SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TERPAKSA


__ADS_3

“Dia di sana!”


Baik aku maupun Pak Reno spontan ngeloyor ke sebuah ruang di mana isakan tangis itu berasal. Pintunya tertutup rapat, dengan cepat Pak Reno membukanya guna menemui sosok yang sudah dapat ditebak di dalam sana.


“Nak!”


Di sini, di ambang pintu. Aku dapat dengan jelas melihat seorang bocah berbadan balon tengah memandangi sebuah bingkai yang bagian atasnya terdapat gambar sebuah keluarga kecil. Ada ayah, ibu dan juga ucul cilik dengan senyum mengembang khas bahagia. Bahunya bergetar, sebelah tangannya mengusap-usap wajahnya yang sudah banjir dengan air mata.


“Hei, kau kenapa?” Sang ayah pun langsung saja menarik lalu mendudukkan putranya itu di atas pangkuan. Bingkai foto ia letakkan ke sembarang arah sehingga aku dapat dengan bebas mengambil dan melihatnya dari arah dekat.


“Kurasa memang benar bahwa Pak Reno tak pernah mencintai Bu Farah.” Gemingku dalam hati takkala melihat wajah pria yang sama sekali tak menampikkan wajah sumringah di foto tersebut, hanya Refa dan Bu Farah saja yang tersenyum.


“Apa benal Mama pelgi dali lumah kita?”


Crang!


Dadaku sontak bergemuruh. Jadi benar si Refa sudah mendengar semuanya? Bahkan sepertinya ia paham betul apa yang kami bicarakan tadi.


Astaga! Aku terkulai lemas.


“Siapa bilang?” Pak Reno berbicara seolah menantang.


“Atu udah dengel cemuanya. Mama pelgi dan Papa culuh Bu Tevani buat jadi mamatu, tapi Bu Tevani nda mau huuuuuu hiksss huaaaa.”


Tangis pilu itu kembali pecah dan memadeti seisi ruangan. Aku mendudukkan diri di atas kasur king size milik kelurga mereka, lututku limpuh mendengar perkataan Refa.


Dari pojokan sana tampak wajah majikanku yang semakin memerah kemudian berangsur menatap kesal pembantunya ini. Aku kikuk, bingung harus berbuat apa, di sisi lain aku juga tak tega dengan anak yang selama beberapa bulan ini kurawat.


“Sini kau!” Tiba-tiba saja sebuah tangan kokoh menarik pergelanganku keluar kamar, aku tak sempat mengelak.


“Awww sakit.”


“Lihat semua ini gara-gara ulahmu!” Guratan kecewa tersohor dari paras pria berkepala tiga ini.


Sebenarnya aku pun paham betul apa yang tengah dirasakan oleh Pak Reno, juga Refa. Pasti keduanya akan putus asa takkala mendapati dua wanita pergi begitu saja dari rumah ini. Meski notabenenya berbeda, namun tak menutup kemungkinan bahwa mereka amat menyayangi keduanya.


Aku jadi bingung sendiri, tak tahu harus bagaimana. Bayangan wajah Hero kian berlarian dalam otakku, apa mungkin sudah saatnya aku move on? Ck! Namun aku masih mencintainya.


Huaaaa huaaa huuaaaa.

__ADS_1


Tangis Refa kian membeludak membuat gendang telingaku ingin mencelos dari tempat. Pikiranku jadi pendek dan tak dapat terkendali, hingga dalam detik berikutnya aku ngacir ke dalam kamar dan mengucapkan sebuah kalimat yang membuat senyum mengembang terbit di wajah Refa.


“Ibu mau kok jadi Mamanya Refa.”


Hening.


Tangis itu spontan hilang.


Dan dari sini aku dapat melihat netra Pak Reno yang menatapku penuh selidik, pria itu duduk di hadapanku bersama Refa.


“Jangan berpura-pura seolah ingin padahal tak ingin.” Suaranya kedengaran berat.


Tidak! Apa tadi? Apa yang barusan aku katakan? Menjadi Mama bagi Refa?


Oh ya Tuhan, apalagi ini?


