SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
PERINGATAN PERTAMA UNTUK IBIL


__ADS_3

Aku sesenggukan, menatap langit-langit kamar. Orang bilang kalau sedang marah itu tidak baik untuk berdiri, nanti emosinya bisa lebih berpacu. Sempat duduk, namun sepertinya hal itu sama sekali tak mengurangi beban berat yang bersemayam di dalam hati. Walhasil, aku memlihih untuk merebahkan badan.


“Jangan menangis. Lihatlah, Pricilia terus menatapmu kebingungan,” aku menoleh, memindai putri cilik yang memasang raut tegang. Ah, lagi-lagi dia harus terikut dalam permasalahan ibunya.


“Dengarkan aku.” Demian ikut duduk di atas ranjang. Jemari besarnya meraih pergelangan tanganku lembut. “Tadi, tiba-tiba saja aku dipanggil oleh RT di sini untuk membantu memperbaiki keran air Ibil. Entah bagaimana cerita awalnya anak satu itu bisa meminta pertolongan Pak RT. Akhirnya aku terpaksa mengikut, dan kami berdua memperbaiki keran air itu. Namun di tengah pengerjaan, istri Pak RT menelpon bahwa sedang ada tamu yang memiliki keperluan mendesak, hingga ia memita tolong agar aku melanjutkan pekerjaan itu seorang diri."


Aku mulai mencerna kata-kata Demian.


“Kau jangan salah paham. Ingin berbuat apa aku dengan gadis kencur itu? Bahkan melihatnya saja pun aku jijik. Tadi, aku juga memerintahkannya agar dia menunggu di luar,”


“Lalu kenapa kalian bisa keluar bersamaan?” pikiranku melayang ke segala arah. Jangan-jangan Demian membohongiku.


“Ketika aku keluar dari dalam toilet menuju pintu depan, tiba-tiba saja dia sudah nongol separuh jalan, ingin menyusulku. Aku terus memaksa untuk keluar. Sialnya, bertepatan pula saat kau pulang. Huh, napasku jadi sesak karena mengejar istri yang sedang merajuk,”


Mendengarnya, aku langsung bangkit dan memukul bahu Demian sekuat tenaga. Ia meringis, namun kemudian terpingkal-pingkal. Entahlah, sepertinya masuk akal juga yang ia katakan.


Amarahku mulai luruh pada Demian. Tapi tidak dengan remaja ganjen yang satu itu. Kupastikan ia tak akan bisa menganggu Demian lagi.


Besoknya setelah Demian pergi bekerja, aku menggedor pintu rumah Ibil. Tak perduli apakah dia sedang tidur atau tidak. Anak itu harus kuberi pelajaran.


“Siapa, eh?” akhirnya pintu terbuka dan menampakkan sesosok makhluk terselubung kain merah muda di dalam sana. Kantung matanya besar, bawahnya hitam seperti pantat panci.


“Ada apa Mba?” tanyanya seraya mengkucek-kucek sepasang netra.


“Saya mau bicara!” aku berseru ketus namun masih dalam intonasi sewajarnya. Ibil berusaha konsentrasi, tatapannya kini serius ke arahku.


“Ada apa?”


“Saya tidak tahu apa motif kamu melakukan semua ini. Tapi tolong, jangan pernah ganggu Demian lagi,”


“Hah?” mulutnya melebar bersamaan dengan keluarnya aroma busuk menusuk hidung. Aku memundurkan langkah, takut tiba-tiba mati menghirup udara neraka itu. “Siapa yang mengganggu suami Mba?” lanjutnya lalu memanjangkan bibir.


“Kau selalu saja tersenyum ramah pada Demian. Selalu meminta tolong pada Demian. Ingat Ibil! Demian itu sudah punya istri,” perkataanku membuat Ibil menahan tawa. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya nyaris turun karena sebelah tangannya menempel di mulut.


“Mba merasa begitu? Lalu apa fungsinya tetangga? Bukankah selama ini aku hanya meminta pertolongan biasa?”


“Tapi caramu memperlakukan suamiku itu beda!”


“Beda apanya?” Ibil pura-pura bodoh, membuatku semakin ingin menarik rambut merahnya.

__ADS_1


“Intinya aku tidak suka. Jangan pernah tegur Demiam lagi!” aku menutup kalimat lalu ngeloyor pergi mengambil Pricilia yang masih bersemedi di ambang pintu bersama sebuah tas di sampingnya.


Sudah terlambat. Tapi tak mengapa. Aku akan berusaha meminta pengertian bu Naumi kalau dia marah padaku nanti. Sesama wanita, aku yakin bahwa ia akan paham kondisi seorang istri yang takut kalau suaminya digoda oleh jablai ular.


