
Malamnya, aku merengkuh tubuh Pricilia erat. Anak manisku ini baru saja selesai dari pekerjaannya berjalan-jalan ria di sekitaran ruang tengah. Udara malam mulai menusuk hingga ke tulang, lebih baik aku menidurkan Pricil dari pada ia harus merasakan yang namanya masuk angin.
Sepertinya sebentar lagi juga akan turun hujan. Kentara sekali dari tiupan anginnya yang jauh lebih kencang dari malam biasa. Selimut tebal kutarik hingga sebatas leher, sesekali tanganku mengusap lembut pucuk kepala Prcilia.
Tok tok tok.
Hei, ada suara pintu diketuk ya?
“Sebentar,” aku menjerit dari dalam kamar. Berjalan terseok-seok menuju pintu depan, guna melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
Ceklek.
“Eh pak RW. Ada apa ya pak?” aku setengah kaget karena ternyata yang datang seorang pria berkemeja marun. Sepertinya dia sendiri, hanya terlihat motornya saja di depan halaman.
“Bapak hanya ingin menitipkan ini,” ia menyerahkan sebuah kertas putih kemudian berlalu pergi entah ke mana setelah berpamitan ke pada warganya ini.
Aku menutup pintu kembali, semoga tak akan ada lagi tamu yang datang untuk menganggu jam istirahat.
“Ini apa ya?” gumamku dalam hati seraya membuka lembaran putih tadi perlahan-lahan.
Spontan aku merasakan atmosfer mencekam, bahkan jemariku pun mendadak menggeletar tidak karuan.
Dari : Demian
To : Chevani, wanitaku.
Ya. Ternyata ini bukan kertas biasa. Aku baru menyadari jika lembaran putih ini adalah sebuah surat yang ditujukan Demian untukku. Rasa penasaran seketika mencuat tak terkira. Dengan cepat aku membuka surat tadi dan membacanya perlahan-lahan.
Dari : Demian
Untuk : Chevani, wanitaku
-
Maaf
Aku terpaksa menitipkan surat ini kepada orang lain
Tak banyak aku ingin berbicara
Hanya sekadar ungkapan pilu dan kata selamat untuk pernikahanmu
Mungkin memang benar kata orang-orang
Bahwa seorang wanita tak akan mampu hidup tanpa harta
Dan aku telah mendapati hal tersebut pada dirimu
Berbahagialah bersama dia yang memiliki segalanya
Kau tak ingin hidup bersamaku yang miskin ini, bukan?
Aku ucapkan terimakasih atas tujuh hari belakangan ini
Hidupku jauh lebih bahagia dengan kehadiranmu, wanitaku
__ADS_1
Aku pamit
Tak perlu kau tahu aku ke mana
Mungkin setelahnya, aku tak akan lagi menampakkan diri di depanmu dan juga suami barumu itu
Sampaikan juga pada Pricilia bahwa aku sangat menyayanginya seperti anak kandungku sendiri
Semoga kau bahagia bersama dia
Wahai bahagiaku
-
Tes
Entah kenapa tiba-tiba saja bumi seolah berhenti dari rotasinya. Aku menghirup napas dalam, mencoba mendapatkan sisa oksigen di dalam ruangan ini. Bulir-bulir kristal mulai mengembun di kantung mata. Apa maksudnya? Demian akan pergi?
Lumpuh. Hanya kata itu yang bisa menggambarkan kondisiku saat ini. Lututku lemas seolah memang tak memiliki tulang. Spontan aku terduduk di atas lantai, memikirkan di mana keberadaan pria itu sekarang.
Apa ini? Mengapa hatiku juga seakan merasakan sakit yang sama? Dadaku seperti ditusuk-tusuk hingga koyak tak bersisa oleh silet tajam. Pikiranku berlayar pada Demian. Kenapa aku seolah merasa tak ikhlas atas kepergiannya?
Bagaimana kalau dia pingsan di tengah jalan?
Bahkan bagaimana kalau dia bunuh diri gara-gara aku?
Ah, semua jadi salah.
Pikiranku sangat tak tenang.
“Maafkan mama. Kita harus mencari Demian ya nak,” putusku pada akhirnya.
Entah dorongan apa yang membuatku melakukan semua ini. Apa pentingnya Demian di hidupku? Tapi aku merasa seolah sudah pernah hidup bersamanya bertahun-tahun, hingga kabar kepergiannya pun menyisakan luka tersendiri di dalam hati.
