SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
AKU?


__ADS_3

Aku tak berkutik dibuat si tabung gas satu ini, dia menuang tepung yang tinggal sisanya tadi ke dalam mangkuk kecil yang kemudian diisi dengan air. Entah ingin masak apa, tapi di hadapanku telah tersedia dua butir telur, sebatang cokelat dan irisan bawang putih tak beraturan. Oh Gusti apakah ini yang dinamakan eksperimen telut cokelat kocok? Hmmm.


“Ngapain kalian?”


“Astaga!”


Aduh jantungku hampir copot sumpah! Aku menoleh ke belakang dan kudapati sang majikan tercegak di sebelah meja makan seraya memboyong tas kantornya.


“Papa udah puyang?” Refa membeliak gembira.


“Oh sudah jadi penemu rupanya kalian.”


“Ma- maksudnya pak?”


“Iya. Mencampurbaurkan antara telur cokelat dan bawang, entah biar apa.”


Hei hei halo! Yang melakukan ini semua juga anakmu bukan aku wahai majikan.


“Papa mana mama?”


Deg!


“Gausah sebut-sebut nama mamamu lagi di sini!” Pak Reno beringsut pergi tanpa memperdulikan Refa yang mulai mengukir tanda tanya di wajahnya. Bocah cilik itu menguntit dari belakang menunggu kepastian jawaban dari sang ayah.


“Mama mana pa?”


“Sini.” Pak Reno meraih tubuh Refa kemudian mendudukkannya di atas sofa. “Mulai sekarang yang tinggal di rumah ini Cuma kamu, papa, bu Chevani sama Pricil ya.”


“Tenapa gitu? Mama mana?”


“Mama udah pergi jauuuuh banget.”


“Apa? Kemana mama pa kemana?”


Sepasang mataku membeliak sempurna takkala mendengar penuturan dari Pak Reno. Apa maksudnya? Kemana istri adam berkepala tiga itu?


“Apa bapak tidak jadi membawa Bu Farah pulang ke sini? Lihat lah Refa dari semalam dia selalu menyebut nama mamanya terus.” Aku jadi naik darah sendiri, bisa-bisanya makhluk ego satu ini tak memikirkan perasaan putranya.


“Farah istriku dan aku punya atas dia.”


“Oh ayo lah aku sedang tidak bernegosiasi kalimat denganmu, jelaskan saja langsung.”


“Sudah lah. Biarkan ini menjadi urusanku!” Pak Reno tak menggubris omonganku dan langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan Refa yang mulai dibanjiri oleh bulir-bulir bening dari matanya. Anak ini sungguh tahu maskud pernyataan papanya barusan.


Aku kesal! Bajingan sekali si Reno! Apa sudah mau menjadi si Hero dia sekarang? Oh astaga kenapa tingkah mereka jadi sangat mirip sekali. Refa terdiam di tempat, mukanya menegang seketika dan aku tak tahu pikirannya entah sedang berlayar ke mana saat ini.


“Ibu, maksud papa taadi mama atu nda puyang lagi ke cini ya?”

__ADS_1


Ya Tuhan hatiku terisis sekali.


“Pulang sayang, tapi saat ini mama kamu lagi ada urusan kerja ke luar kota. Sabar ya.”


“Tapi tenapa papa kaya olang malah ya bu?”


“Papa kamu ga marah cuma lagi cape aja. Oh iya gimana kalau kita beli cokelat di depan sana?” Ajakku mencoba menenangkan. Aku merasa perih, sungguh aku tak mampu membayangkan bagaimana kalau Refa bakal benar-benar menjadi seorang anak korban brokenhome.


“Atu maunya mama atu nda mau cokelat.”


“Ou jadi Refa mau buat mama sedih ya?”


“Enda!”


“Nah makanya itu abang harus sabar tunggu mama pulang ya. Mama abang kan mau cari uang banyak-banyak buat beli mainan baru.”


“Apa iya bu?”


“Iya.”


“Yeeeee mama atu beyi mainan balu buat atu. Ayo bu tita beli cokelatna.”


