
“Kemana kau semalam dengan suamiku hah?”
Deg! Mampus aku!
“A- aku aku-“
“Hei jongos!” Bu Farah menjewer kasar telingaku. “Jangan karena aku tidak ada di rumah ini kau bisa dengan seenaknya pergi bersama suamiku ya! Sudah berubah menjadi jalang kau ternyata!”
Seperti sedang ada badai petir yang menghujamku dari arah atas. Bagaimana mungkin wanita ini bisa tahu? Hanya ada dua kemungkinan; pertama, Pak Reno yang memberitahu dan yang kedua telah ada seseorang yang sengaja membuntuti kami dan melaporkan hal ini pada Bu Farah.
Aku sungguh-sungguh tak berkutik. Kuakui aku memang mengikut dengan majikanku itu kemarin. Namun itu semua bukan kehendakku, Pak Reno yang mengajak.
“Jawab aku Chevani!”
“Eum a- anu bu. Kemarin Pak Reno membawa kami semua untuk membeli mainan baru Refa.” Jawabku terbata.
“Apa! Ou jadi semalam suamiku itu mengajak wanita gembel sepertimu. Begitu?”
“I-iya bu.”
Meskipun aku tengah menunduk namun aku dapat merasakan dengan kentara luapan emosi nenek lampir itu saat ini. Indera perabaku dapat merasakan hembusan napasnya yang kasar seperti orang kesetrum listrik.
Aku terdiam seribu bahasa. Hanya ayat kursi yang kulafakan saat ini agar Sang Ilahi menyelamatkan aku dari amukan syaiton, eh ralat maksudku Bu Farah.
“Dasar kau wanita jalang! Berani-beraninya kau menggoda suamiku!”
Plak!
“Aduuuuh,” Aku mengaduh kesakitan takkala merasakan sebuah lecutan keras yang mendarat di pipiku. Lagi-lagi KDRT terjadi, aku ditampar oleh si gerandong.
“Itu tidak ada rasanya dengan apa yang sedang kurasakan saat ini.”
Bugh!
Plak!
Debuk!
Dalam waktu sejekap tubuhku serasa melayang kemudian terpental kembali ke atas lantai. Wajahku ditinju lalu ditampar dan pada saat kesadaranku sedang di ambang batas, tubuhku didorong olehnya sehingga aku terjungkang dengan posisi kepala terantuk pada permukaan lantai.
Sakit.
Sangat sakit.
“Mulai detik ini jauhi suamiku!” Bariton melengking itu terdengar kembali. Kali ini Bu Farah menjejakkan kakinya di atas tubuhku yang masih terkulai di atas lantai.
Aku tak kuasa menahan tangis. Mengapa begini sekali nasib menjadi babu di rumah orang? Namun setahuku Ratna tak pernah diperlakukan sedemikian ini oleh majikannya.
Ya Tuhan. Seberat inikah cobaan yang kau berikan untukku.
“Ampun bu, pinggang saya sakit sekali.” Kataku memohon. Gusti, tolong aku.
“Aku tak akan melepaskannya kecuali kau benar-benar berjanji akan menjauhi suamiku!”
__ADS_1
“Iya bu saya janji!”
“Jangan sampai kudengar lagi dari temanmu itu kalau kau pergi bersama suamiku!”
Apa? Apa tadi katanya?
Teman?
Rasa sakitku mendadak hilang takkala Bu Farah menyebut kata ‘teman’ di sana. Jika dicerna kembali ucapannya barusan berarti telah ada seseorang yang mengadukan kejadian kemarin pada nenek lampir ini. Dan orang itu adalah temanku sendiri. Namun siapa? Temanku yang mana?
“Apa ibu bilang? Teman? Temanku yang mana?”
Ehm!
Bu Farah menarik kakinya mendadak dari atas tubuhku. Tiba-tiba saja terlukis guratan kaget di wajahnya. Kemudian tanpa ada perlawanan maupun perkataan lagi ia segera meninggalkan aku dan berlalu entah kemana.
Apa dia sedang keceplosan? Tapi sungguh aku sangat penasaran. Teman mana yang tega melaporkan hal se sepele itu pada singa betina ini?
...***...
Pendaran jingga mulai menyeruak dari kaki langit menuju bumi. Aku menepuk-nepuk punggungku lembut, membabu di rumah ini plus diinjek-injek sama Bu Farah membuat pinggangku rasanya ingin mencelos. Aku memperhatikan seisi ruangan mulai dari halaman depan dan belakang, ruangan tengah hingga bagian dapur semua sudah apik tanpa noda. Jam telah membidik angka lima dan ini waktunya bagiku untuk pulang. Si nenek lampir sudah tak terlihat lagi batang hidungnya karena sehabis menjejek-jejek tubuhku tadi ia langsung berlalu entah kemana.
“Ibu mau puyang?” Tiba-tiba saja suara cempreng seorang bocah kecil mengangetkanku dari belakang.
