SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
MIMPI BURUK


__ADS_3

Tepat tiga hari setelah kepergian Demian, aku menjadi wanita pemalas. Bukan karena apa, hanya saja aku merasa kehilangan semangat tanpa sosok pria yang saban hari menemani hari-hariku. Kerap kali Demian menelpon dan berkata kalau aku tidak boleh lemah. Namun hal itu justru sama sekali tak merubah keadaan. Yang ada aku semakin rindu, lagi dan lagi.


Ceklek.


Pintu kututup rapat-rapat, kemudian berbegas menuju rumah Bu Naumi. Beruntungnya tempat itu tak begitu jauh, sehingga perjalananya bisa ditempuh hanya dengan sepasang kaki.


Tak butuh waktu lama, akhirnya aku pun tiba. Pemandangan pertama kali yang kulihat adalah Ozon yang tengah menonton televisi sambil makan kacang.


“Mau ke mana Al?” seorang gadis mendadak muncul dari arah kamar. Lipbalm merah muda melengkapi suasana pagi yang cerah ini.


“Ke rumah temen,” cecarnya kemudian berlalu begitu saja.


Entah apa jadinya kalau sampai kedua orang tua Alya mengetahui, bahwa anaknya telah mengingkari janjinya sendiri. Kasihan Bik Nah, dia terpaksa menjadi tumbal dari keegoisan keponakannya itu.


“Mas, lihat deh.” kudaratkan bokong di atas sofa tempat Ozon duduk. Lalu sebuah gambar pria berkaos oblong membayang dalam retinanya.


“Untuk apa kamu nunjukin itu?” ia menyingkirkan ponsel yang kuberikan. Setelahnya, aku tersenyum.


“Kalau Mas yang pakai, pasti bagus banget,”


“Jelaslah,” Ozon menyombongkan diri. Padahal ia tidak tahu, kalau sebenarnya aku tengah menjebaknya.


“Oh ya? Coba pakai kalau berani.” lamat-lamat Ozon menatapku dengan pandangan tajam.


“Mana bajunya?”


Yes, berhasil. Aku bersorak kegirangan di dalam hati. Setelah diteliti, Ozon memang sulit untuk diubah. Namun, sejatinya ia pantang diremehkan. Maka dari itu, aku memanfaatkan hal ini sebagai ajang untuk perlahan-lahan mengembalikan ia seperti dulu.


...***...


“Aaaaam...” perut anakku berguncang hebat takkala sebuah sendok kulayangkan ke udara seperti pesawat. Ia yang kini sudah bisa makan nasi seperti manusia pada umumnya, membuat aku semakin mudah untuk merawat. Namun, aku juga tidak melupakan sufor yang saban hari kuberikan sebagai penunjang kesehatannya.


Semenjak Demian tidak di rumah, Ibil si tetangga ganjen itu sangat jarang mampir ke sini. Benar dugaanku, kalau dia hanya ingin menggoda Demian.


Oh ya, ngomong-ngomong soal Demian, apa kabar dia ya? Biasanya malam-malam begini pria itu tak pernah absen menelponku. Dari pada aku terus-terusan menunggu, lebih baik aku saja yang menghubunginya terlebih dahulu.


“Sebentar ya nak,” aku meletakkan Pricilia bersama sepiring nasi di ruang tengah. Masuk ke dalam kamar, lalu meraih sebuah benda pipih yang tergeletak di atas kasur.

__ADS_1


Kembali aku menemui anakku, kemudian melanjutkan kegiatan kami yang sempat tertunda. Di samping itu, aku juga menekan logo telpon yang terdapat di atas layar ponsel. Nada dering tersambung, lalu terdengar suara pria yang menyapa dari seberang sana.


“Hai sayang. Kenapa kau tidak menghubungku?” tanpa basa basi aku langsung bertanya pada Demian.


“Uh, maaf sayang. Ibuku sedang sakit. Jadi, aku harus merawatnya.” suara pria itu terdengar berat. Aku mengiba.


“Oh ya? Sejak kapan?”


“Pagi tadi. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit,”


“Boleh aku berbicara dengannya?” sebuah harapan kugantung pada Demian. Namun detik berikutnya, ia berkata kalau ibunya sedang tertidur lelap.


Aku mendesah kesal. Kenapa begitu sulitnya mengenal ibu mertua sendiri? Tapi ya sudahlah, semoga lain kali masih ada kesempatan.


