SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
PERMINTAAN BU FARAH


__ADS_3

Dunia seakan berhenti berotasi, matahari mendadak redup dan awan-awan nyaris ambruk dari habitatnya di atas sana. Aku terkejut bukan main seolah ragaku tersambar petir di siang bolong.


Apa tadi katanya?


Menikah dengan Reno?


Ikhlas?


Oh Tuhan aku pasti bermimpi.


Plak!


Plak!


Plak!


Aku mengeplak pipiku sendiri guna menemukan fantasi di bumi ini. Sakit, berarti aku memang sedang bergelayut di alam nyata.


Bu Farah.


Bagaimana mungkin wanita itu mengucapkan sebuah kalimat yang sepertinya sangat mustahil dan sulit untuk dicerna. Bisa-bisanya dia menyuruhku menikah dengan suaminya sendiri. Dia tahu dari mana? Apa Pak Reno sudah membicarakan ini sebelumnya? Dan kenapa ada kata ‘ikhlas’ di sana? Ah kepalaku rasanya mau pecah.


Aku tak berani menatap namun aku terus ditatap dari depan sana. Aku juga baru ingat kalau pintu depan tadi terkunci makanya wanita berambut sebahu itu masuk dari bagian buntut rumah alias pintu belakang. Lagipula kenapa dia tidak marah? Padahal aku sudah siap untuk dieksekusi tadi. Aku sudah mengumpulkan kekuatan untuk diriku sendiri kalau-kalau dia mendadak memukul ataupun menunjangku dari arah yang tak terduga. Namun nyatanya tidak! Bahkan rautnya pun datar tanpa ekspresi. Aku jadi semakin bingung mengartikan ini semua.


“Kenapa mau kan?”


O ouu ada yang kembali bertanya ternyata.


Bagaimana ini?


“Ke- kenapa Ibu mendadak begini?” Tanyaku memberanikan diri dan jangan lupakan bibir menggeletukku yang amat sangat ketakutan.


“Kenapa? Apa kau bingung melihatku yang tiba-tiba menjadi peri baik?”


“Iya.”


Ops aku keceplosan! Tapi memang benar kalau aku ini seolah tak yakin dia menampikkan sikap baik nan tenang.


“Pernikahanku dengan Reno bukanlah sebuah pernikahan yang diinginkan melainkan perjodohan. Mungkin selama ini aku yang terlalu mencintai putra dari Alm. Wira Adiyatma itu, namun tidak dengan dirinya. Aku juga sadar bahwa selama menjadi istri sekaligus ibu bagi anakku aku tak pernah memperlakukan mereka dengan baik. Kerjaanku tak lain dan tak bukan hanyalah melanglangbuana lalu berbelanja. Aku tak pernah menyiapkan makanan untuk Reno dan juga tak pernah mengurus Refa barang sekalipun, kasihan anak itu.” Bu Farah menjelaskan panjang kali lebar, aku semakin terpaku. “Jujur, aku memang sangat benci denganmu karena Reno seakan memberikan perhatian lebih kepada pembantu di rumah ini ketimbang istrinya sendiri. Tapi balik ke awal, wanita sepertiku memang tak pantas mendapatkan cintanya sekalipun rasaku sangat besar terhadapnya. Aku juga sudah tahu kalian pernah pergi ke taman bersama Refa dan juga Pricilia di saat aku tak ada di rumah ini. Aku marah, sungguh! Kala itu aku benar-benar berharap bahwa Reno akan menjemputku di rumah orangtuaku tapi malah dia pergi bersenang-senang dengan seorang wanita yang baru saja menyemplung di dalam kehidupannya.”


Deg!

__ADS_1


Blushh!


Mampus aku.


Jadi Bu Farah sudah tahu tentang itu? Tapi dari siapa? Apa suaminya sendiri yang memberitahu? Ya Tuhan.


“Tapi entah kenapa suatu malam aku seolah terbesit mengenai kesalahan-kesalahanku terhadap kalian. Aku tak pernah merawat Refa dan Reno dengan baik bahkan aku sudah sangat berlaku jahat terhadap pengasuh anakku sendiri alias kau Chevani. Padahal aku tahu sangatlah sulit mencari ibu asuh yang bertanggung jawab dan menjaga anak-anak dengan baik. Aku seolah tertampar dengan keadaan apalagi sewaktu Reno mengeluarkan uneg-unegnya satu hari sebelum aku tersadar dari salahku.”


“Apa? Jadi Pak Reno sudah memberitahu semuanya?” Aku semakin terkejut.


Mampus! Apa saja yang sudah dibicarakannya kepada wanita itu.


