SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
KERUWETAN HARI PERTAMA


__ADS_3

“Mau yang mana mbak?”


“Itu.” Wanita muda tersebut menunjuk sebuah brownis cokelat yang terpajang di dalam steling.


“Yang ini seratus lima puluh ribu.”


“Kalau yang satunya lagi?” Dia menunjuk bolu yang disebelahnya.


“Dua ratus lima puluh ribu."


“Yang agak kecilan itu?”


“Yang itu seratus ribu. Jadi mau beli yang mana?”


“Tidak jadi!”


Oh astaga Tuhan!


Ternyata dia hanya iseng bertanya setiap harga dari bolu-bolu ini.


“Kenapa?” Tanyaku seraya menautkan sepasang alis.


“Semuanya mahal!” Si perempuanpun sontak pergi.


Kurasa dia sudah gila! Memangnya masih ada harga brownis seharga dengan bolu kapas? Dasar dianya saja yang tidak punya duit. Uh aku jadi kesal sendiri!


Aku membungkukkan badan guna melihat bandrol yang sebenarnya sudah tertera di dalam wadah kaca tersebut. Menurutku semuanya standar, tidak ada yang mahal juga tidak ada yang terlampau murah.


“Sayang kita mau beli yang mana?” Tiba-tiba saja alunan suara serak terdengar dari arah depan. Aku menoleh, ternyata ada sepasang kakek dan nenek renta yang barusan saja menyembulkan diri ke tempat ini.


“Hai kek, nek. Ada yang perlu dibantu?” Kataku seraya menyunggingkan senyum sumringah.


“Ah begini. Aku dan istriku akan merayakan wedding anniversarry yang ke 50 tahun. Bisa kau pilihkan mana yang terbaik untuk kami?”


Aduuuuuuh! Hatiku teriris mendengarnya. Awet sekali pernikahan mereka. Sedangkan aku? Jangankan untuk langgeng, dapat bertahan dua tahun sajapun tidak.


“Menurutku yang ini saja.” Aku mengambil sebuah bolu berkelir biru muda yang di atasnya terdapat sepasang boneka barbie.


“Tidak cantik.” Kata si kakek.


“Kalau yang ini bagaimana?” Sebuah brownis cokelat berbentuk love kuhadirkan di hadapan keduanya.


“Terlalu gelap.” Kali ini si nenek pula yang berbicara.


“Ya sudah kalau begitu dilihat-lihat saja dulu. Aku akan menunggu di sini."


“Oh tidak tidak! Kau yang harus memilihkannya.”


Heum! Aku menghela napas kasar.


“Ini sangat besar dan cantik. Bagaimana?” Aku menunjuk sebuah bolu merah muda bertingkat tiga di pojokan sana.


“Terlalu besar! Bisa kelolotan istriku kalau makan yang itu.”


Oh ya Tuhan! Jadi mau yang mana?


Sudah tiga bolu kutawarkan pada mereka tapi tidak ada satupun yang cocok. Padahal katanya biar aku saja yang memilih.

__ADS_1


Oke ini yang terakhir.


“Kalau begitu yang ini saja.” Sebuah bolu ulang tahun anak kuberikan pada mereka. Mungkin melalui kue berwarna pelangi ini keduanya dapat mengingat masa kecil dimana kala itu gigi mereka masih tertata rapi tanpa lubang sedikitpun.


“Ou ou itu terlalu anak-anak.”


Mampus aku!


“Hei bagaimana kalau yang biru itu? Sungguh itu sangat cantik. Mengapa kau tidak sedari tadi menunjukkannya?” Sang kakek melaungkan jari telunjuk ke arah bolu berkelir langit. Kue bulat tersebut menampilkan sepasang barbie di bagian atasnya.


Eh apa tadi? Sepasang barbie?


Oh astaga! Itukan bolu yang pertama kali kutawarkan tadi.


Gubrak!


Loadingnya sungguh lama sekali!


Aku menepuk dahi seraya berkata ‘sabar’ pada diriku sendiri. Sungguh kedua orang tua renta ini sudah agak pikun. Aku tak ada bedanya dengan anak TK yang sedang dipermainkan oleh orang dewasa.


“Yang ini tiga ratus ribu kek.” Kataku seraya memasukkan bolu tersebut ke dalam kotak.


