
Suasana seakan membuat kesenangan tersendiri bagiku yang langsung memiliki pekerjaan dalam sekejap mata. Menurutku, ini merupakan sambutan baik dari tanah ibu kota bagi seorang janda beranak satu seperti diriku. Aku memandang langit, seulas senyum terukir di wajahku saat ini.
Wanita paruh baya itu membawaku ke dalam sebuah bangunan megah yang tak jauh dari tempat pencucian pakaian tadi. Sepasang netraku spontan berbinar, gedung ini tak ada bedanya dengan istana para raja. Eum, sepertinya aku akan betah.
“Kau orangnya penyabarkan?” suara perempuan yang memboyongku ke tempat ini terdengar, matanya menatapku lekat-lekat.
“Iya bu,” kurasa aku cukup mental untuk menjalani segala macam keriuhan di dunia ini.
Wanita itu tak lagi menjawab, dan aku hanya bisa melihat sudut bibirnya yang tertarik sempurna seraya melirikku dari ekor mata.
“Bik Nah, di mana kamu?” teriak wanita itu seraya menarik pergelangan tanganku masuk.
Luar biasa! Aku berdecak kagum takkala seantero bangunan megah ini menyambutku dengan pernak pernik bewarna kuning emas. Luasnya tak dapat dihitung, lukisan-lukisan raksasa seakan menambah kesan elegan dari rumah yang sedang kujejaki lantainya ini.
“Ada di halaman belakang non,” wanita yang disapa sebagai Bik Nah itu datang, ternyata dia sedikit lebih tua dari sang majikan.
Aku dibawa pergi menuju bagian paling buntut dari bangunan ini. Bahkan sampai di titik ini pun semuanya masih terkesan indah. Kerucukan air terdengar takkala langkah kaki kami terhenti di sebuah hamparan hijau yang ditumbuhi oleh pohon-pohon kecil, ternyata di bagian tengahnya ada juga kolam kecil.
“Kak!” ibu tadi berseru kepada seorang lelaki bertubuh balon yang tengah bersantay pada sebuah bangku panjang. Namun entah mengapa, pria itu seolah tak asing. Apa aku pernah melihat sebelumnya?
“Di mana istriku?” lelaki itu berteriak kencang kemudian membalikkan tubuh, sehingga nampak lah paras yang spontan membuat darahku berdesir deras.
Dia?
Ya, itulah yang kulihat. Seorang lelaki berpostur balon dengan pakaian ala-ala preman serta botol dot yang menggantung di lehernya. Entah Tuhan memang sudah menggariskan cerita hidupku seperti ini, atau aku yang pernah membuat kesalahan besar tapi tak pernah disadari. Bagaimana mungkin? Aku baru saja berharap untuk tidak bertemu dengannya kembali satu jam ke belakang. Tapi kenapa sekarang Sang Maha Kuasa menghadiahiku kado seperti ini?
“Perkenalkan ini kakak kandung saya, namanya Ozon. Mulai besok kamu harus datang ke sini maksimal jam tujuh pagi ya. Ah, satu lagi, kamu bisa panggil saya bu Naumi,” wanita yang ternyata satu darah dengan si preman letoy itu berbicara panjang lebar. Aku menghela napas panjang. Bagaimana pun aku juga harus tetap menerima pekerjaan ini mengingat ada Pricilia yang harus dibahagiakan.
Semoga kuat.
Sorenya aku melihat Demian sudah duduk manis di depan beranda rumahnya. Segelas teh hangat menemani pria itu saat ini. Aku yang baru saja memandikan Pricilia langsung melangkahkan kaki menuju rumah sebelah, ia memandangiku dengan seulas senyum.
“Sudah mandi anak papa,” Demian meraih Prici dari gendonganku.
“Bagaimana dengan hari ini?” aku mengibas-ibaskan rambutku yang masih belum terlalu kering. Aroma khas shampoo menyeruak menusuk hidung.
__ADS_1
Lelaki berparas tampan itu tersenyum lalu berkata, “Aku sudah mendapatkan pekerjaan,”
Aku yang masih sibuk memperhatikan Pricilia kini beralih menatap mata cokelat milik Demian. Entah kenapa mendengar ia mendapat pekerjaan menghadirkan rasa syukur tersendiri untukku, sepertinya nasib baik sedang berpihak baik kepada kami berdua.
“Kerjanya tidak perlu jauh-jauh, cukup di depan rumah saja,” lanjutnya yang langsung kubalas dengan mata mendelik.
“Maksudmu?”