“Ya! Dia sudah menceritakannya padaku bahkan di depan mama dan papaku di kampung halaman. Tak perlu kuberitahu padamu apa saja yang sudah dia katakan yang terpenting perkataannya sangat menusuk dan membuatku sadar seketika.”


Aku terpaku, tak mampu lagi berbicara. Aku seolah merasa ada sebuah perekat yang mengunci bibirku rapat-rapat di tempat ini. Jantungku juga tak terkondisikan, tarikan napasku sudah tak terasa ada.


Apa yang sudah dikatakan bapak beranak satu itu pada Bu Farah? Apa dia menceritakan kalau dia juga merawatku di rumah sakit kala itu? Oh Gusti aku merasa bersalah sekali.


“Semua ini sangat berat Che tapi mau tak mau aku harus mencoba untuk ikhlas. Aku ikhlas bila suatu hari nanti kau akan merawat Reno, memasakkan ia saban hari bahkan aku ikhlas bila tubuhmu dijamah olehnya dan kalian memiliki seorang bayi. Dan Refa? Aku harap kau akan menjadi ibu yang baik bagi bocah itu. Meskipun aku tak pernah merawatnya namun apabila aku nanti pergi kuharap kau bisa menjaganya dengan baik, ajarkan dia hal-hal berguna. Kuserahkan dua lelaki yang kusayang terhadapmu, aku ikhlas.”


Aaaaaaaaa siaaaal!


Kenapa perkataan wanita ini tiba-tiba membuat air mataku lolos begitu saja seolah ada gunungan bawang merah yang bersarang di dalam sepasang alat pengelihatanku.


Aku jadi teringat bagaimana sakitnya perasaanku kala itu saat mengikhlaskan Hero menikah dengan perempuan lain dan meninggalkanku.


Tidak! Jangan sampai apa yang kurasa dirasakan oleh perempuan lain lagi, cukuplah aku.


“Aku tak akan menikah dengan suamimu dan aku berjanji akan mengajarimu menjadi seorang ibu meskipun aku juga bukanlah sosok yang amat baik.” Tiba-tiba saja sebuah kalimat penolakan mencelos dari bibirku.


“Apa maksdumu?”


“Aku mohon jangan berpisah dengan Pak Reno dan jangan tinggalkan Refa. Apa kau tahu bahwa selama kau pergi bocah itu selalu menyebut namamu Bu?”


“Jika nanti aku sudah tak berada di sini lagi aku berjanji untuk selalu menjenguknya dan membawakan putraku itu makanan kesukaannya.”


“Tapi yang dia inginkan itu kasih sayang, bukan makanan.”


“Tidak Che! Aku sudah kelewat batas dan lagipula mana mungkin ada lelaki manapun yang ridho memiliki istri durhaka seperti aku ini.”


Aduh kenapa semuanya jadi malah makin berabe? Apa mungkin perpisahan mereka semata-mata karena aku ya? Kalau memang iya maka aku akan menjadi wanita yang sangat berdosa karena telah merusak rumah tangga orang dan membuat seorang bocah lelaki kehilangan sosok ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Ampuni aku Tuhan.


“Ayo ikut aku.”


“Eh eh!”


Tanpa perizinan Bu Farah langsung menarik lengan dan menyeretku ke lantai atas. Entah ingin apa tapi yang jelas saat ini kami telah berada di depan pintu kamar Refa.


Ceklek.


Sang empunya rumah membuka benda persegi panjang yang ternyata tak terkunci itu.


“Sayang kau sedang apa?” Tanya Bu Farah pada seorang bocah yang ternyata ada di dalam sana.


“Atu main pecawat-pecawatan. Mama mau itut?”


“Iya mau tapi kita ngobrol dulu yuk, sini.” Bu Farah menarik lengan Refa dan mendudukkannya dalam pangkuan. Sumpah! Ini adalah kali pertama wanita itu memperlakukan putranya sendiri dengan baik.


“Kau sayang tidak sama Mama?”


“Tanya dong Ma. Mama tayang juga cama atu tan?”


“Sayaaaaang sekali.”


“Hoyeeeee mamatu tayang atuuuu.”


“Kalau sama Ibu Chevani kamu sayang ga?”


“Tayang juga ma.”


“Terus kalau misalalnya Bu Chevani tinggal di rumah ini selamanya kamu mau ga?”


“Mauuuuuu atu tan dadi ada temennnya yeyeye.”


Astagaaa! Fix! Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan dan tujuan wanita ini membawaku ke kamar Refa.


...***...


Bersambung


LIKE & COMMENT

__ADS_1


Konflik nyaris dimulai gaess 😎


__ADS_2