SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
PENUH TEKA TEKI


__ADS_3

“Aku duluan ya, permisi.” Aku menarik lengan Refa dan segera membawanya ke meja kasir. Kenapa semua orang yang kutemui pada aneh? Mertuaku, Pak Reno, Bu Farah, Ratna, dan kali ini si Aren. Mereka seolah menyimpan banyak teka teki di kehidupanku.


Fix! Aren benar-benar akan menikah. Awalnya aku memang tak percaya bahkan menganggap bahwa itu adalah surat undangan yang sengaja dibuat untuk mengelabuiku. Namun setelah melihat sosok wanita yang dipanggilnya dengan sebutan sayang tadi membuat tingkat kepercayaanku kepada Aren kian menguat. Kalau begitu mengapa dulu seolah dia sangat mengemis padaku? Apa kepalanya kejedot pintu dan mendadak Amnesia? Ah sudah lah! Tidak penting bagiku memikirkannya. Biar saja dia bahagia dengan perempuan tadi, lagipula kalau dilihat-lihat calon istrinya tadi baik juga.


...***...


“Nanti Dek Plicil naik di mobin balutu ya bu.”


“Buuu Dek Plicil nangis.”


“De Plicil mau main cama Cukinem, iya?”


“Atu mau kacih Dek Plicil pelmen.”


Aaaaaaaaa!


Bayangan Refa yang tengah bermain bersama Pricil mendadak liar di pikiranku. Ke mana anak itu? Kenapa sampai sekarang belum ada kabar?


Sehari setelah kejadian penculikan itu aku diperlihatkan oleh Bu Neni melalui cctv yang berada di tokonya. Pertama si wanita paruh baya pura-pura ingin membeli kue dan ketika aku lengah lelaki cilik yang dibawanya langsung mengeksekusi Pricil dan memboyong bocah itu entah ke mana. Aku menyesal. Seharusnya aku sudah curiga melalui gelagat orang aneh yang bertanya-tanya tentang pribadiku kemarin. Sekarang manusia keji itu sudah berhasil dijebloskan dalam penjara. Namun anakku? Dia diculik lagi setelah diculik kemarin.


Tapi kali ini berbeda. Aku tak tahu dia diculik ulang di mana, dengan siapa dan saat ini sedang berada di mana. Hari-hariku terasa hampa, sekalipun ada Refa yang juga menghibur tapi tak sebanding dengan kehadiran anak kandung sendiri.


Ya Tuhan semoga Engkau melindungi putri kecilku di sana.


Tok tok tok.


Hei siapa itu?


Aku sontak mengusap-usap wajahku yang sudah penuh dengan buliran air mata kemudian langsung beringsut dari kasur menuju pintu kamar. Entah siapa, tapi sepertinya itu adalah sang empunya rumah.


Ceklek.


“Kau sudah makan?”


Tuh kan bener.


“Belum Pak, sebentar lagi.”


“Sekarang! Nanti kau sakit lagi.”


“Aku sedang tak selera makan.”


“Oh ayolah Che jangan membuang waktuku!”


Hadeh! Kenapa dia yang jadi repot sendiri sih?Ya kalau mau makan, makan aja sana. Tak perlu menungguku.


“Ke mana Refa?” Tanyaku pada Pak Reno sesaat setelah sampai di meja penuh menu.


“Tidur.”


“Loh! Jadi kita hanya makan berdua?”

__ADS_1


“Ada yang salah?”


Oh my God! Kurasa semenjak ditinggal Bu Farah pria satu ini semakin gila. Babu seperti aku mana pernah duduk di sini, dapur adalah tempatku. Lagipula apa jadinya kalau kami makan hanya berdua? Sumpah aku risih sekali.


“Eum aku makan di dapur saja Pak.”


“Jadi kau menolak ajakanku?”


“Oh tidak bukan begitu, hanya saja a-“


“Kau sudah kuberi tempat tinggal, maka ikutilah perintahku!”


Ck! Sial! Selalu itu yang dijadikan alasan. Sungguh, aku bukannya menolak atau sok jual mahal. Hanya saja aku tahu diri sebagai apa aku di rumah ini. Aku bukan saudaranya atau bahkan istrinya, aku hanya seorang jongos miskin dan rasa-rasanya sangat tak pantas bila diperlakukan seperti ini. Lagipula Pak Reno ini adalah suami orang, apa jadinya kalau tiba-tiba Bu Farah pulang dan melihat kami berduaan di sini.


