
“Eh jangan ke geeran kamu!” Pak Reno menjauhkan tubuhnya dariku.
Yaelah sudah hampir terbang malah dijatuhkan lagi. Eum baiklah, anggap saja tadi lelaki beranak satu ini sedang amnesia dari budaya es baloknya.
“Saya juga tidak ke geeran kok pak.” Jawabku tak mau kalah.
Kami pun kembali berdamai dengan pikiran masing-masing. Matahari kian memusat di pertangahan langit dan membuat hembusan anginnya mulai sedikit terasa panas.
“Papa! Cukinemnya nda jadi dikacih mamam?”
Astaga! Kukira pembahasan tentang Sukinem sudah habis, ternyata belum. Huft! Apa si tabung gas satu ini tidak melihat bahwa benda itu adalah boneka? Seharusnya dia tahu kalau boneka itu tidak hidup bukan? Ck!
“Sayang.” Kata Pak Reno seraya mengelus lembut puncak kepala puteranya itu. “Yang kamu bilang Sukinem itu adalah sebuah boneka. Dan boneka ga perlu makan.”
“Tenapa?”
“Karena boneka adalah benda mati dan dia akan selalu seperti itu meskipun tidak diberi makan.” Heum lihat lah Refa! pemikiran aku dan papamu itu sama.
“Tapi badannya becal. Badantu becal dan atu matan.”
“Iya sayang karena kamu adalah makhluk hidup.”
“Yang kalau tidak diberi makan akan mati.” Aku menyela.
“Aku sedang tidak berbicara denganmu bodoh, diam kau!” Seseorang menatapku sinis dari arah berlawanan.
Ou ou sepertinya aku salah bicara lagi. Oke baik lah, ke depannya aku akan lebih berhati-hati lagi.
“Talo cukinem nda matan belalti dia nda mati ya Pa?”
“Iya sayang betul. Ah ya sudah lah mari kita pulang.” Pak Reno membangkitkan tubuh puteranya yang masih anteng dalam pangkuan. Dapat kutebak bahwa sebenarnya ia sudah mulai malas meladeni ocehan si bocah balon itu terlebih lagi jika yang dibahas adalah perihal Sukinem.
“Mari.” Kataku kemudian mengikuti langkah Pak Reno menuju mobil.
...***...
Di perjalanan
Sedari tadi Refa terus berusaha mengusili anakku yang mulai terlelap dalam gendongan. Si gendut itu mendekatkan posisi tubuhnya ke jok depan, sesekali tangannya menarik kaki Pricil hingga membuat kaus kaki yang dikenakannya terlepas dan jatuh ke bawah.
__ADS_1
“Jangan dong bang kasihan dek Pricilnya.” Kurasa ini adalah kali ke sepuluh aku melarang si tabung gas itu agar tak mengganggu anakku.
“Dek Plicil nanti tita main mobin-mobinan di lumah ya.”
“Iya bang nanti main sama adek Pricil ya, tapi sekarang biarkan dek Pricilnya tidur dulu oke.”
“Atu nda nomong cama ibu, atu nomong cama dek Plicil.” Refa memanyunkan bibirnya bak ikan cucut.
Lagipula dia ada-ada saja. Anakku ini baru berusia delapan bulan, mana mungkin ia bisa berbicara. Sedangkan si tabung gas itu saja yang sudah berusaha empat tahun bicaranya masih belum jelas juga apalagi Pricilia yang usinya masih seumur jagung.
“Pricilia belum bisa berbicara. Sudah lah kau diam saja, papa pusing sedari tadi mendengar omonganmu!” Pria yang sedari tadi fokus menyetir akhirnya pun angkat bicara. Hihihi baguslah! Akhirnya terwakili juga isi hatiku ini.
“Dek Plicil mau bobo ya bu?”
“Iya sayang.”
“Atu mau nyanyi buat dek Plicil.” Refa memfokuskan tatapannya ke wajahku. Huft! Kali ini apa lagi yang akan dilakukannya? Mengeluarkan suaranya yang cempreng seperti kaleng rombeng itu? Ya Tuhan tolong jagakan telinga anakku dari dengkingan paus laut satu ini. Aamiin.
“Kamu mau nyanyi lagu apa sayang?” Tanyaku pura-pura manis.