“Kiri ya Pak,” kataku pada sang sopir setelah kendaraan beroda empat ini melintas tepat di depan rumah sakit.
Langkah kaki kupercepat demi melihat kamar Demian di lantai tiga sana. Tak perduli ada beberapa orang yang tubuhnya kutubruk hingga menyela, yang penting aku bisa segera memastikan keberadaannya.
Ceklek.
Tap.
Kosong.
Oh ya Tuhan.
Aku terlambat. Demian sudah tidak ada di dalam ruangannya. Aduuuh, kepalaku mendadak sakit. Ke mana dia? Sumpah, awalnya aku hanya mengira kalau itu hanya sebuah akal-akalan saja atau ancaman biasa. Ternyata tidak, pria itu benar-benar telah pergi.
“Sus. Pasien atas nama Demian kamar 23 C apa sudah pulang?” tembakku langsung pada seorang wanita berpakaian serba putih yang berdiri di bagian meja administrasi.
Beruntungnya aku masih memiliki sisa energi yang dapat kugunakan untuk segera kembali ngacir dari atas menuju lantai satu.
“Sebentar ya mba,” balas sang suster kemudian menatap sebuah layar putih di depannya. “Pasien atas nama Demian yang orangnya putih tinggi itu kan?”
“Iya. Ke mana dia?”
__ADS_1
“Dia sudah keluar sejak dua jam lalu. Awalnya kami sudah melarang, tapi dia sedang ada keperluan mendadak katanya,”
“Apa? Keluar? Ke mana?”
“Untuk itu, mohon maaf kami tidak tahu mba,” senyum manisnya kubalas dengan muka masam. Aku bingung, panik sekaligus khawatir.
Haruskah kucari lagi?
...***...
Tiga puluh menit telah berlalu. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk kembali mencari Demian. Beruntungnya abang ojek masih mau kuajak berkeliling Kota Batam malam-malam begini. Biarlah membayar agak mahal, asalkan lelaki satu itu dapat segera kutemukan.
Aku melongo, menatap setiap wajah manusia yang kutemui di jalanan. Ya Rabb, sekali ini saja. Pertemukan aku dengan Demian. Entahlah, aku benar-benar khawatir sekarang.
Netraku terus memindai satu per satu paras mereka. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada seorang pria dengan tas di bahu yang tengah memojok sendirian di beranda ruko.
“Mas mas, berhenti!” titahku kemudian langsung turun dari atas motor setelah memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan pada si supir.
Aku berlari menuju pria yang sedang memeluk kedua lututnya di depan sana. Lekat-lekat kuperhatikan, bingkai wajahnya, kulitnya. Fix! Semua sama dengan milik pria itu.
“Demian!” launganku terdengar banter sehingga membuat beberapa kepala manusia menoleh ke arahku, termasuk lelaki itu.
Oh ya Tuhan. Benar. Aku tidak salah kali ini. Itu benar-benar Demian.
“Chevani?” matanya membeliak sempurna, nyaris mencelos dari tempat.
Aku memperhatikan wajah itu. Wajah yang kemarin masih menemani pagi hingga soreku. Pucat pasi, seperti tak memiliki semangat hidup.
“Kau mau ke mana?” tanyaku seraya memindai pahatan Tuhan itu. Bibirnya kelabu, cairan kental dari hidung senantiasa berjalan keluar masuk.
“Apa perdulimu?”
“Kenapa kau berbicara seperti itu?”
Srek srek srek.
Tiba-tiba Demian membangkitkan tubuh dan melangkah pergi tanpa pamit. Aku tercekat, kemana sikap manis yang baru saja ia tunjukkan kemarin?
“Hei tunggu!”
“Apa lagi?” Pria itu menoleh. Rasanya aku sangat iba melihat tubuhnya yang terkulai lemas. Jalannya saja pun sudah sempoyongan, bagaimana hendak melanjutkan langkah?
“Jangan pergi!”
...***...
Bersambung
Holaaaa
Minal Aidin Walfaizin semua :)
Gimana lebaran pertamanya?
Eits
__ADS_1
Jangan lupa LIKE + COMMENT nya juga ya
Semoga kalian sehat selalu 🤗