...***...


Aku berlari sekencang yang aku bisa takkala melihat bu Naumi duduk sambil melipat kaki di atas kursi. Tumben. Seharusnya wanita setengah abad itu berada di laundry.


“Maafkan aku sedikit terlambat bu,” aku menunduk. Sebenarnya baru terlambat sepuluh menit. Namun tetap saja namanya tidak tepat waktu.


“Ya, masuklah.”


Bu Naumi tidak marah? Bahkan tidak bertanya alasan apa yang membuatku terlambat datang.


“Apa lagi?” wanita itu kembali berseru dan membuat aku yang masih mematung di tempat ini terperanjat kaget.


“Ibu tidak ke laundry?” aku berusaha agar tidak terlihat gugup.


“Oh, tidak. Keponakanku sebentar lagi akan tiba,” wajahnya yang mulai tua namun tetap ayu itu berseri betul. Sekarang aku paham, bahwa ia sedang menanti kehadiran keluarganya.


Enak sekali bagi orang-orang yang masih punya sanak saudara untuk ditemui. Berbanding terbalik denganku si sebatang kara ini. Tapi ya sudahlah, setidaknya aku masih memilki Pricilia dan Demian.


“Bik Nah,” sapaku.


“Eh, baru sampai.” bik Nah tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya pada Pricilia.


Kalau pagi begini Alya pasti sedang sekolah. Lagi pula, ada atau tidaknya dia tetap saja bik Nah bekerja sendirian. Tanpa cakap-cakap panjang lagi, aku langsung menemui Ozon yang tengah terduduk sambil main game di dalam ponsel. Pasti dia belum makan. Beruntung, bu Naumi tak marah kepadaku.


Selang beberapa menit kemudian, aku duduk di sebelah Ozon dengan membawa nampan berisi sup daging serta air hangatnya. Pria itu menoleh, hendak meraih makanan yang berada di tanganku.


“Coba makannya tidak usah disuap.” Ozon mendelik setelah mendengar penuturanku barusan.


“Kenapa?”


“Mas jagoan, kan?” Ozon mengangguk, dan aku langsung menyerahkan piring itu kepadanya. Ia meraih dengan baik. “Kalau begitu, coba habiskan ini seorang diri.” Aku berkata seolah menantang ia yang katanya seorang jagoan. Setelahnya, Ozon langsung menyendokkan makanan berbahan dasar daging tersebut dan segera melahapnya hingga habis tak bersisa.


“Sudah kukatakan kalau aku ini jagoan,” wajahnya terangkat, berseru seolah memang ia lah sang juara.


Aku tersenyum tipis. Berhasil. Sebenarnya ini hanyalah sebagaian dari caraku untuk perlahan merubahnya agar menjadi seperti dulu.

__ADS_1


“Ozon makan sendiri ya?” bik Nah menghampiri. Wanita tua itu tak kalah bahagianya dengan diriku saat ini.


“Iya bik. Apa Bibik melihatnya tadi?” bik Nah memberi sebuah anggukan mantap.


“Semoga suatu saat nanti Ozon bisa kembali seperti dulu,” perempuan berambut sanggul itu kembali tersenyum. Wajahnya yang begitu layu sontak membuat hatiku terenyuh.


“Bik Nah, Chevani.”


Tiba-tiba saja laungan suara bu Naumi terdengar dari arah depan. Baik aku dan bik Nah sama-sama menoleh, kemudian bergegas keluar ruangan.


Sebelum benar-benar sampai di beranda, aku melihat pemilik rumah ini tengah bersenda gurau entah dengan siapa di sana. Wajahnya juga tidak kelihatan karena keduanya menghadap ke arah depan. Sebuah taxi biru melesat begitu saja takkala penumpangnya berhasil turun.


“Ada apa Non?” suara Bik Nah membuat dua wanita itu sontak membalikkan badan.


Tap.


Pandanganku saling bertemu dengan sang tamu, dan pada saat itu jugalah keringat dingin mengalir dengan hebatnya, bersarang di zona leher. Dadaku bergemuruh hebat. Benarkah ini? Seorang wanita berambut panjang hitam pekat, orang yang dulu pernah menyerahkan suaminya sendiri secara suka rela kepadaku.


“Bu- Bu Farah?” jantungku copot di dalam.


...***...


Bersambung


Pelan-pelan aku tunjukin benang merahnya ya


Ga bisa spontan


Nanti ceritanya jelek


Jangan langsung diklaim kalo cerita ini ga jelas sebelum ngikuti sampe akhir cerita!


DON'T FORGET LIKE & COMMENT


Buat kalian, follow ig aku yuk


wandahandayani24


🤗

__ADS_1


__ADS_2