“Iya sayang. Papa kamu juga sudah pulangkan?”
“Cudah bu. Tapi papatu ada di atas.”
“Mau.”
Aku segera menuju lantai atas bersama Refa. Agar tidak memakan waktu lama aku menggendong tubuhnya yang gendut itu menuju kamar Pak Reno. Aduh tambah encok nih kalau begini.
Sesampainya di ambang pintu aku meletakkan kembali tubuh balon itu ke bawah. Aku mau pulang dan Refa harus segera dikembalikan pada papanya. Aku berniat untuk mengetuk pintu, namun belum sempat tanganku menempel pada benda persegi panjang berwarna putih itu aku mendengar suara nyaring yang bersumber dari kamar.
“Arrrgh.”
“Ohyeaah sedikit lagi.”
“Ayoo uhh.”
Oh astaga! Sungguh aku sering mendengar itu dari Hero dulu.
Niatku mengetuk pintu menjadi tak tersampaikan takkala aku mendengar suara eraman dari dalam sana. Aku adalah wanita dewasa dan aku tahu apa yang sedang dilakukan ayah beranak satu itu di dalam kamar. Kasihan pak Reno, mungkin ia kehilangan kebutuhan biologis semenjak istrinya itu cabut dari rumah.
Tapi bagaimana ini? Apa mungkin aku menunggu pria itu sampai benar-benar menyelesaikan ritualnya? Ah! Mau sampai jam berapa lagi? Iya kalau dia hanya melakukan satu ronde, kalau tiga atau empat ronde bagaimana? Bisa kering aku menunggu di luar sini.
“Ibu tenapa kita nda macuk-macuk?” Aduh mampus aku! Si tengil ini malah pakai tanya-tanya segala.
“Eum sebentar lagi deh ya.”
“Tenapa?”
“Kayanya papa kamu bobo deh sayang.”
__ADS_1
“Bobo? Enda kok bu. Itu ada cuala dali dayam cana. Cuala uh ah uh ah, kayanya papa atu lagi main game deh bu. Ayo bu masuk atu mau itut main!”
Astaga!
Oalah Gusti kepriben iki?
Jadi Refa juga ikut mendengar suara eraman itu? Malah dia pakai bilang kalau papanya lagi main game lagi. Bagaimana ini? Iya sih tidak salah juga. Pak Reno memang sedang main game, game angry bird kikikik.
Dor dor dor.
“Papa buta pintunya atu datang.” Mati! Bukan Refa namanya kalau tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Andai saja si tabung gas satu ini mengerti apa yang sedang dilakukan oleh papanya di dalam sana pasti dia tak akan merusuh sebelum mendapatkan timing yang benar-benar tepat untuk masuk. Namun semua sudah terlambat, Pak Reno sudah keburu mengetahui bahwa kami sedang berada di depan kamarnya. Aku meraih tubuh Refa dan hendak membawanya kembali ke lantai satu, namun betapa terkejutnya aku saat ingin memboyong tubuh Refa tiba-tiba saja sebuah tangan kokoh menahan bahuku dari arah belakang.
“Sejak kapan kalian berdiri di sini?”
Deg!
Sesosok pria menyembulkan tubuhnya dari dalam kamar. Rambutnya awut-awutan bahkan ia hanya memakai celana puntung dan menampakkan lekukan tubuhnya yang sispact itu. Ya ampun! Ini tidak salah lagi. Pasti dia sedang anu-anu di dalam sana.
“Eum i-itu pak baruuuuu saja.” Kataku berbohong.
“Kau yakin?”
“Iya pak. Baru saja saya mau ketuk pintu eh udah diketuk duluan sama bang Refa ehehe.”
“Oh baguslah!” Wajahnya yang tadi menegang kini berangsur normal. “Kau mau pulang?”
“Iya pak.”
“Ya sudah sini Refa biar sama saya.”
Aku pun segera menyerahkan bocah gendut itu pada papanya. Dari sini aku dapat memperhatikan dengan jelas guratan kesal yang tergambar pada raut Pak Reno. Ups! Sorry majikanku. Anakmu sendiri yang memaksa untuk masuk.
Perlahan aku mulai melangkah dan meninggalkan ayah beranak itu di sana. Hatiku sedikit menaruh rasa iba pada Pak Reno yang terpaksa harus memberhentikan permainan panasnya. Namun yang lebih parahnya lagi, baru saja aku hendak menuruni anak-anak tangga sebuah laungan suara membuat bulu kudukku merinding seketika.
“Papa. Papa tadi main game ya? Toalna atu dengal papa tadi uh ah uh ah di dayam.”
Blushhh!
Mampus!
Lebih baik aku segera pergi, terserah si Reno itu mau berdalih apa pada anaknya.
...***...
Bersambung
Like, comment & vote
Jangan lupa kasih bintang limanya juga ya guys
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1