SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
KERAS KEPALA


__ADS_3

“Hoaaaam huum.”


Aduh aku masih ngantuk sekali setelah tadi malam tidak bisa tidur gara-gara si Ajun. Kurasa pukul dua dini hari mataku baru terpejam dan saat ini sudah jam lima subuh, baru tiga jam aku tidur. Sebenarnya bisa saja aku kembali berlayar di alam mimpi namun mengingat hari ini aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk mencari pekerjaan maka mau tak mau aku harus bangun seperti biasanya.


Aku berharap kalau pria gila bin idiot itu tak pernah lagi mampir dan tumbang di ambang pintu rumahku. Lebay sekali! Aku saja seorang wanita yang ditinggal suami tak sampai jadi gila, kenapa dia sebagai pria yang seharusnya jauh lebih kuat mendadak jadi dungu begitu. Dasar lemah!


Aku beringsut ke belakang guna membersihkan diri dan setelah itu langsung keluar rumah untuk pergi ke pasar. Persediaan di rumah sudah habis dan aku harus menyetoknya kembali.


Keadaan masih gelap namun aku tetap berani karena sudah banyak orang yang berlalu lalang di Kota ini. Para pengendara sepeda motor, betor dan angkutan umum pun sudah pada beroperasi.


Aku melangkahkan kaki perlahan dan hendak menuju bibir jalan. Namun betapa terkejutnya aku karena dalam waktu yang bersamaan sebuah tangan kokoh nan besar menahan pergelanganku secara tiba-tiba.


“Hei siapa kau?”


Bugh!


Aku meninju wajah orang yang sudah berani mengacau pagiku.


“Aduh!’’


Si aneh itu mengaduh kesakitan. Aku tak dapat melihat wajahnya karena paras itu tertutup oleh kedua lengan, tapi yang jelas hatiku merasa puas sudah menonjok bagian hidung orang gila ini.


“Apa kau sudah gila?”


“Oh astaga! Kenapa kau bisa berada di sini?”


Keterkejutanku bertambah tiga kali lipat sesaat setelah mendapati sosok mana yang ternyata berdiri di hadapanku. Bagaimana dia bisa di sini? Siapa yang memberitahu? Modar aku!


Pak Reno.


Entah dari mana dia mendapat informasi tentang keberadaanku. Tapi yang jelas saat ini pria bertubuh tegap itu lah yang tengah tercegak di depanku dan dia juga lah yang kutimpuk mukanya barusan. Aku kaget bukan main, sumpah!


“Kau jangan coba untuk melarikan diri dariku!”


“A- aku tak melarikan diri.”


“Jadi kenapa kau tak datang dan ponselmu juga tak aktif seharian?”


“Aku hanya sedang sakit kemarin.”


“Oh sakit? Jadi apa maksudnya kau menciumi badan Refa setiap inci?”


Deg!


Mampus aku ketahuan.

__ADS_1


Aku tak dapat mengelak. Kalimat Pak Reno benar-benar telah membungkam mulutku. Apa ada cctv di rumah itu? Perasaan selama aku bekerja di sana aku tak pernah barang sekalipun melihatnya.


“Dari mana kau tahu?” Tanyaku penasaran.


“Kau tidak perlu tahu. Jadi apa maksudmu mencoba lari hah?”


Aku memundurkan diri kemudian mencari tempat aman untuk mengobrol. Bibir jalan bukanlah lapak yang tepat untuk dua orang insan yang sedang berdebat ini. Bisa-bisa kesamber truk dan langsung jadi ayam penyet kami nanti.


“Oke baiklah baiklah. Aku sengaja menghindar agar rumah tanggamu dengan Bu Farah membaik.” Kataku jujur pada akhirnya. Percuma kalau aku terus beretorika, pasti si kunyil satu ini tetap mencurigaiku.


“Biar kujelaskan padamu.” Pak Reno memengangi sepasang bahuku, aku mendadak gugup. “Kami berdua sudah membicarakannya dan Farah setuju meskipun air matanya menetes juga. Bahkan orangtuanya sangat kecewa dengan sikap putrinya sendiri karena mereka tidak tahu bahwa selama ini perempuan bodoh itu tak pernah merawat dan mengasihi suami serta anaknya.”


“Lalu?”


