SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
CERITA SETELAH MENIKAH


__ADS_3

“Emppph aduuuh,”


Kini, setiap pagi aku harus merasakan yang namanya pegal-pegal karena pekerjaan baru yang kulakoni pada malam hari. Saban harinya sehabis bangun tidur aku juga harus menyingkirkan benda raksasa yang merengkuh tubuhku dengan posesif. Ya, apa kalian tahu? Aku sudah menikah dari satu minggu yang lalu.


Tidak ada pesta, tidak ada tamu undangan. Semua digelar di sebuah kantor urusan agama yang hanya dihadiri oleh saksi. Tak apa, lagi pula kami pendatang baru di ibu kota. Lalu siapa yang akan mengenal? Kecuali Ibil, namun aku tak sudi untuk menghadirkan wanita ganjen itu di pernikahan kami.


“Uh, kau sudah bangun sayang?” Demian menggeliat takkala tubuhku bangkit dari atas ranjang. Tak ada bedanya dengan Hero, ia selalu saja memaksaku untuk melakukan senam ranjang tanpa ampun. Untung saja lawannya ini juga kuat, jadi aku bisa mengimbangi permainannya, hihihihi.


“Kau bangun juga lah! Kerja.” kataku seraya mengusap-usap dahinya lembut. Beruntung, satu hari setelah pernikahan kami Demian diterima sebagai juru masak di sebuah café. Dia tidak bisa memasak, bahkan hanya untuk menggoreng telur saja pun gosong. Namun pihak café tersebut yang mengajari dia, karena kebetulan tempat itu baru saja buka dan Demian adalah orang pertama yang paling beruntung mendapatkan posisi sebagai cheff. Entah pengajaran seperti apa yang diterapkan di sana, hingga saat ini dia dengan lihainya pria itu dapat memasak apapun yang kuminta.


Aku bangga pada Demian.


“Ke mana anakku?” serunya lagi dengan suara khas orang bangun tidur. Tubuhku sudah terbebas dari rengkuhannya, hanya saja tangan kokohnya itu masih senantiasa bergelayut di lengan kiriku.


“Ini di sebelah,” aku menoleh ke arah Pricil yang masih berlayar di alam mimpi.


“Aku mau lagi,”


“Mau apa?”


“Mau kamu,” sebuah jawaban yang membuat tubuhku langsung tersentak kaget. Secepat kilat aku berdiri, tak ingin menjadi santapan Demian pagi-pagi buta begini. Cukup lah tadi malam, di mana aku harus rela menahan kantuk demi memenuhi panggilan seorang suami.


Demian tak mengejar, ia hanya melempar tawa padaku yang sudah keluar dari dalam kamar. Sudah menjadi kebiasaanku untuk bangun lebih awal setelah menikah, meskipun Demian adalah seorang koki, namun bukan berarti dia juga yang memasak untuk keluarga setiap hari. Aku juga harus ikut berperan.


...***...


“Duh cape!” seorang wanita muda mendaratkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar. Anak rambutnya terjuntai menutupi sebagian pipi, rona kemerahan menyemburat di sana.


“Baru pulang Al?” tanyaku pada gadis berkemeja putih yang sedang terengah-engah itu.


“Iya mba,”


Aku tak lagi menjawab, membiarkan Alya si ponakan bik Nah mengistirahatkan diri di atas benda berwarna hitam terebut.

__ADS_1


Alya itu gadis cantik, muda pula. Usianya yang masih terbilang sangat anom, menjadikan wajahnya begitu enak untuk dilihat, persis seperti raut kanak-kanak. Kalau kata orang sih, baby café. Sepuluh hari sudah dia tinggal di sini ikut membantu pekerjaan bik Nah. Namun sayang, semakin hari aku semakin melihat roman-roman malas yang keluar dari dirinya. Waktu itu dia yang selalu mencuci piring, namun sekarang pekerjaan itu sudah kembali ke pada sang sesepuh alias bik Nah. Selain itu sopan santunnya juga kurang, aku saja yang sudah lebih dulu bekerja tidak pernah berani duduk di atas sofa kebesaran di rumah ini. Lah, dia yang baru seumur jagung ada di sini saja sudah lancang. Kalau bu Naumi tahu, pasti langsung dimarahi.


“Eh turun!” tiba-tiba saja suara Ozon terdengar dari penjuru lain. Baik aku dan Alya sama-sama menoleh, melihat pria yang tengah melayangkan jari telunjuk ke arah seseorang yang tengah bersantay di atas sofa.


Tuh kan, baru juga dibilang.


