
“Maafkan aku Pak.”
Aku membidik jam yang tercantel di atas dinding, pukul sembilan tepat. Ponselku juga sengaja ku off kan satu harian dan aku yakin pasti Pak Reno sudah mencoba untuk menghubungiku sedari tadi namun gagal. Terpaksa aku harus membuat keputusan gila tanpa permisi demi menjaga keutuhan rumah tangga keluarga mereka. Aku hanya tak ingin gara-gara jongosnya yang tidak seberapa ini Refa menjadi anak broken home, pasti sangat sakit.
Syukurnya ayah beranak satu itu tidak tahu di mana letak rumah kontrakanku yang baru. Jadi dia sangat sulit bahkan tidak mampu untuk menjangkau keberadaan ibu asuh dari anaknya ini. Aku juga berharap semoga Refa tak lagi dijaga oleh orang lain melainkan mamanya sendiri alias Bu Farah. Semoga anak itu dapat tumbuh menjadi pria yang tegar dan membanggakan.
Rencananya aku besok juga akan mencari pekerjaan baru. Entah mau kerja apa dan di mana yang jelas kucoba saja dulu. Untungnya uangku masih tersisa sekitar tujuh lembar kertas merah lagi dan masih cukup untuk tiga minggu ke depan. Selama tidak ada Pricilia pengeluaranku sangat hemat karena aku tak perlu membeli susu maupun perlengkapannya yang lain. Tapi jujur, aku lebih senang menghabiskan banyak uang asalkan anakku kembali.
Orang-orang di lingkungan ini ternyata tidak terlalu bersahabat karena mereka semua sibuk bekerja. Maka dari itu orang yang pertama kali ngobrol denganku adalah Bu Titah, kalau yang lain belum ada termasuk tetanggaku sendiri.
Ngomong-ngomong aku rindu sekali dengan suara anak itu. Sedang apa ya dia? Huh! Lama sekali pulangnya. Andai aku memiliki kontak si Demian pasti sudah kuhubungi dia dan memintanya untuk segera kembali ke rumah. Aku juga rela menjaga anak itu tanpa dibayar sepeserpun.
Lekas pulang ya anak manis.
...***...
Malam kian larut dan menghantarkan aku ke alam kantuk. Aku naik ke atas ranjang setelah memastikan bahwa pintu telah terkunci rapat-rapat. Tak ada televisi dan ponselku pun masih mati membuat rasa jenuh melanda dan hanya bisa diatasi dengan tidur.
Aku menarik selimut hingga ke leher dan mulai memejamkan mata. Harapanku semoga aku besok bisa menemukan pekerjaan yang majikannya tidak aneh alias orang normal. Aku tak ingin bertemu dengan orang yang perawakannya mirip Pak Reno, Bu Farah, Ratna dan mertuaku karena mereka semua aneh dan penuh teka teki.
“Hooooaaaaam.”
Dor dor dor!
Dor!
__ADS_1
“Eh!”
Astaga! Siapa yang menggedor pintuku malam-malam begini? Tidak tahu sopan santun dia apa! Ck sial!
Aku mencoba tak menghiraukan namun suara itu kian keras dan membuat gendang telingaku ingin lepas. Akhirnya dengan rasa malas aku membangkitkan tubuh dan langsung membuka pintu.
Bugh!
“Hei siapa kau? Toloooooong toloong tolooong.”
Aku kaget bukan kepalang. Seorang pria berbadan tegap berkulit hitam tiba-tiba nongol dan tumbang diambang pintu. Aku mendekati orang bodoh yang kini tak sadarkan diri itu, bau alkohol menyeruak dari sela-sela mulutnya yang terbuka.
“Ini orang kenapa? Kenapa dia bisa nyasar ke rumahku?” Aku menggerutu kesal. Belum ada orang yang datang, mungkin teriakku kurang kencang.
“Tolooooong toloooong!” Plisss kali ini aku mohon datanglah kalian wahai para warga.