Lama aku mengobrol dengan Demian. Mulai dari kegiatanku, hingga apa-apa saja yang terjadi di Kota Batam. Mataku mulai berat, dan Pricilia pun sudah merengek minta ditidurkan. Maka dari itu, kuputuskan untuk mengakhiri obrolan via udaraku bersama Demian. Melangkah ke dalam kamar, kemudian membenamkan diri ke alam entah berantah.


...***...


Suatu malam, aku melintasi sebuah jalanan sunyi, tanpa ingar bingar. Entahlah, aku juga tidak tahu ini di mana dan bagaimana caranya aku bisa menjejakkan kaki di tempat ini. Semuanya terasa suram, mencekam, tiada siapapun yang bisa diajak bicara. Aku ingin keluar dari gelita pengap yang teramat menakutkan ini. Namun kepulan asap mulai muncul bahkan semakin tebal, hingga pada akhirnya oksigen tak mampu lagi kuhirup. Aku jatuh, kemudian menggelinding ke dasar jurang. Lalu entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku kembali melihat wajah itu. Wajah yang telah sekian lamanya menghilang dari pandangan. Ia tersenyum, seraya memberikan tangan kiri ke padaku.


“Mau aku bantu?” tanyanya manis.


“Tolong aku,” kuraih tangannya dari bawah sini. Namun detik itu juga ia menangkis dengan kasar.


“Aku akan menolongmu, asal kau berikan dia untukku,” senyum sinis itu tiba-tiba datang. Sesaat kemudian, wajahnya berubah sendu.


“Dia siapa?” aku kelabakan. Siapa yang perempuan ini maksud?


“Kau mau atau tidak?”


“Aku tak mengerti apa maksudmu,” kepalaku rasanya semakin pusing. Aku juga hanya mampu menarik napas barang sekali, dua kali.


Lagi-lagi aku memandanginya penuh bingung. Kali ini wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Apa dia sedang marah? Gumamku dalam hati. Sesaat setelah itu, ia menghilang. Pergi meninggalkanku yang masih terjerembab di dasar jurang.


“Hei kau mau ke mana? Tunggu aku! Tolong!”


“Ratna,”

__ADS_1


“Ratna,”


“Ratnaaaaa!”


Brak!


“Awwww,”


Sekarang aku merasa bahwa duniaku benar-benar berputar. Kemudian disusul oleh tangisan kencang seorang bayi. Aku mencoba membuka mata dengan berat, hingga dalam menit berikutnya, kudapati diriku sedang telangkup di atas lantai. Pricilia sudah berkoar-koar di atas sana. Mungkin suara tadi mengagetkan bayi itu.


“Oh astaga. Ternyata aku sedang bermimpi."


...***...


Pagi ini aku disambut oleh lambaian tangan Bu Naumi dari kejauhan. Aku tersenyum, meski tak tahu entah apa maksud dari perempuan setengah abad itu.


“Cepatlah!” dengan ketidaksabarannya menunggu derap langkahku, akhirnya wanita itu yang menyusulku dari arah depan. Aku digiring, kemudian didudukkan di atas sofa.


“Terima kasih ya,” sesaat setelahnya Bu Naumi memelukku erat. Aku dapat mendengar isak tangisnya meski tak kupandang sama sekali wajah itu.


“Ibu kenapa?” tanpa peduli dengan Bu Naumi, aku langsung menjauhkan tubuh darinya. Kasihan Pricilia, putri kecilku itu lantas terjepit dengan perlakukan majikanku sendiri.


“Aku sempat tidak percaya, namun dia benar-benr melakukannya.” Aku malah semakin bingung. Apa susahnya sih berterus terang saja? Karenanya, aku jadi menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


“Apa yang telah saya perbuat Bu?”


“Aku melihat Ozon menggukan pakaian pria kemarin,” mendengarnya, aku langsung tersipu malu.


Sudah kukatakan bahwa tak selamanya Ozon akan begitu. Jika kita terus merawatnya dengan keikhlasan, pastilah ada masanya ia akan berubah. Kembali seperti sedia kala.


“Aku hanya melakukan semampu yang kubisa,” kuraih punggung tangan Bu Naumi, wanita itu balas dengan sentuhan yang lebih lembut.


“Kalau begitu, aku akan menaikkan gajimu dua kali lipat bulan ini dan ke depannya."


...***...


Bersambung

__ADS_1


Like & Comment


__ADS_2