
Orang yang mendengar pun sontak bangkit dari tidurnya. Mata cokelat itu membulat kunci, wajah tampannya menatap kaget ke arahku.
“Apa maksudmu?” tanya pria itu kemudian menghampiriku di ambang pintu bilik.
“Aku tidak ingin disebut sebagai pelakor,”
“Kenapa kau berbicara seperti itu?”
“Kau bilang kau memiliki istri. Lalu kenapa kau masih ingin menikahiku?” aku memandang netranya lekat-lekat, mencari titik kebohongan di dalam sana.
“Chevani, dengar aku!” Demian memegangi kedua bahuku erat. “Aku tak akan mungkin berani memperistrimu kalau masih memiliki seorang istri,”
“Aku tidak paham,”
“Eum, maksudku aku sudah berpisah dengan wanita itu,”
“APA?” perasaan baru beberapa minggu lalu dia mengatakan tentang istrinya ke padaku.
“Kau tak percaya?”
“Tidak,”
“Istriku itu tidak baik, bahkan dia yang sudah memisahkan aku secara paksa dengan istri pertama. Lagipula sekarang dia sudah tidak berada di Indonesia lagi, lalu untuk apa aku bertahan?” ucapan Demian membuat kedua garis lurus di atas mataku saling tertaut. Setahuku dia sangat mencintai istri pertamanya itu.
“Kalau kita menikah, lalu bagaimana dengan wanita yang sangat kau sayangi?”
Hening.
Setelahnya, aku tak menemukan sesuatu yang dapat meyakinkan hatiku. Demian ini aneh, seharusnya dia kembali mengejar istri pertamanya, bukan malah menikahi wanita lain seperti aku. Entah kenapa mulai dari Aren, Pak Reno bahkan Demian, semuanya menyimpan misteri tersendiri. Lama-lama aku seperti barang pelampiasan, namun di sisi lain semuanya juga berjuang untuk mendapatkanku.
“Soal itu tidak penting, intinya aku bahagia bila bisa memiliki istri sepertimu,” Demian kembali bersuara. Kali ini tangannya menggapai rambut-rambut halusku yang terjuntai menutupi area wajah lalu menyelipkannya di balik telinga.
“Ya sudahlah. Aku ingin pulang dulu ya,”
Cup.
Sebuah kecupan singkat mendarat tepat di permukaan dahiku. Aku tertegun, merasakan aliran listrik yang Demian transfer untukku barusan.
__ADS_1
...***...
Besoknya Demian mengetuk pintuku pagi-pagi sekali, bahkan ketika mata ini masih terpejam. Kesal, tapi mau tak mau aku harus segera membuka pintu.
“Ada apa?” aku bertanya takkala telah menjejakkan kaki di beranda rumah. Demian sudah rapi dengan sebuah amplop berwarna cokelat di tangannya.
“Aku ingin mencari pekerjaan. Do’akan aku ya,” senyum indah terlukis di wajah. Aku mengangguk pasti.
“Ah, iya ini untukmu,” lanjutnya kemudian menyerahkan empat lembar uang merah yang langsung kutolak secara halus.
Mulai dari awal pertemuan kami hingga saat ini, aku dapat menyimpulkan bahwa Demian memang memiliki sikap tanggung jawab yang baik. Tak pernah dia membiarkanku berada dalam keadaan susah, meskipun kala itu kami belum memiliki komitmen untuk menjadi suami istri.
“Tak apa, ambil saja. Aku masih memiliki banyak uang di rumah,” katanya sekali lagi kemudian langsung nyelonong entah ke mana.
Akhirnya, dengan berat hati kuterima uang itu. Beruntungnya aku juga masih memiliki beberapa pundi-pundi rupiah, sehingga kertas merah yang baru ia berikan ini dapat kutabung terlebih dahulu.
Semoga Demian bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik di Kota ini.
“Hai manis. Baru ngontrak di sini ya?” saat aku hendak melangkah masuk, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan suara besar khas lelaki. Maksudku, lebih tepatnya kakek-kakek.
Dan benar saja. Saat kepalaku menoleh, aku melihat seorang pria dengan banyak uban di kepala tersenyum manis ke arahku. Stylenya ala-ala preman, tapi sebuah dot bayi tergantung di lehernya.
