tangannya yang meraih knock pintu kamarku, membuat kegaduhan tersendiri dalam pikiran. Ya, seperti setahun lalu, aku masih ingat betul takkala Hero sang pahlawan yang kerap kali menggendongku lalu mendorong pintu bilik dengan ujung jari kakinya sendiri. Pria yang sejak masa putih abu-abu mengenalku itu selalu kerepotan ketika istri tercintanya ini ketiduran di depan televisi.


“Pricilia manis sekali, sama seperti dirimu,” lelaki berpostur jenjang terlihat memasang wajah adem. Telapak tangannya yang menempel pada kepala putriku, membuat kesan seolah aku ini memiliki seorang suami.


Kedua mata Demian memindai satu persatu onderdil di dalam kamar kecilku. Sudut bibirnya tertarik takkala mendapat tumpukan segitiga bermuda serta kaca mata yang belum kulipat dari tadi sore.


“Jaga matamu!” cetusku dengan tatapan sengit kemudian mendaratkan bokong pada kursi kayu di ruang tamu.


“Kau bisa menghidupi anakmu seorang diri, hebat,” Ucapan Demian spontan membuat kupu-kupu di dalam perutku berhamburan tak menentu. Entah kenapa, setiap kali mata cokelat itu menatapku, aku seakan terhipnotis dan serasa ingin berlayar di dalamnya.


“Tidak usah berlebihan,” balasku dengan desahan panjang. Andai pria ini tahu menjadi single parent tidaklah semudah yang ia lihat saat ini. Di mana aku harus pontang panting demi sesuap nasi, berhubungan dengan orang-orang aneh, disiksa oleh majikan dan juga mertua. Ah! Kalu diingat-ingat, aku juga tidak tahu kenapa bisa sebertahan ini.


“Maafkan aku ya,” Demian mendekatkan jarak dan langsung mengusap-usap pergelangan tanganku lembut. Ia membuang napas kasar, mata cokelatnya menembus retinaku.


“Minta maaf untuk apa?” balasku kebingungan. Yang benar saja. Punya salah apa dia terhadapku setelah baru beberapa minggu saja kami bertemu.

__ADS_1


Demian mengusap wajahnya kasar, lalu ikut duduk di sebelahku. Tidak hanya sampai di situ, kini tangan kanannya mulai menggerayap ke bagian bahu dan merengkuhku erat-erat. Seperti induk ayam yang memberi kehangatan pada anak-anaknya.


Aku bungkam takkala sebuah aliran listrik mulai menjalari sekujur tubuh. Tanpa perencanaan yang panjang, aku juga langsung membalas pelukan Demian dengan mendaratkan kepala pada dada bidangnya. Hangat dan nyaman sekali. Posisi seperti ini tak ada bedanya dengan yang pernah kualami sewaktu bersama Hero dulu.


Keadaan seperti ini bertahan sangat lama. Lalu entah bagaimana caranya tiba-tiba saja aku merasa sebuah tangan kokoh menggendong tubuhku ke sebuah tempat yang aku sendiri pun tidak mengetahui.


“Emmmmmph hoaaam,” Sinar kuning yang berasal dari pentilasi jendela sukses menembus retina mata dan membuatku terbangun seketika. Namun aku merasa ada yang sedang tidak beres, seolah oksigen di bumi nyaris habis.


Aku memindai satu per satu yang berada di atas ranjang ini. Ada Pricil di kanan, aku di tengah dan Demian di sebelah kiri sedang mengapitku erat-erat dengan tubuhnya.


Hei, aku bilang apa tadi?


Demian?


“Ya Tuhan! Eh bangun kau bangun!”


Bugh!


Sama halnya dengan menyaksikan pemandangan tubuh polos Demian saat mandi kemarin sore di toilet, aku begitu terkesiap takkala melihat pria ini tergeletak sambil memeluk tubuhku posesif. Pantas saja napasku sesak, rupanya ada badan manusia lain yang menindih bagian perutku.


“Demian!” Aku berjongkok, berulang kali menggoyang-goyangkan bahu Demian kasar, berharap ia segera bangun dan mengklarifikasi padaku atas semuanya.


Aku juga bahkan baru tersadar kalau ternyata aku tertidur pulas di dalam rengkuhan tangan Demian tadi malam. Malu sekali rasanya. Apa yang telah dilakukan pria ini saat aku terlelap pulas?


...***...


Bersambung

__ADS_1


LIKE & COMMENT nya jangan lupa yaaa;)


__ADS_2