SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
MENGEJUTKAN


__ADS_3

Aku tercekat. Entah apa yang telah terjadi tapi aku merasa sebuah hamparan lembut nan basah bersemayam pada bagian atas.


Oh astaga!


Aduh jantungku rasanya mau lepas.


“Kenapa wajahmu berubah pucat?” Suara itu terdengar sangat dekat, setengah berbisik.


Hening.


Sampai menit ke sekian pun aku masih mematung di pojokan ranjang kingsize ini. Pikiranku berlabuh ke alam entah berantah. Apa yang baru saja dia lakukan?


“Aku tahu sudah lama kau tak merasakan sensasi itu. Maka menikahlah denganku, Chevani.”


Deg!


Kali ini aku mulai paham ke mana arah pembicaran pria ini.


“Biarkan aku keluar Pak!” Aku yang sudah setengah sadar mencoba bangkit dan langsung menarik knock pintu yang sudah tertutup rapat tapi tidak terkunci.


Pak Reno mengikut.


Syukurlah untung saja dia tak memaksaku di tempat itu.


Aku menuju lantai satu guna segera membersihkan tumpukan piring-piring berminyak yang sudah bermukim di atas wastafle. Namun takkala aku mau menginjakkan kaki pada anak tangga pertama sebuah tarikan kuat berhasil membuatku nyaris terpelanting dan menubruk dada bidang berambut lebat mirip pria itu.


Bugh!


Oh Tuhan.


Semakin hangat.


Aku didekapnya.


“Kuberi kau waktu dua hari untuk berpikir. Aku tahu perempuan kesepian sepertimu tak akan mungkin bisa menolak tawaran dari seorang pria yang nyaris duda di hadapanmu ini, permisi.”


Aaaaaaaaaa! Hatiku tersayat sekali mendengarnya.


Kenapa hubungan antara majikan dan babu terkontaminasi dengan rasa cinta seperti ini? Aku bingung, sungguh! Pak Reno memang masih berstatus suami istri dengan Bu Farah tapi tidak menutup kemungkinan bahwa lelaki itu akan segera menceraikannya dalam waktu dekat ini. Sudah berkali-kali aku melarang bahkan menyuruhnya untuk membawa Bu Farah pulang. Namun mau bagaimana? Bila memang tak ada rasa cinta yang melekat maka sampai kapanpun salah satu dari mereka pasti enggan untuk mendekat.


Aku masih bisu seribu bahasa di ambang tangga ini sedangkan Pak Reno sudah berangsur meninggalkan aku untuk memakai pakaian guna berangkat kerja.


Apa yang sudah dia lakukan tadi?


Dan mengapa dengan bodohnya aku mengikut tanpa perlawanan. Ck sial!


Aku tak marah bila ia mengatakan bahwa wanita kesepian sepertiku tak akan mungkin menolak sosok yang sudah kuketahui seperti apa. Dan jujur akupun pernah mencintainya sewaktu belum tahu kalau Pak Reno sudah beristri.


Lalu apakah mungkin aku dapat menolaknya ketika dia sudah bercerai nanti?


Entahlah aku seakan bermimpi di siang bolong.


...***...


Siang menjelang sore ini aku hanya duduk termangu seraya memperhatikan Refa yang sedang memainkan robot-robotannya dari kejauhan. Pikiranku terfokus pada hari esok.

__ADS_1


Iya, esok.


Hari di mana seorang pria berambut ikal yang katanya sangat mencintaiku bahkan pernah memaksa untuk menjadikan aku sebagai sitrinya akan menikah dengan wanita lain yang sosoknya itu bukanlah aku.


Aku memang tak pernah mempermasalahkan dia mau menikah dengan siapa karena sebenarnya aku juga tak pernah mencintainya. Tapi sumpah! Sampai detik ini aku masih bertanya-tanya perihal apa yang membuat si gondrong itu berbuat seperti ini kepadaku.


Apa setelah ini ia akan tetap sering menemuiku seperti dahulu?


Atau bahkan sekedar bertanya kabar Pricilia, seorang bayi mungil yang kala itu kerap dia timang-timang.


Tidak! Aku tak akan datang ke resepsinya besok.


Sudah kupikirkan itu matang-matang.