Pelupuk mataku menjatuhkan air, aku menangis dan meratapi kebodohanku barusan. Ini secara tak langsung aku telah menerima Pak Reno sebagai suamiku namanya, aku kehilangan kendali. Sedangkan di sisi lain seorang ucul gendut tertawa bahagia mendengar deretan kata yang kuucap tanpa sadar, air matanya yang masih basah kini tak lagi tertimpa dengan percikan-percikan baru yang keluar dari dalam sana.


Tak mungkin kuralat perkataanku, bisa hancur mendadak hati Refa nanti. Pak Reno juga semakin menatapku penuh curiga, mungkin ia heran kenapa jongosnya ini mendadak berubah pikiran.


Ya sudahlah, terlanjur. Aku tak punya pilihan lain, jika memang Hero akan kembali maka biarlah tangan Tuhan yang mengatur semuanya.


“Aku sungguh ingin menjadi Ibu sambung buat Refa.” Kupastikan sekali lagi kata-kata ini.


“Iya.”


“Kau tak akan membuat tipuan untuk menyelamatkan diri kan?”


“Hei apa maksudmu!”


“Ya bisa jadi setelah pulang kau akan lari seperti kemarin.”


Aish! Memang begini resiko orang yang sudah pernah membuat kesalahan, pasti sulit untuk mendapat kepercayaan lagi. Lagipula aku mau ke mana? Sudah kapok berurusan dengan bapak anak ini.


“Aciiik atu punya dua mama. Mama Falah dan Mama Tevani.” Refa melambungkan lengannya ke udara.


“Berhubung sebentar lagi kau akan menjadi istriku, maka tinggall ah di sini hingga waktu pernikahan kita tiba.”


WHAT? Sudah dikasih hati malah minta jantung si bodoh satu ini. Enak saja dia! Biar begini kan aku masih bukan siapa-siapanya. Bagaimana kalau tiba-tiba dia masuk ke dalam kamar dan langsung mengeksekusiku di sana? Ihhh kan aku juga gamau berkembangbiak secara paksa.

__ADS_1


“Tidak! Nanti saja kalau sudah menikah.” Tolakku mentah-mentah yang langsung dibalas dengan raut masam si Reno gila.


Aku tak perduli. Menjadi istrinya saja pun sebenarnya karena terpaksa kunun pula harus satu atap sebelum kata SAH tiba.


Tak ada lagi perdebatan, amarah, pemaksaan maupun tangisan, semua berganti menjadi tawa. Ah lebih tepatnya tawa untuk mereka, bukan untukku. Aku beringsut ke dalam kamar pembantu tanpa permisi, menjadi calon nyonya di rumah ini membuat kepalaku mendadak besar dan agak sombong. Astaga Che! Ingat sekarang kau itu masih jongos!


...***...


Hujan yang kian besar tidak membuatku mempercepat langkah. Aku membiarkan bulir-bulir tajam ini menghunus wajahku hingga terasa perih. Entah sudah berapa jam aku berjalan di bibir trotoar tanpa kendaraan, sengaja. Mungkin menikmati derasnya hujan bersama linangan air mata akan menghilangkan sedikit sebah di dasar dada.


Anggaplah aku ini adalah gadis bodoh yang terlalu mengemis cinta. Namun apa salah aku berharap? Aku juga percaya bahwa suatu hari nanti Hero akan kembali menemuiku di tempat ini.


Namun semua sudah sirna karena ulah bodohku tadi. Aku terlanjur termakan air mata Refa, tangis anak itu mengingatkanku pada sakitnya rasa ketika ditinggal oleh ibu dahulu.


Hero, maafkan aku.


Maafkan aku yang telah memilik pria lain dan tak menunggumu pulang.


Aku mencintaimu, dan sampai kapanpun akan selalu mencintaimu.


Kelak bila kau kembali, kupastikan hatiku akan tetap bersih dari siapapun.


Hanya kau sayang.


Bukan pria lain.


Wajah basahku tersenyum miris, entah kutukan apa yang tersemat di tubuh dan membuat cerita hidupku menjadi tragis.


Aku tak minta banyak, Tuhan berikan aku sedikit kebahagiaan pun sudah cukup.


Semoga Tuhan mendengar, jeritku.


...***...


Bersambung


Hayo gimana kalo kalian jadi Chevani?


Bakal nerusin pernikahan atau kabur?

__ADS_1


LIKE & COMMENT


Semoga sehat selalu 🤗


__ADS_2