
Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi yang tertinggal di dalam mobil kami pun segera beranjak dan masuk ke dalam rumah. Refa tak berkicau lagi kali ini, dia masih fokus memegangi bokong bulatnya itu pasca terjungkang di jalan tadi.
Aku memperhatikan seisi rumah untuk mengecek bagian mana saja yang sudah dibersihkan oleh majikanku ini. Harum lantai begitu menyengat di indera penciumanku pertanda bahwa ruang tengah ini sudah bersih dan aku tidak perlu membersihkannya kembali. Kemudian aku berjalan ke area dapur, ternyata bagian buntut rumah ini juga sudah sama bersihnya dengan ruang tamu di depan. Piring-piring juga telah tersusun rapi di tempatnya. Good!
Ohiya ada satu tempat lagi yang belum kucek.
Aku segera beringsut ke area halaman belakang dan kudapati sampah-sampah serta dedaunan yang biasa berserakan di sini sudah berada di dalam tong sampah yang siap untuk diangkut. Aku tinggal memindahkannya saja nanti ke depan pagar agar terlihat oleh abang-abang yang biasa berseliweran di sekitar sini.
Hei hei sungguh aku berasa menjadi majikannya kali ini.
Namun motif apa yang sebenarnya membawa Pak Reno untuk menjelma sebagai jongos di rumahnya sendiri hari ini? Aku sempat mencurigai bahwa ia akan memecatku tapi nyatanya tidak. Apa dia sedang buang tabiat? Uh aku bergidik ngeri.
Aku bermaksud untuk masuk kembali ke rumah dan menidurkan Pricilia di dalam kamar. Namun belum sempat aku melangkahkan kaki ponselku bergetar panjang pertanda ada panggilan masuk di sana.
“Halo.” Sapaku setelah menekan tombol hijau pada layar yang tertera nama Elin di atasnya.
“Kamu dimana?”
“Di rumah majikanku. Kenapa?”
“Aku dapat kabar bahwa satu jam lagi akan ada pembagian pesangon terakhir untuk para pekerja bar. Ayo kita kesana!”
“Ohya? Kenapa tidak seperti jam biasa saja?”
“Aku juga tidak tahu.”
“Ini masih jam bekerjaku di rumah Pak Reno. Bagaimana ya?”
“Saranku kau minta izin saja untuk pulang lebih awal hari ini. Kau justru tidak mau kan kalau sampai tidak kebagian rupiah?”
“Hum benar juga. Baiklah akan kucoba, terimakasih banyak untuk informasinya.”
Tuuuut.
Haduh bagaimana ini? Aku baru saja dibelikan barang-barang mahal oleh Pak Reno bahkan aku juga dibawa jalan-jalan olehnya ke taman tadi. Apakah mungkin aku meminta izin lagi untuk pulang lebih cepat hari ini? Ah! Kesannya aku seperti ngelunjak. Sudah dikasih hati malah minta jantung. Namun di sisi lain aku juga tidak mau kehilangan gajiku selama hampir satu bulan full begitu saja. Mau makan apa Pricilia dan mertuaku nanti? Bisa mati mendadak mereka karena kelaparan.
Ya sudah dari pada aku pusing menerka-nerka lebih baik kutemui saja majikanku itu. Jika nasib baik memang masih berpihak, pasti ia akan mengizinkan jongosnya ini untuk pulang lebih awal.
Aku pun kembali menyembulkan diri ke dalam rumah dan mencari sosok Pak Reno di sana.
“Pak.” Aku memanggil takkala mendapatkan majikanku sedang menonton televisi di ruang tengah.
“Hmm.”
__ADS_1
“Anu pak itu."
“Anu apa?”
“Eum anu pak.” Aduuuh kok susah seklai sih mulutku ini berbicara.
“Kuperhatiakn sedari tadi kau berucap anu-anu. Memangnya ada apa dengan anumu hah?”
Astaga! Otakku mendadak travelling gara-gara ucapan Pak Reno barusan.
“Bu- bukan pak. Maksud saya, boleh tidak hari ini saya pulang lebih awal?”
“Oh jadi sementang rumah ini sudah kubersihkan lalu kau ingin lepas tanggung jawab begitu saja?”
“Tidak begitu pak. Aku harus segera mengambil pesangon kerjaku sebagai tukang cuci di tempat lain.”
