
“Huh lelahnya.” Aku mengibas-ngibaskan kedua tanganku ke arah wajah. Masih jam sembilan pagi tapi semua kerjaanku sudah selesai. Hari ini aku berniat untuk mencari kontrakan baru dengan uang yang tersisa di dompet, aku juga sengaja bangun pukul tiga dini hari agar tugasku lekas kelar dan aku cepat pergi keluar. Pak Reno tak akan mengizinkan jika mengetahui bahwa aku akan cabut dari rumahnya, makanya sebisa mungkin aku mencari kesempatan ketika pria tegap itu tidak di rumah alias bekerja di luar.
“Bang Refa lagi apa?” Tanyaku takkala mendapati seorang bocah bertubuh gembul sedang tercegak di depan pintu kulkas yang terbuka.
“Atu mau itu, toyong ambiyin dong bu.”
“Mau apa?”
“Puding toklat.”
Hadeh masih juga pagi udah ngepuding aja, gimana ga makin subur tuh badan. Aku mengikuti jari telunjuk Refa yang membidik sebuah benda bulat berwarna gelap di dalam kulkas. Aku juga menunggunya melahap makanan itu hingga tandas tak bersisa, untuk sendoknya tak sekalian juga dia telan.
“Sudah bang?”
“Udah. Enak bu, kapan-kapan buat lagi ya.”
“Iya. Sekarang ikut ibu keluar yuk.”
“Temana?”
“Jalan-jalan.”
“Holeee jalan-jalan yess yess yess!”
Duh mampus aku! Maafkan ibu ya nak, ga mungkin dong ibu bilang mau cari kontrakan. Bisa-bisa kamu ngadu lagi ke papamu yang sentimen itu.
Aku meraih slinbag kemudian memboyong Refa dan mengunci pintu serta pagar rumah rapat-rapat. Terpaksa anak satu ini kubawa bermain abu jalan di luar sana karena kalau kutinggal bisa-bisa ketika aku pulang Refa hanya sudah tinggal namanya saja.
Ah aku jadi teringat waktu awal bekerja aku pernah membiarkan dia bermain sendiri di kamarnya. Alih-alih ingin mengistirahatkan diri aku malah kena semprot habis-habisan oleh Pak Reno dan Bu Farah karena membiarkan Refa sendirian dan membuat anak itu hampir saja menggunting tangannya sendiri.
Semenjak itu aku tak pernah lagi bahkan trauma meninggalkan Refa sendirian. Bocah tengil satu ini sangat menyukai tantangan, selain ia nyaris menggunting tangan dia pernah juga mencoba melompat dari atas balkon. Kalau katanya sih pengen jadi ironman kaya yang di tv-tv. Astaga! Ironman apaan? Ironman akhirat kaleeee.
Sepuluh menit berlalu dan aku sudah berhenti di depan jajaran rumah-rumah cilik yang berada tak jauh dari tempatku bekerja. Masih banyak yang kosong dan aku memang sengaja memilih lapak dekat agar tidak susah-susah kalau mau pulang balik dari rumahku sendiri ke tempat Pak Reno.
“Tatanya mau jalan-jalan. Kok malah ke cini?”
“Iya ini kan udah jalan-jalan bang.”
__ADS_1
“Ini tempat apa?”
“Mau ke rumah temen ibu.”
“Oooo.”
Refa tak lagi bersuara. Aku sangat berharap agar tabung gas satu ini tak paham apa yang tengah babunya ini lakukan.
“Permisi nek.” Kataku menyapa seorang nenek tua berperasaan gadis.
Kenapa aku bisa bilang begitu? Ya bagaimana tidak. Sudah renta tapi lipstiknya masih merah merona, alisnya di sulam serta eyelash extensionnya yang luar biasa cetar. Kalau ini mah jangankan aku, biduan kibot aja juga bakal lewat. Dasar kaga tau usia!
“Ehhh jangan panggil nenek, panggil saya mami moet.”
APA?
Omegoot!
Bahkan suaranya pun sengaja didayukan sehingga terkesan lembut. Ya ampun nek ga nyadar diri apa. Lagian kenapa nama panggilannya alay banget? Duh aku jadi malu sendiri mendengarnya.
