SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
DUA WANITA ULAR


__ADS_3

Perkataanku yang sedemikian rupa mendadak membuat Demian terkejut bukan kepalang. Selanjutnya rautnya mendidih, kedua tangannya terkepal di atas meja.


“Kau kenapa?” Tanyaku keheranan agak takut-takut. Bagaimana kalau ternyata dia punya sawan babi? Ih ngeri aku.


Satu menit, dua menit, tiga menit, rona merah di wajahnya mulai memudar. Namun ia masih setia memegangi dadanya yang kutaksir sedang sebah. Aku menuangkan air ke dalam gelas lalu kosodorkan tepat di bibirnya, tapi ditolak.


“Ceritakan padaku bagaimana awal mula kalian bertemu!” Demian memasang raut berharap di sana. Sayangnya aku yang tak bisa menerka apa maksudnya hanya dapat menurut untuk menceritakan semuanya.


“Jadi pria yang bernama Reno itu adalah orang yang menolongmu suwaktu kau lari dari rumah?” Tanyanya lagi tanpa perduli jam. Mungkin kami berdua akan dimarahi bos masing-masing karena terlambat kerja.


“Iya.”


“Jangan menikah dengan dia!” Sebuah kalimat aneh terlontar begitu saja dari mulut Demian.


Aku bungkam, tak menjawab apapun dari perkataan pria berkulit bersih itu. Seperti seorang ayah yang melarang hubungan putrinya dengan lelaki lain, ia menatapku penuh harap dari sudut sana.


Luar biasa sekali dia. Bagaimana mungkin aku langsung mata kutu begini? Setelah ayah dan paman hanya ada satu laki-laki yang bisa meruntuhkan tekad bulatku, yaitu Hero. Maka sangat tak mungkin rasanya kalau aku tiba-tiba saja tersentak oleh interupsi Demian tadi.


Kulihat rona wajahnya kembali normal, emosi mendadaknya tadi juga sudah hilang. Aman. Kini saatnya giliran aku yang balik bertanya.


“Aku yang ingin menikah, kenapa kau pula yang melarang?”


Lelaki yang kutaksir memiliki kelainan jiwa ini spontan mendelik. Segera ia mengerjap-erjapkan mata. Seolah baru sadar dari suatu keadaan yang telah membawanya melayang-layang.


“A- aku? Ah lupakan! Ya sudah lah, aku juga sudah kenyang, terimakasih ya.”


Ah, menjengkelkan sekali. Tidak adil! Demian malah ngacir ke depan dan meninggalkan piring bersama sisa nasi serta lauk di atasnya. Aku langsung mengimbangi langkahnya yang kini telah sampai di ambang pintu.


“Sudah kuberi makanan gratis malah tak kau habiskan!” Kataku berdecak kesal.


Demian diam, tampaknya ia masih shock dengan pertanyaanku di meja makan tadi.

__ADS_1


“Kalau nanti siang sepertinya aku belum pulang. Kau pegang saja lah kunci rumahku.” Sebelum ia benar-benar pergi, terlebih dahulu aku mengambil sebuah benda berwarna silver dari dalam kamar lalu menyerahkannya kepada Demian.


“Aku percaya bahwa kau adalah orang baik yang tak mungkin berani mengambil onderdil dalam rumah ini.” Tegasku. Lagipula entah kenapa aku juga yakin sekali kalau pria berponi sedahi ini tak akan berbuat macam-macam.


Demian langsung meraih kunci itu dan ngeloyor pergi. Akan kubuktikan bahwa ia adalah pria baik-baik setelah membiarkan rumah dan seisinya dapat ia masuki dengan bebas.


...***...


“Wah! Akhirnya bersih juga.” Berbekal pengalamanku sebagai seorang babu profesional, akhirnya noda-noda bandel yang melekat di dinding kamar mandi Pak Reno sukses kulunturkan. Sebenarnya aku tak pernah membersihkan kamarnya selama bekerja di sini, mengingat Bu Farah yang melarang. Jadi setelah wanita itu pergi pun, aku tetap tak pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Pak Reno lah yang membersihkan. Tapi kita tahu sendiri lah ya bagaimana kalau seorang pria disuruh mengurus rumah. Ora genah kalau bahasa Jawanya.