“Ah! Kenapa kau bertanya balik? Ya aku maunya kau yang menjadi ibu sambung bagi Refa.”


“Kenapa harus aku? Aku ini tak lain hanyalah jongosmu saja. Bagaimana jika nanti seluruh rekanmu tahu? Pasti mereka akan mengejek pernikahan kita.”


“Aku tak perduli karena yang kutahu saat ini aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu Chevani.”


Oh ya ampun.


Benarkah ucapannya?


“Istrimu jauh lebih cantik dariku!”


“Bukan paras yang kulihat namun rasa kasih sayang yang bersarang dalam dirimu.”


“Aku tak sebaik yang kau pikirkan Pak.”


“Kau ini memang menolakku atau bagaimana?” Mata Pak Reno mendadak merah.


Aish! Apa dia tidak peka-peka juga setelah aku membuat berbagai alasan? Lagipula aku juga sudah berterus terang mengatakan kalau aku tak ingin merusak kebahagiaan mereka.


“Bukan menolak. Itu semua kulakukan semata-mata karena ingin melihat kalian bahagia.”


“Kebahagiaan adalah ketika aku dan kau bersatu menjadi kita.”


Omegoot!


Kenapa keras kepala sekali lelaki ini! Kalau begini ini namanya dia memaksaku untuk menikah dengannya. Aku mendadak jadi teringat Aren, dulu pria itu juga melakukan hal yang sama namun ketika aku menolaknya ia langsung menikahi wanita lain. Akankah Pak Reno juga begitu?


“Aku belum bisa memberi jawaban.”


“Kau bilang butuh waktu dua hari dan ini lah saatnya.”

__ADS_1


“Iya tapi pikiranku belum rampung. Berilah aku waktu satu hari lagi.” Kataku pada akhirnya.


Sebenarnya hatiku terus saja menolak tapi untuk kali ini aku harus mempertimbangkannya kembali mengingat bahwa memang ke mana aku pergi si Reno ini selalu mengetahui.


“Apa kau berjanji tak akan lari lagi?”


“Ya. Dan biarkan hari ini aku menikmati kesendirianku.”


“Baik! Kalau begitu aku akan pergi, kutunggu kau besok di rumah.”


“Hmm.”


Pada akhirnya kami tak lagi berdebat. Pak Reno pergi pulang sedangkan aku melanjutkan perjalanan untuk pergi ke pasar. Aku sungguh tak tahu apa yang akan terjadi besok, aku merasa bahwa pria itu memang benar-benar menginginkan aku untuk jadi istrinya.


Tapi aku agak heran sih. Kira-kira dia tahu dari mana keberadaanku? Dan bagaimana mungkin dia bisa melihatku di jalan tadi? Ah kepalaku sungguh pusing memikirkan ini semua.


...***...


Warna warni buah dan sayuran seolah menyegarkan sepasang netra. Aku berjalan lurus menyempil dari sela-sela tubuh para pembeli. Saat ini kakiku telah sukses berjejak di atas tanah pasar Kota Batam. Ramai sekali, sampai-sampai ingin bernapas pun terasa sulit.


Di sepanjang jalan aku dapat melihat barisan sayur berbagai jenis sekaligus cabai dan bawangnya. Ikan-ikan terhampar di atas meja batu serta perabotan kecil pun juga ada di sini.


Aku terus melangkah menyusuri kawasan padat tersebut hingga dalam detik berikutnya mataku secara tak sengaja menangkap sebuah pemandangan bayi wanita menggunakan gaun merah muda yang tengah terengkuh dalam gendongan seorang wanita muda. Wajahnya tak kelihatan karena bagian kepalanya tenggelam di dalam rengkuhan tangan sang bunda. Ouh lucunya.


Eh!


Tunggu dulu.


Apa tadi kataku? Seorang bayi wanita dan gaun merah muda?


ASTAGA! Aku baru ingat kalau terakhir kali pakaian yang dipakai Pricil adalah pakaian yang sedang dipakai oleh anak itu. Gaun merah muda dengan pita di bagian bahu. Sumpah! Tak ada bedanya.


Dan berarti itu adalah …


“Pricil anakkuuuuuu….!” Aku ngacir secepat kilat.


...***...


Bersambung


LIKE & COMMENT


Dukungan kalian semangat buat aku :)


Sehat selalu yaa 🤗

__ADS_1


__ADS_2