“Pesangon?” Kedua alis Pak Reno saling tertaut. “Kau dipecat?”
“Eum bukan hanya aku saja namun semua dari kami.”
“Kenapa?”
Majikanku ini tampak mulai kepo dengan urusan babunya. Aku pun menceritakan peristiwa yang terjadi sebenarnya dari awal hingga akhir. Pak Reno hanya mengangguk tanda mengerti.
“Ya sudah pergilah. Namun sebelum itu buatkan aku dan Refa salad buah terlebih dahulu.”
“Baik pak.”
Yesssss! Akhirnya keberuntungan masih berpihak padamu Chevani.
Aku langsung beranjak menuju dapur untuk membuatkan salad sesuai perintah dari Pak Reno. Mulai dari Melon, apel merah, anggur, pir, jeruk, dan buah naga kupotong-potong menjadi beberapa bagian yang kemudian kulelehi mayones serta menaburkan suwiran keju di atasnya. Yammi, pasti ini enak sekali.
Tak butuh waktu lama salad buah telah mendarat di tangan Pak Reno. Akupun sekalian meminta izin pulang pada pria itu kemudian mengambil Pricilia di dalam kamar dan membawanya keluar.
Jalanan semakin riuh oleh berbagai jenis kendaraan. Aku duduk di bangku sebuah angkutan umum dengan jurusan ke arah bar tempatku bekerja.
“Anaknya ya neng?” Tanya pak sopir padaku yang saat ini berada persis dibelakangnya.
“Wah manis sekali persis kaya ibunya.”
“Ah bapak bisa saja.”
“Ngomong-ngomong suaminya kerja di mana neng?”
__ADS_1
“Saya janda pak.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau begitu saya daftar dong neng.”
“Daftar apaan pak?”
“Daftar jadi bapaknya anak eneng ehehehe.”
Haduuuuh! Ternyata ada ABG tua di sini. Aku yakin sopir satu ini sudah beranak cucu, kelihatan sekali dari rambutnya yang mulai memutih itu. Sudah lah! Aku malas menghiraukannya. Siapa juga yang mau sama kakek beruban seperti dia.
Tidak ada percakapan lagi di antara kami, sang pengemudi pun tak lagi melayangkan banyak gombalan untuk penumpangnya ini. Hingga kendaraan yang kutumpangi pun telah tiba pada tempat yang dituju.
“Kiri pak.” Huft akhirnya terlepas juga aku dari sopir sok muda ini.
Aku beranjak menuju hamparan depan bar dan ikut berkumpul dengan para pekerja yang siap menerima pembagian sembako, ups maksudku pesangon terakhir. Mulai dari penjaga parkir, tukang cuci, para mucikari serta gadis-gadis dagangannya bahkan waria-waria mentel pun sudah memenuhi lokasi bar untuk segera mengambil haknya.
“Aduh cin! Dimana lagi tempat kita nyari lapak nih?” Telingaku tak sengaja mendengar percakapan antara dua orang wanita jadi-jadian yang berada persis di sebelahku.
“Menurut eike kita coba di trotoar jalan aja ya cin, dari pada engga sama sekali. Uang eike udah habis bok, malah skincare udah tinggal koretannya lagi haduuuuuh.”
“Kalau di pinggir jalan mah yang ada cuman anak-anak cencen bok, ga enak bingitz, belum kenyal dagingnya.”
Pffft hahahaha.
Aku terkekeh geli mendengar percakapan dua mimi peri yang tepat berada di sampingku ini. Kelihatannya mereka sedang bingung ingin mencari mangsa di mana lagi.
“Permisi kaka-kaka cantik.” Kataku meminta jalan. Sungguh telingaku bisa pecah bila aku masih terus mendengarkan percakapan sensitif mereka berdua.
“Eh iya silahkan lewat ade manis.” Seorang waria berbando bunga mawar membentangkan tangannya ke arah depan. Oh dia cantik sekali, wajahnya persis seperti dugong-dugong yang sering ditonton oleh Refa pada serial kartun hewan hihihi, aku terkekeh geli.
...***...
Bersambung
Comment, like & vote guys
Dukungan kalian semangat buat aku :)
Sehat selalu yaaa 🤗
__ADS_1