
Sssssh shshs shshshs.
Aku membilas piring demi piring yang sudah kucuci di atas wastafle. Bajuku sudah basah semua karena terkena percikan air keran, dingin. Bisa kutebak kalau sudah weekend begini pasti kerjaanku jadi makin numpuk, secara selain ada Refa ada juga ayahnya di sini.
“Perlu kubantu?” Tiba-tiba saja suara besar khas pria menyela dari arah belakang.
Aku menoleh lalu kudapati seorang lelaki bercelana puntung dan kaos oblong entah sejak kapan tercegak di belakangku. Rambutnya sedikit basah, pasti dia habis mandi wajib kikikik. Ah Chevani! Kau ini jangan sok tahu urusan orang.
“Tak usah Pak, ini kan kerjaanku.”
“Kita akan pergi hari ini dan cepatlah selesaikan itu.”
“Kema-“
Oh astaga! Belum lagi kutanya sudah pergi saja itu orang. Tapi kami mau ke mana ya? Kenapa pagi-pagi begini? Eum ya sudahlah terserah dia saja.
Aku pun segera melanjutkan bilasanku yang sempat tertunda tadi. Tak butuh waktu lama akhirnya pekerjaanku di dapur telah selesai. Kini waktunya untuk beralih ke bagian depan.
“Loh?” Aku kaget. Ada seorang pria berkepala tiga yang sedang menyapu di ruang tengah. “Kenapa bapak sapu?”
“Kau terlalu lambat seperti siput! Jadi mau tak mau aku harus turun tangan.”
“Hei aku lambat tapi bersih. Lihat lah pekerjaanmu, cepat tapi tetap kotor.” Aku memperhatikan permukaan lantai yang katanya sudah disapu. Sapu apaan? Masih banyak debu yang tertinggal di sini.
“Kau jangan banyak bicara Che! Sekarang uruslah Refa, dia masih di atas.”
“Oke baiklah baiklah.” Kataku seraya memutar bola mata malas.
Aku beringsut ke lantai atas dan segera memasuki kamar Refa. Bocah gendut itu masih berlayar di alam mimpi, aku menarik selimutnya perlahan dan mengguncang tubuhnya agar terbangun.
“Hoaaaam.”
“Bangun yuk bang.”
“Nda mau atu macih ngantuk.”
“Kita mau pergi.”
“Hah?”
“Eh!”
Aish! Kurang asem! Aku kaget bukan main si Refa tiba-tiba bangkit dan menampikkan buntelan tubuhnya yang hanya terbalut dengan ****** *****. Sumpah! Dia ga ada bedanya sama tuyul yang kerap beroperasi di malam Jum’at.
“Tita mau temana bu?”
“Gatau papa kamu tadi yang bilang.”
Bugh bugh bugh!
“Papaaaaa tita mau te mana?” Refa membuang badan ke lantai satu dan meninggalkanku di kamar ini.
__ADS_1
“Eh jangan pijak yang itu!”
Aku memperhatikan tingkah bapak anak itu dari atas sini. Pak Reno melarang putranya untuk beringsut ke ruang tengah karena bagian itu sedang dia pel lantainya. Entah bersih atau malah tambah kotor, aku tak mau tahu. Terserah dia saja.
“Kita mandi dulu ya sayang.” Kataku menarik lengan Refa sesaat setelah menjejakkan kaki di lantai satu.
Dari pojokan sana aku dapat melihat bahwa Pak Reno sedang memperhatikan kami berdua dari ekor matanya. Entah biar apa, kurasa sawannya kembali kambuh.
...***...
“Atu tecana dulu yaaaa.”
“Hati-hati.”
Byuuuurr.
Seorang bocah gembul menceburkan dirinya ke dalam air asin berwarna biru. Aku tertawa girang karena dalam waktu yang bersamaan air itu menyembur ke atas seperti pancuran dan mengenai orang-orang di sekitar.
Saat ini kami sedang berada di sebuah pantai yang terkenal di Kota Batam. Tempatnya sangat indah, sungguh. Hamparan pasir putih, jajaran pohon kelapa yang tersusun rapi, deretan pedagang beragam menu makan serta bentangan laut hasil tangan Sang Kuasa sangat elok dan menggoda bila dipandang mata.