Cukuplah Neni dan Elin saja sebagai perwakilan dari diriku, aku tak ingin menambah lagi. Karena akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan di otakku tentang keganjilan dari apa-apa yang telah si gendut itu perbuat selama ini. Lagipula aku tak ingin dia tahu kalau anakku menghilang, aku tak ingin omongannya di café lalu terbukti.


Tak ada lagi kisah di antara kita dan semoga suatu saat aku dapat mengetahui penyebab apa yang membuatmu bertingkah konyol seperti ini, Aren.


Grubak.


“Astaga! Apa itu?”


Gedebuk gedebuk gedebuk.


Aku spontan berlari sesaat setelah mendengar suara aneh dari arah dapur. Dari tempat ini aku juga dapat melihat bahwa Refa mengikut dari belakang. Kami sama-sama panik.


Kosong.


Aku tak melihat apapun di sini.


“Apa ada orang?”


“Halo”


Siapa ya?


Suara banter apa tadi?


Jangan bilang ada jin yang tiba-tiba masuk dan berniat untuk mengganggu kami.


“Chevani!”


Deg!


Aku terkulai lemas.


“Mamaaaaaa!”


Napasku tercekat, aku merasa seakan seluruh organku spontan terhenti. Mimpi apa aku kemarin? Sekelebat bayangan penyiksaan terekam kembali menyesaki isi kepalaku.


Seorang wanita berambut sebahu tiba-tiba nongol di hadapanku dengan wajah datar. Aku kikuk, tak tahu entah apa yang akan terjadi dalam menit berikutnya.


“Mamaaaa!” Teriak Refa lalu menghambrukan diri ke tubuh sang wanita tadi, ia membalasnya dengan pelukan.


Bu Farah.

__ADS_1


Dara ini kembali.


Aku menilik sekitar lalu kudapati pintu dapur ternganga lebar. Fix! Berarti dia yang sudah mendobraknya tadi.


Tak ada sahutan, wanita itu masih fokus merengkuh tubuh balon putranya ke dalam pelukan. Di sana, mereka bersua ria.


“Atu tangen banget cama Mama. Mama udah ciap keljaannya tan?”


“Siapa yang bilang mama sedang bekerja?”


“Papa. Tata papa mama kelja buat beyitan atu mobin yang gede lagi.”


“Eum iya sayang. Sebentar lagi mobil-mobilan kamu datang ya.”


“Hoyeeeeeee.”


Cup.


Aku dapat melihat dengan jelas ibu beranak satu itu mencium kening putranya hangat. Sumpah! Ini adalah kali pertama selama aku bekerja di rumah ini Bu Farah memang menjadi sosok ibu kandung bagi putranya sendiri.


Dia kenapa?


Apa ini hanya jelmaannya saja?


“Sekarang kau masuklah dulu ke kamar.”


“Iya Ma.”


Modar aku!


Pasti setelah ini aku yang akan dieksekusi.


Baik aku maupun wanita berbibir tipis itu memperhatikan pinggang Refa yang mulai menjauh dari arena dapur. Entah mau ke mana tapi yang jelas badannya menari-nari seperti pemain kuda kepang di Jawa sana. Mungkin hatinya sangat gembira takkala mengetahui bahwa mamanya sudah pulang ke rumah.


“Chevani!”


Tuh kan bener.


Kuatkan tubuhmu Che! Penyiksaan akan kembali hadir sebentar lagi.


Mataku kututup rapat-rapat, aku juga menarik napas dalam guna menahan timpukan yang sebentar lagi akan dilayangkan oleh Bu Farah. Aku pasrah dan andai kata setelah ini pun ia akan memecatku aku tak akan bertahan lagi. Biarlah aku meninggalkan seorang bocah yang sudah kuanggap sebagai anak kandung sendiri demi keutuhan ayah dan ibunya, aku mengalah. Aku terus memejamkan mata rapat-rapat dan berharap bahwa tubuhku ini akan tahan menghadapi siksaan dari Bu Farah. Kuat Chevani! Kuat! Kau pasti bisa! Hingga dalam detik berikutnya …


“Menikahlah dengan Reno dan jadilah ibu sambung bagi Refa. Aku sudah ikhlas.”


APA?


...***...


Bersambung


Kira-kira kenapa di nenek lampir itu bisa ngomong gitu ya?


Apa dia lagi kena sawan?


Kikikik

__ADS_1


LIKE & COMMENT :)


__ADS_2