SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
SANG COBOY PENOLONG


__ADS_3

“Yeeay kita sudah sampai sayang.” Aku meraih lengan Refa lalu kupapah takkala ia mulai menuruni tangga angkot.


Malam ini sungguh komplit, aku bak janda beranak dua yang tergopoh-gopoh mencari makan. Pricil di tangan kiri dan Refa di tangan kanan.


“Tita mau napain di cini bu? Tapi tatanya mau ke lumah ibu.” Si bocil mulai agkat bicara. Heum dia saja yang tidak tahu kalau ibu asuhnya ini bekerja siang dan malam.


“Kita di sini dulu ya, nanti kita pulang.”


Aku pun beringsut dan segera membuka gerbang toko. Beruntungnya sang empunya lapak ini jarang datang sehingga dia tak tahu menahu apa yang kulakukan termasuk membawa Refa kali ini.


Kalau kuperhatikan sih sepertinya tempat ini memang jarang sepi pengunjung, contohnya saja kemarin. Baru pertama aku bekerja saja aku sudah sangat kewalahan.


“Abang duduk disini dulu ya.” Kataku seraya meraih sebuah kursi untuk Refa.


Ohya bagaimana dengan Pak Reno? Apa dia sudah berhasil membawa istrinya itu pulang ke rumah? Heum semoga saja sudah. Aku sangat berharap kalau besok si Refa sudah bisa melihat wajah mamanya lagi.


“Kak brownis yang ini berapa ya?”


Ya Tuhan sudah ada pelanggan, plis buat Refa jangan nakal ya.


“150 ribu dek.”


“Oh yaudah satu ya.” Aku menggail si brownis cokelat kemudian mulai memasukkannya ke dalam sebuah kotak.


“Atu mau!”


Mampus! Lu kira ini kaga pake duit bambaaaaank.


Baru juga dido’ain jangan resek, eh udah buat ulah. Ck!


“Ini dek terimakasih banyak ya.” Aku mengakhiri pertemuan kami dengan senyum sumringah.


Sebenarnya aku memiliki jatah roti setiap harinya dari Bu Neti, tapi kalau yang ini kubagikan pada Refa lalu bagaimana dengan Pricil? Ibu mana yang rela membiarkan anaknya tidak makan demi orang lain, apalagi si orang lain itu tajir melintir.


“Abang lapar?” Aku menoleh wajah Refa yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala olehnya.


Duh! Kan bener. Gimana nih? Aku lagi seret banget sumpah. Ada sih yang harga gocengan, tapi kalau aku ambil gimana nasib kepulanganku nanti? Kami bertiga dan ga mungkin abang gojek mau menampung kami semua di atas motornya apalagi dengan keadaan badan si Refa yang kaya buntelan kudanil ini. Terpaksa harus naik betor, so pasti biayanya jauh lebih mahal.


“Halo manis selamat malam.” Seorang pria bertopi kuda plus kaca mata hitam mendadak nimbrung entah dari mana.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku hati-hati. Aduh! Nih orang kok gini amat ya penampilannya. Habis ngecoboy dimana?


“Saya mau beli kue.”


Ya iyalah kesini pasti mau beli kue. Lu kira ini doorsmeer apa!


“Yang mana om?”


“Duh jangan panggil om dong manis.”

__ADS_1


“Jadi?”


“Panggil kang mas aja.”


Omegooot! Mimpi apa aku bisa ketemu sama orang gila kaya dia. Muka pas-pasan gaya selangit, udah tua berasa sok muda. Iyuuuh!


“Hmm.” Aku memutar bola mata malas.


“Itu anak kamu ya?” Sang coboy jadi-jadian memandangi Pricilia hikmat.


“Kamu mau beli roti atau mau ngeliat putri saya?”


“Ya kalau bisa dua-duanya kenapa tidak.”


“Opa! Dangan ganggu ibu atu!”


Eh itu siapa? Refa? Beneran dia ngomong gitu?


Wow berani banget dia.


“Loh ada satu lagi ternyata.” Si pak tua beralih pandangan menatap Refa yang dibalas oleh tilikan tak kalah tajam dari si ucul gendut itu.


