SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
SINGA BETINA


__ADS_3

“Apa? Coba ulangi lagi.” Apa aku sedang salah dengar? Cinta katanya? Fix. Aren mabuk berat. Ngomongnya saja pun sudah ngelantur tidak karuan.


“Aku mencintaimu Chevani Agra.”


“Hahaha” Mulutku ternganga 5 centimeter. Pricilia yang sedari tadi anteng dalam gendongan kini beringsut menjadi lasak. Netranya menatap lidahku yang bergoyang ke atas ke bawah. Mungkin ia mengiranya bahwa mamanya ini sedang kesurupan setan malam.


“Apa ada yang lucu?”


“Besok kalau aku ceritain kejadian malam ini ke kamu lagi, pasti kamu bakal celingukan.”


“Kenapa?”


“Ya iyalah. Secara kamu ngomongnya ngelantur. Iya-iya, wajar sih namanya juga orang mabuk kan?”


“Aku sedang tidak mabuk Che, sungguh.” Tangan kiri Aren mulai menjalar meraba jejari mungilku yang terselip di bawah tubuh Pricilia. Aku menatap raut datar itu, mendung mulai terlukis menghiasi wajah gempilnya.


Hening.


“Ta ta ta-ta.” Pintar. Bayi ini beraksi di waktu yang tepat. Suasana yang sempat diam selama beberapa detik saat ini terisi kembali dengan ocehan-ocehan dari Pricilia.


“Eh princess Pricil kok belum tidur?” Aren menolehkan wajah ke sebelah kemudi mobil. Tangannya yang semula meremas ruas jariku kini merembet memegangi kaki Pricilia yang tengah tergantung tanpa penyangga.


“Cudah bobo om cuman dengel ketawa mama jadi bangun lagi deh ehehe.” Aku menirukan gaya anak batita yang sedang berbicara.


Mobil yang kami tumpangi kian melamban ketika memasuki kawasan kampung Sukajadi. Sebuah kelurahan yang terdapat di kota Batam.


“Awas ketelusan lumah plicil ya om.” Aku mengayun-ayunkan lengan bayiku. Memperagakan seolah dia lah yang sedang berbicara pada Aren saat ini.


Suasana kampung sudah sepi. Hanya terlihat beberapa warga yang berjaga di pos kamling. Di sini memang rawan maling, beberapa hari yang lalu saja harta benda tetanggaku habis tak bersisa digondol manusia bertopeng.


Mobil berhenti sesaat setelah mendaratkan bannya di sebuah rumah petak berdempet tiga. Aren membukakan pintu dan menyambut tanganku lembut. Malam ini dia memang kelihatan rada aneh. Tapi biarlah, mungkin efek samping alkohol masih merajai seisi kepalanya.

__ADS_1


“Om duluan ya princess Pricil.” Lambaian tangan Aren mengakhiri perjumpaan kami malam ini. Kemudian aku langsung beranjak nyelonong ke dalam rumah berwarna hijau yang terdapat ukiran angka 24 di bagian depannya.


“Asaalamu’alaikum.” Aku menarik kenop pintu dari arah luar.


Tidak ada jawaban. Detikan jam terasa sangat nyaring karena rumah yang saat ini aku jejaki hening tanpa suara. Aku melintasi ruangan demi ruangan dari bangunan itu. Ada satu bilik yang pintunya tidak tertutup rapat.


Penasaran mengapa pintu yang saban malamnya selalu terkatup, aku pun menyembulkan kepala dan menyapu pandangan ke seluruh penjuru. Seorang lansia tengah tertidur pulas bersama balutan selimut biru yang terselubung di sekujur tubuhnya.


Itu mertuaku. Ibu kandung dari Hero, mantan suamiku. Sebenarnya sepeninggal Iblis berbadan manusia itu aku ingin sekali pergi dari sini mengingat nenek yang berusia 65 tahun tersebut sangatlah kejam dalam memperlakukanku. Namun apalah daya. Hatiku lebih ingin bertahan dan mengalahkan logikaku saat ini. Tidak ada alasan lain yang membuat aku tetap di sini kecuali kenangan-kenangan Indah bersama Hero. Aku ingat betul suwaktu ia rela berhujan-hujanan sampai sakit demi membelikan aku nasi goreng di kampung sebelah, kebetulan kala itu aku sedang mengandung Pricilia. Kemudian ia juga pernah nyaris memotong urat nadinya sendiri karena aku tak kunjung memberi maaf atas kesalahan sepela yang waktu itu tak sengaja ia lakukan. Hero adalah sosok lelaki penyayang, lembut dan penuh kasih. Tapi entah mengapa suatu hari aku memergokinya sedang bermesraan dengan wanita yang entah dari mana didapatkannya. Aku shock kemudian meninggalkan rumah ini selama beberapa hari. Namun setelah aku berniat untuk kembali, tiba-tiba saja aku dihadiahi dengan surat perceraian yang berasal dari Hero, lelaki yang sangat kucintai.


