
“Lancang sekali kau berbicara padaku ya! Kau kira kau ini siapa? Sudah beruntung dikasih tempat tinggal!”
Aku tercacak. Sekujur mukaku rasanya panas sekali, dadaku juga sakit bukan main. Apa ada harapan bahwa aku akan kembali bermalam di rumah sakit?
Tak ada repetan lagi setelah itu. Si nenek gayung malah masuk ke dalam kamarku entah buat apa. Hatiku teriris sekali. Kalau bukan karena dia adalah ibu dari pria yang kusayang, pasti sudah kutikam tubuh rentanya itu sedari tadi.
Bugh!
“Bawa barang-barangmu dan pergilah dari sini!”
APA?
Kali ini jantungku yang rasanya pengen copot.
“Kau mengusirku Ma?”
“Lalu untuk apa aku mencampakkan tas bututmu itu di sini?”
Ya Tuhan. Sekarang apa lagi?
Kenapa hidupku penuh dengan cobaan setiap waktu. Apa aku punya kesalahan besar di masa lalu? Ah atau mungkin aku sedang terkena kutukan? Aku lelah Tuhan, aku lelah. Ingin sekali rasanya kuakhiri saja hidupku ini.
“Kau sudah lama bercerai dengan putraku! Dan bodohnya aku masih mau menampung menantu kurang ajar sepertimu. Aku tak perduli kau mau tidur di mana dan tinggal bersama siapa, karena bagiku hubungan keluarga kita telah terputus semenjak kau sudah menjadi mantan istri dari anakku.”
Blushhhh!
Omongan Bu Lastri benar-benar membuat gendang telingaku mencelos dari tempatnya. Kenapa? Kenapa tidak dari dulu saja dia sudah mengusirku dari tempat ini? Kenapa harus setelah aku kehilangan Pricilia? Kalau begini aku bisa tambah gila. Aku kehilangan anakku dan juga seluruh kenangan bersama Hero di rumah ini.
“Apalagi? Menungguku menyeretmu keluar?” Bariton cempreng itu kembali menyela.
Sudah lah! Lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Apa gunanya juga aku bertahan? Pricilia sudah tidak ada dan mertuaku pun semakin menggila.
“Baik!” Aku memboyong tas besar dan beberapa baju yang berserakan di atas lantai. Wajahku memerah padam, ingin sekali rasanya kutimpuk kepala wanita keji yang satu ini.
Aku kikuk, tak tahu lagi harus ke mana.
Bagaimana kalau tiba-tiba hujan dan aku masih tak mempunyai tempat tinggal? Atau mungkin ada orang jahat dan mengeksekusiku hidup-hidup di jalanan. Sumpah! Kejadian setahun lalu terulang lagi. Kalau waktu itu aku kehilangan Hero maka kali ini aku kehilangan anakku, Pricilia. Dan hari-hari berikutnya sudah dapat dipastikan aku akan kehilangan keduanya.
Sungguh demi apapun aku tak akan pernah bisa melupakan kejadian keji ini. Entah balasan apa yang akan diberikan Tuhan pada Bu Lastri. Apakah ketika aku pergi dia tak mampu mencari makan dan mati mendadak atau mungkin akan ada sebuah bencana yang tiba-tiba menyerangnya dari arah tak terduga.
Hero! Lihatlah kelakuan ibumu itu! Apa kau akan tetap memilih wanita itu setelah kau tahu bahwa aku adalah perempuan yang merawatnya selama kau menghilang? Aku sudah mati-matian memenuhi apapun yang dia inginkan. Dan kau! Kau di mana? Pasti kau sedang bersenang-senang ria dengan si jalang itu di sana.
Terlalu kejam kalian berdua!
Aku meraih sebuah benda pipih yang tersemat di dalam saku. Pikiranku buntu, mungkin orang yang dapat menolongku saat ini hanya lah Pak Reno.
Maafkan babumu ini yang sudah terlalu merepotkan ya.
“Halo.” Suara besar khas pria terdengar dari seberang sana takkala aku mendial kontaknya barusan.
__ADS_1
“Maafkan aku. Aku tahu kalian belum sampai rumah tapi tolong lah jemput aku di sini. Aku diusir.”
“Apa? Kenapa bisa?”
“Ceritanya panjang.”
“Kau di mana sekarang?”
“Tak jauh dari rumah mertuaku.”
“Tunggu lah aku segera ke sana.”