Aku pikir aku akan dimarah habis-habisan karena terlambat tadi, ternyata tidak. Justru Pak Reno malah khawatir, takut kalau-kalau aku sakit lagi seperti kemarin. Dia juga menyuruhku untuk membersihkan kamar ini, tak usah sungkan lagi katanya.


Sejenak aku berpikir. Kenapa Bu Farah sampai hati menyia-nyiakan kehidupannya yang mewah bersama Pak Reno. Lihatlah kamar ini! Interiornya tak berbeda dengan kamar hotel bintang lima yang pernah kumasuki dulu sewaktu bekerja. Dan sekarang wanita itu sudah resmi bercerai, kemudian dilanjutkan olehku sebagai istri dari mantan suaminya. Seketika pikiranku melayang, membayangkan bahwa sebentar lagi tubuhkulah yang terbaring di atas sana saban malam. Ah enaknya. Apalagi kalau sambil …


Huss Chevani bodoh! Kendalikan pikiranmu.


“Ibu atu mandi di cini aja ya,” Refa. Bocah empat tahun itu tiba-tiba masuk dan menyempil di dalam toilet. Bermain mobil-mobilan telah menjadikannya lupa mandi hingga siang. Sudah kusuruh dari tadi namun dia tetap enggan.


Lima menit berselang. Akhirnya ritual bermain air kami pun selesai. Aku segera memakaikan Refa dengan baju baru, yang tadi sudah kumasukkan ke dalam keranjang.


Ting nong ting nong.


Bel berdentang pertanda ada tamu.


“Bial atu aja yang bukain pintunya bu.” Sebelum mendapat persetujuanku, Refa langsung berlari ke ambang pintu. Malangnya, ia masih terlalu pendek untuk meraih knocknya.


“Biar ibu saja,” aku segera menggeser tubuh Refa.


Mungkin akan biasa saja kalau yang datang adalah orang asing yang tak kukenal. Namun kali ini? Kaget bukan main rasanya. Dua orang wanita berpakaian kantor memasang raut sinis di depan sana.


“La- Lani?” Aku terlampau kikuk.

__ADS_1


Mampus! Kenapa dua wanita ular ini bisa datang ke rumah Pak Reno? Mau mencari sang empunya gedung atau memang ingin mengeksekusiku seperti kemarin? Tapi aku tak boleh suuzon dulu, siapa tahu memang ada yang penting.


“Sini kau!” Lenganku ditarik oleh Lani sehingga membuat kakiku juga terikut dengannya. Elbra si dara rambut cokelat itu pun langsung menyusul dari belakang sana.


“Kami tidak perlu basa basi! Cukup jauhi Pak Reno atau hidupmu yang akan menderita?” aku terhenyak. Perkataan Lani seolah belati yang tiba-tiba dilempar dan menancap di dadaku. Segera kuserap semuanya, namun kelihatannya ada yang tidak sabar.


“Sini kau! Sini!”


“Aduuuuh awww aduh,”


Si jelita berbodi gitar spanyol ini tiba-tiba menarik rambutku hingga tercabut sampai ke akar. Wajahnya memerah. Aku tak menyangka karena kemarin dia hanya mesem-mesem licik tanpa bersuara.


“Pak Reno itu hanya boleh dimiliki oleh Elbra seorang. Bukan wanita lain! Apalagi pembantu bodoh sepertimu!” Ya Rabb di mana kesopanan perempuan berpendidikan ini, aku memang babu, tapi tak pantas rasanya untuk dihina.


Aku menahan jemari halus yang mencengkram rambutku dengan kuat. Perempuan ganas. Apa salahku sampai disiksa begini.


Mungkin Elbra ini kekasih adalah Pak Reno dan mereka telah mendengar berita pernikahan kami. Tapi tak dapat juga dipastikan, karena yang kutahu selama bersama Bu Farah, pria itu tak pernah mendekati wanita lain selain aku.


“Dacal olang gila talian cemua!”


Bugh!


“Aduuuuuuh kepalaku,”


...***...


Bersambung


Sebenarnya Elbra itu siapanya Pak Reno sih?


LIKE & COMMENT

__ADS_1


Yang bener aku post dua bab hari ini


__ADS_2