“Eh iya maaf Mami Moet. Aku Chevani, apakah mami tahu siapa pemilik kontrakan ini?”
“Rencananya begitu.”
“Oh bagus-bagus karena memang aku sendiri lah pemiliknya.”
“Ou.” Kataku membulatkan mulut, horang kaya rupanya pantas saja penampilannya kaya begini walaupun sudah renta. “Apa aku bisa menempati rumah yang itu?” Jari telunjuk kulayangkan ke sebuah gedung cilik yang paling pojok.
“Boleh lagipula itu kosong. Mari.”
Kami pun beringsut menuju tempat yang dimaksud. Si nenek yang katanya mami ini membuka pintunya dan membiarkan aku melihat-lihat di bagian dalam. Lumayan kecil tapi cukuplah kalau untuk ditinggali seorang diri, tempatnya juga ramai dan strategis. Semoga saja tetangga sebelahku nanti adalah orang baik.
“Bagaimana?”
“Iya nek eh mami, saya mau.”
“Hei hei hei! Ingat ya saya M-A-M-I M-O-E-T!”
__ADS_1
“Eum iya mami saya lupa tadi.”
...***...
Malam kian larut dan semakin membuatku menyembul ke alam lelah. Aku membaringkan badan berharap akan ada mimpi indah di malam ini. Tadi siang setelah menyerahkan uang rumah konrakan, aku langsung membawa Refa pulang dan menjaganya hingga sore. Dan ketika Pak Reno pulang pun aku masih terjaga di tempat menunggu pria itu lengah lalu aku kabur dari sana.
Dan sekarang aku sudah berada di rumah baru, sepi. Tidak ada Pricil di sini, entah kemana anak satu itu kepalaku sakit bila mengingatnya.
Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi besok bila bertemu Pak Reno. Mungkin bapak beranak satu itu akan bertanya hingga ke akar atau bahkan memarahiku habis-habisan. Lagipula dia tidak berpikir apa? Aku adalah seorang janda dan dia merupakan pria nyaris duda. Apa kata orang kalau kami tinggal dalam satu rumah yang sama? Ya meskipun ada Refa, tapi dia kan masih sangat kecil.
“Kau jangan khawatir semua tetangga di sini ramah-ramah kok.”
Perkataan Mami Moet kian bergelayut dalam ingatanku. Ramah apa yang dia maksud? Aku trauma sekali dengan pekerjaanku di tempat Bu Neti dulu, semua orang memang murah senyum dan sosial. Tapi sayang, terlalu berlebihan sampai-sampai aku seakan berbicara dengan orang gila.
Sampai saat ini aku memang belum ada berbicara dengan orang-orang sekitar karena memang siang tadi mereka pada kerja dan malam ini aku yang tak keluar rumah.
...***...
“Oh jadi kau sengaja melarikan diri dari rumah ini tanpa sepengetahuanku, iya?”
Jedag jedug!
Sudah dua puluh menit aku tercegak di ambang pintu tanpa diizinkan masuk oleh sang empunya rumah. Pagi ini aku sudah kena semprot habis-habisan setelah aku menerangkan pada Pak Reno bahwa babunya ini telah memiliki tempat tinggal baru.
Tadi begitu sampai pria bertubuh tegap ini langsung menyembul di pusat pintu seraya berkacak pinggang. Mukanya masam serta tatapannya juga tajam. Hingga pada akhirnya aku menjelaskan sebelum diminta dan alhasil begini lah jadinya.
“Aku hanya tidak enak. Pertama aku merasa sudah terlalu banyak merepotkanmu dan yang kedua kita ini bukan suami istri.” Kataku menunduk, aku tak berani menatap rautnya yang seram.
“Oh jadi apa perlu kita menjadi sah agar kau tetap tinggal di sini.”
Deg!
“Ma- maksudnya pak?"
...***...
Bersambung
__ADS_1
LIKE, RATE 5, FAV, COMMENT & VOTE
Semoga kalian sehat selalu 🤗