Alya sadar kalau perkataan Ozon itu untuk dirinya. Namun siapalah Ozon bagi wanita itu? Ia tidak menggubris, tetap membiarkan dirinya berlabuh di atas sana.


“Al, turun gih.” seruku mengingatkan. Bukannya ikut campur, aku hanya tidak mau Ozon mengamuk karena hal ini. Soalnya laki-laki itu suka marah ga jelas.


“Nanti ya om aku turun, cape banget nih,” gadis berseragam putih abu-abu itu mengibaskan kedua tangannya ke arah wajah. Tampak keringat yang mengembun di bagian leher.


“Sekarang!”


“Ntar lagi,”


“AKU BILANG TURUN YA TURUN!”


Blushh!


Sudah kuduga bila lelaki ini akan berakhir dengan amarah. Alya terlalu bandel, tak mendengar cakapku sebagai orang yang lebih mengetahui bagaimana pribadi Ozon.


“Dasar orang gila!” wanita itu mendengus kesal kemudian melewati Ozon begitu saja. Kalau dipikir-pikir dia dengan Ibil banyak memiliki persamaan, sama-sama masih pelajar, sama-sama memiliki pribadi yang buruk dan sama-sama membuat diriku eneg.


“Ga suka sama dia!” Ozon terus saja mengoceh tiada henti. Untung saja telinganya tak menangkap kalimat terakir Alya, kalau tidak, bisa tambah ngamuk dia.


Perempuan itu bisa memperlakukan Ozon sekenanya karena pribadi aneh dari pria ini. Kasihan, padahal dia sangat tersohor dulunya. Lihat lah! Gamis marun yang begitu indah membalut tubuh gemuknya hari ini. Aku jadi sedih, kelihatannya bu Naumi pun sudah tak melakukan pengobatan apapun lagi untuknya. Kalau kata bik Nah sih, adik kadnung si Ozon itu sudah lelah dengan kelakukan kakaknya.


Tapi selagi masih bisa diusahakan kenapa tidak?


AHA! Aku punya ide.


“Bik Nah, saya bisa nitip Pricilia dulu ga?” aku ngeloyor ke halaman belakang dan mendapati wanita tua itu baru saja selesai menyapu.

__ADS_1


“Mau ke mana?” jawabnya sambil memindai tatapan mata.


“Mau ketemu bu Naumi sebentar saja,”


“Oh yaudah sini. Pekerjaan bibik juga udah selesai kok,” bik Nah merampas Pricilia dari gendonganku.


...***...


“Apa? Memangnya bisa?”


“Ya diusahai aja dulu bu,”


Sepasang netra bu Naumi membeliak sempurna takkala mendengar ucapanku. Wanita itu tampak berpikir, sebelum akhirnya memutuskan sesuatu.


“Oke, saya akan belikan pakaian pria untuknya lagi,” akhirnya kalimat yang kuingini keluar juga.


Aku sengaja datang ke laundry untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Aku ingin mengubah Ozon perlahan-lahan. Mulai dari pakainnya saja dulu. Tadinya aku hanya mengatakan ingin mengambil baju-baju lamanya saja untuk dipilih sebagai pakaian di rumah. Tapi bu Naumi bilang kalau seluruh barangnya sudah entah ke mana sejak satu tahun yang lalu. Maka dari itu, bu Naumi akan membelikan yang baru lagi untuk abang kandungnya itu.


Apa yang tidak bisa kalau Tuhan sudah berkehendak? Menurutku bu Naumi saja yang terlalu cepat menyerah. Padahal dia banyak uang, bisa membayar rumah sakit mana pun untuk kesembuhan kakak kandungnya.


“Tapi kalau dia tidak mau jangan dipaksa ya. Kau kan tahu sendiri kalau Ozon suka ngamuk tiba-tiba,”


Aku mengangguk, bahkan pria itu pun baru saja marah karena perlakuan Alya tadi. Ke depannya, jika Ozon belum ingin menggunakan baju pria, maka aku juga tak akan memaksa. Namun sebisa mungkin aku terus merubahnya untuk kembali seperti dulu. Menjadi Ozon si pria tulen, pintar dan memiliki wibawa.


...***...


Bersambung


Kemarin ada yang bilang kalau cerita ini seru tapi lama update


Sebenarnya engga gitu ya, cerita ini selalu up tiap hari kok :)


Kalian bisa pantengi terus untuk tahu kelanjutannya

__ADS_1


Karena kita mulai memasuki konflik ;)


LIKE & COMMENT yaaa


__ADS_2