Aku tak menggubris, mungkin masuk adalah jalan yang terbaik untuk menghindari lelaki gila itu.
“Jawab dulu dong,” sekali lagi. Aku tetap keukeuh dan langsung masuk ke dalam rumah.
Tak hanya sampai di situ, bahkan ketika aku sudah berada di dalam bangunan ini sekalipun ia masih tetap berdiri dan tak beranjak dari sana. Aku mengintip dari gorden jendela yang sedikit tersingkap, dot tadi ia masukkan ke dalam bibir tebal hitam miliknya. Kulit yang mulai keriput terlihat seperti batang kayu takkala mentari memberi sengatan dari arah atas.
“Pakaian preman, tapi kok nge dot,” batinku dalam hati.
Sejenak aku berpikir sambil merebahkan diri di atas kasur. Demian bukanlah orang yang pernah menginjak bangku perguruan tinggi, begitu pula denganku. Sekalipun dia mendapat pekerjaan, mungkin itu tak seperti orang-orang kaya di luaran sana. Ya, cukup makan dan membeli kebutuhan saja sudah lumayan baik. Maka dari itu, aku harus tetap mencari pekerjaan di ibu kota ini. Aku ingin membantu pria yang akan menjadi suamiku kelak, di sisi lain aku juga bosan kalau terus-terusan mendekam di dalam rumah.
Eum, kalau aku pergi sekarang sepertinya lebih bagus.
Lama aku menunggu sang preman letoy itu di luar. Tiga puluh menit berselang, akhirnya ia hilang dari depan rumahku. Entah datang dari mana makhluk astral itu, tapi aku berharap tak akan pernah lagi bertemu dengannya.
Berhubung aku belum tahu daerah ini, dan tidak ingin mengambil resiko seperti tersesat, maka kuputuskan untuk mencari pekerjaan di sekitaran sini saja.
__ADS_1
“Sabar ya sayang,” kusapu rambut Pricilia lembut, apapun akan kulakukan demi kehidupan yang layak untuk putri kecilku ini.
Aku terus berjalan di bawah teriknya matahari alam. Hingga dalam beberapa langkah ke depan, sepasang netraku menangkap sebuah bangunan laundry yang bertuliskan lowongan pekerjaan.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung masuk dan menemui seseorang yang dapat dijadikan tempat bertanya.
“Selamat pagi mba, bisa saya bertemu dengan yang punya laundry?” wanita berambut sebahu itu menoleh, tanpa menjawab ia langsung mendekati perempuan paruh baya yang tengah duduk seraya memainkan ponsel. Tak lama setelah itu aku dipanggil, menghadap orang yang kutaksir sebagai pemilik tempat usaha.
“Siapa namamu?” tanya wanita itu dan aku langsung menjawab.
“Kau saya terima bekerja di sini, dengan catatan tidak membawa anak,”
Blush!
Senyum mengembang langsung hilang takkala mendengar tiga kata terakhir dari kalimat perempuan itu. Bagaimana mungkin aku dapat meninggalkan Pricilia?
“Tapi aku memiliki pengalaman bekerja sambil membawa anak bu,” sebuah pembelaan kulayangkan. Aku berharap betul dapat bekerja di tempat ini.
“Wah sangat bagus! Tapi sayangnya saya tetap tidak menerima yang seperti itu,” lagi-lagi semangatku kembali patah. Aku langsung undur diri setelah mengucapkan kata pamit pada sang empunya laundry. Namun belum sempat kakiku melangkah, tiba-tiba ia kembali bersuara dan membuat kedua sudut bibirku tertarik sempurna membentuk huruf U.
“Tapi kalau kau mau bekerja sebagai pengasuh kakakku yang sedang sakit, silahkan saja. Aku tak melarang sekalipun kau membawa anak,”
“Benarkah? Aku sangat ingin bu,”
“Panggil saja aku Mama Bulan,” ia membalas gelak bahagiaku dengan sebuah senyuman tulus. Huh, hampir saja ku mengira kalau dia si kaya yang sombong.
“Ayo ikut aku,” katanya lagi sambil menarik pergelanganku meninggalkan arena laundry dengan beberapa pekerja di dalamnya.
...***...
Bersambung
Halo
Kalian asalnya dari mana aja nih?
Absen yuk
__ADS_1
But
LIKE nya juga jangan lupa yeeep