
Pagi menyingsing, aku membuka selimut yang menyelubungi area tubuh mungilku. Seharusnya hari ini aku masih bisa bergolek-golek ria seraya menyesap susu kental manis. Namun apalah daya, pertemuan dengan Pak Reno kemarin membuatku harus kembali bekerja di rumahnya lagi.
Aku belum menemukan jawaban apapun dan memang sengaja tak memikirkannya. Entah kenapa aliran syarafku seolah putus bila aku melabuhkan nama Reno di dalam sana. Membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam lagi membuat bulu kudukku bergidik ngeri. Aku segera membangkitkan tubuh menuju bilik kecil guna melemaskan kembali rambut-rambut halus di area badan melalui sentuhan air hangat.
Tak butuh waktu lama akhirnya kegiatan basah-basahanku selesai. Seperti biasa aku langsung memasak dan menyantap potongan sayur tersebut ketika sudah siap saji.
Huh! Apa memang sudah saatnya aku memiliki keluarga baru ya? Lihatlah, aku sangat kesepian di tempat ini. Tak ada suami dan anak, tak ada sesiapapun yang bisa dijadikan tempat sandaran dan bermain. Tapi kalau tiba-tiba suatu saat nanti Hero kembali bagaimana? Apa aku harus menggugat cerai Pak Reno? Karena jujur saja rasaku yang pernah tumbuh kepada pria itu sudah benar-benar hilang takkala aku mengetahui bahwa sebenarnya ia sudah memiliki anak dan istri. Dan andaikata jika kau menikah dengan Pak Reno sekalipun, maka bagiku pernikahan kami hanyalah pernikahan di atas kertas. Terlepas dari dia memang mencintaiku atau tidak, tapi yang jelas aku tak mencintainya sekarang.
Sreng sreng.
Pletis!
“Awww!” Aku mengaduh kesakitan takkala percikan minyak goreng mendarat tepat di atas punggung tanganku. Pedih sekali, seharusnya aku tak melamun ketika sedang berkutat dengan dapur.
...***...
Dentuman klakson truk-truk besar mengiringi langkahku takkala aku telah menjejakkan kaki di bibir jalan. Jedag jedug rasanya jantungku, entah apa yang akan dibicarakan nanti.
Lama aku berdiri di sini sambil menunggu jet pribadi datang menjemput. Debu-debu juga kian menghempas dan membuat wajahku tak ubahnya seperti pisang yang dilumuri tepung. Aku terus membuang pandangan ke arah selatan, berharap benda yang sebenarnya adalah angkutan umum itu datang menjemput. Hingga dalam detik berikutnya aku merasakan sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannku erat.
“Chevani!”
“Eh! Kau?”
Netraku sontak membentuk kelereng, aku terkejut bukan main. Aku kikuk saat melihat sosok mana yang kala ini tengah tercegak sambil menatapku penuh selidik. Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini?
“Kau sedang apa di sini?” Tanya orang yang membuat jantungku ingin lepas.
“Menunggu angkutan umum.”
__ADS_1
“Setahuku rumahmu di sana, bukan di sini.”
Aku memutar bola mata malas, pertanyaannya membuat telingaku mendadak nyeri. Aku juga tak menjawab, hanya memberi kode bahwa aku malas bertemu dengannya.
Huh kenapa kami harus dipertemukan lagi sih! Aku benci, aku masih ingat betul perkataannya waktu lalu. Lagipula kenapa dia sendiri? Bukannya sudah menikah dengan wanita itu?
“Apa kau baik-baik saja?” Suara itu kembali terdengar.
“Seperti yang kau lihat.” Jawabku sombong.
Tidak! Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku hancur, luruh bahkan mungkin akan mampus sebentar lagi. Aku tak berdaya, ingin mengakhiri hidup namun masih memikirkan dosa. Terlihat lemah di hadapan orang lain adalah hal yang paling kuhindari sedari dulu. Boleh menangis, tapi hanya dinding kamar dan hamparan ranjang yang boleh tahu.
