SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
30 HARI TEPAT


__ADS_3

Sebulan berlalu.


Tidak terasa 30 hari sudah aku dan anakku berada di ibu kota. Tentang keadaan kampung halaman, aku tak pernah mendengarnya lagi. Kemudian baik Neni, Elin maupun Ratna tak pernah barang sekalipun kukontak. Aku masih khawatir kalau-kalau mereka semua akan membocorkan di mana tempat tinggalku atau nomor telponku pada pak Reno.


Pekerjaanku di sini? Ah, aku semakin lelah saja. Namun bukan Chevani Agra kalau namanya mudah menyerah. Sejak dahulu, aku sudah terbiasa menjalani kehidupan yang sukar dan penuh teka teki. Syukurnya, Tangan Tuhan masih setia mengarahkanku dengan baik hingga detik ini.


Di satu sisi aku juga senang karena Pricilia sudah resmi pandai berjalan. Beruntung, dia tidak nakal di saat aku sedang bertugas. Ozon juga memperlakukannya dengan baik, sekalipun pria itu sering bersikap aneh padaku, namun tidak dengan Pricilia. Bu Naumi dan bik Nah pun tak kalah baiknya juga terhadapku. Alhamdulillah.


Selama tiga puluh hari ini, aku dan Demian sudah selesai mengurus segala macam surat kependudukan sekaligus surat untuk pernikahan kami. Panjang sekali ceritanya, di mana kami harus mondar mandir dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Demian bilang, lima hari lagi kami akan menikah. Wah senangnya.


“Kok melamun?” seorang wanita berambut sanggul menyenggol bahuku dari arah belakang. Aku terkesiap dan langsung menegakkan badan di kursi makan ini.


“Eh bik Nah, kaget tahu,”


“Hehehe,” perempuan tua itu menampakkan giginya yang mulai ompong satu persatu. “Dipanggil den Ozon tuh.” lanjutnya lagi sembari beralih menuju wastafle.


Aku menoleh, dapat kupastikan lelaki bertubuh bulat itu akan menyuruhku yang aneh-aneh lagi. Huh, tapi tak apalah. Upah di sini juga lumayan banyak.


“Ada apa?” tanyaku pada Ozon yang kini tengah rebahan di atas lantai sambil nonton tv. Toples kacang berada di tangan kanannya, sedangkan yang satunya lagi memegang sebuah dot berisi cairan kental bewarna putih.


“Di mana anakmu?”


“Tidur di kamar. Kenapa?” Ozon tak menjawab melainkan hanya menggelengkan kepala menjawab perkataanku. Sudah tak asing lagi ketika aku mendengar pertanyaan semacam itu, dia memang suka sekali bermain dengan Pricilia. Namun yang kuherankan, ke mana anak dan istrinya?


“Apa ada yang harus dibantu lagi?” suaraku membuat kepalanya menoleh ke samping, kemudian kembali menggeleng.


Baguslah! Kini saatnya aku mengistirahatkan diri di dalam kamar.


Maafkan aku pak tua karena sempat menuduhmu akan menyuruhku hal aneh lagi tadi.

__ADS_1


...***...


Sorenya aku melihat Demian tampak bengong di atas kursi depan beranda. Aku selaku calon istrinya berinisiatif untuk menghampiri, menanyakan adakah sesuatu yang menganggu pikirannya.


Demian menoleh serta menggeserkan satu kursi takkala netranya tak sengaja menangkap tubuhku yang kian mendekat. Senyuman ramah selalu ia tunjukkan, tak pernah masam rautnya bila bertemu denganku.


“Kau kenapa?” aku yang sudah sangat penasaran ini langsung saja berbicara tanpa basa basi.


“Apanya yang kenapa?” Demian tampak menaikkan sebelah alisnya.


“Kenapa kau melamun?”


“Oh itu,” lelaki yang berada di sebelahku ini menatap ke arah depan dengan pandangan kosong, aku mengikuti ke mana tatapan itu berlabuh. “Pekerjaanku sudah selesai. Setelahnya, aku tidak tahu harus ke mana,” rumah susun yang baru jadi di depan sana menjadi objek perhatianku saat ini. Bangunan itu kelihatannya sudah rampung tepat di hari ini. Pantas saja Demian seolah merasa kehilangan.


“Sebentar,” dengan segera pria itu memundurkan bangkunya dan langsung masuk ke dalam rumah. Entah ingin apa.