Aku tak menyangka bisa menginjakkan kaki ke tempat ini lagi. Apa kalian tahu? Ini adalah lokasi di mana aku bertemu dengan sang pangeran cinta, Hero. Awal mulanya jari tanganku di tingkam oleh kepiting kecil pada saat bermain air di bibir pantai. Aku menjerit dan pada saat itu pula lah seorang lelaki berambut hitam pekat datang kemudian menarik cangkang kepiting yang sudah menusuk kulit tipisku.
“Apa masih sakit?” Tanyaya seraya meniup ruas jariku yang sudah mulai dialiri oleh cecair merah.
“Masih.”
“Ayo ke sana, aku membawa P3K.” Hero menarik lenganku menuju pondok-pondokan kecil.
Dan sejak kejadian itu lah kami menjadi kenal lalu akrab. Pria itu saban minggu datang ke rumah paman dan bibi guna menjengukku, rindu katanya. Lalu entah apa sebabnya tiba-tiba saja dia datang melamar tepat pada saat hari ulang tahunku. Aku tak bisa mengelak, sungguh! Karena waktu itu aku juga sudah sangat menyayanginya.
“Kenapa mukamu tiba-tiba kecut?”
“Eh!”
Aduh ketahuan! Apa bapak beranak satu ini sedari tadi memperhatikanku? Ya ampun aku malu sekali, sungguh.
“E- engga Pak saya hanya lelah.”
Hening.
Tak ada percakapan lagi di antara kami. Semuanya tenggelam dengan pemandangan masing-masing di depan sana. Tempat ini tak pernah sunyi apalagi kalau sore menjelang malam.
Eit tunggu dulu! Kalau dipikir-pikir ngapain pria satu ini mengajakku? Bukannya dia bisa pergi bersama anaknya saja? Oh atau mungkin akan lebih baik kalau mengajak istrinya ke tempat ini, pasti hubungan mereka akan membaik.
“Aku ingin bertanya.” Kataku yang sudah tak tahan lagi menahan rasa penasaran.
“Hmm.”
“Kenapa bapak mengajakku ke sini?”
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Ya kenapa tidak dengan istri bapak saja.”
“Istri? Istri yang mana?”
“Hei! Kau sedang tidak amnesia atau pura-pura lupa kan?” Aku yang tadinya bersandar pada dinding pondok mini kini malah membangkitkan badan karena kaget dengan penuturan Pak Reno barusan.
“Sudahlah lupakan masa-masa itu.”
“Apa maksudmu? Kau pria aneh.”
“Kau tak perlu tahu urusan rumah tangga orang.”
“Aku hanya bertanya itu saja, sudah.”
Kelewatan sekali si bodoh satu ini! Siapa juga yang kepo. Lagipula aku kasihan melihat Refa yang saban hari sudah tak pernah lagi bertemu dengan ibunya. Meskipun si Farah itu tak ada bedanya dengan nenek lampir tapi setidaknya kehadiran ibu-ibu sosialita itu menjadi penenang tersendiri bagi putranya yang masih kecil.
“Ibu cini main cama aku!” Yang dibatinkan pun tiba-tiba menyembul dari peraduannya, anak satu itu memboyong banyak pasir di rengkuhan kedua lengan bogemnya itu.
“Iya nanti ya.” Jawabku dari sini.
Sebenarnya aku malas karena cuaca sangat panas, belum lagi tumpukan manusia yang memadati kawasan itu pasti akan membuatku susah bernapas.
“Apa kau kesusahan mengurus anakku?” Suara Pak Reno terdengar kembali.
“Siapa? Aku?”
“Tidak! Jin di sana.”
“Oke baiklah baiklah.” Kataku seraya memutar bola mata malas. “Aku tak pernah merasa lelah apalagi sampai kesusahan mengurus putramu. Eum maksudku lelah sih lelah, tapi ya hanya sekedar lelah fisik bukan hati.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Wajah Pak Reno mendadak kaku, dia seolah ingin berkata namun tak bisa membuka suara. Aku menunggu deretan huruf yang entah kapan bisa keluar dari bibirnya.
“E- emm hmm.”
“Apa kau sudah berubah menjadi bisu?”
“Tidak! Maksudku eumm.”
“Apa?”
“Apa kau mau menjadi ibu sambung untuk putraku?”.
APA!
...***...
Bersambung
__ADS_1
LIKE & COMMENT
Semoga sehat selalu 🤗