“Terlepas dari mengapa kau bisa berada di sini dan bagaimana keadaanmu sekarang, aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Apa?” Tanyaku yang langsung dihinggapi oleh rasa penasaran. Pria bulat itu menarik napas dalam, deretan huruf akan segera keluar dari mulutnya yang lebar itu.
“Sejatinya aku tak pernah mencintaimu bahkan aku mendekatimu hanya karena suruhan dari seseorang. Awalnya hatiku memang sudah bulat ingin menikahimu karena dijanjikan dengan segepok uang, namun karena kau menolak rencanaku gagal total dan aku dimarah habis-habisan. Aku tetaplah mencintai wanita yang saat ini sudah sah menjadi istriku, dan apabila kemarin pun kita jadi menikah maka aku akan menceraikanmu setelah satu tahun hubungan kita.”
Hatiku seolah rontok tak bersisa.
“Apa maksudmu!” Emosi meluap begitu saja. Aku mengepal kedua tangan, langkah kumundurkan agar tak sampai tubuh ini kutubrukan ke truk di jalanan.
“Maafkan aku Che!” Pria itu meraih punggung tanganku. “Aku mengaku salah. Temanmu ini terlalu silau dengan harta hingga rela menggadaikan dirinya sendiri agar menjadi orang jahat.”
“Apa tujuanmu berlaku demikian?”
“Aku diperintahkan oleh seseorang untuk menikahimu agar kau dapat melupakan mantan suamimu itu. Setelah kau ebnar-benar jatuh ke pelukanku maka aku akan meninggalkanmu dan menjemput cintaku yang sesungguhnya. Entahlah… sudah dari kemarin-kemarin aku ingin mengatakan hal ini namun tak pernah ada nyali. Tuhan Maha adil, Dia mempertemukan kita secara tak direncanakan di tempat ini.”
“Benarkah yang kau ucapkan?” Mataku memerah, bulir bening keluar dari sudut mata. Aku melepas pegangan tangannya seraya berpaling muka menatap langit yang kini mulai menyalakan sinar terang.
__ADS_1
Mimpi apa aku kemarin mendapat kabar duka seperti ini? Aku seolah dirajam belati. Manusia keji mana yang berani mengikutcampuri urusanku dengan Hero? Dan manusia licik seperti apa yang telah berusaha untuk memisahkan kami sejauh-jauhnya? Aku tidak terima!
“Maki saja aku bahkan jika kau ingin membunuhku silahkan saja Che. Maafkan aku yang selama ini berniat busuk terhadap teman sepekerjaanku sendiri. Aku khilaf, aku berhasil dirayu wanita picik itu dengan gunungan rupiah.”
“Wanita? Wanita mana maksudmu?”
“Suatu saat kau akan tahu, aku permisi.” Pria itu melenggang pergi. Aku berlari, harus bisa mendapatkan jawabannya. Namun apalah daya yang kakiku ini langkahnya tak sepantaran dengan sang pelopor kabar tadi.
“Jangan pergi! Tunggu! Aren…! Areeeeen..!”
Ah sialan!
Kurang ajar!
Aku harus bisa menemukanmu pria tidak tahu diri!
Keringat jagung sukses menggenangi kawasan leherku hingga merembas sampai ke dada. Napasku naik turun tidak teratur, lelah sekali. Sudah lelah namun hasil tak juga dapat.
Apa maksud Aren tadi?
Bisa-bisanya Tuhan mempertemukan aku dengan kabar menjijikkan seperti ini. Bahkan aku juga belum mengetahui apakah berita itu benar atau hanya akal-akalannya saja demi menyelamatkan nama baik.
Aku benci pagi ini, hatiku seolah terbakar larva panas. Tebakanku melayang jauh memikirkan perkataan sang gentong air tadi. Aku harus bisa menemukan rumahnya. Ya! Harus bisa. Mau tak mau dia harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan rahasia apalagi yang masih tertutup rapat dalam dirinya.
“Halo… Apa kau mengetahui di mana rumah baru Aren?” Tanyaku pada seseorang di seberang sana setelah sukses mendial sebuah kontak pada layar ponsel.
...***...
Bersambung
__ADS_1
Eum kira-kira siapa sebenarnya dalang di balik semua ini yaaa kikikik
LIKE & COMMENT