
“Ayo! Aku akan segera mengantarmu pulang.”
Malam ini di sebuah ruang berkelir putih. Aku duduk di atas brankar seraya merapikan isi tasku yang siap untuk dibawa pergi dari tempat ini. Kata dokter kondisiku sudah pulih dan aku boleh pulang ke rumah sekarang juga. Sebenarnya Pak Reno sudah melarang dan memintaku untuk kembali besok pagi saja, namun rasa bosan yang sempurna bergelayut di dalam diri membuat aku menolak saran dari bapak beranak satu itu.
“Ibu becok udah datang lagi ke lumahtu tan bu?” Refa menggais sebuah motor-motoran kecil dari kolong brankar. Seharian suntuk kerjaannya hanya bermain di dalam kamar ini.
“Belum.” Tiba-tiba sang ayah menyela dari arah kiri. “Tunggu benar-benar pulih dulu.”
“Papa papa atu tangen banget cama Dek Plicil.”
Deg!
Oh putriku malang.
Kenapa si tabung gas 12 kilo ini harus menyebut nama anakku lagi di sini, kan aku jadi teringat.
“Shhhht! Sudah mari kita pulang.” Pria bertubuh tegap itu meraih sebuah tas merah besar seraya memberi kode padaku untuk segera mengikutinya.
Jujur, aku sangat merindukan anakku Pricilia. Entah bersama siapa dan sedang di mana bocah itu saat ini. Aku hanya berharap semoga Sang Maha Kuasa memberi perlindungan kepada putri sematawayangku itu.
Sebenarnya ingin sekali rasanya aku menemui manusia keji yang pertama kali telah mengambil Pricilia dari dalam toko kemarin. Kalau ketemu pasti wajahnya sudah kucakar-cakar hingga koyak kemudian langsung kukukus dia di dalam panci. Namun apa boleh buat, wanita itu sudah berada di dalam sel ketika aku masih terbaring lemah di rumah sakit.
“Refa kau duduk di belakang!” Kali ini suara Pak Reno terdengar menginterupsi.
Banyak hal yang kuherankan dari pria beparas menawan satu ini. Selama berada di rumah sakit dia adalah manusia satu-satunya yang setia menemani bahkan sampai rela mengorbankan pekerjaannya demi menjelma menjadi ibu asuh baruku. Tak satu pun jadwal makanku terlewat oleh suapan dari tangannya sendiri. Pak Reno mendadak baik, perhatian yang ia berikan tak ada bedanya dengan cara Hero mengurusku sewaktu sakit dahulu.
Pernah satu kali kutanya mengapa lelaki kutub Selatan seperti dia bisa memperlakukan jongosnya sedemikian baik. Namun sayang, kala itu Refa tiba-tiba nyelonong masuk dan langsung memeluk tubuh papanya itu sehingga membuat obrolan kami jadi terhenti.
Ah! Andai saja dua orang asing ini merupakan bagian dari keluarga kecilku. Pasti aku akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
“Turun!”
Eh! Sudah sampai rupanya.
Astaga aku baru sadar kalau selama di perjalanan kami hanya berlayar pada pikiran masing-masing.
Pak Reno memboyong tas gedeku dan langsung meletakkan di depan beranda. Jantungku jedag jedug karena dalam hitungan detik berikutnya wajah reot nenek lampir akan kembali terpampang nyata di netraku.
Ceklek.
__ADS_1
“Oh sudah pulang rupanya.”
Tuh kan bener. Dia ngebuka pintu sebelum diketuk. Fix! Pasti udah ngintip duluan dari balik jendela tadi.
“Terimakasih karena sudah mengantar menantuku pulang ya den anom.” Bu Lastri tersenyum manis ke arah Reno.
Idih! Kenapa dia sok manis begini sih.
“Ibu dangan campai ga dateng ke lumah atu ya. Nanti cukinemnya buat atu loh.”
Hahahaha pintar sekali bocah satu ini. Aku jadi lupa kalau aku punya beruang gendut yang teronggok di rumah Pak Reno.
“Iya sayang. Terimakasih kamu sudah menemani ibu selama ini ya.” Kataku seraya mengelus puncak kepala Refa.