“Ini,” tiba-tiba saja segepok uang seratus ribuan hadir di depan mata. Demian tersenyum, lalu tangannya terayun dan mendarat di pucuk kepalaku.


“Uangmu?” tanyaku keheranan.


“Uang kita bersama. Tapi aku mau kau yang pegang,” sepasang nertraku sontak membeliak setelah mendengar perkataan Hero barusan. Senang bukan main rasanya, belum jadi istri sudah dikasih kepercayaan untuk mengatur keuangan. Aku tahu, kertas-kertas ini adalah gaji pertama dan terakhirnya bekerja sebagai kuli bangunan. Dan Alhamdulillahnya lagi, jumlahnya lumayan banyak. Mungkin karena pekerjaannya yang juga lumayan berat.


“Kau percaya ke padaku?” aku mendongak menatap wajah Demian yang sangat terlihat aduhai dari bawah sini. Ia membalas dengan anggukan mantap, lalu kuterima benda penyambung hidup itu dengan senang hati.


“Setelah ini aku akan bekerja lebih keras lagi demi kehidupan kita. Aku janji.” Demian mengecup singkat dahiku sehingga menimbulkan kesan hangat di sana. Bahagia sekali rasanya bisa kenal dengan pria ini. Walaupun dia tidak bergelimangan harta, namun setidaknya ia selalu berusaha untuk memberikanku kebahagiaan dan juga kehidupan yang layak.


“Wah, masih siang kok udah deket-deketan aja nih?” seketika kembang-kembang yang bermekaran tadi rontok semua takkala mendegar suara yang tak asing mengusik telingaku selama sebulan terakhir ini. Baik aku dan Demian serempak menoleh, Ibil dengan pakaian kurang bahannya itu sudah berdiri di depan sana.


“Jangan mengusik kesenangan orang lain kamu!” Demian berseru ketus, raut wajahnya mendadak merah.

__ADS_1


Selama ini remaja yang kuanggap sebagai orang aneh itu memang kerap merusuhi kehidupanku dan juga Demian. Mulai dari minta tolong dari hal-hal kecil hingga menyerobot percakapan kami seperti ini pun sudah menjadi kebudayaan yang tak bisa ia tinggalkan. Gadis yang baru saja tamat SMA itu selalu membuatku kesal, begitu pun Demian yang sangat menampakkan rasa ketidaksukaannya terhadap Ibil.


“Ah, mas Demian mah setiap ketemu aku marah-marah mulu,” suaranya sengaja diayun-ayun, membuat seisi perutku rasanya ingin keluar.


“Dari mana Bil?” tanyaku memecahkan suasana. Aku berharap Demian segera menutup matanya rapat-rapat agar tak memperhatikan paha ayam siap santap di depan sana.


“Baru pulang kerja mba,” jawabannya membuat alisku saling tertaut.


“Mba selalu liat kamu keluar malam. Kadang pulang pagi, kadang pulang sore. Kerjanya ga pakai shift ya?”


“Kapan ada buaya, di situ saya kerja,”


“Ma- maksudnya?” aku semakin tidak mengerti dengan penuturan gadis berambut pirang itu. Apa selama ini dia menjadi pawang buaya? Kalau memang benar, luar biasa sekali nyalinya. Kalau aku sih jangankan buaya, ngeliat cecak aja rasanya kaya ngeliat setan.


“Hahaha kalau mba ga paham, silahkan tanya aja sama mas Demian,” mulut Ibil terbuka lebar menampakkan deretan giginya yang dipagar. Langkahnya kian menjauh bersamaan dengan kepalaku yang menoleh ke arah Demian, meminta jawaban.


“Kau tidak usah selaku bersikap manis dengannya. Dia itu perempuan murahan!”


“Hei jaga mulutmu!” tanganku sontak terayun dan mendarat tepat di bahu Demian. Agak terkejut, karena baru kali ini aku mendengarnya berkata kasar seperti itu.


“Intinya turuti saja kata-kataku!” rona merah belum juga musnah dari wajahnya. Aku memperhatikan lekat-lekat, menatap punggungnya yang kini mulai menjauh dari poisis tempatku duduk. Entah kenapa, sejak awal pertemuannya dengan Ibil aku merasa kalau dia sangat membenci wanita itu.


...***...


Haaai


Aku up pagi-pagi buta nih, di sini baru selesai subuhan wkwkwk


Ada yang udah mulai jiji ga liat Ibil?

__ADS_1


__ADS_2