“Halo manis siapa namamu?”


“Oh ayolah sebenarnya kau ini mau apa? Kalau tidak ada keperluan cepatlah pergi!” Kali ini aku kembali bersuara.


“Oke baiklah baiklah. Pilihkan untukku bolu yang paling mahal di tempat ini.”


“Dangan ganggu ibutu!”


“Ou ou baiklah jagoan. Aku tak akan menggangu ibumu lagi."


Ya ampun Refa, dia kok berani banget sih. Ga mikir apa kalau tiba-tiba ABG tua itu mendadak buas dan menyerang dia? Heum.


“Ini bolu yang paling mahal. Harganya satu juta.” Aku memboyong sebuah brownis besar lima tingkat lalu kuhadapkan persis di wajahnya.


Aku gatau ini uang palsu atau engga tapi yang jelas si dungu satu ini langsung mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dan langsung memberikannya padaku saat itu juga.


“Hei anak kecil ini buatmu.”


Oh Astaga! Dia memberi uang kepada Refa.


Aku kehabisan kata-kata, tak mampu angkat suara. Karena dalam waktu yang bersamaan Refa juga meraih benda merah tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku celana.


“Baiklah aku pergi dulu, bye!” Si pak tua melenggang pergi dan meninggalkan kami di tempat ini.


Aku tercengang. Bagaimana mungkin kondisinya bisa bertepatan? Aku sedang butuh uang untuk jajan si Refa lalu tiba-tiba saja ada orang aneh yang memberikannya saat ini juga.


Ya Tuhan, apa dia tadi jelmaan malaikat?

__ADS_1


Tau ah! Semoga aja setelah ini ga ada kejadian aneh susulan.


“Kamu mau roti sayang? Gimana kalau uang tadi kita beliin roti ini?” Aku menunjuk roti gocengan yang terhampar di atas sebuah wadah putih.


Seakan paham akan kondisi paceklikku, si bocah gembul ini langsung memberikan kertas merah tadi kepadaku.


Terimakasih Gusti, bahkan ini sangat lebih dari cukup.


...***...


“Hoaaam.” Aku mengkucek-kucek mata kasar, masih sangat pagi, rasa kantukku belum juga hilang.


Saat ini aku sudah berada di istana kebesaran, tempat dimana aku ditindak kriminali oleh sang empunya bangunan. Aku takut sungguh! Soalnya tadi malam Bu Lastri udah tidur, jadi dia gatau kalau aku membawa bocah asing ke dalam rumah ini.


Seng seng seng.


Sudip dan kuali saling beradu, aku memasukkan semua rempah dan juga bumbu ke atas sayur. Eum harum sekali.


Pricilia dan Refa masih tertidur pulas di dalam sana, aku akan membangunkan keduanya setelah ritualku dengan dapur telah selesai.


“Kenapa dua malam ini kau pulang terlalu cepat? Apa sudah tidak bekerja?”


Oh shit! Aku kaget banget, sumpah!


Tanpa melihatpun aku sudah tahu itu siapa, mertuaku. Rupanya dia masih perduli dengan menantunya ini.


“Apa Aren tidak ada cerita mengenai pekerjaan kami?”


“Tidak.”


“Oh baiklah.” Aku memutar tombol yang ada pada si kompor, duduk kemudian mulai membuka suara.


“Oh baguslah kalau begitu.” Kata si nenek tua ini seraya membangkitkan tubuh takkala aku telah selesai menceritakan yang sebenarnya.


Ah lagi-lagi no respon, selalu saja begitu.


Tapi tak apalah karena setidaknya ia masih memiliki rasa kepo terhadap mantan istri dari anaknya ini.


Bu Lastri beringsut pergi dan meninggalkan aku di dapur seorang diri. Namun betapa kagetnya aku takkala mendapati apa yang saat ini tengah terjadi di hadapanku.


“Eh anak siapa ini?”


“Hayo oma celamat pagi.”


Mampus aku!


...***...


Bersambung

__ADS_1


Like & comment


Dan jangan lupa mampir ke AKU KAU DAN ISLAM yaaa 😍


__ADS_2