“Kalau begitu kami pamit dulu, permisi.”
“Terimakasih banyak pak dan hati-hati.”
Aku menutup pintu sesaat setelah kendaraan hitam beroda empat itu menghilang dari pandangan. Seketika suasana berubah mencekam, rumah ini tak ada bedanya dengan goa hantu yang sering kukunjungi dahulu di pasar malam.
“Ibu macam apa kau ini!”
Blush!
“Tidak ada satu pun ibu yang menginginkan anaknya menghilang, ini musibah.” Aku meletakkan tas gede itu di atas kursi kayu. Butuh tenaga ekstra untuk berbicara dengan mak lampir satu ini.
“Musibah katamu? Dasar kau saja yang teledor! Tak pandai mengurus anak!”
Hening.
“Kenapa kau tak menjawab hem? Sudah merasa bersalah?”
“Aku sedang berduka dan seharusnya mama memberi semangat, bukan menghujat!”
“Siapa yang sedang menghujatmu? Aku juga berbicara fakta.”
Aku diam, malas meladeni gerandong bertaring tajam itu. Sebenarnya ingin sekali rasanya aku mengistirahatkan diri di dalam kamar. Di sana banyak mainan Pricilia yang tidak menutup kemungkinan akan mengobati rasa rinduku kepadanya.
“Kau ini memang tak pantas menjadi ibu. Bisa-bisanya anakmu hilang dan kau sama sekali tak merasa beban! Sekarang di mana dia? Entah masih hidup atau pun mati kita tak ada yang tahu. Aku menyesal telah menikahkanmu dengan putraku Hero.”
__ADS_1
Plak!
Plak!
Plak!
Sepasang mataku sontak membeliak sempurna takkala mendengar penuturan terakhir dari Bu Lastri. Tak pantas menjadi ibu katanya? Lalu makanan apa yang kuberikan kepada Pricil selama ini? Batu? Ah! Emosiku mendadak naik.
Sakiiiiit!
Hatiku perih sekali!
“Tak ada beban katamu ma? Apa kau tahu aku berhari-hari di rawat karena apa? Ya karena memikirkan anakku, aku drop. Dan kau? Lihat lah dirimu! Selama ini kau tak pernah membantuku merawat Pricil bahkan sekedar untuk menimang cucumu itu pun tidak. Aku terpaksa membawanya pergi bekerja dan ketika dia sudah menghilang begini kau masih bisa menyalahkan ku? Hei di mana otakmu hah!” Darahku mendidih. Aku sudah tak tahan lagi, mungkin ini lah saatnya kukeluarkan uneg-uneg terpendamku selama ini.
“Jaga mulutmu Chevani!”
“Dan lihat lah betapa teganya kau pada menantumu ini. Aku sakit karena lelah memikirkan keberadaan anak dari putramu itu. Dan kau ke mana? Barang sedetik pun tak ada kau menjengukku di rumah sakit apalagi kalau harus memberi semangat. Tidak ada ma, tidak ada!”
“Jangan kau kira aku juga tak pernah berkorban ya! Aku sudah mengizinkanmu untuk tinggal di rumah ini. Dan kau harus ingat itu!”
“Apa? Apa katamu? Apa kau tahu alasan apa yang membuat aku bertahan di sini? Sumpah demi apapun semata-mata hanya karena aku sayang meninggalkan kenanganku di tempat ini bersama Hero. Kau kira semua ini karena aku tak mampu memiliki rumah lain? Oh sungguh! Memberimu makan selama berbulan-bulan saja aku sanggup apalagi hanya untuk menyewa rumah di Kota ini.”
Plak! Plak! Plak!
“Menantu kurang ajar, mampus kau!”
Bugh!
Pandanganku mendadak buyar, sekujur wajahku rasanya pedas bukan main. Apa aku tak salah merasa? Dia menamparku berkali-kali kemudian meninju dadaku hingga menyesak sampai ke tulang.
Ya Tuhan.
Bunuh saja aku sekalian.
...***...
Bersambung
Author nulisnya sampe emosi sendiri wkwk
__ADS_1
Btw like & commentnya jangan lupa ya :)
Semoga kalian sehat selalu 🤗