
“Saya percaya dari cerita Demian bahwasanya dia sedang tidak berbohong. Justru cah ayu ini yang seharusnya berterimakasih kepada Demian karena sudah menyelamatkan anaknya.” Pria yang sepertinya orang penting di kampung ini melanjutkan kalimatnya. Orang-orang sontak mengangguk setuju, beberapa dari mereka nyelonong pergi karena acara jerit menjerit sudah selesai.
“Makanya jangan asal tuduh!” Merasa dibela, si Demian malah mencibirku sekarang.
Aku kesal bercampur malu.
“Terimakasih Pak.” Kataku mencoba menampikkan senyum meskipun masih terpaksa.
“Ohiya saya RT di sini, kalau ada apa-apa kabari saja. Kau bisa tanya rumah bapak pada Demian ya.”
“E- em iya Pak.” Aku memutar bola mata malas. Lebih baik bertanya pada Bu Itah dari pada si ayah gadungan ini.
Syukurlah, entah mau bagaimana lagi mengungkapkan rasa bahagiaku dengan Tuhan. Aku sungguh tak menyangka dapat dipertemukan lagi dengan Pricilia hari ini.
Tak perlu pikir panjang, aku langsung beringsut menuju rumah seraya menciumi dahi Pricilia yang sudah penuh dengan jiplakan lipstik merahku. Namun langkahku terhenti takkala melihat sebuah mobil hitam tiba-tiba nongol di halaman rumah.
Aku dan Demian sama-sama memperhatikan dari tempat ini. Seorang pria bertubuh jenjang dengan pakaian khas kantornya keluar dari dalam sana.
“Pak!” Aku ngacir sambil mencebikkan bibir ke arah Pricilia yang dalam sepersekian detik dijawab oleh mata membulat oleh Pak Reno.
“Pri- Pricilia?”
“Iya. Oh ayolah kita pergi sekarang, nanti kuceritakan di dalam.”
Akhirnya kami pun beranjak ke dalam mobil sesaat sebelumnya aku mengunci pintu rapat-rapat terlebih dahulu. Hatiku girang bukan main, pasti Refa pun akan sama kagetnya dengan Pak Reno.
Aku meninggalkan rumah dengan Demian yang masih kelihatan di bagian depannya. Entah kenapa wajahnya mendadak merah, kedua tangannya juga terkepal. Mungkin sedang kesambet setan dadakan, pikirku.
...***...
“Atu tenang Dek Plicil udah puyang yeyeyeyeyeeee.” Refa melambung-lambungkan lengannya ke udara, senyum sumringah terbit menghiasi wajahnya yang bulat sempurna.
Kata Pak Reno ini adalah sebuah keajaiban. Aku membabat habis waktu di perjalanan tadi untuk bercerita. Awalnya dia sempat mengira kalau aku masih sakit sehingga tak bisa pergi bekerja, namun alangkah terkejutnya pria itu saat mendapati seorang bayi wanita familiar yang tengah terengkuh di tanganku.
Refa pun tak kalah terkejutnya dengan sang Papa. Saat kubuka pintu rumah, matanya langsung menangkap pemandangan Pricilia. Bahkan kalimat bahagia itu tak henti-hentinya ia lontarkan sedari tadi.
__ADS_1
“Mulai sekarang kamu harus jaga Pricilia, karena sebentar lagi dia bakal jadi adik kamu juga.”
“Atu nda akan bialin Dek Plicil hilang lagi!” Kakinya terhentak di lantai. Andai saja kau tahu bahwasanya orangtuamu bercerai dan digantikan olehku, mungkin rasa sayangmu tak akan tumbuh untuk kami nak.
Cukup lama kami bercengkrama di atas sofa bernuansa hitam ini, aku tak ubahnya nyonya dari sang empunya rumah. Kata Pak Reno aku tak usah bekerja, namun mentah-mentah kutolak. Aku masih ingin menghabiskan masa babuku sebelum aku benar-benar menjadi Tuan Putri di tempat ini.
...***...
“Pegang tangan ibu kuat-kuat ya nak.” Pintaku pada Refa sambil melambai-lambaikan sebelah tangan ke jalanan. Siang-siang begini enaknya minum es, maka dari itu aku mengajak kedua bocah ini untuk menikmati segarnya minuman dingin di warung bibir jalan.