“Apa ada Mba?” Tiba-tiba saja beberapa orang pria yang kutaksir sedang piket ronda malam menyembul dari arah depan.
“Saya tidak kenal dengan dia tapi tiba-tiba dia menggedor pintu rumah saya dan langsung tumbang.” Jawabku menjelaskan.
Tak ada jawaban setelah itu. Salah satu dari mereka mendekati si orang aneh tersebut sambil membalikkan tubuhnya yang telangkup ke permukaan lantai.
“Ooooh ini mah si Ajun.”
“Hah? Ajun?”
__ADS_1
“Iya. Dia memang selalu begini semenjak ditinggal oleh istrinya.”
“Maksudnya dia memang sering masuk ke rumah orang sembarangan?”
“Iya. Tapi dia tak akan menyakitimu, memang selalu begitu kerjaannya.”
“Lalu bagaimana? Aku tak ingin dia mengotori tempat tinggalku.”
“Baiklah akan kami gotong dan bawa ke pos ronda.”
Kemudian orang-orang itu membawa si Ajun ke arah Selatan. Aku langsung membersihkan bekas badannya yang tadi tumbang dilantai, bercak liur menggenang di atas sana. Ihhh aku jiji sekali.
Entah kenapa hidupku ini selalu dipenuhi oleh orang-orang aneh padahal setiap saat aku selalu berharap agar tak bertemu dengan mereka semua. Dan untuk Ajun, pria bodoh itu benar-benar sudah mengcaukan malam lelahku. Aku jadi terkejut dan susah tidur setelah tiba-tiba saja dia menggedor pintu dan pingsan di depannya.
Lalu mau bagaimana aku mau tidur lagi kalau sudah begini. Mataku seakan langsung tak ingin untuk diajak kompromi. Aku juga belum berani menyalakan ponsel, belum siap untuk melihat notifikasi dari Pak Reno.
Akhirnya aku memutuskan untuk membongkar lemari dan mencari koleksi foto-foto lama yang terselip di sela-sela baju. Ada aku, Hero dan juga Pricilia yang masih dalam kandungan. Kupegangi kertas berwarna yang menampikkan senyum bahagia kami berdua. Manis sekali. Hero tersenyum manis seraya memeluk tubuhku erat, aku mencium pipinya.
Aku jadi ingat foto ini diambil ketika aku habis marah karena tak dibelikan nasi goreng. Waktu itu aku sedang hamil besar dan dokter melarangku untuk makan makanan yang berminyak. Aku tak mau tahu dan terus memaksa Hero untuk segera membelikan aku nasi goreng dan dia tetap menolak. Hingga pada akhirnya aku merajuk dan berniat tak ingin memberi jatah lagi kepada Hero hihihi. Mendengar hal itu Hero langsung takut dan merayuku untuk berfoto di studio dan membeli buah dalam jumlah banter. Aku manut dan jadilah foto itu.
Tapi sekarang semua hanya tinggal sebuah kertas bergambar dan kenangan yang masih lengket dalam ingatan. Aku tak lagi menemukan pria itu bahkan mendengar kabarnya pun tidak. Entah sudah bahagia atau mungkin mati aku juga tak tahu. Tapi jujur saja, entah kenapa hatiku merasa seakan lelaki itu akan kembali. Ia akan kembali menemuiku dan juga Pricilia dan pada akhirnya kami akan hidup bersama dan bahagia seperti sedia kala.
Dan ini lah sebabnya aku juga tak mau menerima lamaran Pak Reno. Bagaimana jika nanti kalau aku menikah dengan pria itu lalu tiba-tiba saja Hero datang kembali? Pasti hatinya akan sakit bahkan mungkin tak ingin mengenalku lagi. Tidak! Aku tak ingin. Aku tak ingin setelah Hero mengetahui bahwa aku memiliki suami membuat dia langsung pergi dan tak kembali.
...***...
__ADS_1
Bersambung
LIKE, COMMENT & TAP FAVORIT