Sang kakek meraih sebuah benda hitam persegi panjang di dalam saku celananya. Ia kemudian menyuguhiku dengan lembaran dua ribuan yang jumlahnya sangat banyak sekali.


“Hitunglah!” Perintahnya seraya memasukkan kembali dompet itu ke tempat semula.


Ya Tuhan! Apa lagi ini?


Aku jadi terkekeh geli. Si tua bangka ini benar-benar menyuruhku untuk menghitung uang dua ribuan yang ia jadikan sebagai alat pembayaran.


“Mbak yang itu berapa ya?” Seorang pria bertubuh cungkring mendadak muncul dari arah depan.


“Itu.”


Aku menoleh dan ternyata sang lelaki menunjuk roti mini yang teronggok di atas wadah berjaring-jaring.


“Lima ribu saja.”


“Pesan seratus ya.”


“Seratus ribu?”


“Tidak! Maksudku seratus biji.”


Oh my God banyak sekali.


Aku kebingungan. Aku harus melayani pria ini, namun di sisi lain aku masih harus menghitung uang si kakek yang tak ada bedanya dengan tumpukan smapah-sampah kering.


“Bisa tunggu sebentar di sana mas?” Plis duduklah di sana dan tunggu aku di sini, batinku meronta-ronta.


“Maaf tidak bisa mba karena saya butuh cepat.”


Huh sial!


Aku pun memasukkan ke dalam tas kecil uang dua ribuan yang saat ini masih terhitung 150 ribu di tanganku. Sisanya kutinggal di sana.


“Itu anaknya ya mba?” Pria tadi melongo menatap ke arah Pricil.

__ADS_1


“Iya mas.”


“Wah cantik sekali persis seperti mamanya.”


Hahaha jelas dong! Princess gituloh.


Pricil tertidur pulas di gendonganku. Syukurlah, kalau dia juga bangun apa jadinya aku di sini?


“Hei nak cepatlah! Aku dan istriku harus merayakan hari bahagia kami.” Tiba-tiba si kakek menyela dari arah depan.


“Iya kek sebentar ya.” Kali ini aku beringsut untuk menghitung kembali uang receh tersebut.


“Mbak. Kok roti saya ditinggal?”


“Tunggu mas saya hitung punya kakek ini dulu ya.”


“Eh tidak bisa dong, saya juga mau cepat!”


“Sudah nak jangan dengarkan dia! Kan kakek lebih dulu sampai dan memesan.”


“Ngalah dikit dong kek.”


“Anak muda yang seharusnya mengalah.”


“Wah tidak bisa begitu, keadaan saya darurat.”


“Saya juga lebih darurat.”


“Huh pokoknya harus saya dulu.”


“Saya!”


“Saya duluan!”


“Saya.”


“Saya.”


“Saya!”


“Sa-“


“Aduuuuuuuuuuuh!” Aku menutup kuping rapat-rapat. “Tolong bersabarlah, kepalaku bisa-bsia pecah kalau kalian bertengkar seperti ini.”


Gila! Yang benar saja seorang manusia bertangan dua disuruh melakukan pekerjaan multitasking seperti ini. Semuanya tak ada yang mau mengalah! Apa mereka tidak iba melihatku yang sedang kalang kabut plus menggendong anak seperti ini?


“Oke karena yang datang duluan adalah kakek maka aku akan menuntaskan ini terlebih dahulu.” Kataku mengadili keduanya. Aku meraih uang dua ribuan yang tersisa. Dan si kurus itu kusuruh menunggu di atas kursi pengunjung.


Lima belas menit berlalu, akhirnya ritualku dengan kertas abu-abu ini selesai juga. Aku menghela napas lega karena ternyata uangnya pas dan pekerjaanku telah usai. Aku memberi senyum sumringai pada si kakek dan nenek yang mulai mengambil langkah untuk segera pergi. Semoga tak kutemui lagi kejadian seperti ini di lain waktu.


Selanjutnya aku kembali beranjak untuk menghitung jumlah roti mini yang seingatku masih 70 bungkus di pojokan sana. Muka si cungkring terlihat muram, mungkin ia sebal karena harus menungguku lama.


...***...


Bersambung


Hayo siapa yang kira-kira pernah ngalami kejadian kaya gini? Eehehe

__ADS_1


Jangan lupa mampir di AKU KAN DAN ISLAM ya 😉


Ceritanya ga kalah menarik loh 😍


__ADS_2