Tanpa banyak bicara Refa langsung manut dan akhirnya kami pun sukses mendaratkan kaki di kedai es milik Mas Tejo, langgananku.
“Mas, es campurnya dua gelas ya!” Kataku sesampainya di sana.
Bila memang Refa akan menjadi anakku, maka mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk lebih dekat serta menjalin hubungan layaknya ibu dan anak kandung. Aku tak ingin ada perbedaan antara kasih sayangku ke Pricilia dan Refa, semua harus sama.
Setelah pesanan terhidang, kami langsung menyesap minuman cokelat yang di dalamnya terdapat potongan pisang, pulut hitam, kolang-kaling serta gumpalan cendol yang membuat indra pengecap menitihkan liur. Es campur buatan Mas Tejo memang terkenal paling enak di kalangan kaki lima, setiap harinya ia mampu menghabiskan beratus-ratus gelas tanpa sisa.
“Ahhh tenyang.” Refa mengusap-usap perutnya yang buncit, sesekali ia bersendawa hebat.
Namun betapa terkejutnya karena dalam waktu bersamaan sebuah bariton besar menyela dari arah berlawanan dan nyaris membuat gendang telingaku nyembul keluar. Parahnya lagi sengaja ban mobil tersebut menginjak kubangan lumpur sehingga menyipratkan air hitam ke badanku, Refa dan juga Pricilia.
Mobil yang ditumpangi makhluk tak berperasaan itu berhenti, seorang lelaki berkaca mata hitam dan menggunakan penutup mulut menyembulkan kepalanya dari dalam. Tak dapat kukenali karena setelah itu mobil melesat jauh entah ke mana.
Aku kesal! Tak perlu repot-repot membersihkan lumpur yang melekat di baju, aku langsung menyebrang dan kembali ke rumah.
Di perjalanan batinku mengoceh tiada henti. Setan mana yang memiliki dendam kesumat terhadapku? Sayangnya aku pun tak sempat melihat plat mobil tadi.
“Atu jiji!” Refa mengusap-usap bajunya kasar, berharap baju kotor itu kembali bersih seperti sedia kala.
“Sabar ya bang, nanti kita langsung mandi.”
...***...
Tok tok tok.
__ADS_1
Tok tok tok.
Sesegera mungkin kulangkahkan kaki menuju pintu utama guna melihat siapa yang bertamu malam-malam begini. Namun seketika napasku tercekat, aku tak percaya ia menemuiku kembali setelah kejadian siang tadi.
“Kau! Mau apa?” Tanyaku ketus. Aku sungguh takut dan was-was karena telah menuduhnya sebagai penculik anak, aku juga tak ingin ia mengambil Pricilia dan mambawanya kembali ke rumah sebelah.
“Banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, nona.”
“Tentang?”
Demian tak menjawab. Ia malah duduk di kursi kayu teras rumah tanpa seizinku. Pricilia langsung kugendong dan ikut serta membawanya ke beranda, aku berjanji tak akan lalai dalam menjaga anakku lagi.
“Siapa namamu?” Baru saja aku mendaratkan bokong di atas benda berkaki empat ini, si pria aneh langsung menanyai identitasku.
“Chevani Agra.” Aku menjawab ketus.
“Kenapa kau terlalu lalai menjaga anak kita?”
“Hah?”
“Eh! Em maskudku, anakmu.”
“Oh..” Aku sempat kaget ketika mendengar kata ‘anak kita’ di sana. Namun setelahnya aku langsung menceritakan secara rinci kejadian bagaimana Pricilia bisa hilang dan bertemu lagi denganku saat ini.
Demian pun begitu. Ia memberitahu detail peristiwa dirinya menemukan Pricilia di sebuah pondokan kecil. Katanya aku jangan khawatir karena dia bukan orang jahat, bahkan dia sudah menganggap Pricilia sebagai anaknya sendiri.
“Kemana suamimu?” Sebuah pertanyaan yang membuat telingaku ngilu terlontar begitu saja dari mulutnya.
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1