Sesuatu yang lebih ganjil dan tidak disangka pun terjadi. Setelah perceraian kami waktu itu, Hero tak pernah kembali lagi ke kampung ini barang sekali. Jangankan untuk melihat aku atau calon anaknya, untuk memastikan apakah ibu kandungnya masih hidup atau tidak pun ia enggan. Sampai saat ini aku tidak tahu dimana ia berada. Apakah ia bahagia, sengsara, bahkan hidup atau mati. Ia seperti terbenam ditelan bumi.


“Kasihan kamu nak. Masih kecil sudah ikut menanggung masalah yang bersumber dari orang tuamu.” Aku memperhatikan Pricilia hikmat. Wajahnya yang sangat identik dengan Hero membuat aku selalu terenyuh bila memandangnya. Jam telah membidik pukul 2 dini hari. Sebaiknya aku lekas mengistirahatkan diri sebab akan ada banyak beban yang harus ku lalui pada esok hari.


...***...


Sinar mentari mulai menebarkan pendar-pendar silaunya menyelubungi bumi. Tembok-tembok bangunan yang semula gelap kini berangsur cerah takkala cahaya itu kian merembet, berganti tugas dengan sang rembulan.


Aku membentang netra memperhatikan pakaian-pakaian yang baru saja ku gantung di jemuran kawat. Lelah sekali. Pagi-pagi buta aku sudah harus mencuci pakaianku sendiri, Pricilia dan juga ibu Hero alias mertuaku.


“Chevani buka pintunya!” Laungan keras dari arah depan mengacaukan lamunanku. Manusia mana yang pagi-pagi begini sudah menggedor-gedor rumah orang dengan tidak sopan.


“Sebentar.”


Ceklek.


Pintu terbuka. Di hadapanku telah berdiri wanita berkonde dengan kipas yang terkibas-kibas di tangan kanannya. Ia memasang wajah seram, bibirnya yang maju beberapa centimeter seperti tidak ada bedanya dengan burung pelatuk.


“Ada apa ini?” Belum lagi sempat aku berbicara, mertuaku sudah lebih dulu muncul dari arah belakang. Terlihat dari raut wajahnya ia juga sepertinya merasa terganggu dengan kehadiran Bu Sumi, pemilik rumah kontrakan yang saat ini kami tinggali.


“Bayar uang kontrakan!”

__ADS_1


Hah!


Apa aku tidak salah dengar?


“Mmm maaf bu, bukannya jatuh tempo lima hari lagi ya?” Ada-ada saja wanita ini. Apa dia sedang paceklik ekonomi sehingga meminta haknya sebelum waktu tiba?


“Iya memang betul. Tapi saya lagi ada perlu dan butuh uang cepat. Lagian cuman beda lima hari juga kok.”


“Iya tapi kan tidak bisa begitu bu, seharusnya-“


“Silahkan keluar kalau kalian tidak mau bayar!”


Tiada hari tanpa masalah, ujian dan kekesalan. Aku memang memiliki sedikit rupiah dalam kantongku. Tapi itu jatah untuk susu Pricilia dan pengobatan Bu Lastri, ibu mertuaku. Jika kugunakan uang itu memang masih ada sisanya tapi hanya pas-pasan untuk makan hari ini saja. Lalu bagaimana dengan anak dan ibu mertuaku? Ah! Kepalaku rasanya sumpek sekali.


“Yaudah tinggal bayar aja kok susah.” Sahut bu Lastri seakan mendukung tindakan salah si penagih piti. Sejak awal menikah dengan Hero, ibu mertuaku ini memang sangat menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadapku. Aku juga tidak tahu pasti apa penyebabnya, yang ku tahu kala itu ia sangat cemburu terhadap Hero yang saban hari semakin menyayangiku. Sebenarnya tidak ada yang salah bila seorang suami memberi perhatian lebih kepada istrinya sendiri, perempuan lansia ini saja yang sangat berlebihan.


“Tapi uang ini untuk berobat mama dan susu Pricil.”


“Hallah gausah ngeles kamu! Sini mana uangnya? Mama gamau ya kalau kita sampai diusir dari rumah ini. Lagipula bukannya kamu sayang banget ya sama semua kenangan bersama anakku di rumah ini?”


Iya Ma iya.


Aku sayang.


Bahkan sangkin sayangnya aku dengan semua nostalgia itu, aku rela mendekam bersama seekor singa betina di rumah ini.


...***...


Bersambung


Comment & vote guys

__ADS_1


Dukungan kalian semangat buat aku:)


Sehat selalu yaa🤗


__ADS_2