
“Huaaa huaaa huaaa.” Tangis yang bersumber dari arah bawah itu kian pecah membuat aku semakin panik. Dengan kecepatan 100 km / jam aku kocar kacir berlari menuju sebuah ruangan kecil yang bersampingan dengan toilet.
Pintu terbuka sesaat sebelumnya aku menarik kenopnya dari arah luar. Begitu mengambil langkah satu kali aku langsung disuguhi oleh debu-debu yang bertebaran dan beberapa kardus yang terserak di atas lantai. Apa yang baru saja terjadi? Kemana anakku?
Aku melongo ketika sosok yang ku cari kini tak berada di atas kasur mininya. Biasanya sebelum bekerja aku selalu menitipkan ia di kamar kecil ini. Setelah aku selesai melakukan ritualku bersama tumpukan sprei itu barulah aku mengambil anakku lagi dan membawanya pulang ke rumah.
“Pricilia, di mana kamu nak?” Suara tangis tadi lantas menghilang begitu saja. Kepanikan pun kian berkecamuk di dalam kepalaku. Aku menyapu seisi ruangan, mengobrak abrik kardus yang tercecer tak beraturan tersebut.
Hah!
Anakku.
Kenapa kau bisa berpindah posisi di bawah ini sayang?
Apa kau jatuh?
Kurang ajar bin keparat yang melakukan ini terhadap putri kecilku. Sial! Pricilia tergeletak lemah dengan dada telanjang di atas lantai. Ada apa ini? Andai saja intan payungku ini sudah dapat berbicara, pastilah aku sudah bertanya siapa orang yang melakukan ini semua terhadapnya. Sayang, usianya masih 8 bulan. Hanya sepatah dua patah saja yang dapat ia haturkan saat ini.
“Kamu gapapa hah nak? Mana yang sakit?” Kataku sembari mengangkat tubuh mungilnya dari bawah sana. Matanya masih sembab, napasnya juga berderu cepat sekali.
Di sini, memang hanya aku satu-satunya pekerja yang membawa anak. Awalnya pemilik bar tidak mengizinkan mengingat itu akan mengganggu kinerjaku, namun setelah aku memberikan pengertian dan beberapa titis air mata sebagai jurus andalan akhirnya dia pun dengan terpaksa membiarkan seorang bayi 8 bulan berada di bar miliknya. Dengan satu syarat; Anakku harus berada di dalam ruangan kecil ini selama aku bertempur dengan gunungan kain dan buih-buih sabun. Kasihan Pricilia. Ia terpaksa terbawa-bawa pada semua ini dalam keadaan yang baru saja menetas. Tapi mau bagaimana lagi? Tak seorangpun yang bisa menjamin keamannya bila ia kutinggal di rumah.
“Ma ma ma ma ma.” Bayi malang itu terus mengoceh, menampakkan wajah takutnya yang masih menyelimuti. Aku mendekapnya dengan erat, menciumi puncak kepalanya yang belum ditumbuhi rambut.
“Kamu aman bersama mama sayang. Ayo kita pulang.”
Suasana bar masih cukup ramai dengan dentuman musik dan segerombolan orang yang syur bergoyang-goyang ria. Tidak hanya itu, beberapa pemabuk juga sudah tampak sempoyongan disana. Mereka ditemani oleh pemandangan rok yang tersingkap dan belahan dada yang mencurat dari pakaian para wanita pemuas birahi. Kesemuanya tampak gila, aku menyaksikan dari tembok transparan yang terbuat dari kaca bening.
Gedebag gedebug.
“Hei Chevani. Syukurlah kau sudah di sini bersama anakmu. Hufft.” Seorang pria bertubuh gembul melaungkan suara dari penjuru lain. Ia tampak ngos-ngosan seperti baru dikejar setan. Perut buncitnya naik turun bersamaan dengan napasnya yang terbuang kasar.
“Aren. Kau kenapa?”
__ADS_1
“Ada kakek tua yang mendobrak pintu kamar di mana anak mu sedang tertidur pulas.”
“Apa! Mau apa dia?”
“Awalnya aku tak mengerti bahkan ku kira itu orang suruhanmu. Tapi setelah melihat ia masuk tanpa kunci dan mendobrak pintu itu aku pun lantas curiga curiga.” Aren memulai penjelasannya dengan sisa oksigen yang masih ia punya.
“Lalu?”
