
“Aren akan segera menikah.”
APA!
Hei apa aku sedang tidak salah dengar? Aren akan segera menikah? Ck! Mana mungkin. Sedangkan hari ini saja ia baru memohon agar aku menjadi istrinya.
“Gila kau ini, jangan berhalusinasi.” Kataku seraya memutar bola mata malas.
“Lihat ini!” Elin mengeluarkan sebuah surat berkelir biru dari dalam tasnya. Aku meraih benda tersebut kemudian menilik dua buah nama yang terpajang di atasnya.
AREN KHAN & SYIFA ALETHA
Deg!
Jantungku seakan mogok untuk berdetak, napasku tercekat menyesaki ruang kerongkongan. Aku mengerjap-ngerjapkan mata berulang kali guna memastikan bahwasaya aku sedang salah lihat.
Aren Khan & Syifa Aletha
Ah tida-tidak! Tulisan ini benar dan kali ini mataku tidak mungkin salah. Aku dapat dengan jelas melihat nama dan tanggal pernikahan yang tertera pada surat undangan tersebut. Mengapa bisa? Bagaimana mungkin seorang Aren yang baru saja memaksaku untuk menjadi istrinya mendadak memberikan sebuah surat resepsi pernikahannya dengan wanita lain? Oh No! Sungguh ini seperti dunia khayal.
“Tidak! Tidak mungkin Lin.” Kataku seraya menyerahkan kembali surat undangan itu kepada Elin. “Dia tidak mungkin menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat ini.”
“Kenapa kau seolah tak mempercayainya? Bahkan kau terlihat sangat kaget.” Yang diajak berbicara pun turun menautkan kedua alisnya.
Ya Elin benar. Aku memang terkejut bukan main bahkan mengira bahwasanya ini hanya lah mimpi belaka. Aren tak pernah bercerita apapun tentang wanita lain kepadaku, tapi mengapa semua jadi begini?
“Sungguh ini seperti settingan belaka Lin.”
“Hei hei hei! Kau ini gila apa hah? Memangnya apa untungnya bagi Aren jika dia membuat undangan pernikahan palsu untuk kita?”
“Kau kenal siapa wanita itu?”
“Tidak.”
“Mana surat undangan untukku?”
“Apa Aren belum memberinya?”
“Belum.”
“Ohya? Mungkin besok.”
Entah lah. Aku seakan diterjang ombak hingga karam ke dasar laut. Pikiranku tidak boleh menerka-nerka, jika memang benar pria yang barusan menyatakan cintanya itu untukku akan segera menikah pasti besok surat resepsi itu akan sampai ke tanganku.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh seantero alam, semoga dengan ini pikiranku akan kembali ke alam normal.
“Hai semua.” Tiba-tiba saja sebuah bariton cempreng mengundang rasa kagetku datang kembali.
__ADS_1
Ck itu Neni! Kebiasa sekali wanita satu ini melaungkan suara besar.
“Halo Kinan.” Elin mencubit-cubit pipi seorang bocah gembul yang datang bersama Neni. Itu Kinan, anak lelaki yang usianya sebaya dengan putra majikanku.
“Huh Neni! Apa tak bisa mulutmu itu kau rem sedikit?” Kataku geram.
“Apa masalahnya?”
“Kau mengagetkanku dan juga Pricilia. Bagaimana jika jantung kami tiba-tiba lepas hah?”
“Halah kau ini! Tidak semudah itu membuat organ kita keluar dari persemayamannya.”
“Sudah-sudah, tidak usah bertengkar! Sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Elin mengambil alih perdebatan kami. Ia membangkitkan tubuh kemudian berjalan ke arah bibir trotoar.
Di antara kami berempat Elin memang sosok wanita yang memiliki pemikiran panjang dan tidak mudah untuk diprovokasi. Selain itu ia juga selalu menjadi penengah apabila terjadi pertengkaran di antara kami termasuk yang barusan ini. Sosoknya yang arif itu sangat menjadikan bahwa sebenarnya ia tidak layak untuk menyandang status sebagai seorang babu cuci di sebuah bar. Dan kalau menurutku sih ibu beranak satu itu lebih cocok menjadi aparat Negara.
“Kemana putrimu Lin?” Suara Neni kembali terdengar sesaat setelah kami sampai paa bibir jalan.
“Dia sedang berkunjung kerumah neneknya bersama suamiku. Kau sendiri? Kenapa hanya Kinan yang kau bawa?”
“Apa kau sudah gila? Abang dan kakak Neni itu sudah besar, jadi mana mungkin mereka mau ikut-ikut lagi dengan mamanya.”