“Itu,” Demian melayangkan jai telunjuk ke arah sebuah bangunan setengah jadi yang berada di seberang jalan.
“Kau jadi kuli bangunan?”
“Iya. Tak apa-apa kan?”
Aku tersenyum. Wajah Hero kembali berlarian di dalam kepala. Dulu dia juga pernah bekerja sebagai tukang aduk semen pembangunan proyek, berungtungnya kehidupanku masih terjamin. Lalu untuk apa aku mengeluh jika hal itu terjadi lagi kepadaku? Meskipun dengan pria yang berbeda, aku yakin dia bisa menghidupiku dengan baik seperti Hero dahulu.
“Alhamdulillah,” senyum manis kutunjukkan. Lelaki itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mengusap pucuk kepalaku dan berakhir dengan mencium pipi gembul Pricilia.
...***...
“Panggil saya mas Ozon!”
Uhuuuk!
Nyaris saja air liur menyembur dari mulutku. Apa aku sedang salah dengar? Kakek-kakek seperti dia minta dipanggil dengan sebutan mas. Astaga.
Pagi-pagi sekali aku menyiapkan diri guna menyambut pekerjaan perdanaku di ibu kota. Kata bu Naumi aku tak usah sungkan, tak perlu juga permisi kalau ingin masuk ke dalam rumah.
“Ba- baik mas,” aku menampikkan sebuah senyum terpaksa seraya memindai pandangan dari ujung kaki hingga ujung kepala si Ozon. Katanya dia sakit, namun aku tak menemukan kejanggalan apapun selain sikapnya yang kaya orang gila itu.
“Semoga kau tak seperti Nah ya,” lelaki itu memilin-milin janggut kumis tipisnya. Pakaian ala-ala preman tak lagi ia kenakan beserta dot busuk itu, sebagai gantinya ia menggunakan baju tidur bergambar angry bird serta pita merah di kepala. Sepertinya ada yang ingin mendaftar jadi member cherry belle.
“Oh iya perkenalkan mas, nama saya Chevani dan ini anak saya, Pricilia,” aku beralih pandangan menatap Pricilia yang ternyata ikut menertawakan keanehan mas Ozon. Eh tidak, maksudku Ozon. Tidak sudi aku memanggil dia dengan sebutan mas kecuali di depan orang dan juga keluarganya sendiri.
“Saya tidak suka nama kamu!”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Saya mau panggil kamu adik manis saja,” beberapa kali mataku mengerjap. Jijik. Kenapa sikapnya aneh sekali?
Tiba-tiba saja si Ozon menyodorkan piring yang entah sejak kapan berada di dekatnya. Aku meraih piring tersebut kemudian menuju dapur untuk meletakkannya di atas wastefle.
“Hei aku belum makan apapun,” teriaknya kencang dan langsung membuatku berbalik badan.
“Kalau belum makan kenapa piringnya diberikan ke padaku?”
“Aku ingin kau yang menyuapiku adik manis,”
Mampus!
Aku semakin tak mengerti kenapa bisa Bu Naumi yang begitu cantik dan kaya mendapatkan seorang abang yang sikapnya seperti makhluk jadi-jadian. Helaan napas panjang keluar dari mulutku, terpaksa Pricilia kuletakkan di atas sofa agar aku dapat leluasa menyuapi si kebo gila ini.
“Aaaaaaam,” tangannya meraih sepotong ayam goreng yang terdapat di dalam piring. Dia memperakukan dirinya sendiri layaknya Upin Ipin yang ada di tv-tv, tapi kalau yang ini Upin Ipin kadaluarsa.
Entah cemburu atau mungkin heran melihat mamanya tengah menyuapi bayi besar, tiba-tiba saja Pricilia menoleh ke arahku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aku membalas tatapannya dengan seulas senyum, semoga ia mengerti bahwa mamanya ini sedang bertugas.
“Kamu punya suami?” sebuah pertanyaan yang mendadak mengalihkan perhatianku dari gunungan nasi.
“Sudah,” jawabku berbohong. Terpaksa, aku tak ingin ia mengangguku terlalu dalam. Lagipula sebentar lagi aku akan menjadi istri Demian.
Mendengar ucapanku, pak tua tersebut jadi sedih. Wajahnya sendu kemudian menunduk ke bawah, melihat apa saja yang bisa dipandang mata.
“Sebenarnya ini orang kenapa sih? Pantas saja tadi bu Naumi bertanya padaku apakah aku orangnya sabar atau tidak,”
...***...
Bersambung
Ada yang tau kira-kira si Ozon kenapa?
LIKE & COMMENT
__ADS_1