“Lalu tua bangka itu melucuti pakaian anakmu dan mulai menciumi perut kecilnya. Ia ingin memperkosa anakmu Che.”
“Apa!” Manusia mana yang tega melakukan ini pada bayi kencur seperti Pricilia. Aku tersontak kaget, seperti ada yang mencelos dari dalam dada ku.
“Aku menghantam si tua itu habis-habisan, namun sebelum itu aku menaruh anak mu di lantai karna jika ia tetap berada di kasur, iblis itu akan dengan mudah memboyong bayi mu pergi mengingat jaraknya dengan kasur sangatlah dekat. Dan aku berada di ambang pintu.”
Hatiku perih. Aku menutup telinga rapat-rapat seolah tak ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Aren. Kasian putri ku. Dia hanya bayi malang yang tidak berdosa, aku tidak ingin dia disentuh oleh sembarang orang terlebih dengan usianya yang baru menginjak 8 bulan. Cukuplah aku. Cukuplah aku mamanya saja yang menjadi memikul beban penderitaan ini. Bukan Pricilia, anak ku.
“Mulai besok aku akan menjaga anak mu selama kau bekerja. Aku tidak ingin bayi suci ini terluka oleh tangan-tangan Iblis Jahannam. Sudahlah, mari kita pulang.” Aren terlihat sangat mendung. Matanya berkaca-kaca sembari mengusap-usap puncak kepala Pricilia lembut. Entah sejak kapan pria berpostur balon itu menyukai anak-anak.
Aren adalah tangan kanan dari pemilik bar ini. Satu-satunya pria yang sangat perduli segala hal yang menyangkut tentangku. Ia juga yang telah memberikan aku segepok uang atas perampokan yang ku alami beberapa bulan lalu bersama Pricilia. Dan dia jugalah yang selalu mengantarkan aku pulang ke rumah setelah aku selesai bekerja. Sebenarnya sudah ada supir khusus yang mengantar para pekerja shift malam untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun waktu itu Aren menawarkan dirinya untuk menjadi supir permanenku. Ia melakukan itu juga tanpa dibayar. Sungguh, aku memiliki banyak hutang budi kepada pria tersebut.
“Mengapa kau selesai bekerja tidak seperti jam biasanya?” Tanya Aren memecahkan lamunanku. Tangannya mulai meraih USB dan mencolokkannya pada ponsel, memutar lagu-lagu sendu yang membuat aku semakin tergerus kenangan di masa lalu.
“Noda-noda di kain sangat susah hilang.”
“Maksudmu?”
“Banyak sprei yang terkena noda dan tak perlu kujelaskan noda apa itu. Aku yakin kau juga sudah tahu. Aku sampai kewalahan.”
“Tapi kau tidak apa-apa kan?”
Aku mengerutkan dahi setelah mendengar pertanyaan ngelantur dari Aren. Tidak biasanya ia bertanya perihal kondisi tubuhku. Sorot matanya juga berhilir sendu. Kali ini aku menaksir bahwa ia tengah mabuk berat.
“Kita pelan-pelan saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi setelah kejadian putri ku tadi.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Kau sedang mabuk Ren.”
“Tidak. Bahkan sudah dua minggu aku tidak menyentuh cairan merah itu.”
“Jika memang tidak, lantas mengapa kau bertanya sesuatu yang belum pernah kau tanya sebelumnya? Ah kau ini lucu sekali.” Aren tak mau mengakui perbuatannya. Dasar lier! Perduli apa aku dengan dia jika pun benar ia telah mabuk. Aku mengacak kasar rambutnya yang bergulung-gulung seperti mie, namun ia tak bergeming. Kukuh memandang pendaran-pendaran kuning yang terpancar dari lampu jalan.
“Jawab pertanyaanku Che.”
“Oh baiklah.” Kataku yang mulai peka bahwa Aren sedang serius. “Apapun akan kulakukan demi putriku. Rasa lelah dan sesekali sakit adalah hal yang wajar bukan?”
“Apa selamanya kau akan bekerja sebagai tukang cuci di sana?”
“Jika ini adalah memang bagian dari takdirku. Mau bagaimana lagi?”
“Kau menyukai pekerjaan itu?”
“Ya.”
“Kau mungkin suka, tapi tidak denganku. Sungguh aku sangat tak tega melihat kau kelelahan Che."
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu.”
Deg!
...***...
Bersambung
Comment, like & vote guys
__ADS_1
Dukungan kalian semangat buat aku:)
Sehat selalu yaaa🤗