Aku terdiam menatap jalanan yang saat ini mulai lengang. 20 menit berselang dan sekarang sebuah kendaraan beroda empat nongol di depanku.
“Kau tak apa-apakan?” Pak Reno mengitari tubuhku, dari sorot matanya aku dapat melihat kekhawatiran tingkat akut.
“Tak apa. Namun aku bingung harus tinggal di mana.”
“Kau bisa tinggal di rumahku.”
“Hei! Bagaimana jika istrimu itu tiba-tiba pulang? Aku tak ingin disebut sebagai pelakor.”
“Pelakor bagaimana? Apa kau kira kita akan berzina di sana?”
“Oh astaga! Jaga mulutmu pak.”
Aku termangu. Jujur, sebenarnya aku juga tak mau tinggal serumah bersama suami orang. Tapi ya sudahlah, pertama ada Refa. Kedua aku juga tak memiliki tempat tinggal saat ini. Dan ketiga aku harus secepatnya mencari rumah kontrakan untuk diriku sendiri.
...***...
Pendar-pendar mentari menyeruak masuk ke dalam retinaku kala ini. Masih jam delapan tapi cuaca teriknya sudah tampak sekali. Aku memperhatikan sekeliling, biasanya selalu ada Pricilia yang terbaring di atas karpet berbulu itu. Dia sedang apa ya? Aku belum mendapatkan kabar apapun tentangnya.
“Ibuuuuu. Main di lual yuk.”
Ck astaga! Anak satu ini membuat jantungku serasa mau lepas.
“Mau ke mana bang?”
“Atu mau beyi estlim.”
“Yaudah sabar ya ibu mau nerusin ini dulu.” Kataku seraya mengibas-ngibaskan rambut sapu ke hamparan lantai.
Tak butuh waktu lama akhirnya kerjaanku kelar juga. Aku menutup pintu rapat-rapat kemudian memboyong Refa menuju minimarket yang ada di depan gang.
“Atu mau yang lasa coklat.”
“Iya sayang.”
“Ibu juga mau estlimna?”
__ADS_1
“Engga. Ibu ga suka.”
Tak ada lagi percakapan di antara kami setelah itu, hingga akhirnya aku dan Refa telah menjejakkan kaki di sebuah bangunan berkelir hijau anom yang di dalamnya terdapat banyak tumpukan barang dan juga makanan.
Aku membiarkan Refa berlari sesuka hatinya menuju box eskrim di pojokan sana. Ramai sekali pengunjung hari ini, aku jadi sampai kesulitan memantau tubuh bocah pendek yang terselip di sela-sela tubuh orang yang berada di tempat ini.
Entah kenapa semakin ke sini bayangan Hero kian menyembul di ingatanku. Biasanya kalau sudah di mini market seperti sekarang pasti dia selalu membelikan banyak makanan untuk ibu dari si Pricilia ini. Padahal aku kerap menolak mengingat lambungku yang tak sebesar gerobak sampah, namun dia selalu berkata kalau istrinya harus banyak makan supaya jadi gemoy. Huft! Dia kira aku tak tahu tujuannya buat apa. Dia melakukan itu semua semata-mata karena agar tak perlu tidur di atas kasur lagi, kan sudah ada kasur yang lebih empuk ehehehe.
“Ibuu ini estlim coklatnya. Eum nyam nyam nyam.” Refa merengkuh tiga bungkus eskrim di dadanya menggunakan kedua tangan.
“Ada lagi bang?”
“No! Ini aja.”
“Ya sudah yuk kita bayar dulu.” Kami pun beringsut menuju meja pembayaran alias kasir.
Bugh!
“Aduh!”
“Ya ampun maafkan saya mba, saya tidak sengaja.”
Seorang wanita muda berambut panjang menubruk tubuhku dari arah depan. Hampir saja aku terpelanting ke belakang kalau tak ditahannya kedua lenganku tadi.
“Ah iya tak apa-apa.” Kataku seraya menyunggingkan senyuman tipis.
“Ada apa sayang?”
“Aku tak sengaja menabrak kakak ini.”
Seorang lelaki mendadak muncul dari arah lain. Namun seketika mataku membulat sempurna, aku tak percaya dengan apa yang sedang kulihat saat ini.
Dia bersama seorang gadis.
Jadi memang benar isu-isu yang selama ini tersebar?
“Kau?”
“Astaga Chevani! Akhirnya kita bertemu kembali.”
...***...
Bersambung
Guys
Mampir di AKU KAU DAN ISLAM juga yaaa :)
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1