Ya Tuhan tolong ampuni hambaMu ini. Aku terpaksa mengarang cerita pada Refa karena aku sungguh tak siap melihat bocah satu ini menangisi kepergian mama tercintanya. Sehabis ini aku harus menemui Pak Reno. Biar lah aku dianggap ikut campur yang penting hak Refa sebagai seorang anak terpenuhi.


“Dek plicil nda itut bu?”


“Adek masih tidur di kamar bang, yaudah yuk.” Aku menarik lengan Refa kemudian menuntunnya ke arah depan.


...***...


Gimana ya? Sebenarnya nenek gayung itu jahat banget sama aku. Tapi mau gimana lagi? Tanpa kehadirannya Refa akan jadi anak yang pemurung bahkan mentalnya pun bisa terganggu.


Aku beringsut menuju ruang tengah yang langsung menghubungkan mataku dengan seorang pria yang tengah anteng menonton serial favoritnya.


“Pak.” Kataku menghadirkan jarak dekat dengan sang empunya rumah.


“Hmm.”


“Saya mau ngomong.”


“Hmm.”


“Pak saya sedang serius.”


“Apa kau lihat aku juga tengah bermain?”


Huft! Lihat kek! Aku kaya sedang bicara dengan tembok.

__ADS_1


“Oke oke baiklah. Jadi begini, aku sungguh kasihan melihat Refa. Saban hari bocah itu selalu bertanya pasal mamanya. Oh ayolah pak hadirkan kembali Bu Fa-.”


“Menjemputnya pulang ke rumah ini?” Nyaris perkataannku selesai tapi malah Pak Reno telah memotongnya duluan. “Iya?”


“E- emm.” Aku mengangguk pelan.


“Kau kira suami mana yang ingin memiliki seorang istri pembangkang? Istri yang tak pernah merawat anak dan suami serta selalu menghabiskan banyak uang setiap harinya.”


Deg! Aku terpaku. Ya Tuhan, sebenarnya aku tahu sekali apa yang sedang dirasa oleh Pak Reno. Kalau aku jadi dia sih aku juga bakal melakukan hal yang sama. Tapi, oh ayolah. Setidaknya ia mempertimbangkan masalah ini demi putranya.


“Jadi bagaimana? Sampai kapan bapak akan membiarkan wanita itu menghilang dari rumah suaminya sendiri?”


“Jangan suka mengurus rumah tangga orang!”


“Oh astaga! Aku sedang tidak melakukannya. Tapi sungguh, kasihan sekali Refa.”


“Aku sudah menemuinya tadi.”


“Benarkah? Lalu bagaimana?”


“Kau tidak perlu tahu tentang keberadaan istriku itu, yang jelas tekadku sudah bulat untuk menceraikannya.”


“APA?”


“Oh hei! Suaramu mengagetkan aku bodoh!”


“Jangaaaaan.” Aku menaruh kedua tangan di atas dada kode memohon. “Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidup Refa tanpa seorang ibu.”


“Dia akan mendapat ibu baru. Ibu yang bahkan sedari sekarang sudah sangat menyayanginya.”


Alisku saling tertaut. Apa maksud lelaki itu? Berarti selama ini dia sudah memiliki pacar?


“Refa selalu di rumah dan kupastikan aku adalah orang yang selalu menjaganya saban hari di sini. Lalu wanita mana yang kau maksud? Apa ketika malam kau selalu membawa Refa keluar menemui perempuanmu itu? Hei kau berselingkuh ya!” Aku bertanya panjang kali lebar, mataku menilik tajam.


Pantas saja selama ini Pak Reno tak pernah merasa kehilangan Bu Farah ternyata ini penyebabnya. Aku terpukul meskipun si korban adalah pelaku yang selalu melakukan KDRT terhadapku. Kalau sudah begini aku jadi teringat Hero saja karena kisahku dulu bersamanya berakhir karena sebuah perselingkuhan. Tapi siapa wanita itu? Siapa yang sudah tega mengambil kebahagiaan rumah tangga Pak Reno dan Bu Farah? Kejam sekali, sungguh! Akan kutimpuk kalau berjumpa.


“Wanita itu adalah kau Chevani!”


Blush!


...***...


Bersambung


Uwww kok malah jadi si Che sih :(


Author nulisnya juga sambil kesel wkwk

__ADS_1


But jangan lupa tap like & commentnya ya guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2