“Maaf Pak aku tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Aku sudah terbiasa makan di dapur, permisi.” Aku berputar haluan dan segera menuju dapur untuk mengambil nasi serta lauk yang sengaja kupisah untukku sendiri. Memang selama ini pun seperti itu dan tak pernah sejarahnya aku makan di depan saja.


Kletek.


“Astaga!” Kagetku bukan main, hampir saja jantungku copot.


Sumpah ini sungguh gila! Aku memang tak jadi makan di depan namun si gemblung satu ini malah menyusulku dan membawa piring makannya ke dapur. Aku kikuk, tak tahu lagi harus bagaimana.


Empat menit berselang dan hanya ada dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring kaca di tempat ini. Mulutku sudah tidak tahan lagi, sebaiknya kutanya saja pada si Reno.


“Kenapa?”


“Kenapa semenjak aku sakit bapak seolah menjelma menjadi baik?”


“Oh jadi selama ini aku jahat?"


“Bukan! Bukan begitu maksudku.”


“Kau tak perlu berlebihan apalagi sampai menganggapku perhatian. Sungguh! Aku hanya kasihan.”


Blushhh!


Aku serasa dihujani dengan larva panas dari atas gunung. Sumpah aku malu sekali. Entah kenapa Pak Reno selalu bisa membaca pikiranku. Aku mematung di tempat, tak berani membalas sepatah kata pun.


Waktu terus berlalu dan acara makan kikuk pun telah selesai begitu saja. Pak Reno kembali ke kamarnya lalu disusul olehku yang juga kembali ke peraduan.


Drrrt drrrt.


Sebuah getaran banter mendadak muncul dari atas nakas. Aku yang mendapati hal itu pun langsung saja mengambil benda yang mengeluarkan bunyi getaran.


Neni.


“Chevani Chevani! Aku punya kabar terkini.”

__ADS_1


Oh astaga! Kupingku mendenyut.


Aku bahkan belum sempat menyapa namun si ibu beranak tiga itu sudah menyela begitu saja.


“Ada apa?” Jawabku sedikit kesal.


“Aku punya kabar.”


“Oh Tuhan. Ya sudah langsung saja kau bilang. Apa susahnya?”


“Ah kau tak seru Che! Seolah tak tertarik.”


“Ya ampuuuun ada kabar apa Neni sayang? Kenapa kau kelihatan sangat panik?” Aku memperagakan suara orang kalang kabut yang secara sengaja dibuat-buat. Yaaa hitung-hitung biar si pemilik suara cempreng itu senang.


“Ini soal Ratna.”


“APA?” Sumpah! Kali ini aku beneran kaget dan bukan dibuat-buat.


“Aku mendengar kabar kalau anak satu itu sedang berada di Negri Jiran.”


“Apa maksudmu?”


“Begini Che. Aku memiliki seorang teman yang ternyata dia adalah teman Ratna juga. Awalnya aku tak percaya namun setelah temanku itu menunjukkan foto dirinya dengan si Ratna maka tak ada alasan bagiku untukku menganggapnya seorang pembohong.”


“Fotonya di mana mereka?”


“Di café namun aku tak tahu entah di mananya. Sumpah! Ratna memang orang kaya, di foto itu gelang emasnya berjajar tiga di tangan Che.”


“Lalu kenapa dia bisa berada di luar? Dan apakah yang kau maksud itu Malaysia?”


“Iya dia sedang di sana. Aku tak tahu alasannya apa dan begitu juga dengan temanku itu. Dan apa kau mau tau yang lebih parahnya lagi?”


“Apa?”


“Dia pergi sendiri dan meninggalkan suaminya di sini.”


“Maksudmu dia pergi tanpa suami?”


“Lebih tepatnya tanpa izin dari suami.”


Ya Tuhan.


Ratna kenapa?


Aku sontak membisu, pikiranku berkelebat kemana-mana.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Ratna lari bahkan tanpa dampingan dari sang suami?


...***...


Bersambung

__ADS_1


LIKE + BINTANG LIMA YA GAES 😍


__ADS_2