“Eummm, atu mau nyanyi bintan tecil.”
“Ya sudah, menyanyi lah.”
Bintan tecin di langit yang bilu
Amat banyak menghias angkasa
Atu ingin telbang belcamamu
Jauh ting-
Ciiiiiiit.
Gedebuk!
“Refa, ck!”
Mobil mengerem mendadak. Aku sontak membuang pandangan ke arah kemudi guna mencari tahu apa penyebabnya. Tak butuh waktu lama, mataku menangkap seorang pria sedang menutup keras-keras sepasang telinganya dengan kedua tangan. Alisnya saling tertaut, giginya juga menggelatuk. Fix! Pasti manusia satu ini sedang marah.
__ADS_1
Tak hanya itu, dalam detik berikutnya aku juga mendapati sebuah buntelan kapas terjerembab dan nyungsep ke bagian bawah jok mobil. Refa, bocah tengil itu terjungkang saat papanya sendiri menghentikan mendadak kendaraan yang sedang kami tumpangi. Posisinya sat ini sangat pelik, kaki di kepala, kepala di kaki. Astaga!
“Aduuuuuh toyong atuuuu!” Pekikan paus laut memecahkan telingaku. Aku sontak membalikkan badan kemudian meraih tubuh tabung gas itu sebisa mungkin.
“Aduh sudah sekali.”
Bugh.
Suara pintu mobil terbuka.
Pria yang berada di sebelahku menyebulkan diri ke arah luar kemudian membuka pintu bagian belakang dan meraih tubuh Refa di sana. Badannya yang lumayan bulat seperti gentong air itu membuat Pak Reno sedikit kesulitan untuk mengevakuasi anaknya sendiri.
Pak Reno terus menarik tubuh Refa yang terjepit secara paksa hingga terangkat lah dia walaupun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Di belakang sana, deretan kendaraan lain telah menunggu seraya menghadiahi kami dengan bariton klakson yang membuat gendang telinga ingin mencelos.
“Aduh aduh takiiiit.” Refa mengeram kesakitan seraya memegangi bokongnya yang gembul. Pak Reno telah kembali ke jok kemudi lalu menancap kembali laju mobil ini.
“Lagian papa kamu keterlaluan.” Sudah jelas-jelas anaknya sendiri tidak pakai seatbelt, lalu mengapa ia harus mengerem mobil secara mendadak huft!
“Kau tidak usah menyalahkanku. Salahkan saja anak asuhmu itu, suruh siapa dia menjerit-jerit kaya setan kejepit!”
Ck dasar si Reno! Kemana saja dia selama ini sampai-sampai tidak menyadari bahwa ia mempunyai seorang anak yang suaranya seperti paus laut! Baru beberapa jam saja sudah tidak tahan, bagaimana dengan aku yang setiap harinya menghadapi Refa?
Majikanku itu terlihat masih kesal dengan sikap puteranya sendiri. Aku tak lagi bersuara, mungkin membiarkan ia dingin dengan sendirinya adalah pilihan yang tepat.
Mobil terus melaju hingga dalam 30 menit berikutnya kami sukses mendaratkan kendaraan beroda empat ini di garasi tempat biasa ia bermukim.
“Yeaaay kita sudah sampai sayang.” Kataku seraya menepuk-nepuk bokong Pricil lembut. Gadisku ini memang selalu anteng jika dalam gendongan, sesekali ia hanya menggeliat jika sudah merasa lelah dan ingin tidur.
Aku mengambil beruang gendutku dari dalam mobil yang disusul oleh Pak Reno dari arah belakang. Ia juga mengambil mobil mainan Refa dari dalam sana.
“Sekali lagi terimakasih banyak ya pak atas baju-baju dan boneka ini.” Kataku tersenyum sumringai.
“Kau tidak usah kegeeran. Aku hanya kasihan melihat semua pakaianmu tidak ada yang bagus. Dan boneka itu, itu buat Pricil bukan buatmu!”
Aish terserah kau sajalah Pak. Bilang saja kau malu mengakuinya! Aku bergeming di dalam hati. Tidak ada gunanya juga meladeni manusia es balok seperti dia, lebih baik aku masuk ke dalam dan bermain dengan boneka baruku.
...***...
Bersambung
__ADS_1
Comment, like & vote guys
Semoga kalian sehat selalu 🤗