“Melihat Kinan aku jadi teringat pada Refa, bocah nakal anak majikanku itu. Apa kau juga nakal Kinan sayang hem?” Aku membungkukkan tubuh guna menyamaratakan tinggiku dengan Kinan. Wajahnya lucu, persis seperti foto balita Neni yang pernah tak sengaja kulihat di dalam dompetnya.
“Atu nda nakal tante, tata mamatu atu anak baik.”
“Ohya?” Hihihi, lucu sekali bocah satu ini.
“Wah kalian sering bertengkar ya.”
“Abangtu jahat! Tiap ayi atu diculuh kucukin dia.”
Kikikik, aku tertawa geli. Begitulah derita anak terakhir pasti selalu dibuli oleh saudara-saudara atasannya. Bila suatu hari aku memiliki anak lagi sungguh takkan kubiarkan Pricilia menyakiti adiknya. Eh astaga! Sadar Chevan bodoh. Kau ini seorang janda, jadi mana mungkin kau bisa memiliki anak.
Di tengah obrolanku dengan bocah manis ini tiba-tiba saja ada seorang tangan wanita yang menarik tubuhnya dan membawanya ke dalam gendongan. Aku melirik ke sumber dan ternyata orang itu adalah Neni.
“Hei ayo Che, angkutan umum kita sudah datang.”
Di perjalanan aku tiada henti-hentinya mengajak Pricilia anakku untuk mengobrol. Meski sebenarnya ia tidak tahu apa yang aku katakan plus memang bocah ini belum bisa berbicara, tapi setidaknya ketika sebuah senyuman mengembang di wajah mungilnya akan menjadi pengobat hatiku yang pilu.
Mungkin sebagian orang yang telah mengenalku menganggap bahwa Chevani Agra adalah sosok janda beranka satu yang tahan akan derita. Seorang wanita yang tegar dalam menghidupi anaknya seorang diri. Tapi apa mereka tahu bahwanya setiap malam sebelum tidur aku selalu meneteskan air mata? Hidupku terasa hancur semenjak Hero pergi. Aku mati-matian banting tulang demi sesuap nasi, belum lagi segala bentuk KDRT yang saban hari dijejeli oleh Bu Farah padaku serta permintaan Bu Lastri yang selalu mencekik isi kantong.
Huh Hero! Semenjak kecil bahkan sampai menikah dengan pria itu aku memang selalu hidup dengan sebuah kesederhanaan. Namun kala itu semua terasa indah, aku dicintai oleh almarhum paman dan bibiku dan setelah aku menikah aku sangat dikasihi oleh suamiku sendiri. Namun apalah daya? Semua menjelma menjadi kehidupan yang terkutuk setelah Hero benar-benar pergi.
“Hoi ngelamun aja!”
Ck sial! Lagi-lagi si Neni membuat kegaduhan pada jantungku.
__ADS_1
“Jangan suka ngagetin orang napa sih!” Aku memukul punggung tangan Neni. Biar saja, rasa sakit itu tak sebanding dengan jantungku yang dua kali nyaris copot karenanya.
“Ya maaf.”
Angkutan umum yang kami tumpangi terus melesat hingga sampai di sebuah desa yang tak jauh dari pusat Kota. Elin memberi kode pada pak sopir agar menurunkan kami di depan sebuah rumah bercat putih. Setelah semuanya beres kami pun beringsut menuju bangunan berbatu itu. Tidak ada tanda-tanda manusia di sini, suasananya sepi sekali.
Tok tok tok.
Tidak ada sahutan.
Tok tok tok.
“Kok sepi ya?” Kata Elin seraya melirik-lirik ke seluruh seantero bangunan.
Dor dor dor!
Dor dor dor!
Dor!
“Astaga Neni! Kau gila ya?”
“Neni apa-apaan kamu? Yang sopan dong kalau sedang bertamu!”
“Jangan sampai gara-gara kamu kita diusir ya!”
“Ya habis? Ga dibuka-buka sih.”
Bodoh! Neni bodoh!
Bisa-bisanya dia menggedor pintu rumah orang kasar malam-malam begini. Tamu macam apa makhluk satu ini? Rasakan! Pasti kali ini dia sudah kenyang dengan omelan kami.
“Kita tunggu saja sebentar lagi.”
Ceklek.
“Maaf mencari si-“
“Loh Chevani?”
Pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya menyembul dari dalamnya. 30 detik sudah berlalu setelah peristiwa gedoran maut tadi dan kali ini sang empunya gedung sudah membukakan pintunya untuk tamu yang tak diundang.
...***...
Bersambung
Like & comment 😍
__ADS_1
Follow ig aku yuk
wandahandayani24